KING D

KING D
Dokter Gigi?


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Tentu saja, kemunculan Dayana Lubava membuat Seif tertegun seketika.


"Diana? Cucu Kai?" tanya pria bertubuh besar itu memastikan.


"Ya," jawab Agent O mantap.


"Seperti apa dia sekarang?" tanya Seif penasaran.


Para agent tersenyum. "Cantik. Dia mengingatkanku akan Nona Lily saat berwajah Asia," jawab Agent V.


Seif balas tersenyum meski saat ia mengenal Vesper—wanita yang pernah dijuluki Frankenstein karena buruk rupa dan kejam—sudah berwajah wanita Eropa.


"Hei!" panggil Number 5 dengan wajah dibalut perban sudah seperti mumi mendatangi kumpulan orang-orang itu. Seif dan lainnya menatap Number 5 saksama.


"Bagaimana bisa Souta dan Maksim bertemu dengan kalian?" tanya Number 5 menatap para pria di depannya lekat.


"Kami dalam perjalanan menuju ke Jeju untuk menyelamatkan kalian. Namun, saat perjalanan, kami melihat sebuah pesawat diserang. Ternyata, anak buah Hope sedang berusaha menjatuhkan pesawat yang ditumpangi oleh Souta, Maksim, dan anggota lainnya. Kami membantu melawan dan berhasil menjatuhkan pesawat anak buah Hope. Maksim dan Souta lalu ikut dengan kami untuk membantu kalian, sedang Click and Clack pergi ke Grey House untuk membantu One serta Verda di sana. Sisanya, melanjutkan penerbangan ke Australia," terang Agent J. Number 5 dan Seif mengangguk paham.


"Sebelum pergi, Dayana membawakan kami sebuah alat detektor untuk memindai manusia yang sudah terekam dalam database. Selain itu, ada hal mengejutkan yang baru kami ketahui dan aku yakin, kalian akan sama terkejutnya," ujar Agent K.


"Oh ya? Apa itu?" tanya Seif berkerut kening.


"Saat kita ditidurkan, ternyata ada sebuah alat suntik yang berisi pelacak micro di dalam tabung. Alat itu dipasang pada tengkuk kita saat tak sadarkan diri. Kita selama ini diawasi oleh Dayana. Dia tahu pergerakan kita. Apakah kita sudah bangkit, tewas, menjadi monster, atau berubah wujud seperti Souta," terang Agent C yang membuat mata Seif dan Number 5 melebar seketika.


"Jadi, tanpa sidik jari untuk membuka tabung seperti yang kita lakukan selama ini, Dayana memiliki akses untuk melakukannya seorang diri kepada semua tabung baik ciptaan Kai, Jeremy atau Sandara. Entah itu disebut licik atau cerdik. Ibu, anak, dan nenek sama saja," ujar Agent J yang membuat orang-orang terkekeh karena mantan anggota Colombia itu terlihat sebal.


"Apakah tabung dimodifikasi?" tanya Souta. Para Agent mengangguk.


"Pasti ulah Dara atau Jordan. Tak usah kaget," sahut Maksim terlihat sebal. Semua orang menahan senyum.


"Lalu ... di mana Dayana sekarang?" tanya Seif.


"Tidak tahu. Dia hanya mengatakan kami harus segera menyelamatkan kalian lalu menyusul ke Australia setelahnya," jawab Agent X.


"Kalau begitu, tunggu apalagi. Kalian harus cepat sebelum jumlah kita semakin berkurang karena kegilaan Sengkuni," tegas Maksim dan diangguki para pria itu.


Maksim dan Number 5 akan tinggal di markas Jeju sampai mendapatkan instruksi untuk berkumpul di tempat lain. Seif dan Souta ikut dengan para Agent Colombia ke hanggar. Mereka akan terbang menuju ke Australia seperti misi sebelumnya.


Disisi lain. Kediaman Herlambang, Yogyakarta, Indonesia.


Beruntung, tempat itu hanya dijaga oleh anak buah Hope tanpa monster di sana. Goran berasumsi, itu karena, Yogyakarta adalah tempat tinggal Sengkuni. Meski demikian, tabung-tabung yang seharusnya tersimpan di rumah peninggalan Hashirama untuk keluarga Herlambang sudah tidak ada. Goran yakin jika Sengkuni sudah memindahkan tabung-tabung tersebut ke Australia. Hanya saja, pemuda itu sepertinya tidak mengetahui jika ayahnya sudah bangkit dan kini dalam kondisi renta akibat cacat organ saat dibangkitkan.

