KING D

KING D
GIGA DARA


__ADS_3

Gaes. Lele minta maaf kalo King D upnya belom normal. Ini entah krn lagi hamil ato gimana tapi badan gampang lemes gak semangat kaya jaman belum tek dung. Jadi energinya gampang lowbat. Jadi harap maklum ya. Lele lagi fokus tamatin Monster Hunter dan The Ghost Writer akhir bulan ini jadi rasanya udh berat banget baik perut atau kepala. Jadi mohon pengertiannya ya❤️ Doakan lele selalu sehat biar semua yang sudah dijadwalkan bisa selesai tepat waktu. Amin. Trims dan lele padamu💋 Merdeka🇮🇩


----- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Irina dan Jonathan saling melirik. Mereka seperti sepemahaman akan suatu hal. Irina mengangguk dan Jonathan memilih untuk mendatangi Obama untuk mengecek kondisinya.


"Junior, hei. Kemarilah, jangan takut. Kami tak marah padamu," panggil Irina lembut dengan senyum menawan.


Junior mengintip dari samping tabung dalam posisi berjongkok. Irina mengayunkan tangan dan perlahan berdiri.


"Oia. Boleh kubertanya sesuatu?" tanya Irina mencoba terlihat santai agar Junior memaparkan segala hal yang diketahuinya. Junior masih bersembunyi meski sesekali mengintip. "Bisakah kami mengaktifkan pusat kendali? Kami harus menginformasikan jika tempat ini aman. Kami juga berencana untuk membangunkan beberapa orang agar menjaga tempat ini. Sebab, aku dan timku akan melanjutkan perjalanan," ucap Irina seraya berjalan perlahan menuju tabung.


Junior merangkak seperti cara berjalan seekor gorila. Ia akhirnya berani menampakkan diri. Irina mulai terbiasa dengan tingkah laku putera dari pamannya itu.


"Leave?" tanya Junior menatap Irina lekat.


Irina mengangguk. Namun tiba-tiba, Junior memegang tangan Irina dengan dua tangannya. Irina bingung dan balas menatap Junior saksama.


"Ikut," ucapnya dengan bahasa Indonesia dan hal itu membuat Irina serta Jonathan terkejut.


"Kau ingin ikut dengan kami?" tanya Irina memastikan. Junior mengangguk dan menggenggam tangan Irina semakin erat. Irina menoleh ke arah Jonathan, tapi lelaki itu berkerut kening.


"Oke, aku ... tak keberatan. Namun, perjanjian batal. Tetap antarkan aku ke Black Castle Inggris, tapi aku tak mau melanjutkan perjalanan lagi terutama berurusan dengan Hope. Kalian selesaikan sendiri," ucapnya.


"Kenapa begitu?" tanya Irina heran.


Jonathan mengerutkan kening menatap Junior saksama dari kejauhan.


"Aku tak nyaman berada di sampingnya. Maaf, Irina. Hanya saja ... aku tak suka orang jelek," jawab Jonathan yang membuat Irina melongo. Baginya, alasan Jonathan sangat tidak masuk akal. Irina bingung dan memijat dahinya yang mendadak berat.


"Aku tak bisa memutuskan. Sebaiknya, tunggu King D sadar," jawab Irina pada akhirnya.


Jonathan mengangguk dan memilih untuk meninggalkan ruangan itu. Irina diminta untuk mengawasi King D dan Obama yang masih tak sadarkan diri di lantai. Sedang Jonathan, pergi ke pusat kendali untuk mengaktifkan komunikasi agar bisa menghubungi semua markas sekaligus memberikan kabar mengejutkan tersebut.

__ADS_1


Di Pusat Kendali Markas Greenland.


"Apa katamu? Sandara memiliki anak dari Jordan? Gila!" pekik Rohan yang ikut terkejut.


