
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
King D terkejut termasuk Irina dan Obama Otong karena Jonathan memekik. Pria itu lalu beranjak dari jendela dan kembali berdiri tegak seraya bertolak pinggang. Namun lagi-lagi, matanya seperti mendapati sesuatu.
"Kenapa aku menjadi seperti gorila dengan banyak rambut di tubuh?!" pekiknya saat melihat sosoknya dari pantulan jendela helikopter.
"Soal itu ... kami juga tak tahu. Kami bahkan hampir tak mengenali Anda. Untung saja sistem bisa melakukannya," jawab Irina menjelaskan.
"Aku jelek sekali seperti monyet. Ini buruk," ucapnya seraya memegangi rambut lebat yang tumbuh dan hampir menutup paras tampannya itu.
"Mau cukuran kah, Om? Otong punya perlengkapan tempur untuk memperganteng wajah," tanya Obama menawarkan seraya memegang cangkir kopi.
"Ya, ya. Berikan padaku cepat," pinta Jonathan tergesa.
Obama lalu memberikan cangkir kopi itu pada King D karena ia bergegas mengambil perlengkapan bercukur.
Jonathan dengan sigap menuju kamar mandi dan menutup pintu rapat untuk melakukan ritualnya.
"Hehe, entah kenapa Otong seneng Om Jojon bangun," ucap Obama seraya mengambil cangkir kopi yang ia berikan pada King D.
"Ya. Sepertinya, Paman Jonathan tak seperti orang-orang yang terbangun lainnya. Melihat dari perilakunya, dia masih sama. Sistem detektor juga menganalisis jika semua organ tubuhnya normal, tak ada kelainan seperti kita," sahut Irina.
"Baguslah. Namun sepertinya, kita harus memberikan banyak informasi padanya mengenai tragedi yang sedang menimpa Bumi. Semoga dia memiliki solusi," ucap King D penuh harap.
"Amin," sahut Obama lalu menyeruput kopi tersebut.
"Bukannya, kopi itu untuk—"
"Elah lupa. Jangan bilang-bilang. Otong lap dulu biar gak ketauan," jawab Obama langsung mengelap bekas bibir pada cangkir kopi lalu meletakkan benda itu di atas meja. King D dan Irina menahan senyum.
Cukup lama Jonathan berada di kamar mandi. Bahkan terdengar ia seperti menyanyikan sebuah lagu populer pada zamannya—One Direction.
Irina dan King D menunggu senior mereka di kabin belakang untuk mendiskusikan banyak hal. Sedang Obama, fokus mengemudikan helikopter.
"Hah, bagaimana? Aku masih tampan 'kan?" tanya Jonathan dengan senyum terkembang saat keluar dari kamar mandi.
"Haha, wow! Ya, Paman! Ketampananmu tak luntur sedikit pun. Kau keren," puji King D yang sudah paham watak dari salah satu anak neneknya itu.
"Hah, jadi ... Bumi masih kacau ya? Biar kutebak. Wabah monster belum usai?" tanya Jonathan. Irina dan King D mengangguk membenarkan karena tak menyangka jika Jonathan tahu hal itu. "Jadi ... sudah tahu siapa biang keroknya? Sudah dibasmi? Lalu ... apa yang kalian lakukan di helikopter ini? Kita mau ke mana?" tanya Jonathan dengan rombongan pertanyaan.
King D menarik napas dalam terlihat siap untuk menjelaskan.
"Sejauh ini yang kami tahu adalah Hope biang keroknya. Hanya saja, siapa dia sebenarnya, apa latar belakangnya, dan tujuan melakukan teror ini, kami belum mendapatkan petunjuk."
__ADS_1
Jonathan mengangguk dalam diam. Pria itu masih memakai celana dalaam ketat dan hanya menutupi tubuh dengan jubah mandi dari handuk warna putih.
Keturunan Benedict tersebut bertolak pinggang terlihat santai dengan gayanya. Sedang Irina, matanya tak bisa pergi dari milik Jonathan yang terlihat jelas menonjol.
Sesekali wanita itu memejamkan mata atau mengalihkan pandangan. Sayang, King D menyadarinya dan melirik sang kekasih sadis.
"Ada rekaman wujud dari si Hope ini? Namanya sangat bagus karena pemberi harapan, tapi kalau kelakuannya seperti setan sebaiknya kita bumi hanguskan," ucap Jonathan.
"Setuju, Om! Otong dukung semilyar persen!" sahut Obama yang suaranya terdengar di kabin belakang.
