
Wah dapat tips lagi😍Makasih ya💋 Cemangat tamat dan kita ganti novel lain biar suasana baru. Oia yg belom punya IG lele segera follow ya. Lele mau bagi2 gift away saat tamatan novel nanti. Lelevil Lelesan/Lily Lele. Lele padamu❤️
---- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Sedang di tempat King D berada.
Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya agar bisa mencapai daratan meski menggunakan perahu dayung. Ia yakin jika akan bertemu dengan kelompok Rohan yang dikirim dari Oman. Sayangnya, takdir Tuhan berkata lain. Tim yang dikomandoi Shamsa tak bisa melanjutkan penerbangan karena kehabisan bahan bakar. Semua bandara yang berhasil ditemukan sudah tak memiliki bahan bakar untuk kendaraan terbang mereka. Tentu saja hal ini membuat Shamsa kesal setengah mati. Mereka terjebak di Libya usai melintasi Mesir.
"Argh! Bagaimana bisa tak ada bahan bakar? Aku yakin jika ini ulah Hope! Dia pasti sudah mengambil semua persediaan dan menimbunnya. Strateginya untuk membuat kita terjebak di suatu wilayah dan tak bisa melakukan pertolongan untuk tim lain sudah direncanakan," geram wanita yang memiliki otot padat itu.
"Bagaimana sekarang? Sambungan komunikasi kita ke Oman juga terputus. Ini benar-benar tak terduga," sahut Talora seraya menggenggam senapan laras panjang sebagai bentuk kewaspadaan terhadap serangan.
"Bagaimana jika kita lanjutkan dengan kendaraan lain seperti mobil? Berisiko, tapi lebih baik dari pada berdiam diri di sini. Aku mencemaskan keadaan King D mengingat ia baru terbebas dari cengkeraman Hope," sahut Etra menyarankan.
Shamsa diam sejenak terlihat berpikir keras seraya melihat anggota timnya. Orang-orang itu mengangguk tanda setuju dengan ide Etra. Shamsa akhirnya menyetujui ide tersebut. Mereka terpaksa meninggalkan helikopter pemberian militer pemerintah dan berjalan untuk mencari kendaraan dengan bahan bakar penuh di sekitar bandara.
Amir masih berusaha untuk menghubungi markas Oman dengan telepon satelit, tapi usahanya belum membuahkan hasil. Ditambah, mereka harus menghadapi panasnya gurun pasir di tengah terik matahari. Beruntung, mereka menemukan sebuah mobil bak. Hanya saja, bahan bakar kendaraan itu tak mencukupi untuk bisa melintasi sampai perbatasan negara.
"Hati-hati dan segera berkumpul di sini," pinta Shamsa saat ia dan anggota timnya harus mencari bahan bakar tambahan untuk perjalanan panjang.
Shamsa, Talora dan Etra menunggu di mobil seraya menata perlengkapan yang dipindahkan dari helikopter ke bak. Sedang lainnya, mendatangi mobil-mobil lain untuk memeriksa sisa bahan bakar dalam tangki kendaraan tersebut. Saat orang-orang itu disibukkan dengan aktivitas karena mengejar waktu demi menyelamatkan King D, tiba-tiba ....
"Monster!" teriak Irsyad histeris saat ia berlari dengan menenteng sebuah jeriken berisi bahan bakar yang ia sedot menggunakan selang dari kendaraan lain.
Praktis, mata Shamsa dan lainnya melebar. Mereka segera menggelontorkan peluru-peluru tajam ke arah sekumpulan monster yang ternyata berdiam diri dalam hanggar.
"Harghhh!" raung para monster ketika tubuh mereka terkena tembakan.
"Cepat! Cepat!" teriak Etra saat anggota tim lainnya berusaha keras mendatangi mobil.
BROOM!!
"Lemparkan Rainbow Gas dan Granat Tabung!" teriak Shamsa yang sudah siap dikemudi dan menyalakan mesin mobil.
Irsyad dan lainnya berhasil naik ke bak belakang dengan napas tersengal. Gibran dan Amir dengan sigap melakukan yang diperintahkan Shamsa ke kumpulan para monster. Orang-orang itu dibuat panik karena ternyata jumlah para monster di tempat tersebut
cukup banyak.
