KING D

KING D
Mengungkapkan Kemampuan Tak Lazim


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Baiklah, kami kini mengerti kondisimu, Irina," ucap Polo dengan anggukan, dan Irina membalas dengan senyum tipis.


"Oke. Aku rasa penjelasan dari Irina cukup. Sekarang kau, Fara. Apa yang kaurasakan?" tanya King D menatap sang adik lekat.


"Yah, aku merasa baik-baik saja. Hanya saja, aku terganggu dengan taringku ini. Apakah ... tak bisa dikembalikan ke ukuran semula? Aku akan menakuti semua orang," ucapnya terlihat sedih seraya mengelus dua taring yang mencuat keluar dari bibirnya.


"Kita akan cari tahu hal itu saat bertemu dengan para ilmuwan yang mungkin bisa kita bangunkan nantinya," jawab King D tenang. Fara mengangguk pelan. "Lalu ... soal rambut landakmu. Apakah ... saat kau berubah, kau merasakan hal lain dalam dirimu?" tanya King D seperti melakukan sesi wawancara karena sang adik terlihat seperti bingung menjelaskan tentang dirinya.


"Ya. Rasanya amarahku meluap-luap sampai ke kepala. Mungkin karena itulah rambutku menjadi tajam. Aku sadar perubahanku, tapi aku takut melihat wujudku," jawabnya seraya mengelus rambut keriting panjangnya. "Dan kau, Marco! Kau harus bertanggungjawab pada rambutku yang pitak!" ucapnya garang menunjuk pria bermanik merah tersebut.


"Mana aku tahu jika rambutmu akan tercabut sebanyak itu? Saat itu, aku berada di sampingmu. Jadi ya, aku mencabut bagian terdekat saja. Mana bisa aku memilih saat keadaan gawat seperti kala itu," jawab Marco membela diri.


Fara cemberut, tapi Marco terlihat tak mau disalahkan.


"Aku akan membuatkan ramuan untuk menyuburkan rambutmu kembali, Fara. Jangan khawatir!" seru Chen dari luar ruangan yang mendengar pembicaraan itu.


Semua orang menahan senyum, tapi Fara masih memonyongkan bibirnya.


"Oia, lalu ... soal perubahan barumu dengan taring itu. Irina merasa kau seperti sebuah ancaman. Bahkan, anjiing dan kucing sampai mengerang," ucap King D terlihat hati-hati dalam bicara.


"Ya, aku melihatnya. Aku juga tak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin mereka merasa aku seperti hewan karnivora pemburu layaknya singa, harimau, atau semacamnya. Karena bagiku, hewan-hewan itu bukan suatu ancaman. Namun, berbeda dengan kak Irina dan paman Jason. Mereka berdua ... entahlah, seperti aku anggap sebagai saingan. Aura kak Irina membuatku tak nyaman, begitupula paman Jason. Dia seperti ... pemangsa di air," ucap Fara melirik Irina dan Jason dengan wajah kaku.


"Ya, aku juga merasakan hal seperti itu," sahut Jason, dan diangguki Irina.


"Namun, aku masih mampu mengendalikan kewarasanku. Aku selalu mengatakan pada diriku jika orang yang kuanggap ancaman itu adalah kak Irina. Aku selalu mencegah keinginanku untuk bertarung dengan mengingat sosok calon kakak iparku yang baik hati!" ucap Fara manja langsung memeluk Irina yang duduk di sebelahnya.


Irina tersenyum dan semua orang ikut senang karenanya.


"Hal itu harus kau berlakukan juga untukku, Fara," tegas Jason dari tempatnya duduk.


"Sure!" jawabnya dengan senyum terkembang.


"Lalu selain itu ... apa lagi?" tanya King D menatap adiknya lekat yang kini melepaskan pelukannya.


Fara diam sejenak terlihat berpikir karena matanya malah memandangi ke langit-langit ruangan.


