
Malam itu di kapal kargo.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Kamar Irina yang luas, dijadikan tempat berkumpul orang-orang untuk membahas misi yang terpaksa ditunda. Chen menemani Fara yang masih tak sadarkan diri di kamar.
"Paman. Aku rasa ada hal aneh di sini. Jika tujuanmu ke Kanada, kenapa pesawatmu bisa melintas Saudi Arabia? Kau ditemukan di negara itu," tanya King D berkerut kening dengan secangkir kopi dalam genggaman.
Jason dan semua orang sepertinya baru menyadari hal tersebut.
"Kau benar. Jika harus melewati Saudi, tujuanmu malah seperti ke benua Afrika. Apa kau ingat siapa saja awak pesawatmu sebelum kau ditidurkan?" tanya Polo penasaran dengan piring berisi ikan bakar masakan Obama.
"Aku sependapat. Akan lebih cepat jika melintasi Laut Bering. Dengan begitu, pesawatmu akan tiba di Kanada. Malah seharusnya, kau mungkin bisa bertemu kelompok yang selamat di Seward, Alaska," sahut Robin lalu menyuapi mulutnya dengan ikan hasil pancingan Obama sore tadi.
Orang-orang mengangguk setuju. Jason tampak serius memikirkan hal tersebut hingga keningnya berkerut.
"Atau pilihan lain dengan melintasi negara-negara Eropa. Kau bahkan bisa singgah di Inggris. Mungkin ke Newfoundland and Labrador. Ada markas aktif dengan penjaga di sana. Kenapa malah ke Saudi, bahkan tak singgah di Oman? Hal itu sungguh aneh," sahut Ritz sependapat dengan kawan lainnya.
"Agh, aku tak ingat kejadian itu. Apa yang kulewatkan? Kenapa rute penerbangan bisa melenceng jauh dari titik pertemuan," keluh Jason seraya meremat rambutnya tampak frustasi.
"Sudahlah, Paman, jangan dipaksakan. Gas halusinasi tidak bisa terus-terusan digunakan. Hal itu malah akan membuat kerusakan otak. Kita baru bisa melakukannya lagi minggu depan. Jangan khawatir," ucap King D menasihati.
Jason mengangguk paham meski ia terlihat seperti kesal akan sesuatu. Usai menikmati makan malam bersama hasil pancingan ikan Obama, orang-orang itu beristirahat di kamar masing-masing.
"Kenapa semakin rumit, Otong?" keluh King D seraya mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan dengan tubuh terbaring di kasur.
"Sejak awal kita brojol di dunia ini, idup kita udah rumit, D. Gak usah lebay ah. Dah, tidur. Ngantuk Otong. Good nite," ucapnya seraya memejamkan mata dan memeluk bantal di sofa panjang.
King D mengembuskan napas panjang. Ia memiringkan tubuhnya dan menatap sang adik yang sedang diinfus masih tak sadarkan diri.
Perlahan, mata King D terpejam. Suasana hening dan damai tanpa gangguan menyelimuti malam.
Namun, saat semua orang tertidur lelap, gadis cantik itu membuka mata. Seketika, kilau mata peraknya menyala.
Fara mengedip-ngedipkan matanya berulang kali. Ia lalu duduk perlahan, tapi baru menyadari jika tangannya diinfus. Ia melepaskan jarum itu sembari menahan sakit sampai wajahnya berkerut.
Gadis berambut keriting itu melihat King D dan Obama yang tidur dengan pulas bahkan mendengkur. Fara yang merasa terusik oleh dua lelaki itu, memilih keluar kamar.
Namun, gadis itu tampak seperti orang linglung. Ia bingung ketika menyadari jika dirinya berada di sebuah kapal karena terlihat kargo-kargo ditumpuk di luar jendela.
Hingga matanya mendapati sosok Marco sedang menikmati makanan di luar bersama hewan-hewan yang ikut makan dari sisa santapan orang-orang.
Fara melangkah dengan riang, meski mata peraknya tak memudar. Ia keluar dari kapal dan mendatangi Marco.
Namun seketika, "Ggrrr ...," erang anjiing dan kucing saat menyadari kedatangan Fara.
"Wow!" kejut Marco langsung mengarahkan senapan laras panjang ke tubuh Fara yang berdiri di kejauhan.
"Kau kenapa? Kau ingin menembakku?" tanya Fara terlihat serius.
