
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Hilangnya King D membuat panik semua orang di dalam helikopter. Polo segera membagi anggota timnya menjadi tiga kelompok yang dipimpin oleh Marco, Souta dan dirinya.
Saat Souta mencoba menghubungi Jason yang berada di helikopter, sambungan itu seperti terblokir.
"Pasti ada penghalang sinyal!" ujar Fara yang diangguki semua orang karena sependapat dengannya.
"Harus ada yang menjaga pintu gua. Biar aku saja. Tolong selamatkan D," pinta Irina, dan diangguki semua orang.
Segera, tiga tim itu bergegas masuk ke dalam gua karena ternyata, terowongan tersebut memiliki tiga cabang.
Tim Souta mengambil jalan tengah. Sedang tim Polo mengambil sisi kanan, dan Marco sisi kiri.
"Ada bau darah!" seru Marco saat indera penciumannya menguat.
"Lihat! Pasti kak D sengaja meninggalkan jejak! Dia memang jenius! Tunggu kami, Kak!" seru Fara ketika melihat goresan pada dinding batu dengan bekas darah menempel di sana.
Fara dengan sigap berlari, tapi dihentikan oleh Marco. Praktis, langkah Fara terhenti dan wajahnya berubah sebal.
"Jika kau berubah, rambut landakmu akan mengganggu pergerakan kami. Kau di belakang saja," ucap Marco melotot.
Fara mendesis sebal, tapi menurut. Chen dan Ritz hanya tersenyum saat melewati gadis manis itu.
Marco memimpin jalan dengan mengandalkan indera penciumannya untuk melacak jejak King D dari bau darah karena luka yang sedang dideritanya.
Sedang tim Polo beranggotakan Bruno, Robin dan Hugo. Tim Souta beranggotakan Lucas, Fabio, dan Edward.
Orang-orang itu menyusuri terowongan dengan cepat seraya menyiagakan senjata di segala sisi.
Sedang Irina, melihat sekitar di luar gua di mana tempat itu sepi, tapi terdapat banyak jejak kaki di atas daratan karena peperangan tadi.
Saat Irina ingin memeriksa mobil yang timnya temukan bersama orang pingsan meski sosoknya menghilang, tiba-tiba, KLANG!!
"What?!" pekiknya saat menoleh dan mendapati sebuah pintu besi menutup pintu gua.
Irina bergegas kembali dan mencoba membuka pintu besi tersebut, tapi gagal. Irina melihat helikopter yang dikemudikan Obama seperti terbang berputar untuk mencari keberadaan kawan mereka yang hilang.
"Otong!" panggil Irina dari sambungan komunikasi.
"Ya!" jawabnya lantang.
"Lemparkan senjata peleleh logam dan perlengkapan lainnya! Pintu gua tertutup! Sepertinya orang-orang itu sengaja menjebak kawan-kawan kita di dalam agar tak bisa keluar!"
"Siap!" jawab Obama yang dengan sigap mendekatkan helikopternya lagi di tempat Irina berada.
Jason menurunkan satu buah tas ransel untuk digunakan Irina selama menjaga pintu melalui tali pengait.
Jason yang kini tak tahan dengan cuaca panas, memilih untuk tetap berada di helikopter saat benda terbang tersebut akhirnya mendarat agar tak terpisah jauh dengan Irina.
Jason menjaga helikopter dengan sistem persenjataan otomatis diaktifkan. Obama bergegas keluar dari helikopter dan mendatangi Irina yang sedang fokus membidik pintu besi tersebut.
"Iri—"
DUK! DUK! CESS!
"Woo, ra sabaran," keluh Obama saat wanita cantik itu telah melontarkan peluru peleleh logam dan membuat beberapa lubang di sana.
Obama berjalan mendekat saat melihat pintu besi itu sepertinya begitu kokoh dan sulit dijebol. Irina kembali membidik, tapi Obama mengarahkan moncong senapan itu ke bagian panel.
"Sebelah sini loh, Jeng. Jangan ditengah. Kamu mau nyempil diantara lubang-lubang itu kah? Emang cukup?" tanya Obama yang membuat Irina tersenyum malu karena salah bidik.
Irina melakukan yang diperintahkan oleh Obama. Saat ia menembakkan pelurunya lagi ke bagian panel dan melelehkannya, pintu tersebut langsung terbuka.