"Entahlah. Aku baru tahu tentang itu saja. Aku hanya merasa selalu senang setiap hari, tapi terkadang jika ada suatu hal yang membuatku kesal, aku juga jadi mudah tersulut emosi," jawabnya lugu.


"Kalau begitu, kau harus mulai bisa mengendalikan emosimu. Kau harus tahu, kapan waktunya marah dan menyerang. Siapa targetmu dan tentukan, dia lawan atau kawan sebelum melukainya. Kau paham," tegas King D menunjuk.


"Iya, aku tahu. Bawel," gerutunya cemberut.


King D mengembuskan napas panjang. Semua orang menahan senyum karena bagaimanapun, bagi mereka sikap Fara masih seperti anak-anak.


"Oke, sekarang giliranmu, Marco. Katakan tentang dirimu," pinta King D seraya membungkukkan badan dan menahannya dengan kedua tangan tertekuk di atas lutut.


"Ya, begitulah. Aku memiliki kemampuan mata merah. Begitulah panggilanku dari kawan-kawan. Ini sangat berfungsi ketika keadaan benar-benar gelap tanpa cahaya. Aku bisa melihat dengan jelas seperti saat pagi. Namun, jadi terlihat sedikit mengerikan bagi yang belum terbiasa karena mataku akan menyala merah terang," ungkapnya seraya mengedipkan mata.

__ADS_1


"Hem, aku sempat kaget saat kau mengajakku masuk ke gedung itu. Matamu seram seperti setan," celetuk Fara.


"Setan? Aish," gerutu Marco mendesis.


"Oke, lalu ... lainnya?" tanya King D yang merasa jika Marco dan Fara sedikit cocok meski umur mereka terpaut cukup jauh, tapi tak terlihat berbeda karena diawetkan dalam tabung cukup lama.


"Yah. Aku ... bisa melihat hingga radius 1 km ketika kegelapan datang. Namun, saat pagi menjelang atau ... ada cahaya terang di ruangan, seperti manusia normal. Hal itu berbanding terbalik dengan kemampuan Polo. Oleh karena itu, kami saling melengkapi. Ibarat malam, pasti akan ada pagi yang datang," tungkasnya.


"Wah, aku suka istilahmu," ucap Fara dengan senyum taringnya.


Marco mengangguk terlihat bangga akan dirinya dan mulai terbiasa dengan taring Fara.


"Hm, setidaknya aku bisa tahu kemampuan mata merah dan perakku dari kau serta Fara. Lalu ... apa lagi?" tanya King D penuh selidik.


"Oh, penciumanku. Aku bisa mencium bau hingga radius 1 kilometer. Membedakan bau manusia, monster, hewan, dan sejenisnya. Selain itu, aku juga bisa berlari sangat cepat. Mungkin bisa disandingkan dengan cheetah," imbuhnya.


"Hem, itu kemampuan yang sangat keren," ucap Yohanes, dan Marco mengangguk bangga.


"Oia, Kak. Jika matamu bisa berubah menjadi silver, kenapa rambutmu tak mencuat seperti landak?" tanya Fara heran.


"Entahlah. Mungkin tingkat emosiku tak melonjak sepertimu. Namun, aku pernah menggunakan mata perakku ketika melihat dari balik kepulan asap pekat saat kejadian di Rusia. Aku bisa melihat pergerakan seseorang dari balik gumpalan itu dan ... kekuatanku menjadi berkali-kali lipat. Aku pernah melemparkan seseorang seperti melempar sebuah bantal karena terasa ringan," ucap King D menceritakan tentang kemampuan mata silver-nya.


"Oh, sungguh? Wah ... apa jenis mata perak kita berbeda?" tanya Fara menatap mata sang kakak lekat di mana manik King D saat ini adalah biru dan merah dalam keadaan normal.


"Untuk itulah aku bilang, kita harus menemui ahli medis dalam jajaran untuk mengemukakan hal ini. Namun setidaknya, dengan begini, kita jadi tahu kemampuan masing-masing," tegas King D seraya mendorong dahi sang adik karena wajah Fara sangat dekat dengannya.