Jonathan terlihat bangga karena idenya disetujui. Tak lama, muncul sosok Hope yang berhasil tertangkap beberapa kamera CCTV atas kemunculan akan aksi terornya di layar kabin belakang.
Jonathan terlihat serius melihat gelagat Hope ketika membunuh Dominic, saat mencoba merampas helikopter dan lainnya. King D dan Irina menatap Jonathan lekat yang penasaran dengan responnya.
"Suara dia dipalsukan. Sepertinya topeng Hope ini memiliki semacam fungsi layaknya topeng gagak The Circle. Atau The Mask yang dulu jadi anak buah Miles dan tak lain anak-anak Sutejo," ucap Jonathan mulai mengutarakan pemikiran.
"Anda yakin begitu?" tanya King D yang tak menyadari hal tersebut.
"Ya, aku yakin semiliar persen," jawabnya mengkopi ucapan Obama.
"Wedyan! Om Jojon sekali liat langsung bisa nebak. Selain itu apa lagi, Om? Kita menduga jika si Hope ini masih orang dalam jajaran kita. Dia sampai tega penggal kepala dan potong tangan Red loh biar bisa akses masuk markas. Kejem dia, Om!" tanya Obama yang membuat Jonathan menyipitkan mata masih melihat tayangan akan aksi Hope serta anak buahnya.
"Irina. Tolong kaucatat ini. Takutnya aku lupa," pinta Jonathan menunjuk Irina, tapi tak menatapnya.
King D terlihat serius menyimak termasuk Irina dan Obama dari dudukan pilot.
"Pertama. Hope mencuri tabung. Cari tahu sudah berapa tabung yang ia dapatkan dan berapa yang sudah berhasil dibuka," pinta Jonathan.
"Maaf, Paman. Namun, semua tabung yang sudah terbuka tak bisa identifikasi. Sinyalnya hilang dan tak terlacak. Oleh karena itu, kami mendatangi satu per satu markas dari jajaran untuk mengecek kondisi secara langsung karena panggilan kami tak mendapat jawaban," sahut King D.
"Oh, begitukah? Wah, pintar juga dia. Pasti Hope sudah mempertimbangkan hal ini dengan matang. Ia tahu dengan jelas seluk-beluk jajaran kita," ucap Jonathan yang diangguki King D dan Irina karena sepemikiran. "Oke, yang kedua. Data semua markas kita yang berhasil dicek secara langsung. Berapa tabung yang masih menyimpan para manusia, lalu berapa tabung yang sudah terbuka dengan kondisi manusia tersebut hidup, terakhir berapa tabung yang sudah terbuka dan tak ada manusia di dalamnya alias ditinggalkan atau kosong. Jika database tak bisa melacak, gunakan secara manual. Cek berapa jumlah tabung dalam markas yang disimpan dan selisih dari semua hitungan," pintanya seraya menunjuk Irina.
"Ya, kita harus mendata semuanya. Aku akan kabarkan hal ini kepada semua markas yang telah aktif," sahut King D yang dengan sigap ikut melakukan pendataan. Jonathan mengangguk.
"Ketiga. Dari semua tabung yang sudah terbuka dengan manusia sehat di dalamnya, selidiki satu per satu keberadaan orang itu. Sejauh ini, sudah berapa yang kembali beraktifitas, dan berapa yang sudah tewas entah cacat organ atau semacamnya," pinta Jonathan.
"A-Anda tahu hal itu? Anda menduga jika beberapa yang terbangun mengalami cacat organ dan tewas?" tanya Irina heran.
"Ya, itu pasti. Aku sudah pernah melihatnya. Ibumu Sia pernah mengalami cacat organ saat mencoba tabung buatan Jeremy yang diatur selama 5 tahun. Kalau tak salah begitulah. Saat itu, ibumu harus menjalani perawatan intensif dan dipindahkan ke Italia, laboratorium farmasi Elios. Hanya saja setelah itu, aku tak tahu bagaimana kelanjutannya karena aku ditidurkan. Lalu bangun lagi 5 tahun kemudian, lalu tidur lagi. Ya, begitulah," jawab Jonathan santai, tapi membuat King D dan Irina melongo.
"I-ibu sakit? Kenapa aku tak tahu hal itu?" tanya Irina terlihat sedih.
"Kukira kau tahu hal itu. Mungkin sebaiknya kau tanyakan pada jajaranmu tentang detailnya," jawab Jonathan melirik Irina sekilas lalu kembali menyaksikan rekaman.