__ADS_1
"Kan, apa kata Otong. Sabar dan kudu jeli. Diliat dulu jenis pintunya, main tembak aja. Kalau mau melubangi semua pintu ya gak papa, tapi irit peluru itu lebih baik," ucapnya dengan logat Jawa kental.
"Oke," jawab Irina dengan senyum lebar.
Saat Obama mendorong pintu itu, tiba-tiba saja ....
"Apa kau memprediksi hal ini?" tanya Irina yang spontan mengangkat kedua tangan termasuk Obama.
"Enggak," jawabnya santai seraya ikut mengangkat tangan.
Orang itu bicara dalam bahasa Mongol. Terjemahan.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan penutup wajah berbicara serius. Kening Irina dan Obama berkerut. Keduanya saling melirik dalam diam.
"Untung saja ada alat translator. Aku tak mengerti sama sekali yang dia ucapkan," bisik Irina usai mendengar arti ucapan lelaki tersebut dari alat penerjemah.
Alat translator seperti earphone yang terpasang di telinga tersebut memiliki dua suara penerjemah. Suara Eiji untuk laki-laki dan Vesper untuk suara perempuan.
"Emang Otong tau mereka ngomong apa? Enggak," jawabnya santai meski wajahnya tegang. "Masalahnya, gimana kita jawabnya? Doi pasti gak paham dengan bahasa kita. Kalau Otong kasih alat translator nanti dikira mau ngelawan. Nanti Otong digebukin jadi ganteng gimana dong?" ucapnya yang membuat kening Irina berkerut.
"Coba saja dengan bahasa Inggris atau Mandarin. Biar aku saja yang bicara," ucap Irina gugup dan Obama mengangguk setuju.
"Monggo."
"Hai, aku ... Irina Tolya. Lelaki di sebelahku bernama Obama Otong. Kami dalam misi untuk menyelamatkan para manusia yang selamat untuk dikumpulkan menjadi satu koloni," ucap Irina dengan bahasa Inggris, tapi membuat semua senapan laras panjang itu malah makin dekat dengan tubuh mereka.
"Jangan bahasa Inggris. Mandarin coba!" ucap Obama panik karena orang-orang itu malah terlihat semakin garang.
Saat Irina baru akan membuka mulutnya, salah satu orang di barisan paling belakang mendekat.
Irina menyipitkan mata saat orang itu melangkah maju diantara kerumunan orang bersenjata yang keluar dari gua.
"Aku mengerti yang kauucapkan. Namun, tujuanmu yang membuat kami merasa kalian adalah ancaman," ucap lelaki tua itu yang mengejutkan Irina dan Obama yang menjawab dengan bahasa Indonesia.
Tiba-tiba saja, Jason berlari seraya membawa sebuah alat pemindai dalam genggaman. Ia mengenakan sepatu boots untuk melindungi kakinya agar tak tersengat karena pasir gurun yang panas.
"Database mengenalinya!" seru Jason yang membuat semua moncong senjata kini terarah padanya.
Lelaki tua itu menyipitkan mata seraya melihat Jason saksama. Sebuah alat pemindai mengarah ke wajah lelaki itu yang membuat Jason langsung membungkam mulutnya dengan satu tangan yang terbungkus sarung.
"Dia Raden! Kalian ingat? Raden yang memberikan benih spermaanya kepada Sandara! Lelaki itu dia!" seru Jason yang membuat mata Irina dan Obama melebar.
"Pakde? Om? Eh ... apa ya panggilnya?" sahut Obama malah mengedipkan mata dan menatap langit.
"Paman. Aku Irina Tolya. Apa kau ingat? Kau berasal dari Indonesia 'kan? Lalu ... apa yang kaulakukan di tempat ini? Kenapa ... kau menjadi tua? Apa ... kau tak disimpan dalam tabung?" tanya Irina dengan kening berkerut menatap lelaki itu saksama.
Tiba-tiba, salah satu wanita melangkah maju. Irina dan lainnya menatap wanita itu saksama saat membuka penutup wajahnya.
"Kau mengenalnya?" tanya wanita berparas cantik itu.
"Ya, dia keluarga kami dari Indonesia. Lelaki gundul di sebelahku ini juga berasal dari negara yang sama dengannya," jawab Irina karena wanita itu mengajaknya bicara dengan bahasa Inggris.
Wanita itu mengangguk lalu mengajak Irina serta lainnya masuk ke dalam gua. Namun, Obama tak bisa meninggalkan helikopternya di luar.