Orang-orang terkekeh saat Fara kembali cemberut.


"Sungguh?" tanya King D tampak terkejut.


"Hem," jawab Obama dengan anggukan dan wajah serius.


"Akan tetapi, saat King D terjebak oleh para monster di markas Rusia, Irina kuat menggendongnya. Bagaimana bisa?" tanya Polo heran.


"Itu ... aku juga tak paham. Aku hanya ingin menolong King D. Saat aku mulai sadar, aku juga bingung akan hal itu. Tubuh King D terasa ringan bagiku," jawab Irina memaparkan.


"Kalau begitu ... sering-seringlah menggendongku," ucap King D menggoda, dan Irina tertunduk tersipu malu.


"Heh!" tegur Obama karena melihat dua insan itu bermesraan.


Semua orang terkekeh. Irina dan King D menyadari hal itu.


"Jadi ... sudah semua, Marco?" tanya King D, dan Marco mengangguk pelan. "Selanjutnya, Polo," panggil King D seraya menunjuknya.


"Mm ... ya, mataku biru seperti yang Marco katakan tadi. Aku bisa melihat dengan jelas saat banyak cahaya di sekitarku. Seperti saat pagi hingga sore menjelang sebelum matahari tenggelam. Aku bisa melihat hingga jarak 1 kilometer. Sayangnya, aku masih belum begitu yakin dengan kemampuanku. Aku hanya merasa, diriku selalu tenang dan tak mudah marah. Maaf jika penjelasanku sedikit mengecewakan, tapi ... baru itu yang kuketahui dari kemampuan mata biruku," jawab Polo dengan pandangan tertunduk.


"Tak apa. Itu sudah sangat membantu, Polo. Terima kasih," ucap King D seraya mengajak tos kepalan tangan kanan. Polo menyambutnya dengan senyuman dan tos yang sama. "Lalu ... kau, Paman. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya King D melihat Jason yang tampak bingung dan tak nyaman dengan wujud barunya.


"Yah, seperti yang kalian lihat. Aku ... paling aneh dibanding kalian semua. Aku ... terlalu mencolok," jawabnya terlihat sedih.

__ADS_1


"Kulihat kau berenang sangat cepat, Jason. Itu mengagumkan!" ucap Yohanes memuji dari tempatnya duduk, dan semua orang mengangguk setuju.


"Entahlah. Saat aku menceburkan diri, aku merasa terjadi pergolakan dalam jiwaku. Aku merasakan jika Irina dan Fara sebagai ancaman. Namun, aku sadar siapa mereka, dan orang-orang di sekitarku saat itu. Aku tak ingin menyakiti kalian jadi ... kupilih untuk terjun ke air. Namun, siapa sangka, aku merasa nyaman saat berada di dalam air. Tubuhku terasa dingin karena ... aku merasa sedikit gatal dan panas ketika tubuhku kering. Mungkin benar jika aku berubah layaknya reptil. Aku bisa hidup di darat dan air. Mungkin bisa disamakan dengan buaya dan sejenisnya," ucap Jason mulai menganalisis dirinya.


"Wow! Tapi ... kau tak makan manusia 'kan?" tanya Yohanes tampak waspada.


"Haha, tidak. Gigiku saja masih normal seperti manusia, tak tajam layaknya predator," jawab Jason seraya membuka mulutnya.


"Oke. Aku percaya padamu," sahut Yohanes dengan anggukan kepala meski wajahnya tegang.


"Lalu ... bagaimana dengan tangan dan kakimu, Paman? Apakah ... terasa gatal dan tak nyaman?" tanya King D.


"Aku hanya merasa mereka selalu basah seperti membuatnya lembab. Ketika terasa kering, sedikit gatal jadi harus kubasahi. Aku masih beruntung karena memiliki lima jari meski aku sedikit khawatir dengan kuku tajamku yang mungkin bisa melukai jika tak hati-hati," ucap Jason seraya melihat tangannya.


