KING D

KING D
Menyerang Rusia


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Kastil Borka, Rusia.


Red Skull yang dipercaya untuk menjaga tempat itu setelah kematian Dominic, dibuat kalang kabut menghadapi serangan monster karena harus melindungi warga sipil yang bernaung di kastil megah tersebut. Selain itu, Sengkuni juga membuat seluruh sistem persenjataan yang melindungi bangunan megah itu padam dan mengakibatkan Red Skull bekerja keras menjaga nyawa mereka agar tak mati terbunuh.


Beruntung, orang-orang itu menemukan alat komunikasi ciptaan Eiji yang penggunaannya mirip dengan Handy Talky, tapi lebih modern dan tak memerlukan listrik. Mereka cukup menggunakan earphone dan bisa saling berhubungan tanpa harus menekan tombol ketika akan berbicara atau memutus panggilan. Sensor pada mic akan bekerja secara otomatis ketika orang tersebut mengeluarkan suara.


Menara-menara kecil masih terpasang kokoh di beberapa kawasan kastil Borka sampai ke wilayah luar dan memiliki daya cadangan tanpa harus terhubung dengan listrik sebagai sumber tenaga. Sekilas, benda itu tampak seperti antena saja. Padahal, benda tersebut adalah penghubung dari earphone jarak jauh layaknya repeater yang cakupannya mencapai 100 kilometer karena sinyalnya diperkuat. Dan Sengkuni, tak mengetahui hal tersebut.


BOOM! BOOM!


"AAAAA!" teriak anak-anak yang pernah diselamatkan Sakura kala itu yang berlindung di mansion Han.


"Gila! Sengkuni memasang peledak di tubuh para monster! Mereka meledak saat menabrakkan diri ke dinding kastil!" pekik Zeni salah satu anggota Red Skull dari teropong pada senapan laras panjang.


Sayangnya, serangan tersebut menyebabkan kepanikan para warga sipil yang berlindung di dalam kastil. Tiga pria Mongolia yang saat itu diselamatkan oleh tim King D bergegas mengevakuasi mereka agar terhindar dari serangan monster.


"Sialan! Sialan!" teriak Rea seraya terus menembak dengan senapan gatling untuk membunuh para monster yang sudah bermutasi layaknya mutan. Wanita bergaya punk ciri khas kelompok Red Skull menjaga sisi Barat Kastil Borka.


"Mereka banyak sekali!" sahut Zeni yang terhubung dengan Rea dan petugas lainnya menggunakan sinyal radio.


Zeni menjaga sisi Utara benteng agar tak diterobos oleh para monster yang menggila. Terlihat, sekumpulan para monster datang menyerang ketika fajar mulai menyingsing. Suasana mencekam hadir ditengah suasana damai yang sempat dirasakan oleh para pengungsi selama beberapa minggu.

__ADS_1


Di kejauhan, terlihat lampu berkedip dari senter laser berwarna biru di sisi Timur kastil. Mitha, gadis yang diselamatkan oleh Sakura kala itu ketika menjaga kediaman Han di Amerika ikut membantu. Ia terlihat ketakutan, tapi tetap berjuang untuk melindungi kawan-kawannya yang berlindung di bunker bawah tanah tepat di bawah aquarium ikan piranha peliharaan BinBin dulu. Mitha yang kini ditugaskan untuk mengantarkan pasokan senjata dengan sigap menerbangkan CD.


Gadis itu cukup cerdik saat mengikat tas tersebut pada bagian bawah drone menggunakan tali. Mitha menerbangkan drone dari tempatnya berjaga yang dilindungi oleh para orang dewasa bersenjata dan memakai pakaian tempur Black Armys yang diberikan oleh anggota Red Skull meski mereka tak bisa bertempur layaknya tentara.


"Yeah! Gadis itu memang sangat bisa diandalkan!" seru Viona senang karena permintaan isi ulang amunisi datang tepat waktu di pos tempatnya berada.


Viona bergegas mengisi ulang amunisi senapan mesin di mana ia berjaga di menara sisi Timur kastil. Ia ikut menembaki para monster yang mencoba membobol kastil besar itu dengan senapan pelontar granat mini. Suara ledakan terdengar bersahut-sahutan yang memekakkan telinga.


