
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Malam itu, semua orang berkumpul di pusat kendali hotel milik Lysa yang berada di Newfoundland and Labrador.
Semua tim yang tersebar di seluruh dunia dan aktif, memberikan laporan melalui sambungan teleconference.
Kali ini, Jonathan bekerja seperti pemimpin tim, dan King D mengamati kinerja pamannya itu dengan saksama. Terlihat, wajah-wajah para senior mafia di layar berukuran 32 inch tersebut.
"Kerjakan seperti yang sudah Irina informasikan pada kalian. Aku ingin data ini kudapat esok pagi. Kita harus cepat mengingat Hope orang yang lebih gesit. Meski aku tak tahu dia siapa, tapi melihat gerak-geriknya, dia seperti bukan orang jajaran kita. Caranya membunuh, bersikap, berbicara, dan bertempur, itu bukan gaya kita. Pastinya, dia sudah mengenal kinerja kita karena ia tahu di mana saja letak markas jajaran 13 Demon Heads yang menyimpan tabung," tegas Jonathan di hadapan beberapa layar di ruang pusat kendali.
"Menurutmu begitu, Paman?" tanya King D menatap Jonathan lekat.
"Hem, semiliar persen. Aku sudah hafal kinerja para petinggi dalam jajaran 13 Demon Heads dan juga The Circle. Tak ada satu pun dari mereka yang berlagak gila seperti Hope. Namun, jika dia mengenal orang-orang kita, bisa jadi dia dari militer yang berkhianat atau tak setuju dengan kerjasama antara mafia dengan pemerintah," sahutnya yang kini memakai dasi, tapi tak memakai baju.
Semua orang mengangguk paham. Namun, Click and Clack yang berada di Black Castle menatap Jonathan lekat.
Keturunan Benedict itu seperti menyadari maksud pandangan tersebut.
"Kalian berdua, laporkan," pinta Jonathan tegas.
"Saat tabungmu hilang, kami sudah mencari bahkan dengan bantuan GIGA IGOR. Namun, tabungmu tak terlacak. Hal serupa juga terjadi pada beberapa tabung yang sudah terkoneksi dengan satelit The Circle. Padahal, tabung Sierra, Cassie dan lainnya berada di sini. Kami tak mengaktifkan pemancar fatamorgana, tapi satelit tak bisa melacaknya. Apakah ... sistem dalam tabung dimanipulasi?" tanya Click yang membuat kening semua orang berkerut.
"Benarkah? Bahkan tabung Papi Ivan dan lainnya?" tanya Jonathan dengan mata membulat penuh. Dua orang dari jajaran The Circle itu mengangguk dalam diam. "Eh, kata kalian ... tabungku tak terlacak? Apakah aku diculik dari Black Castle? Lalu ... di mana aku ditemukan?" tanya Jonathan dengan mata melotot dan langsung duduk tegak.
"Di pulau pribadi Giamoco. Di lautan," jawab King D. Praktis, mulut Jonathan menganga lebar seketika.
"Jangan bilang ulah Hope," tanyanya menunjuk King D, tapi putera Javier tersebut mengangguk pelan. "Argh! Hope sialan! Awas saja jika tertangkap! Akan kurobek tubuhnya!" teriak Jonathan menunjukkan sisi lain darinya. Semua orang berwajah tegang seketika.
Orang-orang terlihat makin serius memikirkan hal ini. Jonathan terlihat berpikir keras, dan King D masih menunggu kelanjutan dari pemikiran Jonathan selanjutnya.
"Apakah sudah kalian petakan, di mana saja Hope berulah?" tanya Jonathan dengan cepat kembali tenang seraya membenarkan posisi duduk.
Pria itu hanya mengenakan jas tanpa kemeja dan celana dalaam ketat dengan warna senada penampilannya malam itu. Hitam.
"Ya. Kami juga sudah mencoba menghubungi beberapa markas tempat tabung disimpan, tapi tak ada jawaban. Kita harus mengecek tiap markas yang tersebar di seluruh dunia, Jonathan. Lalu, mengamankan tabung-tabung itu," tegas Seif.