Akhirnya, pria tua bernama Raden dan wanita cantik asal Mongolia itu ikut ke dalam helikopter diikuti oleh tiga lelaki bersenjata seperti pelindung mereka. Sisanya, menunggu di pintu gua.
"Apa? Begitu keluar dari tabung, pria bernama Raden ini seperti mengalami penuaan dini?" tanya Irina sampai matanya melotot.
"Ya. Saat tabung itu terbuka, lelaki bernama Raden ini masih muda. Namun, setelah ia tinggal bersama kami kurang lebih dua tahun, dari hari ke hari ia seperti mengalami penuaan. Kulitnya perlahan keriput, rambutnya beruban, dan ... yah, seperti kakek-kakek. Kami bingung, tapi dia mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Hanya merasa begitu lelah dan rapuh," jawab wanita itu iba saat menatap Raden yang duduk dengan lemah di bangku helikopter.
"Pasti terjadi kegagalan fungsi organ tubuh," ucap Jason terlihat sedih.
"Ya, sepertinya begitu. Maaf, aku tak begitu ingat dengan kalian," jawab Raden dengan suara parau.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa sampai di sini, Paman?" tanya Irina sedih.
"Sekitar dua tahun yang lalu, ada sebuah pesawat melintas. Kala itu, kami tinggal di Oasis gurun ini sebagai tempat pengungsian para manusia selamat. Kami mengira, pesawat itu adalah tim penolong karena berupa kargo dan bercorak militer," ucap wanita cantik itu mulai berkisah.
Irina dan lainnya terlihat serius menyimak karena mereka juga penasaran. Kenapa putera dari Satria Adipura dan Tika Herlambang yang seharusnya berada di Indonesia malah berakhir di Mongolia?
"Saat kami berusaha mengejar pesawat itu, tiba-tiba saja pesawat ditembaki oleh kawanan kendaraan militer yang melintasi gurun. Kami bersembunyi dan hanya bisa diam menyaksikan kejadian malam mencekam itu. Pesawat tersebut melakukan serangan balasan, tapi gagal. Pesawat jatuh dan terlihat beberapa benda terlontar. Kami ketakutan dan memilih untuk segera pergi meninggalkan kawasan lalu memasuki bangunan yang berada di Oasis."
"Pesawatnya pakde Raden ditembak sama militer gitu? Kok bisa? Kita 'kan udah damai, udah temenan sama mereka," sahut Obama yang membuat orang-orang Mongol itu menggeleng tidak tahu.
"Tenang, Otong. Kita dengarkan dulu penjelasan mereka," ucap Irina menasihati, dan lelaki gundul itu mengangguk paham.
"Namun, saat aku dan tiga temanku ini akan memasuki bangunan, tabung Raden jatuh di dekat kami berlari. Tentu saja kami terkejut. Terlebih, setelah melihat ada manusia di dalamnya. Tanpa pikir panjang, kami bawa masuk tabung itu ke dalam bangunan. Namun, menurut Raden, seharusnya kami tewas karena tabung itu dilengkapi sistem keamanan. Sayangnya, hal itu tak terjadi. Tabung itu tak memiliki sistem keamanan dan bisa kami buka keesokan harinya meski harus dicongkel paksa. Hanya saja, begitulah. Menurut Raden, prosedur kebangkitan yang kami terapkan salah. Aku merasa berdosa karena membuat Raden menjadi seperti ini," ucap wanita itu terlihat begitu menyesal.
Namun, Raden hanya tersenyum saat memegang tangan wanita cantik itu. Irina dan lainnya terdiam saat wanita Mongolia tersebut menghapus air matanya.
"Aku tak menyalahkanmu, Sarnai. Ini sudah kehendak Allah. Sudah seperti ini jalannya," ucap Raden dengan suara serak, dan wanita itu mengangguk pelan.
"Hanya saja, saat kami mendengar penjelasan dari Raden, kami bergegas mendatangi jatuhnya pesawat. Namun, pesawat itu sudah kosong. Semua muatannya lenyap karena Raden mengatakan jika ada 10 tabung bersamanya, berikut perlengkapan dan persediaan yang diangkut dari Indonesia. Katanya, tabung-tabung itu akan dipindahkan dari Indonesia ke Kastil Borka di Rusia," ucap salah seorang pria Mongol serius dengan rambut hitam potongan tentara.
"Dipindahkan? Kenapa?" tanya Jason bingung.
