KING D

KING D
Siapa Red?


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Sakura kaget melihat perubahan sikap anaknya yang lain. Reina tak ceria seperti yang ia kenal saat terakhir kali sebelum mereka ditidurkan.


"Reina, apa kau baik-baik saja?" tanya Sakura cemas seraya membelai lembut kepala puterinya.


"Hem," jawabnya berguman dengan wajah datar. Reina lalu melirik Polo yang masih memandanginya saksama. "Aku suka mata birumu, Polo. Indah," puji Reina yang membuat Polo tersenyum kaku.


Saat suasana canggung terasa antara Polo dan Reina, tiba-tiba saja King D kembali muncul tampak tergesa.


"Hei, Reina. Bisa kau jelaskan padaku? Kenapa ada banyak mayat dibeberapa sudut ruangan?" tanya King D yang membuat mata Sakura dan Polo melebar seketika.


"Mereka penyusup. Orang-orang itu masuk dengan paksa ke dalam markas untuk mencuri persenjataan dan beberapa tabung. Kubiarkan sistem keamanan markas melumpuhkan mereka. Aku terbangun, tapi memilih menunggu dalam tabung sampai sistem persenjataan menyelesaikan tugasnya," jawabnya tenang tak terlihat kepanikan dari gelagatnya.


"Apakah ... mereka anak buah Hope?" tanya Polo menebak.


"Ya. Mereka memakai topeng seperti ciri-ciri komplotan Hope. Namun, mayat-mayat itu sepertinya sudah lama karena berbau busuk," jawab King D menduga.


"Ya, itu benar. Sudah satu bulan mayat-mayat itu kubiarkan tergeletak di sana. Aku enggan memindahkannya. Aku malas," jawabnya yang membuat semua orang berkerut kening karena Reina memang tampak lesu tak bertenaga.


Selain itu, Reina seperti masa bodoh, tak mau repot dan malas.


"Pasti terjadi sesuatu denganmu hingga berubah seperti ini. Oh, puteriku yang malang," ucap Sakura lalu memeluk puterinya dengan iba.


Reina balas memeluk meski wajahnya biasa saja. Hingga ia kembali melirik ke arah Polo dan King D.


"Karena kalian sudah di sini, tolong bersihkan ya," pintanya seraya menatap Polo dan King D bergantian.


"Baiklah," jawab Polo dengan anggukan.


Sakura lalu mengajak puterinya masuk ke dalam. Polo dan King D saling berpandangan seperti terpikirkan sesuatu.


Ternyata, pemancar fatamorgana diaktifkan setelah diketahui oleh Arthur yang menjaga di luar.


"Banyak mayat? Hem, baiklah. Marco dan Nero sudah sadar, begitupula Fara. Namun, aku meminta kepada Marco untuk menemani Fara sekaligus membantunya mengingat kembali. Sepertinya, ingatan adikmu seperti terganggu," ucap Arthur yang mengejutkan pria bermanik biru dan merah itu.


"Apakah ... dampak gas halusinasi dari cuci otak Hope tak bisa disembuhkan?" tanya King D cemas.

__ADS_1


"Entahlah. Namun, tadi dia sempat bertanya. Apakah King D sudah mati?"


"Aku jawab saja belum. Lalu, dia tampak berambisi untuk menghabisimu. Sebaiknya, kau jangan muncul di hadapan Fara untuk sementara waktu sampai kami berhasil mengembalikan ingatannya. Hope sungguh keterlaluan," ucap Arthur kesal.


King D tertekan. Ia memejamkan matanya rapat dan menutup wajahnya dengan dua tangan. Polo memijat pundaknya dan meyakinkan jika Fara akan baik-baik saja.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan membicarakan hal ini dengan yang lain agar membantuku bersembunyi dari Fara untuk sementara waktu. Bukannya aku takut, tapi aku cemas jika sisi predator dalam diriku muncul kembali dan membuat Fara terbunuh. Lebih baik aku menghilang darinya daripada ia terluka. Aku bisa menyesal seumur hidup jika sampai Fara tewas di tanganku," ucap King D tampak sedih.


"Percayakan Fara pada kami, King D," ucap Polo meyakinkan, dan King D mengangguk pelan.


King D bergegas masuk ke dalam markas bersama Nero dan Arthur. Cucu Bojan tersebut mulai bercerita tentang kondisinya dan Marco ketika Hope datang menyerang.


Sedang Polo dan Obama, mendatangi Fara yang kini duduk bersama Marco.


Markas Jombo Island. Ruang bawah tanah gudang penyimpanan.


"Mereka tiba-tiba muncul dari dalam air menggunakan kapal selam?" tanya Sakura mengulang dengan Reina duduk di sampingnya.


"Ya! Dia sepertinya memang sudah menunggu kita. Namun, ada yang aneh. Orang yang diyakini oleh kalian adalah Hope, sepertinya tak hanya satu. Aku mendengar cerita dari paman Arthur saat kami sadar ketika paman Jason mengejar sosok yang diyakini Hope dari ciri-cirinya," jawabnya mantap.


"Apa maksudmu? Aku tak paham?" tanya Jason berkerut kening.