__ADS_1
King D mengelus punggung Irina lembut yang tampak sedih dan cemas atas kondisi sang Ibu.
"Om Jojon bangun, tidur, terus bangun lagi gitu? Kok kaya lagu Mbah Surip. Bapak sering nyanyi itu pas lagi males-malesan, tapi berujung kena tabok Ibu. Hehehe," kekeh Obama dari bangku pilot.
"Aku ... tak tahu lagu itu? Ada ya?" sahut Jonathan mulai kehilangan fokus karena tak melihat layar lagi.
"Fenomenal itu di Indonesia, Om! Tar Otong cari lagunya kalau pas senggang. Sekarang lagi kritis suasananya. Monster di mana-mana dan Hope masih bersliweran kaya demit," sahutnya, dan Jonathan mengangguk.
"Oke, yang keempat. Pastikan rute kita untuk mendatangi markas-markas yang tak menjawab panggilan ditandai dan didata. Jika ada manusia yang masih tertidur dalam tabung, tapi markas kosong tak berpenjaga, bangunkan dua orang dari mereka," tegasnya.
"Dibangunin paksa gitu, Om? Gak papa?" tanya Obama panik.
"Aku punya aksesnya. Namun ingat, hanya aku yang bisa melakukannya," jawabnya seraya melihat tabung miliknya.
Entah kenapa, pemikiran Jonathan membuat Obama, King D dan Irina lega seperti mendapat pencerahan.
"Kami sangat beruntung Anda mau menolong kami, Paman. Semoga dengan kebangkitanmu, masalah ini dengan cepat selesai," ucap King D dengan senyuman, tapi wajah Jonathan malah berkerut.
"Enak saja! Setelah ini kalian harus menidurkan aku kembali. Aku tak mau saat Cassie, Sierra, Serenity dan Neil bangun, mereka melihatku sudah seperti kakek-kakek. Aku harus tetap tampan dan jantan. Selesaikan sendiri, enak saja menyuruhku," tolak Jonathan yang membuat wajah bahagia King D lenyap seketika.
"Elah, Om, pelit amat. Gak bakal ilang gantengnya!" seru Obama.
"Lima tahun aku ditidurkan sudah membuatku seperti gorila. Apalagi jika harus menemani kalian. Aku akan keriput, belum lagi jika harus terluka saat bertempur. Kalian lupa? Ketampanan itu nomor satu. Aku ingin menjadi satu-satunya pria tampan di Bumi yang tersisa. Kau, D, meskipun kau juga tampan, tapi urutan kedua. Jangan berani mengambil posisiku!" ancam Jonathan menunjuk keponakannya.
"O-oke," jawab King D gugup.
"Bukankah akan percuma jika nanti Anda tidur lagi, tapi saat bangun kondisi masih sama? Apakah Anda mau saat keluarga Anda terbangun keadaan Bumi semakin parah? Dengan adanya Anda sebagai keturunan mafia sejati, seharusnya petaka ini akan lebih cepat selesai. Apalagi jika dibantu oleh saudara-saudari Anda lainnya. Jangan lupa, kalian berempat juga sudah menjadi legenda. Anda keturunan Vesper dan Benedict!" ucap Irina yang membuat King D terheran-heran karena sang kekasih seperti memiliki maksud dari ucapannya.
Jonathan diam sejenak seraya mengelus dagunya yang sudah tak berjambang lagi. Irina melirik King D dengan senyuman, dan pria dengan dua manik mata itu mengangguk paham.
"Benar juga sih, tapi—"
"Gini aja, Om Jojon. Sekarang 'kan masih bulan April ya to, Om bertahan sampai akhir tahun deh. Dengan kejeniusan Om, harusnya teror ini cepat selesai. Kita kerja cepat, Om. Enam bulan doang untuk menuntaskan semua sampai ke akar-akar. Bisalah, kan Om Jojon jagoan," imbuh Obama yang ikut memprovokatori agar Jonathan mengurungkan niat untuk kembali ditidurkan.
"Hanya enam bulan. Setelah itu, Paman ingin tidur kembali kami persilakan, atau tetap bangun, itu terserah Paman," imbuh King D.
Jonathan terlihat berpikir keras seraya menatap King D dan Irina bergantian. Sedang dua manusia yang memiliki kemampuan tak lazim itu tampak tegang menunggu keputusan dari salah satu mafia senior tersebut.
***
uhuy makasih tips dendanya. lele padamu😍 kwkwkw😆
__ADS_1