__ADS_1


"Hah, hah, lalu ... sekarang bagaimana? Tetap bertahan di sini atau menyusul ke Australia?" tanya Cathy Red Skull dengan tubuh sudah bermandikan keringat.


"Jika tetap di sini, rasanya percuma. Tak ada yang bisa kita jaga karena tabung-tabung sudah dipindahkan," sahut Bruno dengan senapan laras panjang masih dalam genggaman.


"Hei!" panggil Chen di kejauhan terlihat serius akan sesuatu. "Kemarilah. Kalian harus lihat ini," ucapnya.


Goran mengajak anggota tim barunya untuk bergegas mendatangi Chen yang berada di dalam rumah Herlambang, usai mereka berhasil menjatuhkan para pria bertopeng itu. Goran dan lainnya berkerut kening saat Chen mendapati seorang pria yang tak lain adalah anak buah Hope seperti ketakutan. Amy Red Skull mengarahkan moncong senapan laras panjang ke kepala orang itu sebagai bentuk ancaman.


"Ada apa?" tanya Goran menatap Chen saksama.


"Ada yang masih menyimpan alat detektor kebohongan?" tanyanya.


"Aku!" sahut Pink Red Skull yang dengan sigap mengeluarkan alat itu dari dalam saku jas anti peluru khas seragam Black Armys.


Chen menerima lalu mengaktifkannya. Ia meletakkan benda itu di lantai, tepat di hadapan orang tersebut.


"Aku ingin tahu, apakah yang dikatakannya barusan padaku dan Amy benar, atau hanya akal-akalannya saja," tegasnya.


"Aku tidak bohong!" teriaknya.


"Diam! Jawab pertanyaan kami dengan jujur. Alat ini tak bisa dibohongi. Aku pernah dites olehnya," ucap Chen teringat saat ia akan masuk ke markas besar Oman kala itu.


Pria itu menelan ludah. Ia menatap alat berwarna hitam itu saksama, lalu matanya beralih ke para pria dan wanita di hadapan. Ia mengangguk pada akhirnya.


"Apakah Hope yang mengutusmu untuk menjaga tempat ini?" tanya Chen dengan pistol ikut diarahkan ke wajah sandera. Pria itu mengangguk cepat. "Jawab!"


Semua orang saling melirik tajam lalu menatap alat detektor kebohongan saksama. Alat itu tak berbunyi yang menandakan pria tersebut tidak berbohong.


"Kau bilang Tuan Sengkuni adalah Hope. Selama ini, Hope adalah dia?" tanya Amber Red Skull.


"Sebenarnya ...," jawab pria itu kembali melirik terlihat ragu menjawab, tapi Amy dengan cepat mendorong kepala pria itu dengan moncong senapan laras panjang hingga kepalanya bergerak maju. Pria itu memejamkan matanya sejenak lalu dibuka lagi. "Hope adalah orang yang ditunjuk sebagai pemimpin dalam misi. Jumlah Hope ada 4, dan salah satunya adalah Tuan Sengkuni."


Praktis, pengakuan orang itu membuat mata semua orang melebar karena baru mengetahui hal tersebut.


"Siapa saja mereka? Para Hope itu?" tanya Amy ikut tertegun.


"Mereka adalah William Tolya, Polisi Lee, Detektif Kwang dan Polisi Junho."


Tentu saja, kejujuran orang itu membuat para mafia dibuat shock seketika. Goran mengajak orang-orangnya untuk segera kembali ke pesawat dan mengabarkan hal ini kepada tim yang menjaga markas. Amber sudah mencoba untuk mengecek komunikasi di kediaman Herlambang, tapi tak bisa digunakan. Jaringan itu seperti sengaja diputus.


"Jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Tolong. Masih ada beberapa monster yang berkeliaran dan aku tak bisa meringkusnya seorang diri," pintanya memelas.


Goran menatap pria itu saksama. "Katakan padaku. Bagaimana bisa kau bergabung dengan Hope?"