"Begitulah. Dan kuberitahu, dia sangat menyeramkan seperti alien. Baik wujud atau kemampuannya. Benar-benar tak lazim. Aku tak bisa melanjutkan misi jika dia ikut dalam kelompokku. Maaf, tapi sungguh, aku tak bisa. Wujudnya membuatku takut," ucap Jonathan yang melakukan teleconference dengan semua markas yang aktif.


"Ya, kami memahaminya," sahut Arthur dari markas di Jumbo Island.


Di tempat Irina dan Junior berada.


Keduanya menyusuri koridor menuju ke suatu tempat. Siapa sangka, Junior begitu menurut pada Irina. Anak lelaki yang berjalan seperti monyet itu selalu menggandeng tangan kekasih King D. Irina tak tahu berapa umur Junior karena wujudnya yang tak lazim. Namun, Irina yakin jika Junior pintar.


"Hoh, hoh!" ucap Junior seraya menunjuk ke sekumpulan tabung yang disimpan.


Irina tersenyum dan masuk ke ruangan yang bercahaya redup usai Jonathan menyalakan semua lampu. Saat Irina sedang mengecek tabung-tabung tersebut, ternyata ada satu tabung yang sudah terbuka, tapi tak ada manusia di dalamnya. Irina lalu menatap Junior lekat.


"Kau tahu, siapa orang yang bangkit dari tabung ini?" tanya wanita berambut panjang itu.


Junior mengangguk dan menarik tangan Irina keluar ruangan. Irina terkejut karena ia dibawa keluar markas. Junior menunjuk sebuah gundukan di mana terdapat bingkai foto di sana. Praktis, mata Irina melebar seketika.


Junior melepaskan gandengannya. Ia berjalan mendatangi sebuah pohon dan memanjatnya dengan cepat bagaikan monyet. Irina kagum, terlebih saat Junior turun seraya membawa sebuah tas ransel yang sepertinya berada di atas pohon itu. Junior mengambil sesuatu dari dalam tas itu seperti sebuah kalung besi warna hitam mengkilat lalu dipasang pada leher. Kening Irina berkerut.


"Apa kaupaham yang kukatakan?" tanya dari kalung itu saat Junior melakukan bahasa isyarat.


Mata Irina melebar. Suara dari Jordan terdengar dari kalung itu. Irina lalu mengangguk cepat. Diam-diam, Jonathan mengamati dari kamera CamGun di halaman belakang markas yang terkoneksi dengan pusat kendali. Jonathan ikut terkejut dan merekam pembicaraan itu.


"Kalung ini seperti yang dikenakan Ivan Benedict. Ayah membuatnya khusus untukku," ucap Junior dengan tubuh membungkuk. Irina mengangguk cepat terlihat serius mendengarkan. "Aku menemukan tabung Amanda Theresia dalam perjalananku. Sarung dikedua tanganku dibuat khusus oleh ibuku Sandara Liu untuk melakukan pemindaian, menganalisis, dan mengamankanku dari semua jenis tabung yang kutemukan. Sarung tangan ini terhubung dengan GIGA DARA."


Seketika mulut Irina melebar. Wanita cantik itu masih menyimak dengan fokus karena merasa jika Junior tahu banyak hal.


"Apakah ... kau tahu keberadaan ibumu?" tanya Irina penasaran, tapi Junior menggeleng.


"Aku bangun dari sebuah tabung yang sudah dijadwalkan oleh Ibu. Kata Ibu, jika sampai aku bangun dan para manusia hilang, serta wabah monster belum reda, tandanya kiamat akan segera datang. Aku diminta untuk membantu bersama saudariku Dayana Lubava. Hanya saja, aku sudah mencari keberadaan Diana melalui pemetaan GIGA, tapi tak ketemu. Aku malah mendapatkan tabung Amanda Theresia di lokasi yang seharusnya kumenemukan Diana," ucap Junior yang membuat Irina berwajah serius seketika.


"Di mana kau menemukan tabung nenekku?" tanya Irina penasaran.