__ADS_1
"Mereka sengaja dikurung! Ini jebakan Hope!" ucap Irsyad dengan keringat membasahi baju tempurnya.
"Apa maksudmu?" tanya Talora heran.
"Saat aku mengambil sebuah jeriken kosong, aku melihat sebuah tali seperti terkait dengan penutup wadah. Aku memotong tali itu dan mengisi jeriken dengan bensin dari sebuah mobil. Lalu kudengar ada suara gaduh dari sebuah ruangan yang tertutup. Ketika aku ingin memeriksanya, pintu tersebut jebol dan sekumpulan monster keluar dari kamar itu. Hope sudah merencanakan hal ini. Dia tahu kita butuh bahan bakar dan menyisakan beberapa, tapi sebagai jebakan," jawab Irsyad yang membuat mata semua orang melebar.
"Hargh!"
"Aggg!" rintih Amir saat ia terpaku dengan penuturan Irsyad dan tak sadar jika mobil mereka masih dikejar oleh beberapa monster yang tak mati setelah terkena serangan.
Bahu lelaki itu digigit dan membuat Amir hampir jatuh dari bak mobil. Beruntung, Gibran dengan sigap memegangi tubuh kawannya.
"Heyah!"
KRASS!!
"Hah!!"
Mata Amir melebar saat Talora menebas leher monster itu dan membuat giginya yang masih menggigit bahu tertinggal. Amir terpaku karena shock. Gibran dengan sigap melepaskan gigitan itu dan melemparkan kepala monster tersebut ke jalanan. Para monster yang masih hidup terus mengejar meski jarak dengan mobil semakin jauh.
"Agg," rintih Amir memegangi bahunya yang berdarah karena bajunya robek.
"Kau tak apa. Kau tak akan mati," ucap Etra saat melihat luka itu dan segera mengobatinya.
"Kapal?" tanya Gibran berkerut kening.
"Ya. Kita akan mengarungi Laut Mediterania. Aku ingat ada dermaga tak jauh dari sini saat helikopter melintasi perbatasan. Mungkin saat malam kita akan tiba di sana. Bagaimana?" sarannya dengan keringat bercucuran.
Shamsa melirik dari kaca spion tengah di mana Talora kini duduk di samping mendampinginya.
"Baiklah, aku setuju. Pastikan bahan bakar kapal cukup dan tak ada jebakan Hope lainnya."
Gibran dan lainnya mengangguk paham. Tim Shamsa melintasi daratan menuju ke dermaga terdekat. Benar saja, wilayah panas itu ternyata masih dikuasai oleh beberapa monster. Orang-orang sakit itu keluar dari persembunyian saat mendengar deru mesin mobil melintasi aspal.
Suara peluru, bom dan teriakan terdengar di beberapa wilayah yang dilewati oleh mobil mereka. Pengisian bahan bakar terpaksa dilakukan dengan mobil masih melaju agar tak tertangkap para monster jika mereka harus berhenti. Mesin mobil terus dipacu sampai bahan bakar sudah tak tersisa. Shamsa dan lainnya mulai waspada ketika kegelapan mulai datang.
Ditambah, amunisi mereka mulai menipis karena terus-terusan melakukan pertahanan melawan para monster. Harapan terasa semakin memudar seiring dengan tenggelamnya matahari.
"Oh, shitt," umpat Shamsa saat mobilnya tiba-tiba berhenti karena kehabisan bahan bakar di jalanan aspal di mana menuju ke dermaga masih berjarak sekitar 500 meter.
Talora dan lainnya tampak tegang dan saling memandang. Mereka mencoba agar tak berisik saat turun dari mobil seraya menggendong perlengkapan yang tersisa.
__ADS_1
"Di depan sana, tak jauh lagi," ucap Irsyad seraya menunjuk sebuah tempat tanpa cahaya lampu terlihat. Shamsa dan lainnya mengangguk mengerti.
