KING D

KING D
Selamat Tahun Baru 2023 LAP*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Semua orang dibuat panik karena King D berada di dalam lautan di mana darah hitam monster mengkontaminasi air di sekitar lingkup itu. Mata semua orang memindai di permukaan. Arjuna yang ingin menolong mengurungkan niat karena darah monster bisa membunuhnya.


"King D! King D!" teriak Lysa—sang ibu—yang panik setengah mati mencemaskan keadaan puteranya dari atas kapal.


Di dalam air.


"Herrggg!" erang King D yang bersusah payah membunuh para monster hiu tersisa.


Pria itu fokus pada pedang laser yang memancarkan sinar warna putih untuk menusuk dan menebas para monster hiu karena bernafsu untuk membunuhnya. Romeo yang terluka, tak bisa menolong King D karena bisa tewas. William melihat ke arah permukaan air di mana serangan para hiu cukup terlihat jelas dari atas kapal.


"Agg, ohok!"


King D menelan air laut yang terkontaminasi darah hitam monster. Pria itu mulai terkena dampak dan merasakan nyeri di dada. Wajah King D berkerut dan tubuhnya tersentak hingga genggaman tangan yang memegang pedang Silent Sharrow mulai melemah. Mata King D melebar, tapi tubuhnya menjadi kaku saat melihat seekor hiu monster terakhir berputar dan siap untuk memangsanya. Mulut hewan itu terbuka lebar dan berenang cepat mendekati putra Javier tersebut.


"Ergg, ohok!"


Gelembung besar muncul dari mulut King D dan membuat mata pria itu berkedip berulang kali pertanda jika sudah berada di detik terakhir dari sisa perjuangannya.


"Hei!" pekik Lysa saat William tiba-tiba mengambil busur panah yang digenggamnya lalu membidik sesuatu dari atas kapal dengan sorot mata tajam. Mata Lysa melebar ketika William melesatkan panah tersebut.


SHOOT! BLUB! BLUARR!!


"Ugh!" erang King D ketika tubuhnya terhempas oleh gelombang ledakan dari panah peledak yang tiba-tiba muncul di depannya.


Usaha William berhasil untuk membuat hiu terakhir yang akan memangsa King D terkejut.


"Cepat! Tarik dia!" seru William lantang saat melihat tubuh King D terhempas dan membuatnya terapung di permukaan.


NGENGG!!


"D! D!" panggil Irina yang dengan sigap melaju kencang menggunakan jet ski untuk menolong sang kekasih.


Namun, hiu yang sempat berenang menjauh itu berputar arah. Ia kembali lagi dan tak mengizinkan King D lolos dari menu kudapannya.


"Hiu itu kembali!" seru Naomi yang melihat pergerakan hewan karnivora tersebut berenang cepat ke arah putra Javier.


Lysa menangis dan membuat tubuhnya bergetar karena tak sanggup melihat putranya tewas di depan mata.


NGENGG!!


"Om Junet!" seru Obama lantang yang melaju kencang dengan jet ski sampai tubuhnya membungkuk.


Pedang Silent Blue menyalakan laser dalam genggaman putra Han tersebut. Tangan kanan Arjuna berpegangan erat pada pundak Obama dan tangan kiri menggenggam kuat pedang biru miliknya.

__ADS_1


"Heaahhh!"


KRASS!!


"Oh! Dia membunuhnya!" pekik Eva saat melihat bilah Silent Blue dimasukkan ke dalam air ketika jet ski melaju kencang.


Arjuna membelah hiu tersebut dari ekor sampai kepala saat Obama melintas di samping ikan tersebut yang sosoknya terlihat dari permukaan. Hiu monster tewas dengan darah hitam langsung menyeruak di perairan tersebut. Beruntung, Irina berhasil mengangkat sang kekasih untuk naik ke atas jet ski dibantu oleh Zurna. Namun, pemuda itu tampak pucat dengan mulut berbusa.


"King D!" teriak Irina ketakutan dan langsung memeluk sang kekasih yang tubuhnya sudah basah kuyup.


Javier dengan sigap mengarahkan kapal ke tempat anaknya berada. William dan lainnya membantu menaikkan King D ke atas kapal. Pria itu masih mengedipkan mata berulang kali dengan busa putih keluar dari mulutnya. Lysa menangis histeris.