"Kau ... sudah sadar? Mana lainnya?" tanya Marco tampak waspada.
"Tidur. Kak Otong dan D berisik. Aku tak tahu harus ke mana, jadi ... aku ke sini saja. Aku lapar," jawabnya seraya melihat ke arah Marco dengan juluran lidah.
Marco menelan ludah. "Ka-kau ingin menghisap darahku?" tanyanya gugup.
"Ha? Menghisap darah? Kaupikir aku vampir?" tanya Fara dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Lalu ... kenapa taringmu muncul?" tanya Marco dengan wajah tegang.
"Taring?" tanya Fara mengulang dan Marco mengangguk. Fara yang bingung seperti mencoba mencari cermin. Ia mendekati helikopter sembari melirik anjiing dan kucing yang masih mengerang seperti menganggap dirinya sebagai ancaman. Namun, gadis itu cuek saja saat memasuki helikopter dan mendapatkan benda yang ia cari. "Oh! Aku memiliki taring! Kenapa bisa begini?!" pekiknya histeris dan malah panik sendiri.
"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau malah bertanya balik?" tanya Marco heran.
Seketika, Fara menangis. Ia duduk di atas peti tempat menyimpan balok-balok es dengan air mata bercucuran. Marco bingung menyikapi hal ini.
Ia yang tadinya menganggap Fara sebagai ancaman, perlahan menurunkan senjata dan membiarkannya tergantung di leher.
Marco memberanikan diri mendekati Fara meski hewan-hewan itu masih dalam mode siaga.
"Hei, tak apa, kau pasti akan sembuh. Itu hanya taring," ucap Marco seraya menelan ludah.
"Hiks, aku ... aku seperti monster," jawabnya dengan wajah sudah tergenang air mata.
Marco menggaruk kepalanya. Ia melihat Fara sudah bersikap normal. Hanya saja, taring itu mencuat hingga keluar dari bibirnya. Marco tampak iba dan memberanikan diri mengelus punggung gadis cantik itu.
"Aku kenapa?" tanyanya sedih.
"Entahlah. Seingatku, kau tadi menyerangku saat di gedung. Namun, kau sepertinya masih bisa mengendalikan diri karena kau membuang pisau Silent Blue milikmu," jawab Marco yang membuat tangis Fara mereda.
"Eh? Lalu ... pisau itu sekarang di mana?" tanyanya menatap Marco lekat.
"Entah. Sepertinya ... tak ada yang mengambilnya," jawab Marco terlihat jujur.
Fara langsung berdiri seraya menghapus air matanya. Ia beranjak dan berjalan dengan cepat keluar dari helikopter seperti ingin menuju ke suatu tempat.
"Hei! Kau mau ke mana?!" tanya Marco memekik.
"Pisau itu harus ditemukan! Jangan sampai diambil oleh pihak tak bertanggungjawab. Aku masih curiga dengan lelaki yang menculikku. Aku takut, dia mengawasi pergerakan kita dan mengambil kesempatan saat lengah!" jawabnya seraya terus berjalan.
"Agh, menyusahkan!" gerutu Marco yang pada akhirnya nekat mengejar Fara dan masih tak berpakaian karena badannya kini penuh tambalan perban karena luka pecahan kaca.
Namun, hewan-hewan itu juga malah mengikuti Marco di belakang. Marco membiarkan hal itu dan terus berjalan di samping Fara dengan senapan dalam genggaman.
"Gelap sekali," ucap Fara terlihat takut saat melihat ruangan dalam gedung itu tak bercahaya lampu sedikit pun.
Marco masuk lebih dulu lalu menoleh ke arah Fara. Gadis itu terkejut saat melihat mata merah Marco menyala terang dalam kegelapan. Marco mengulurkan tangan kanannya dan Fara dengan ragu meraihnya.
"Berjanjilah jangan menyerangku lagi. Kau tak lihat, sudah banyak bekas luka di tubuhku?" pinta Marco dengan wajah sebal, tapi Fara malah tersenyum.
Hanya saja, senyumnya kali ini malah membuat wajahnya sedikit mengerikan karena bertaring. Marco memalingkan wajah dan mengajak Fara untuk menaiki tangga.
Hewan-hewan itu tetap mengikuti Marco seolah lelaki itu adalah tuan mereka. Hingga akhirnya, mereka tiba di tangga tempat Fara menjatuhkan pisau.
