
Red Skull, anak-anak Amerika, dan orang-orang Mongolia berbicara dalam bahasa Inggris. Para pria Rusia berbahasa Rusia.Terjemahan.
"Hei! Hei!" panggil seorang pria dari kumpulan para pengungsi asal Rusia yang kala itu diselamatkan dari kapal berikut Daniel dan Arthur.
"Ada apa, Paman?" tanya Mitha menatap pria itu lekat.
Pria itu membawa sebuah benda yang bisa ditenteng berbentuk layaknya tas koper berwarna hitam.
"Aku menemukan cara untuk bisa menghidupkan senjata CamGun tanpa listrik. Benda ini seperti baterai layaknya accu. Kita bisa menggunakannya dan jumlahnya ada banyak sekali!" serunya senang.
"Oh, benarkah?" tanya Ganzorig memekik. Pria itu mengangguk mantap.
"Tunggu apalagi? Segera kerjakan! Pertahanan kita hampir runtuh. Segera aktifkan seluruh CamGun di kastil ini. Cepat!" titah Mitha mengomandoi para orang dewasa tersebut.
Tanpa gadis itu sadari, sikapnya seperti pemimpin sebuah pertempuran, tapi para orang dewasa tersebut terlihat tak keberatan. Pria asal Rusia itu dengan sigap mengajak kawan-kawan sebangsanya untuk mengambil benda tersebut yang berada di sebuah almari besi tak dikunci, berada dekat tempat peleburan besi untuk cetakan senjata. Mereka yang sudah diberitahu cara untuk memasang benda itu ke senjata otomatis tersebut mengangguk paham dan segera menyebar ke seluruh titik CamGun. Earphone juga dibagikan oleh Turgen agar komunikasi mereka tetap terhubung.
"Bibi-bibi Red Skull, apakah kalian mendengarku?" tanya Mitha saat mendapatkan kode dari Ganzorig yang menjadi penghubung antara Oktai dan dirinya.
"Bibi? Apakah kami setua itu? Kurang ajar," gerutu Zeni, tapi membuat wanita Red Skull lainnya terkekeh.
"Maaf," jawab Mitha sungkan.
"Cepatlah. Katakan yang ingin kausampaikan. Waktu kita tak banyak!" seru Donna. Mitha kembali sigap.
"Kalian tetaplah fokus menghalau para monster agar tak memasuki kastil. Kami menemukan cara mengaktifkan CamGun kembali. Paman Oktai juga sedang bersiap untuk menjatuhkan pesawat kargo musuh," ucapnya menginformasikan. Praktis, senyum para wanita perkasa itu terkembang.
"Yeah, bagus sekali! Kalian sungguh pintar!" seru Viona senang.
__ADS_1
"Baiklah. Lakukan yang harus kalian lakukan. Kami akan mati-matian di sini. Heahhh!" seru Zeni lantang dan kembali menembaki para monster dengan senjata gatling dari menara.
"Paman Oktai. Lakukan!" seru Mitha usai mendapat persetujuan itu.
Oktai dengan sigap menerbangkan dua drone sekaligus dari pengendali. Benda itu terbang dengan kecepatan penuh menuju ke arah pesawat. Orang-orang Sengkuni yang sibuk untuk menjatuhkan muatan tak menyadari jika pesawat mereka telah dibidik.
"Hehehe," kekeh Oktai saat dua CD yang diterbangkannya berhasil mendekati pesawat karena benda itu terbang rendah agar titik jatuh kerangkeng besi dekat dengan kastil Borka.
Benar saja, saat kerangkeng besi sedang bergerak menuju ke palka menggunakan penggerak otomatis, tiba-tiba ....
DUKK! BLUARRR!!
"Yeah!" seru para pria Rusia bersorak gembira dari tempat mereka mengintai di balik kamera CamGun saat melihat dua buah CD yang diterbangkan oleh Oktai menabrakkan diri ke badan pesawat dan meledakkannya.
Namun, "Kerangkeng besi itu berhasil dijatuhkan! Benda itu berisi banyak monster!" seru Ganzorig yang ikut menerbangkan CD karena Mitha kerepotan saat harus menerbangkan persediaan senjata ke semua pos yang dijaga anggota Red Skull.
"Aku berhasil mengaktifkan CamGun! Sisi Tenggara siap menembak!" seru seorang pria Rusia.
"Aku juga! Sisi Timur Laut siap!" sahut pria lainnya.
Satu per satu, orang-orang itu memberikan laporan jika CamGun siap untuk melakukan serangan balik. Seketika, senyum Mitha dan para anggota Red Skull terkembang.
"Fire!" titah Mitha lantang.
KLIK! DODODODOR!