"Kabar itu sudah kudengar sejak wabah monster kedua menyebar. Kala itu, aku ditidurkan oleh ayah saat ia mengatakan jika kemungkinan buruk terjadi, tabung-tabung yang berada di Indonesia akan dipindahkan ke Kastil Borka di Rusia. Melihat pesawatku melintasi Mongolia, sepertinya hal itu sedang dilakukan. Sayangnya, ada pihak-pihak yang membuat pemindahan itu malah menjadi bencana," jawab Raden yang membuat mata Irina serta lainnya menyipit.
"Hope?" tanya Jason saat menatap Irina dan Jason.
"Oh! Kalian mengenal orang itu?" tanya wanita Mongol yang dipanggil Sarnai oleh Raden. Namun, pertanyaannya membuat orang-orang dari tim Irina langsung menatapnya lekat.
"Kami tak mengenalnya, tapi kami yakin jika orang bernama Hope ini adalah ancaman dan musuh sebenarnya. Dia mencuri tabung-tabung orang-orang dalam jajaran kami entah akan digunakan untuk apa. Bisa jadi, sembilan tabung yang bersama Raden kala itu diambil olehnya," tegas Jason.
"Aku rasa ucapanmu benar. Karena usai kejadian itu, beberapa orang berseragam militer mendatangi Oasis setelah kami menemukan Raden dan membuka tabungnya. Mereka menanyakan soal tabung, tapi kami terpaksa berbohong dengan mengatakan tidak tahu. Lalu, orang-orang itu mengatakan hal yang mirip denganmu, wanita bermata hijau," ucap seorang lelaki Mongol dengan rambut hitam panjang tergerai.
"Maksudmu ... mengatakan sebagai penyelamat dan sejenisnya?"
Orang-orang Mongol itu mengangguk.
"Beberapa dari kami percaya dan ikut dengan mereka, tapi aku dan sisanya tidak. Ayahku dulu mantan orang militer dan aku cukup tahu tabiat para tentara. Orang-orang itu memang berseragam militer, tapi melihat cara bicara dan bersikap, mereka jelas-jelas penipu. Entah tujuan mereka sebenarnya apa, tapi setelah orang-orang kami dibawa, mereka tak terlihat lagi," ujar lelaki Mongol dengan potongan tentara.
"Malah, enam bulan setelahnya, kawan-kawan kami kembali dan berubah menjadi monster. Kami terpaksa mengungsi dan berkelana jauh hingga menemukan gua ini lalu akhirnya menetap di sini. Namun, saat aku dan timku mencoba kembali ke tempat kami berkumpul dulu, tabung Raden sudah lenyap seperti sengaja diambil. Lalu ... kawan-kawan kami yang berubah menjadi monster juga tak ada, entah mereka berkeliaran ke mana. Sejak kejadian itu, kami menjadi waspada," imbuh lelaki Mongol dengan rambut dikuncir kuda.
"Awalnya, kami sepakat untuk menuju Rusia ke Kastil Borka. Namun, melihat ancaman para monster yang dulunya kawan-kawan kami, terpaksa kami bertahan di sini hingga mendapatkan perlengkapan memadahi untuk menyeberang. Sayangnya, satu mobil yang kami jadikan jebakan tak membuahkan hasil dan membuat kami terperangkap di sini," ucap Sarnai terlihat sedih.
Jason, Irina dan Obama saling berpandangan terlihat serius.
"Jika demikian, aku rasa kita sekutu. Kami menganggap Hope sebagai musuh dan kami sedang dalam misi untuk menguak aksi gilanya. Oleh karena itu, tolong bebaskan kawan kami yang bernama King D. Kalian tadi menembaknya, dan aku sangat yakin jika dia sedang terluka parah," ucap Jason tegas. "Sebagai imbalannya, kami akan antar kalian ke Rusia."
"Oh! Lelaki yang terluka itu King D?" tanya Raden hingga matanya melebar.
"Kau mengenali King D, Paman?" tanya Irina tampak terkejut.
"Tentu saja. Dulu aku sering bermain dengannya. Ya Allah, aku sudah membuat kesalahan besar. Paman minta maaf," ucap Raden terlihat gugup. "Sarnai, tolong," pinta Raden dengan sangat dan wanita Mongol cantik itu mengangguk dengan senyuman.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya💋lele kasih panjang sampai 2k nih 😆 jangan lupa vote vocernya karena sudah hari senin. semoga bisa dobel eps walopun pagi2 dibuat bete gegara naskah ilang belom ke save. inilah jeleknya sistem worksheet MT gak bisa auto save. MENYUSAHKAN!!!