Amir terlihat waspada karena ia terluka. Dirinya khawatir jika darah dari lukanya akan mengundang para monster untuk menyerang. Namun, Etra meyakinkan jika hal itu tak akan terjadi karena jejak mereka telah ditutupi dengan menumpahkan tetesan dari sisa bahan bakar jeriken. Bau bensin yang menyengat akan menutupi bau mereka.
"Jangan lengah. Aku bisa merasakan jika para monster itu masih ada dan mereka bersembunyi," bisik Shamsa seraya berlari kecil dengan tubuh membungkuk yang diikuti anggota tim lainnya.
Orang-orang itu mengangguk paham. Namun tiba-tiba, DANG!!
Mata Shamsa dan lainnya melotot bahkan membuat langkah terhenti saat Etra tak sengaja menjatuhkan jeriken kosong ketika menutupi jejak mereka. Benar saja, "Hag, hag ...."
Shamsa dan lainnya langsung berjongkok dengan sorot mata tertuju pada suara aneh yang muncul dari balik truk terbengkalai di tepi jalan. Jantung orang-orang itu berdebar semakin kencang dan mereka tak berani bergerak karena khawatir jika akan mengundang keagresifan dari sosok tak dikenal itu.
"What the ...," ungkap Gibran saat melihat wujud dari seseorang yang baginya tak lazim.
"Harghhh!" raung orang itu dengan wajah bengis dan air liur menetes tampak begitu buas.
"Run!" teriak Amir saat merasakan ancaman dari sosok mengerikan itu.
Praktis, Shamsa dan timnya berlari dengan cepat karena sosok itu mengejar mereka dengan agresif.
"Makhluk apa itu?" tanya Irsyad dengan mata melotot karena manusia dengan bentuk tak lazim tersebut mengejar layaknya hewan karena menggunakan dua tangannya untuk berlari.
"Aku tak tahu dan tak mau tahu!" jawab Etra panik dan berlari sekuat tenaga.
Saat Shamsa dan lainnya diliputi kepanikan, tiba-tiba saja telepon satelit berdering. Praktis, mata orang-orang itu melebar seketika.
"Halo! Halo!" jawab Amir dengan napas tersengal seraya menerima panggilan.
"Kenapa kalian malah berhenti di Libya?" tanya Rohan saat berhasil menghubungi timnya setelah hilang komunikasi.
"Kami kehabisan bahan bakar! Rohan! Ada monster aneh mengejar kami dan dia sangat buas!" jawab Amir yang membuat Rohan langsung melebarkan mata dari markasnya.
Dengan sigap, Rohan meminta bantuan pada Q untuk melihat kondisi kawan-kawannya di lapangan. Q dengan cekatan mengoperasikan satelit Theresia dan menggunakan GIGA untuk melakukan pantauan. Beruntung, pergerakan orang-orang itu tertangkap karena pakaian tempur dilengkapi pelacak dan kamera kecil pada saku depan. Praktis, mata Rohan dan Q melebar saat melihat wujud aneh dari monster itu.
"Apa itu?" tanya Q dengan wajah tegang.
"Oh! Lihat wujudnya! Ia seperti campuran beberapa spesies. Mungkinkah ... dia salah satu manusia dengan kemampuan khusus? Namun ... kenapa berbentuk seperti itu? Orang itu seperti kehilangan sisi kemanusiaannya," tanya Rohan saat Talora membalik tubuhnya dan terpaksa berlari mundur agar wujud itu terlihat oleh kamera.
"Entahlah. Yang pasti, orang itu sangat mengerikan. Orang itu seperti tak bisa mengendalikan sisi liarnya," ungkap Daniel ikut merapat.
"Tunggu! Lihat seragamnya! Itu ... seperti pakaian yang dikenakan oleh anak buah Hope! Mungkinkah dia salah satu dari mereka? Namun, kenapa berwujud seperti itu?" tanya Yena dengan mata melotot.
__ADS_1
"Jangan-jangan ... anak buah Hope juga memiliki serum perubah wujud seperti kita. Ini gawat!" pekik Zaid yang membuat para mafia di pusat kendali tegang seketika.
Shamsa dan lainnya dibuat panik karena orang dengan wujud seperti campuran beberapa makhluk mengejar mereka dengan buas, siap untuk membunuh.