"Woah! Senjata ini hebat sekali!" teriak seorang pria Rusia sampai melangkah mundur karena terkejut.
__ADS_1
Orang-orang sipil itu terperangah ketika melihat dari layar tablet saat senjata itu otomatis bergerak. Sensor CamGun mendapati pergerakan para monster yang masuk ke wilayahnya dan dengan cepat menggelontorkan peluru-peluru pembunuh.
Suara desingan peluru yang memekakkan telinga membuat seluruh wilayah di sekitar Kastil Borka begitu berisik. Raungan para monster saat tubuh mereka berlubang karena peluru-peluru tajam itu, praktis membuat suasana semakin gaduh. Namun, hal itu membuat para pejuang yang bertahan di kastil besar peninggalan Vesper tersebut berteriak senang. Mereka tak menyangka bisa mengalahkan para monster yang begitu buas bahkan wujud mereka sangat mengerikan.
Siapa sangka, ada sosok yang mengamati peperangan itu di kejauhan dengan mata biru menyala terang layaknya Polo, tapi ia tutupi dengan kacamata khusus. Tubuhnya tertutup dengan jubah hitam sampai kepala.
"Hem, tampaknya aku tak perlu terlibat. Mereka sepertinya bisa menyelesaikannya dengan persenjataan Vesper dan Boleslav Industries. Orang-orang sipil itu tak memiliki kemampuan serum, tapi ternyata lebih hebat. Aku meremehkan semangat juang mereka," ucap sosok itu dari tempatnya mengintai di sebuah menara komunikasi yang berjarak 1 kilometer dari kastil Borka.
Di sisi lain, tempat Sengkuni berada.
Lelaki itu marah dan membuat anak buahnya ketakutan karena sosok monsternya begitu mengerikan. Sengkuni tak berhenti mengumpat berulang kali saat kamera yang menayangkan penyerangan itu satu per satu padam akibat kalahnya para pasukan monster berikut pesawat pengangkut.
"Hahahaha! Hahahaha! Lagakmu seperti seorang profesional, Sengkuni. Namun, lihatlah. Mereka bukan tandingan para mafia itu!" pekik Marco yang ikut dijadikan kepompong seperti lainnya.
Para mafia berikut orang-orang berkemampuan khusus yang berhasil ditangkap oleh putera dari Raden itu, satu per satu ikut mencibir lelaki tersebut. Jantung anak buah Sengkuni berdebar kencang karena mereka bisa melihat kemarahan yang sebentar lagi akan meledak dari pemimpin mereka itu. Benar saja.
"Diam! Goarr!" teriaknya marah yang diakhiri dengan raungan besar hingga membuat tubuh yang mendengar bergetar.
Junior sampai memejamkan matanya rapat karena ketakutan. Han dan para manusia yang tak memiliki kemampuan khusus tertegun dengan mata membulat penuh saat melihat perubahan wujud Sengkuni lainnya. Tubuh pemuda itu sudah kehilangan sosok manusianya karena ia menyerap semua kekuatan dari para mafia yang berhasil ditangkap seperti Fara, Reina, Loria, Jason, Marco, Polo, bahkan Irina. Orang-orang itu langsung terdiam dengan wajah pucat saat melihat Sengkuni layaknya monster yang menyeramkan.
"Kalian kubiarkan hidup dengan satu tujuan. Aku ingin, orang-orang yang berhasil datang kemari untuk menyelamatkan kalian, menyaksikan dengan mata sendiri, betapa kejamnya diriku saat membunuh kalian hidup-hidup di depan mereka. Jadi ... tertawalah selagi bisa. Ejeklah aku sepuasnya karena setelah itu, aku yang akan tertawa gembira. Hahahaha!" ucapnya senang yang memperlihatkan gigi gergajinya yang begitu tajam.
Semua orang terdiam dengan pandangan tak menentu. Mereka tahu, jika lelaki berwujud monster itu serius dengan ucapannya karena tak pernah main-main dan selalu membuktikannya. Mereka yang sudah kehilangan kemampuan serum, tak bisa melakukan sesuatu untuk membebaskan diri dari kepompong. Pada akhirnya, orang-orang itu pasrah menerima takdir dan berharap, mereka mati tanpa harus merasakan kesakitan yang berlebih.
***
__ADS_1
uhuy makasih tips koinnya ❤️ lele padamu. oia setelah King D tamat, lele fokus ke Jono ya. sambilannya lele up NBB biar ikut tamat akhir th Des ini. lalu lanjutin antara Casanova atau Marco-Polo. Dan jangan lupa, bsk jam 9 pagi Google Meet acara giveaway. Siap2 untuk bawa pulang hadiahnya. tengkiyuw 💋