"Kalau dikasih sarung tangan atau sepatu gitu gimana?" tanya Obama menyarankan.


"Sebaiknya, biarkan saja aku bertelanjang kaki. Aku tak nyaman dengan sepatu. Itu membuat kakiku terasa gerah. Selain itu, telapak kakiku juga sedikit keras. Aku tak merasakan panas atau dingin dari lantai yang kupijak. Rasanya ... biasa saja," ucapnya seraya mengetuk-ngetukkan telapak kakinya ke lantai ruangan.


Semua orang mulai mengangguk paham.


"Saat kau berenang, kira-kira bisa menyelam berapa lama?" tanya Polo penasaran.


"Entahlah, aku belum menghitungnya. Namun, jika melihat jarak dari helikopter saat aku terjun menuju ke pantai, sepertinya lebih dari 10 menit. Paru-paruku seperti memiliki kinerja berbeda ketika aku menyelam sekaligus berenang. Aku bisa menyimpan oksigen lebih lama dan penglihatanku cukup jelas meski di dalam air yang gelap," tegasnya.


"Jadi, tangan dan kakimu yang berselaput membantumu berenang lebih cepat padahal kau tak memiliki ekor?" tanya Yohanes menyimpulkan, dan Jason mengangguk membenarkan.


"Ya, seperti saat menyelam menggunakan sepatu katak. Hanya saja, bagaimana menjelaskannya ya? Selaput ini sangat membantuku bergerak dalam air. Seperti bisa mengendalikan laju pergerakanku agar lebih stabil dan terarah," ungkap Jason saat memperlihatkan dua tangannya yang terlihat unik itu.


Semua orang mengangguk paham dan mulai bisa memahami karakter serta kemampuan dari enam orang tersebut.


"Baiklah, aku rasa penjelasan dari kita semua sudah cukup. Kalian sudah tahu tentangku karena sejauh ini hanya tiga kemampuan mata yang pernah kugunakan. Otong mengatakan ada 5 jenis, tapi yang dua ... entahlah, aku belum tahu fungsinya. Kita akan tahu kemampuan masing-masing saat keadaan terdesak. Hem, biasanya seperti itu," tegas King D, dan orang-orang itu mengangguk setuju.


"Jadi ... kita bermalam di sini untuk hari ini? Bagaimana besok? Kita akan ke mana?" tanya Marco penasaran.


"Ya, kita hampir tak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Malam ini, kita istirahat di sini seraya mencoba mengumpulkan persediaan dan perlengkapan tambahan. Untuk rute selanjutnya, akan kubicarakan hal tersebut dengan Otong dan paman Yohanes," jawab King D serius.


"Oke! Aku juga sangat lelah dan ingin tidur. Dan kau, jangan menggangguku lagi," ucap Marco yang berakhir dengan menunjuk Fara ketika berdiri.


Fara mendesis menunjukkan taringnya. Marco kaget untuk beberapa saat, tapi lalu beranjak pergi dari ruangan diikuti oleh Polo serta kawan-kawan satu timnya.


Jason yang sedang beradapatasi dengan tubuh barunya, ditemani Yohanes ke pantai untuk mencoba mencari tahu kemampuan lainnya.


"Kau sebaiknya tidur, D. Kau terlihat lelah," ucap Irina saat King D berjalan mendekati kasur dan merebahkan diri di sana.


"He'em, Otong juga. Met bobo semua di hari yang cerah ini," ucap Obama langsung memposisikan dirinya di ranjang yang muat untuk dua orang itu.


King D terkekeh pelan. Irina dan Fara pamit untuk melihat sekitar kapal. King D mempersilakan dan membiarkan dirinya tidur karena merasa letih akibat kemunculan hal-hal tak terduga di sekitarnya.


***

__ADS_1



uhuy makasih tipsnya untuk diriku😆Lele padamu🤭puanjang nih epsnya. selamat malam minggu. lele mau rehat aja biar cepat sembuh. amin❤️


__ADS_2