"King D! Tidak! Jangan putraku, jangan putraku!" teriaknya dengan wajah sudah tergenang air mata seraya memeluk sang anak erat.


Irina tak mampu berkata-kata dan hanya bisa menangis dalam pelukan Zurna. Semua orang dibuat bingung karena sampai sekarang, tak ada satu pun manusia yang selamat dari darah monster.


"Harggh! Tidak! Aku tidak rela! Aku tidak rela!" teriak Lysa memeluk kepala sang anak yang tubuhnya tersentak berulang kali seperti mengalami kejang.


Javier menutup wajahnya dan berpaling karena tak tega melihat kepergian puteranya di depan mata. Semua orang berkumpul di atas kapal dengan air mata menetes. Mereka tak sanggup melihat kondisi pria yang sudah berjuang dengan keras untuk jajaran meski berulang kali harus terluka dan hampir gagal. Obama terlihat seperti orang berdoa dengan dua tangan menengadah ke arah langit dan meneteskan air mata.


Saat semua orang dirundung duka, tiba-tiba muncul sebuah benda yang sangat besar dari balik awan. Mata semua orang menyipit karena bagian benda seperti besi itu memancarkan sinar yang menyilaukan. Ketika cahaya itu padam, mata semua orang melebar karena melihat sosok tak dikenal sudah berdiri di geladak kapal seraya menancapkan sebuah alat seperti suntikan untuk mengambil darahnya. Orang-orang tertegun dalam diam.


"Akan kujelaskan nanti. Maaf, tolong menyingkir. Seharusnya, dia masih bisa diselamatkan," ucap pria tua itu lalu menyuntikkan darahnya ke lengan King D.


Lysa masih memeluk anaknya di atas kapal dalam posisi bersimpuh. Lysa menatap pria tua itu saksama di mana ia tak pernah melihat sosok tersebut sebelumnya.


Pria itu berjongkok di samping tubuh King D lalu tersenyum sebagai jawaban.


"Panggil saja Jenderal," jawabnya tenang lalu memasukkan suntikan yang telah kosong ke dalam saku bajunya.


"Jenderal?" sahut Javier mengulang. Pria tua itu mengangguk.


"Maaf, kami ... tidak mengerti," ucap Lysa menatap pria itu lekat.


"Ya, Jenderal seperti yang kalian ketahui. Orang militer pemerintah, dengan pangkat, tapi ... aku sudah pensiun sangat lama dan aku ...," jawabnya terlihat gugup dan seperti ragu akan menyampaikan.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan," pinta Zurna yang ikut naik ke kapal.


"Demon Kids. Mereka mengenalku. Bilang saja pada mereka saat bangun nanti, aku sudah datang menepati janji. Hanya saja, aku minta maaf pada Lazarus karena permintaannya kala itu yang meminta Neil agar tak dibangkitkan tak bisa kukabulkan karena ... wanita bernama Sandara hampir memergoki kehadiranku. Jadi ... sebagai balasannya, kubuat King D sepertiku," jawabnya seraya berdiri perlahan.


"Sepertimu? Kau ini bicara apa? Kau datang tiba-tiba dengan ... entah aku harus menyebutnya apa. Pesawat? Lalu ... aku tak melihatmu turun, tapi kau sudah berada di sini. Kau kemudian menyuntikkan cairan seperti darah, lalu kau bicara hal-hal yang sulit kupahami," terang Irina tampak kesal.


Para mafia mengangguk sependapat dengan kekasih King D tersebut. Pria tua yang menyebut dirinya Jenderal mengembuskan napas kasar.


"Oke. Tak perlu bicara santun lagi. Aku adalah Jenderal. Aku manusia setengah dewa. Oleh karena itu, aku masih hidup hingga sekarang sejak zaman dewa yang kalian anggap hanya mitos belaka. Aku menjadi Jenderal Perang sejak ratusan tahun yang lalu, dan kuputuskan pensiun usai masa perjanjianku dengan Oag harus dilakukan. Aku mengawasi permainan Maniac saat para orang dewasa di seluruh Bumi tertidur. Kami mengambil anak-anak manusia yang berumur di bawah 20 tahun untuk menjalani permainan itu sesuai perjanjian dengan leluhur. Namun, yang bermain di Planet Mitologi adalah kloning. Tubuh asli mereka masih aman dalam tabung. Lalu, 13 Demon Kids, sebutan anak-anak kalian saat mereka memenangkan permainan tersebut. Mereka mendapatkan hadiah termasuk kemampuan makhluk Mitologi layaknya kau, kau, kau dan lainnya," ucapnya seraya menunjuk Romeo, Irina, dan Zurna. "Ya, itu saja penjelasanku. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup. Jika masih belum mengerti, tanyakan saja pada anak-anak kalian yang dianggap gila dan mengarang cerita itu. Urusanku di sini sudah selesai. Jadi ... sesuai kesepakatan dengan para Demon Kids, sudah waktunya mereka bangkit dan bekerja untuk memulihkan Bumi. Itu saja dariku dan ... sampai jumpa," sambung pria itu panjang lebar yang membuat kening semua orang berkerut.