"Mitha! Ada permintaan senjata lagi dari pos Donna bertugas!" teriak salah satu pria yang diselamatkan oleh tim King D kala itu yang tak lain adalah orang-orang Mongolia.


"Aku sudah menyiapkan drone-nya. Segera terbangkan!" seru pria Mongol lainnya yang dengan sigap memberikan pengendali drone pada gadis remaja itu.


Mitha segera menerbangkan benda tersebut ke tempat Donna berada. Wanita perkasa itu ikut dibuat kewalahan karena para monster cukup gesit menghindari tembakan dari granat tabung. Donna kesal bukan main karena lawannya sekumpulan hewan yang diyakini olehnya dulu adalah rubah.


Donna melemparkan Rainbow Gas dengan bom meski ia tahu jika gas beracun itu tak memberikan dampak apalagi membunuh makhluk-makhluk itu, tapi ia mengakalinya dengan kepulan asap pekatnya. Donna melempari mereka dengan granat mini saat para monster tersebut terganggu penglihatannya. Ternyata, usaha Donna berhasil. Banyak monster yang dilumpuhkannya dan membuat sisi Selatan sedikit tenang tak seriuh tadi.


"Ya! Tepat waktu!" ucap Donna saat melihat CD terbang ke arahnya dengan membawa sebuah tas berisi persenjataan.


Saat wanita itu melepaskan ikatan pada drone, matanya langsung tertuju pada pesawat kargo yang kembali datang dengan pintu palka belakang terbuka. Donna bergegas mengambil teropong dan melihat pergerakan di balik palka tersebut.


"Gelombang dua! Pesawat itu menjatuhkan muatan berisi para monster lagi!" teriaknya seraya menunjuk ke arah drone.


Praktis, mata Mitha dan orang-orang yang melihat dari tablet melebar seketika. Mereka panik dan ketakutan saat jeruji besi itu dijatuhkan dan membuat para monster di dalamnya keluar di sisi Barat Daya kastil, tempat sipil berlindung.

__ADS_1


"Kita akan mati! Kita akan mati!" teriak salah satu pria Mongol ketakutan.


"AAAA!" jeritan demi jeritan yang bersahut-sahutan mulai terdengar di dalam ruangan itu.


Mitha memejamkan matanya rapat, tapi kemudian ia berbalik dan berdiri tegap menatap sekumpulan orang dewasa yang ketakutan itu.


"Jika ingin hidup, kita harus berjuang! Aku tak mau mati sekarang atau besok! Aku ingin berumur panjang!" teriak Mitha dengan napas tersengal mengutarakan pendapatnya.


Para orang dewasa itu menatap gadis kecil yang beranjak remaja tersebut dengan saksama.


"Ya, benar yang dikatakan Mitha! Kita harus berani meski kuakui, aku sangat takut melawan para monster itu. Namun, demi kemerdekaan para manusia, kita harus menang!" seru Turgen—pria Mongol.


Semangat untuk bertahan hidup menjalar ke semua pengungsi yang kini berlindung di kastil Borka, Rusia. Meskipun Hope yang tak lain adalah Sengkuni ketika datang kala itu ke Kastil Borka dan membunuh Dominic telah mencuri persenjataan Vesper Industries, tapi lelaki itu tampaknya tak mengenal bangunan megah tersebut secara menyeluruh. Buktinya, anak-anak yang diselamatkan oleh Sakura berhasil menemukan ruangan rahasia di mana persenjataan cadangan disimpan.


"Mitha! Kita harus menjatuhkan pesawat-pesawat itu!" ucap Ganzorig yang menjadi pengintai dengan memanfaatkan kamera CamGun meski benda itu tak bisa digunakan karena listrik di kastil padam. Persis seperti kejadian di Kastil Hashirama, Jepang.


CD yang masih melayang di sisi Donna melihat pergerakan pesawat itu yang terbang berputar seperti siap menjatuhkan muatan lagi.


"Kalau tidak salah. Buku manual yang menuliskan keterangan tentang komposisi CD dan cara penggunaannya menyebutkan jika drone ini memiliki peledak di dalamnya bukan?" tanya Mitha memastikan. Oktai mengangguk membenarkan.


"Oh, aku tahu yang kaupikirkan. Serahkan tugas itu padaku!" ucap Oktai si pria Mongol menawarkan bantuan dan diangguki oleh gadis cantik itu.


***

__ADS_1



__ADS_2