"Aneh bagaimana?" tanya Irina penasaran.


"Dia sempat membuka topeng ketika akan memasuki helikopter. Sistem persenjataan pelindung heli tiba-tiba padam karena orang itu dikenali database. Aku tak melihat wajahnya karena aku tengkurap di atas rumput. Namun, aku yakin Marco melihatnya. Hanya saja, orang itu aneh. Dia seperti menggunakan tangan palsu atau semacamnya saat menerbangkan helikopter. Lalu tiba-tiba, aku dan Marco pingsan. Setelah itu ... aku tak ingat apapun, dan saat membuka mata, tau-tau sudah berada bersama kalian," jawabnya sembari berkedip.


"Dasar bodoh," celetuk Reina yang membuat kaget semua orang. "Hal penting seperti itu kalian berdua gampangkan sehingga membuat buruan lolos. Matamu tak jeli padahal kau bersama penjahat," sindir Reina menatap Nero tajam.


"Reina!" bentak Sakura melotot pada puterinya.


"Kau pikir mudah ketika dalam posisi terdesak seperti itu, ha? Kau tak ada di sana!" teriak Nero marah.


"Dan kau tak ada di sini saat para penjahat itu berusaha mencuri tabung serta senjata di markas. Aku, hanya aku seorang diri yang menjaga markas ini sehingga tak ada satu pun benda yang hilang. Itu karena, aku jeli dan peka. Bahkan, aku masih menyempatkan untuk menggantung teman-teman kalian. Selain itu, kalian lelet. Jika telat satu hari saja, Yusuke dan lainnya tewas di menara itu," jawabnya dengan wajah dingin.


"Reina! Jaga bicaramu! Kau ini kenapa?!" tanya Sakura kesal dengan sikap anaknya yang mendadak menjadi bermulut pedas.


"Aku hanya kesal. Aku tak suka orang yang lambat. Sebenarnya, aku ingin pergi meninggalkan markas. Namun, mengetahui kalian akan datang dan ingin memastikan jika Yusuke memang mengenal ibuku, aku menunggu. Kalian membuang waktu berhargaku. Jika bukan karena kalian, aku sudah berhasil mengungkap hal ini seorang diri," jawabnya ketus.

__ADS_1


"Ha! Berlagak!" sahut Nero kesal.


"Ingin bukti?" balas Reina seraya menaikkan salah satu alis.


Kening semua orang berkerut. Reina lalu berdiri dengan wajah datar meski terlihat seperti tak bertenaga.


Ia berjalan mendatangi sebuah lemari pendingin dan membukanya. Seketika, mata semua orang itu melebar.


"Dia menjaga markas ini sebelum aku. Namun, ia tewas. Database mengenali sosoknya dari sidik jari pada kaki," ucap Reina berdiri di samping lemari pendingin itu.


Semua orang segera berdiri dan mendatangi lemari pendingin berbentuk persegi panjang seperti sebuah bak dengan penutup kaca bagian atas.


"Oh my God!" pekik Daniel langsung melotot.


"Di-dia siapa?" tanya Irina sampai tubuhnya bergetar.


"Red."


Semua orang tertegun dengan tubuh mematung. Irina kemudian sempoyongan saat melihat jasad Red sudah tak memiliki kepala karena dipenggal berikut dua tangannya.


Tubuh Sakura dan lainnya gemetaran melihat mayat Red yang mengenaskan. Reina menutup kembali lemari es itu dengan wajah polosnya.


"Jadi, alasan ku tak percaya pada Yusuke dan lainnya, meski database dan sistem keamanan markas mengenalinya, bisa saja mereka curang. Oleh karena itu, sebagai antisipasi, kugantung mereka di menara. Itulah yang kulakukan, Nero," ucap Reina menatap Nero tajam dengan intonasi penuh tekanan.


"Ya Tuhan," ucap King D sampai memegangi dadanya dan membuat matanya bergerak tak beraturan karena kaget.


Semua orang langsung lemas dan berdiri dengan lesu usai mengetahui jika Red telah tiada.


Irina menangis sedih begitupula Daniel dan Arthur yang membungkam mulut mereka rapat meski mata berlinang.


"Tega sekali. Tega sekali Hope melakukan hal ini pada Red," ucap Jason dengan tubuh bergetar dan wajah tergenang air mata. Jason berjongkok dengan punggung menyender pada dinding.


"Jadi ... tetap biarkan Red dalam lemari es, dibakar atau dikuburkan? Jika ingin dimakamkan, lakukan sendiri. Aku lelah dan ingin istirahat. Jika ingin makan, semua persediaan ada di dapur. Selamat siang," ucap Reina datar dan segera beranjak pergi dari ruang bawah tanah tempat penyimpanan barang.


Semua orang diam membisu tak bisa berkomentar tentang insiden ini. Mereka terlarut dalam kesedihan karena kehilangan salah satu lelaki yang memiliki peran penting dalam kekaisaran 13 Demon Heads.


***

__ADS_1



kwkw makasih tips koin denda GC WA jeng sis. Sering2 ya😆


__ADS_2