__ADS_1


Tiba-tiba, "Aw!" rintih Eva saat cahaya menyilaukan mata lagi-lagi muncul dan membuat para mafia tersebut memejamkan mata.


Saat mereka membuka mata untuk mengetahui apa yang terjadi, sosok itu telah menghilang. Mereka melihat ke sekitar termasuk langit di mana awan seperti disingkirkan oleh sesuatu yang sangat besar berbentuk lingkaran. Para mafia saling memandang terlihat bingung.


"Bos D!" teriak Obama yang membuat para mafia tertegun termasuk sang ibu.


Pria itu mengedipkan mata berulang kali lalu menghapus busa di mulutnya dengan wajah lugu.


"Mimi?"


"King D!" teriak Lysa kembali menangis seraya memeluk kepala anaknya erat dan menciuminya.


King D terlihat bingung saat ayahnya datang dan ikut memeluknya. Obama dan lainnya juga melakukan hal yang sama termasuk Irina. Wanita cantik itu menangis hingga tersedu. Lysa menyingkir dan memberikan waktu bagi calon menantu untuk memastikan orang terkasihnya baik-baik saja.


"D?" panggil Irina dengan air mata menetes bersimpuh di depan sang kekasih.


"Ya, aku hampir mati. Aku tahu itu. Aku minta maaf," jawabnya seraya bangun perlahan lalu memegang wajah gadis bermata hijau tersebut lembut.


"Ingat yang kukatakan tentang pernikahan, King D?" tegas Javier. Pria bermata cokelat itu mengangguk.


"Jangan merusak suasana. Aku masih bingung dengan hal ini. Tolong bawa aku pergi dari tempat ini," pinta Lysa terlihat lemas.


Javier tersenyum dan mengangguk. William dengan sigap membawa penumpangnya menuju kapal kargo. Naomi yang berjaga di kapal itu terlihat serius saat menatap langit. Arjuna mendatangi isterinya dengan pandangan ikut tertuju seperti yang dilihat wanita pujaannya itu.


"Bentuk pesawatnya seperti gangsing. Persis seperti cerita Kenta dan Azumi saat itu," ucapnya serius.


"Mungkin, kita harus minta maaf pada mereka karena menganggap membual?" tanya Arjuna menatap sang isteri lekat dengan senyuman.


Naomi balas tersenyum dengan anggukan. Keduanya berkumpul bersama yang lain termasuk King D di mana pria itu tampak baik-baik saja padahal tadi nyaris mati.


"Kita sebaiknya segera menyusul yang lain untuk berkumpul di Markas Demon Kids," ujar Melody.


Semua orang mengangguk setuju di mana mereka juga penasaran dengan apa yang terjadi. Banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Demon Kids mengenai sosok Jenderal. King D melihat dua tangannya seperti memikirkan sesuatu.


"Gimana, D? Rasanya seperti apa mau mati gak jadi?" tanya Obama yang membuat Irina langsung menepuk lengannya kuat dengan wajah sebal. "Kan penasaran. Ketemu Oma Vesper atau gak gitu lho?"


PLAK!


"Woo, sensi!" pekiknya kesal karena Irina kembali memukul lengannya hingga pria gundul itu sampai mengelus lengan.


Obama memilih pergi dan mendatangi Hugo serta Romeo yang terluka. Dua lelaki itu sedang diobati saat kapal kargo berlayar menuju ke suatu tempat di mana semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle di minta untuk berkumpul.


***


__ADS_1


maaf LAP sekalian. adeh lele makin rempong krn mendadak kudu ke Jogja. babe sakit dan sibuk wara-wiri. sementara update belom teratur ya. trims udah sabar menunggu. lele padamu


__ADS_2