KING D

KING D
Chip?*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Orang-orang dari kubu Yohanes diberikan alat translator oleh Irina dan Fara. Adik King D terpaksa memakai masker penutup mulut karena khawatir jika orang-orang itu akan ketakutan jika melihat taringnya.


Para nelayan itu masih terlihat ketakutan karena tubuh mereka gemetaran dan basah kuyup.


Ritz diminta untuk naik ke helikopter menggantikan tugas Obama. Lelaki itu dengan sigap menaiki tangga tali dan segera duduk di bangku pilot.


Obama melihat dari pintu helikopter di mana mayat-mayat para penculik terapung sudah tak bernyawa.


"He? Kok pada dimampusin semua? Ini terus gimana mau nginterogasinya?" tanya Obama memekik.


Praktis, tim yang bertugas di lapangan baru sadar jika para anak buah Hope tewas karena serangan brutal mereka.


"Tak masalah. Ada mereka yang bisa kita tanya," sahut Yohanes menunjuk orang-orang yang berhasil diselamatkan meski masih terlihat gugup.


"Sebaiknya kita periksa mayat-mayat itu. Mungkin diantara mereka ada Hope," ucap King D yang kini sudah berada di atas perahu karet bersama tim dari Irsyad.


King D meminta kepada tim dari Oman untuk membuka semua topeng putih mayat-mayat yang terapung.


Ternyata, jaket mereka seperti memiliki fungsi pelampung. Jason makin curiga saat melihat logo pada jaket itu adalah salah satu usaha alat selam milik Ahmed yang dijalankan oleh Eko, tapi belum sempat diwariskan pada anak-anaknya karena kematian yang tiba-tiba.


Yohanes melihat dari tampilan tablet yang tersambung dengan kamera di badan luar helikopter didampingi Obama.


"Paman Yohanes, bagaimana?" tanya King D seraya melihat wajah para mayat yang ternyata berjenis kelamiin laki-laki semua.


"Mereka bukan Hope. Mereka tak memiliki tato di tangan," jawab Yohanes terdengar lesu.


"Ah, kau benar. Hope memiliki tato di tangan," sahut Irina.


"Baiklah kalau begitu. Tugas kita sudah selesai di tempat ini. Setidaknya, kita mendapatkan hasil," ucap King D yang suaranya terdengar jelas di sambungan komunikasi.


King D memanjat lebih dulu ke atas helikopter menggunakan tangga tali seraya menenteng koper yang diyakini milik Boleslav Industries dan akan mencari tahu isinya nanti.


"Lucuti pakaian selam mereka. Aku ingin memastikan sesuatu," pinta Jason berbisik kepada tim yang berada di perahu karet saat ia sudah melepaskan earphone komunikasi.


Lucas dan lainnya mengangguk paham. Jason segera menyusul untuk ikut dalam penerbangan di helikopter.


Anggota tim Marco-Polo ikut dengan tim Oman menuju ke pesisir negara tersebut dan nantinya akan diseberangkan menggunakan helikopter menuju India.


Ritz diminta untuk menerbangkan helikopter ke dermaga yang sudah dijanjikan untuk bertemu kelompok Souta.


Tim Souta telah bergerak menuju ke pelabuhan menggunakan helikopter yang mereka dapatkan di hanggar milik Rahul.


Lelaki asal Jepang tersebut sudah diberikan denah oleh Rohan untuk mengetahui seluk-beluk markas di India.


Sistem persenjataan otomatis untuk melindungi markas juga telah diaktifkan selama Souta dan timnya pergi untuk menemui King D di pelabuhan.


Saat Jason dan King D sudah berada di kabin helikopter, tiba-tiba saja ....


"Oh! Dia 'kah lelaki yang menyelamatkan kami? Kulihat dia bisa bicara dalam air," ucap seorang wanita menunjuk Jason.


"He? Om Jason bisa ngomong dalam air? Gak ketelen itu air? Keselek gitu?" tanya Obama melotot.


"Entahlah, aku baru menyadarinya, tapi sepertinya demikian. Hanya saja, saat aku bicara, kapasitas oksigen di paru-paruku seperti menurun. Oleh karena itu, aku langsung berenang ke permukaan," jawabnya terlihat bingung dengan dirinya sendiri.