"Hem, Nathan setuju. Kalau begitu, kita terpaksa membangunkan lainnya. Lakukan Protokol Pembangkitan Level 1. Ini darurat dan harus segera diselesaikan," tegasnya.
"Wow! Sungguh? Kau akan melakukannya? Namun ... wabah belum usai," tanya Dakota langsung menatap Jonathan tajam.
"Jika kau bisa melakukan sendiri, silakan. Namun, jangan menyuruhku. Aku tak punya ilmu membelah diri seperti amoeba atau portal ajaib yang bisa pindah dari satu tempat ke tempat lain seperti cerita Hihi. Hah, puteriku itu kenapa jadi aneh. Namanya saja berubah begitu. Entah dia mirip siapa. Padahal, Sierra sangat jenius dan tegas. Namun Hihi, dia manja, boros, dan banyak maunya," gerutu Jonathan teringat akan anak perempuannya.
__ADS_1
"Kayaknya om Jojon lupa kalau Hihi itu punya Bapak namanya Jonathan Benedict," sahut Otong, dan semua orang mengangguk membenarkan dalam diam.
"Jadi ... pembangkitan level 1? Jika orang-orang itu marah, itu salahmu ya," tegas Safa menunjuk.
"Iya, iya. Bawel," jawab Jonathan kesal.
Semua orang saling memandang. Fara, Marco, Polo, dan Nero yang tak paham akan hal itu hanya bisa mengedipkan mata saat melihat para mafia senior tersebut seperti memetakan suatu wilayah untuk membagi tugas.
"Terlalu jauh, pakai pesawat saja," ucap Number Six dari tim Barracuda.
"Oke. Kita ke Italia menggunakan pesawat," sahut Jason dengan anggukan.
"Kami bisa mendatangi markas-markas lain sesuai dengan rute yang telah dipetakan menggunakan kapal perang," sahut Number Ten.
"Sisanya gunakan helikopter," imbuh Rohan dari markas di Oman.
"Hei! Sinyal GIGA IGOR bisa membangkitkan dari jarak jauh untuk beberapa orang. Hanya saja, aku kasihan pada mereka. Haruskah?" tanya Clack ragu saat menunjukkan di layar para mafia yang terhubung dengan teleconference itu.
"Hem, anak-anak setan itu ya? Tak apa. Bangunkan saja," jawab Jonathan santai.
"Hei! Biarkan anakku tidur. Kau ini. Bagaimana jika mereka tewas saat melawan Hope dan para monster? Jumlah mereka saja tak diketahui," sahut Maksim yang masih berlayar bersama Souta, tapi singgah di salah satu dermaga negara California sebelum melanjutkan ke Mexico.
"Kau akan membiarkan Lazarus dan Hihi bertarung dengan musuh tak dikenal? Begitu, Paman?" tanya Irina menatap Jonathan lekat.
Seketika, wajah Jonathan tegang. Ia menelan ludah dan mengangguk meski terlihat ragu.
"Oh, Paman Jonathan sungguh keren. Dia tak masalah mengorbankan puterinya yang cantik untuk ikut bertempur. Semoga saat Bibi Sierra bangun, dia tak membunuhmu," sambung Fara dengan wajah datar.
Mendadak, wajah Jonathan pucat. Ia terlihat gelisah seraya membenarkan dasinya.
"Mm, setelah kupikir-pikir ... sebaiknya, kita bangunkan para senior saja. Kasian anak-anak itu. Mereka ... generasi penerus kita. Haha, hahaha!" ucapnya dengan tawa kaku.
"Baru Sierra yang disebut, belum Cassie. Kayaknya dua bini Om Jojon lebih serem ketimbang Hope dan para monster. Sampai semangatnya mlempem seketika," ledek Obama. Semua orang mengangguk menahan tawa.
"Oke, sudah diputuskan! Dua hari lagi, kita berpencar! Kita bangunkan para senior!" seru Jonathan semangat yang tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangan ke atas.
Praktis, Fara, Safa, dan Irina yang sedang duduk terkejut karena melihat milik Jonathan menyumbul di balik celana kainnya.
Hal itu, membuat para pria yang mengetahui ekspresi dari tiga perempuan cantik itu berwajah garang seketika.