__ADS_1


"Islandia. Ada bekas noda darah dari telapak seseorang yang menempel pada tabung sebelum aku hapus karena terdapat banyak bangkai monster di sekitar tabung. Mungkin karena bau darah yang menempel," ucapnya yang terus menggunakan bahasa isyarat.


Kalung yang memiliki detektor gerak itu mampu membaca dan menerjemahkan bahasa isyarat yang tertangkap pada sensor. Irina tampak serius. Saat wanita itu mencoba untuk menanyakan hal lain, seseorang ikut bicara.


"Apa pemindaimu mengenali sidik jari dari bekas noda darah pada tabung?" tanya King D yang ternyata sudah siuman dengan Obama berdiri di sampingnya. Junior mengangguk pelan. Tentu saja, hal itu membuat Irina, Obama dan King D terkejut. "Siapa?" tanya King D mendesak.


"Q."


"What? Apakah ... Paman Q tewas?" tanya Irina langsung panik.


"Aku tak menemukan jasadnya. Aku hanya melihat banyak monster mati di sekitar tabung. Selain itu, tabung Amanda Theresia tertutup salju saat kumenemukannya. Aku lalu membawanya kemari karena pemetaan GIGA menuntunku kemari," ucap Junior yang masih berdiri dengan membungkuk di kejauhan.


"Bagaimana caramu menyeberang dari Islandia ke Greenland?" tanya King D heran.


"Aku menaiki tabung karena benda itu bisa terapung. Tas yang dibawakan oleh ayahku berisi banyak perlengkapan. Aku memasang baling-baling portabel pada belakang tabung, dan ia bergerak seperti kapal. Aku tahan udara dingin, tapi tidak dengan panas terik yang menyengat. Kata Ayah, kulitku sensitif. Oleh karena itu, Ibu membuatkan baju ini khusus untukku. Selain itu, misi ini harus cepat diselesaikan sebelum musim panas tiba, atau aku akan menderita, bahkan mati," ucap Junior dengan wajah sedih.


King D menatap Irina, begitupula wanita cantik itu.


"Setelah Otong pikir-pikir, si tuyul ini kasian juga ya. Udah wujudnya gitu, orang-orang pasti takut kalau liat doi. Selain itu, kemampuannya juga gak wajar dan sikapnya juga agak kurang ajar, tapi ... Otong maklumlah. Dia kaya masih bocah, tapi dari cara ngomong kok kaya pinter ya?" ucap Obama terheran-heran seraya mengamati sosok Junior dari tempatnya berdiri.


Tiba-tiba, Junior merangkak mendekat. Obama yang masih takut padanya langsung berlari menuju pintu dan menutupnya sedikit. King D masih berdiri di tempatnya, begitu pula Irina. Junior menggendong tas miliknya yang terlihat unik karena seperti tempurung kura-kura dan berwarna putih tampak tangguh.


Junior membuka sarung tangannya. King D dan Irina terkejut. Mereka lalu mendekati Junior untuk melihat lebih jelas.


"Kamera di telapak tanganku seperti mata tambahan. Ia terkoneksi dengan otakku. Kata Ibu, aku seperti GIGA yang berjalan. Dia mengimplementasikan GIGA padaku," ucapnya yang membuat mata Irina dan King D melebar seketika.


"Kamu jadi GIGA? Uedian Bibi Sandara! Anaknya udah kaya manusia komputer. Walah le ... le, ngenes amat uripmu," sahut Obama yang ternyata masih menguping dari tempatnya bersembunyi.


"Maksudmu ... kau ... menjadi GIGA DARA?" tanya Irina memastikan, dan Junior mengangguk membenarkan.


Praktis, mulut Obama, King D, Irina, bahkan Jonathan yang ikut mendengarkan dari Pusat Kendali menganga lebar seketika.


***


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya😍Lele padamu❤️


__ADS_2