"Oh! Lihat matanya! Kaki dan juga tangannya! Jangan-jangan, dia jelmaan monster air seperti dalam mitos!" seru seorang lelaki menunjuk Jason dengan mata melotot.


PLAK!


"Agh!" rintih orang itu saat kepalanya dipukul kuat oleh Obama. Praktis, suasana hening dan ketegangan begitu terasa.


"Bukannya bilang terima kasih malah ngolokin orang. Dia bukan monster laut. Namanya Jason Boleslav. Si ganteng pengusaha kaya asal Rusia. Sembarangan bicara. Kalau gak ada dia, udah mampus kalian ditelen lautan. Minta maaf!" bentak Obama melotot tajam.


"Sudahlah, Otong. Apa yang mereka katakan memang benar. Aku ... seperti monster laut," ucap Jason dengan wajah tertunduk terlihat sedih.


"Ka-kami minta maaf. Kami tak bermaksud menyinggungmu. Hanya saja, wujudmu tak biasa bagi kami. Selain itu, kami para nelayan mempercayai mitos lautan. Kami sungguh minta maaf," ucap seorang lelaki tampak bersalah.


Jason tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan kerumunan orang dalam kabin menuju tempat duduknya di depan bersama Ritz. Yohanes menatap kawan-kawannya dengan ekspresi terlihat kecewa.


"Kami benar-benar menyesal," ucap seorang wanita tak enak hati menatap Yohanes sendu.

__ADS_1


"Sudahlah. Yang terpenting kalian sudah selamat," jawab Yohanes pelan.


Selama penerbangan menuju ke Nhava Sheva, India, pemindai pada badan helikopter diaktifkan.


Sayangnya, untuk bisa mendeteksi keberadaan manusia, alat itu tak bisa digunakan dalam jarak jauh.


Helikopter hanya bisa memindai dengan ketinggian kurang lebih 100 meter di atas permukaan tanah.


Hal ini sedikit berisiko jika ada bangunan yang lebih tinggi dan bisa membuat helikopter menabrak atau ada monster di gedung tinggi tersebut untuk melompat.


Irina dan Fara memberikan persediaan makanan kepada para manusia yang selamat. Orang-orang itu terlihat sungkan dan berterima kasih. Mereka makan dengan lahap terlihat seperti kelaparan.


Yohanes membantu Obama dengan memindai tubuh para nelayan itu satu per satu untuk memastikan mereka sehat dan tak terjangkit serum monster.


Namun, temuan baru didapatkan dalam tubuh orang-orang itu.


"Ini apa?" tanya Yohanes saat melihat pada tangan kiri salah satu nelayan laki-laki seperti ada sebuah benda terpasang di dalamnya.



"Eh, ini sebuah chip!" seru Obama yang mengejutkan semua orang.


"Chip apa?" tanya King D sampai matanya melotot dan bergegas mendatangi Yohanes.


Pria asal Meksiko itu menunjukkan tampilan dari pemindai yang diberikan Obama padanya. King D menatap nelayan itu tajam berikut lainnya.


"Apa ini?" tanya King D seraya memegang tangan lelaki itu dan meraba pada bagian yang terdapat chip tersebut.


"Kami tak tahu, sungguh. Kami bahkan tak tahu jika berada di kapal selam dan akan dibawa ke mana. Saat kami sadar, kami sudah terikat dengan mulut dibungkam. Sungguh, kami tak bohong!" ucap lelaki itu terlihat ketakutan karena King D memegang tangannya erat.


King D melirik Obama, dan lelaki gundul itu mengangguk pelan. Orang-orang King D tahu jika kabin helikopter telah dipasangi detektor kebohongan sebagai antisipasi adanya pengkhianat dalam kubu mereka.


Sekaligus, mengingat banyak orang-orang yang mereka selamatkan akhir-akhir ini. Terlebih, musuh baru mereka licik dan mengetahui persenjataan Vesper serta Boleslav Industries.


King D mencoba menggunakan kemampuan dari mata peraknya dan berhasil. Ia melihat chip tersebut seperti aktif karena menyala meski lampunya redup agar tak terlihat dari lapisan luar kulit.