"Kenapa kau tak pakai celana? Aku punya banyak! Pakai sana!" seru Daniel kesal.
__ADS_1
"Kenapa kau membentakku, Paman? Aku hanya memakai celana saat ada kunjungan penting saja. Aku tak suka dikekang. Kenapa kau protes?" tanya Jonathan heran seraya bertolak pinggang.
"Itu juga. Gaya macam apa memakai dasi dan jas tanpa memakai baju? Kau lebih parah dari Tobias," sahut Dakota ikut protes.
"Aku sudah memakai baju. Kalian tak lihat? Ini seperti batik! Eksklusif dan formal!" jawab Jonathan kesal seraya memperlihatkan tatonya yang menutupi tubuh bagian atas seperti motif.
"Ya Tuhan. Sebaiknya, kita istirahat. Sebentar lagi fajar. Kita harus bersiap," saran Polo. Marco dan lainnya mengangguk paham.
King D bahkan beranjak tak mau ikut berdebat diantara para mafia senior itu. Para mafia generasi muda memilih menyingkir dan masuk ke kamar masing-masing.
"Eh?" tanya D ketika Irina malah mengikutinya ke kamar.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Irina tersipu malu.
King D salah tingkah. Ia melihat sekitar di mana koridor kamar lantai tempatnya tinggal sudah sepi karena orang-orang sudah masuk ke kamar masing-masing.
"Aku akan menikahimu, Irina. Itu pasti. Hanya saja ... aku takut jika kau hamil di mana kondisi Bumi masih mencekam seperti ini. Aku tak mau anak kita kenapa-napa. Aku juga ingin memastikan apakah perubahan dalam diri kita ini tak menimbulkan dampak buruk bagi keturunan nantinya," ucap King D menjelaskan. Irina mengangguk dengan wajah tertunduk. King D menatap Irina lekat lalu memegang dagunya lembut. Pandangan Irina terangkat. "Aku sangat mencintaimu. Kau percaya padaku 'kan?" Irina mengangguk dengan senyuman.
"Selamat malam, D," jawab Irina seraya meninggalkan kecupan manis di bibir sang kekasih lalu berpaling pergi menuju ke kamarnya.
Pria dengan warna manik mata berbeda itu mengembuskan napas panjang. Ia menatap sang kekasih yang masuk ke kamar dan meninggalkan senyuman sebelum menutup pintu.
"Hehe, hehe, hehehe," kekeh seseorang yang membuat King D menoleh seketika.
"Pa-Paman Jonathan?" sapa King D terlihat gugup karena tak menyadari kedatangan pamannya itu.
"Kuat juga imanmu. Jika aku ... pasti sudah sekap Irina di dalam dan tak boleh keluar sampai aku terpuaskan. Hem, jangan-jangan ... kau seperti Otong ya? Kau masih perjaka?" tanya Jonathan memicingkan mata.
King D panik dan berpaling begitu saja meninggalkan Jonathan. King D menutup pintu bahkan tak mengucapkan salam.
"Hahaha! Oh, ini sungguh gila! Sungguh? King D masih perjaka? Wow, bagaimana bisa? Ah, aku juga perjaka karena misilku tak meluncur sejak terbangun. Aku seperti lahir kembali. Hem, kita lihat saja. Sejauh mana misilku bisa bertahan tanpa Cassie dan Sierra. Semoga dia tak menggila," guman Jonathan yang ternyata ucapannya didengar King D karena lelaki itu masih berdiri di balik pintu kamar.
Jonathan melangkah memasuki kamar dan menutup pintu. King D merasa lega karena berhasil selamat dari sindiran sang Paman.
"Selagi Paman Jonathan bangun, aku harus belajar banyak darinya. Benar katanya, aku ini ... calon pemimpin. Oma Vesper bahkan menaruh harapan besar padaku sebelum tiada. Aku tak boleh mengecewakan dan mempermalukan keluarga," ucapnya mantap menyemangati diri.
***
uhuy makasih tipsnya š semoga semua jadwal untuk tamatan novel berjalan mulus. amin. yg belom vote vocer buruan ya keburu hangus. tips poin jangan lupa kalau km gak punya koin. tengkiyuwā¤ļø
__ADS_1