__ADS_1


Pria itu mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam saku jasnya. Kening Goran dan lainnya berkerut. Chen mengambil suntikan itu dan mengamatinya saksama.


"Oh! Ini adalah serum penawar gas halusinasi. Jangan-jangan ...," ucapnya lalu melihat pria yang duduk bersimpuh terlihat takut.


"Apakah Hope melakukan cuci otak kepada kalian semua?" tanya Goran memastikan.


"Aku tak begitu yakin. Hanya saja, saat kami dikumpulkan, orang-orang bertopeng sebelumnya bertanya tentang profesi kami. Yang dulunya mantan tentara, polisi, satpam, bodyguard dan sejenisnya, dijadikan satu kelompok khusus yang dibekali persenjataan lengkap. Lalu, profesi lain seperti karyawan kantor, sopir, tukang masak, dokter dan semacamnya dipisahkan lagi. Aku tak tahu alasan Hope mengelompokkan kami sesuai kategori. Aku dulunya seorang dokter gigi," terangnya.


Semua orang saling memandang dalam diam. "Lanjutkan," pinta Goran.


"Seingatku, setelah kami dikelompokkan, beberapa hari setelahnya, kami dikumpulkan ke dalam sebuah ruangan dan dipanggil satu per satu. Saat aku akan disuntik yang katanya itu adalah serum agar tak terjangkit penyakit monster, aku melihat ada sebuah suntikan dengan tulisan penawar dalam kotak tersebut yang dibawa salah satu petugas medis. Saat orang-orang itu sedang sibuk berdiskusi entah apa yang dibicarakan, aku mengambil serum itu diam-diam dan memasukkannya ke celana dalamm agar tak ketahuan," jawabnya.


"Hehe," kekeh Robin, tapi langsung disenggol oleh Bruno.


"Itu benar. Lalu setelah aku disuntik, aku merasa seperti diminta kesetiannya untuk mengabdi pada seseorang bernama Sengkuni. Semalaman aku dikurung dalam sebuah ruangan bersama pasien lainnya. Kami menderita karena dampak yang bisa dikatakan seperti cuci otak. Ya! Persis seperti katamu tadi!" ucap pria itu dengan mata melebar.


Goran dan lainnya mendengarkan dengan saksama.


"Lanjutkan," pinta Amy.


"Aku mual, muntah-muntah, dan berkeringat dingin. Kepalaku sakit dan badanku menggigil. Hingga aku teringat akan suntikan yang kutemukan. Aku nekat menyuntikkannya karena bertuliskan penawar. Aku tak sadarkan diri setelahnya. Dan saat aku membuka mata, aku baru sadar jika pria bernama Sengkuni adalah penjahat sesungguhnya. Aku tak bisa kabur atau melawannya karena akan mati. Jadi, aku memilih untuk berpura-pura memihaknya agar selamat. Aku ... memang pengecut," ucapnya dengan wajah tertunduk terlihat sedih.


Goran mengambil detektor kebohongan itu lalu menonaktifkannya. Ia mengembalikan benda itu kepada pemiliknya. Pink segera menerima dan menyimpannya lagi.


"Oke, kami percaya padamu. Kali ini, jika kau ingin menembus kesalahan, sekaranglah waktunya," tegas Goran, dan pria itu mengangguk cepat.


"Tunggu!" ujar Pink menatap dokter itu serius.


"Ada apa?" tanya Amber menatap kawannya lekat.


"Jika kau selama ini berpura-pura, kau pasti ingat seluk-beluk markas Sengkuni. Kau pasti tahu di mana para sandera disekap. Tunjukkan pada kami agar para manusia terakhir bisa diselamatkan," ucap wanita berambut merah muda itu.


"Ya!" jawab pria itu mantap.


Praktis, senyum para mafia terkembang.


Chen memberikan tangannya dan dokter itu segera meraihnya. "Saatnya penebusan dosa," ucap Chen dan pria itu mengangguk mantap.


***


uhuy Jono masuk head banner🎉 kuy dukung novel Jono dg rate bintang 5 dan komen ajaib kalian ya. trims~


__ADS_1


Selain itu, dapet pujian juga dr Editor Noveltoon. Waaa😍 Semoga kalian juga suka cerita Jono 💋



__ADS_2