Semua nelayan itu kaget termasuk Yohanes dan Obama ketika melihat mata King D berubah lalu kembali menjadi merah biru usai berwarna perak.


Para nelayan itu semakin ketakutan seperti tak menyangka jika ada manusia aneh yang memiliki kemampuan tak lazim selain Jason.


"Ada apa, Paman?" tanya King D menatap Jason tajam.


"Aku berhasil membuka kopernya," jawabnya yang membuat King D dan orang-orangnya terkejut. "Sepertinya, chip itu teknologi baru yang dikembangkan seperti pelacak sekaligus peledak," imbuhnya yang membuat mata semua orang melotot.


"Apa maksudmu peledak?" tanya Yohanes gugup.


Jason menunjukkan sebuah ponsel dengan layar hitam seperti tak aktif yang ia dapatkan dari isi koper temuannya.


Ia lalu meletakkan tiga jarinya yakni telunjuk, jari tengah dan jari manis sebelah kanan pada layar tersebut seraya menekannya.


Jason kemudian menurunkan tiga jarinya bersamaan seperti membentuk sebuah pola karena pada gerakan terakhir, ia mengetuk sebanyak tiga kali, dan tiba-tiba ponsel itu menyala.


"Sepertinya Hope tak bisa mengaktifkan ponsel ini. Saat aku mencoba membukanya dengan jari kiriku, ponsel ini tak menyala. Aku lalu meminta kepada Ritz untuk mencoba menyalakannya, tapi ia juga tak bisa. Sidik jari ponsel ini ternyata hanya bisa diaktifkan olehku," ucap Jason dengan wajah datar.


"Bagaimana bisa?" tanya Irina terkejut.


Jason diam sejenak menatap ponsel itu. "Yang seharusnya menjadi pertanyaan. Bagaimana bisa Hope memiliki ponsel ini? Seharusnya, benda ini ada bersamaku saat kuditidurkan dalam tabung. Apakah ... saat pesawatku jatuh, Hope dan anak buahnya datang mencoba mencuri tabungku, tapi tak ditemukan? Lalu ... ia mendapati koper ini?" tanyanya terlihat serius.


"Mungkin kita bisa menanyakan hal itu pada tim Oman. Bukankah ... mereka yang menemukanmu?" sahut Fara.


Jason mengangguk setuju.


"Lalu ... soal chip itu. Apakah itu buatan Boleslav Industries?" tanya King D penuh selidik.


"Ya. Namun setahuku, alat itu masih prototipe. Akan tetapi, melihat kenyataannya, mungkin sudah dibuat dan diimplementasikan tanpa sepengetahuanku. Ada alat khusus untuk menanam chip itu sekaligus menonaktifkannya. Hanya saja, benda itu tak ada dalam koper ini. Hanya ponsel ini saja," tegasnya.


King D bergegas ke kabin pilot bersama Jason untuk membahas tentang ponsel tersebut. King D meminta agar chip itu dilepaskan karena takut jika yang dikatakan oleh Jason benar bila alat mungil itu bisa meledakkan manusia meski tak diketahui bagaimana detail teknis kerjanya.


"Apakah ... kau akan memotong tanganku?" tanya lelaki itu gugup saat Obama menggerakkan alisnya membentuk gelombang.


"Maunya sih gitu biar cepet. Pakai gelang pemenggal beres," jawabnya santai. Praktis, lelaki itu terkejut dan menarik tangannya, tapi Obama malah menjabat tangannya kuat sehingga tak bisa lepas. Wajah tegang tampak jelas di muka para nelayan itu. "Namun, ada cara yang lebih manusiawi. Santai aja," imbuhnya dengan seringai, tapi malah membuat orang-orang bergidik ngeri.

__ADS_1


"La-lu ... bagaimana caranya?" tanya Yohanes ikut panik.


Obama berbisik ke telinga pria Meksiko itu. Yohanes tampak terkejut, tapi Obama mengangguk meyakinkan.


Yohanes mengangguk paham meski terlihat gugup. Lelaki itu menatap kawan-kawannya yang terlihat pucat karena takut dilukai.


"Chip ini harus dikeluarkan. Jadi ... bersiaplah," ucap Yohanes pelan.