"Ah! Ketemu!" seru Fara saat melihat pisau miliknya berada di atas lantai. Fara menyalakan laser itu sehingga ruangan yang gelap menyala terang dengan cahaya kebiruan. "Lalu ... apakah sudah ditemukan berkas tentang kapal yang hilang?" tanyanya menatap Marco lekat.
"Belum. Keadaan kacau dan semuanya panik," jawab Marco santai seraya melihat sekitar.
"Mumpung kita di sini, ayo cari," ajaknya.
Marco terlihat ragu pada awalnya, tapi akhirnya mengangguk. Dua orang itu mencari berkas tentang kapal yang berlabuh. Cukup lama mereka mencari hingga secara tak sengaja, KLIK!
"Eh!" pekik Fara saat lampu pada ruangan menyala karena Marco tak sengaja menekan saklar lampu pada dinding dengan punggung ketika ia mencari dalam tumpukan berkas di rak.
__ADS_1
"Jangan-jangan ... listrik di tempat ini masih menyala," ucap Marco menduga. Fara menaikkan kedua bahunya.
Namun tiba-tiba, "Guk! Guk!"
Fara dan Marco terkejut saat anjiing yang ikut bersama mereka menggonggong ke arah jendela yang pecah.
Seketika, mata mereka melebar ketika melihat seseorang berpakaian hitam berlari membawa sebuah koper dari dalam helikopter.
"Penyusup!" teriak Fara lantang.
"Fara!" panggil Marco seraya mengulurkan tangan kirinya.
Fara dengan sigap menggenggam tangan Marco dan keduanya melompat bersamaan dari jendela.
Keduanya mendarat dengan mulus di atas truk tak jatuh seperti tadi. Fara dan Marco berlari kencang mengejar pencuri tersebut.
"Guk! Guk! Guk!"
"Oh! Suara apa itu?" tanya King D terbangun dari tidurnya. Mata lelaki itu terbelalak lebar saat menyadari jika sang adik tak ada di ranjangnya. "Otong!" panggil King D panik dan segera keluar dari kamar.
Obama ikut bangun dan segera keluar kamar meski terlihat masih mengantuk, tapi memaksakan diri.
Ternyata, suara gonggongan anjiing tersebut terdengar oleh semua anggota tim. Mereka berhambur keluar, tapi tak mendapati apa pun.
"Apa yang terjadi? Dan ... di mana Marco? Fara?" tanya King D kebingungan melihat sekitar.
"King D!" seru Obama menunjuk ke arah jendela yang pecah.
Orang-orang itu melihat seekor anjing menggonggong dan kepalanya mengarah ke wilayah lain.
King D dengan sigap berlari di mana firasatnya mengatakan jika Fara dan Marco pergi ke arah tersebut.
"Kita kejar pakai CD!" seru Obama.
Ritz, Edward, Fabio dan Lucas segera menerbangkan CD dari helikopter. Sedang Bruno, Robin, dan Polo berlari mengejar King D di mana anjiing serta kucing yang tadi ikut dengan Marco keluar dari gedung tersebut.
Siapa sangka, anjiing-anjiing itu berlari seperti mengejar tuannya. Tiga lelaki dari anggota tim Marco-Polo mengikuti empat ekor anjiing yang berlari kencang seraya terus menggonggong seperti mengejar sesuatu.
Sedang tiga kucing tersebut langsung diambil oleh Obama dan diamankan karena khawatir mereka akan dimanfaatkan oleh seseorang lalu menjadi beringas lagi.
Tak lama, Irina, Jason, Hugo dan Chen keluar dari kapal. Obama meminta kepada mereka untuk segera berkemas karena akan meninggalkan dermaga.
Empat orang itu segera mengambil semua perlengkapan yang berada di kapal untuk pergi malam itu juga.
Tas-tas besar ditenteng dan dimasukkan dalam helikopter di mana Obama sudah siap di bangku pilot.
Delapan buah CD akhirnya mendapati keberadaan King D, Fara dan Marco yang berdiri di tepian dermaga terlihat kesal. Tampak seseorang kabur menggunakan jet ski menuju lautan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy udah dobel eps ya. Makasih tipsnya. Lele padamu❤️ Ditunggu sedekah koin lainnya💋 Kwkwk ngarep