Seketika, KLEK! KLEK!


"Oh! Apa yang terjadi?!" pekik para nelayan itu saat tiba-tiba saja, semua pintu tertutup baik pintu menuju kabin depan dan sisi kanan kiri helikopter.


Obama memberikan serum penawar kepada Fara, Irina, dan Yohanes. Mereka segera meminumnya seperti tahu dengan apa yang akan terjadi.


Obama mengunyah serum gel itu seraya mengambil sebuah granat warna putih dari sebuah peti.


Ia melirik Fara dengan senyum penuh maksud. Fara bingung dan hanya mengedipkan mata.


Seketika, KLANG!


"Granat!" teriak salah satu nelayan panik dan membuat orang-orang itu berteriak histeris.


Namun, BUZZ!!


"Uhuk, uhuk!"


"Fara. Minta rambut landaknya dong. Cuma rambutmu yang ukurannya paling imut. Yuk, cepet yuk keburu chip-nya meledak dan kita gosong semua," pinta Obama dengan senyum lebar, tapi malah terlihat mengerikan bagi Fara.


Gadis itu berkerut kening. Saat ia menoleh dan mendapati orang-orang itu pingsan, Fara mengangguk meski cemberut. Ia terlihat sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.


Irina memalingkan wajah seperti berusaha untuk menahan diri ketika Fara dalam mode bertarung.


Aura yang dipancarkan Fara, membuatnya ingin berkelahi dengan calon adik iparnya itu.


"Berapa?" tanya Fara sebal.


"Satu dulu aja. Kamu yang cabut atau Otong yang cabut? Kalau Otong yang cabut biasanya sekali tarik dapet 100 biji kaya cabut rumput hama tanaman," jawabnya yang membuat mata Fara melotot.


"Ish! Aku saja! Ini!" sahutnya yang mencabut rambutnya sendiri lalu memberikan pada Obama.


"Nuwun ya," jawab lelaki Jawa itu seraya berjalan mendekati salah satu nelayan.


Yohanes dengan sigap mengarahkan alat pemindai ke chip tersebut. Semua orang dalam kabin tampak tegang karena takut benda tersebut meledak. Helikopter belum tiba di India dan masih melintasi lautan.


"Bismillahirrahmanirrahim, cus," ucap Obama seraya menusukkan jarum tipis itu ke tangan nelayan tersebut di mana terdapat chip terpasang di dalamnya.


Mata semua orang melebar seolah jantung dan napas mereka terhenti sepersekian detik. Yohanes melihat dengan saksama saat jarum itu bergerak dengan lurus menusuk daging, menuju ke chip tersebut hingga menempel pada permukaannya.


Yohanes melihat Obama membiarkan jarum itu masih tertancap entah apa maksudnya. King D yang melihat dari layar tablet pada sandaran dudukan tampak serius ketika Obama mengambil sebuah alat yang ia kenal.


"Jangan bilang kau akan—"


CRETTT!! PES!


"Woah! Benda itu ... padam!" seru Yohanes terkejut saat Obama mengalirkan listrik dari alat penyetrum ke jarum emas tersebut untuk membuat konsleting pada chip.


Warna terang yang awalnya ditunjukkan layar pemindai pada chip tersebut berubah gelap.


"Wah! Kau jenius, Otong!" seru Irina memuji dan terlihat lega.


"Panggil saja profesor Obama Otong sekaligus calon presiden mafia masa depan," ucapnya bangga.


Semua orang terkekeh, tapi memberikan jempol padanya. King D memegangi dadanya begitupula Jason dan Ritz yang ikut tegang karena takut benda itu akan meledak di helikopter.


Akhirnya, teknik itu diterapkan ke semua nelayan yang dipasangi chip oleh Hope. Irina, Fara dan Yohanes membantu agar pekerjaan tersebut lebih cepat selesai sebelum orang-orang itu sadar dari pengaruh gas bius.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



lagi napsu ngetiknya jadi dimaklumi 😆 kwkwkw jadi panjang dah 1 epsnya😅 jangan lupa udah hari senin, vote vocernya biar gak hangus ya. vote poin boleh banget termasuk like dan rate bintang 5 bagi yang belum. tengkiyuw lele padamu❤️


__ADS_2