KING D

KING D
Pembersihan Terakhir


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


King D dan tim akhirnya meninggalkan Portugal menuju ke kawasan gunung berapi La Palma. Para Demon Kids tetap berada di gedung Nicolas untuk mulai membangun lagi perekonomian dunia. Gedung-gedung milik mereka diaktifkan termasuk para manusia terpilih yang telah ditunjuk untuk membantu.


Di sisi lain. Para mafia yang disebar di seluruh dunia berbondong-bondong membersihkan limbah monster. Bahkan, para sipil yang bernaung di Kota Hantu memutuskan untuk membantu dengan menyingkirkan puing dan barang-barang tak berguna agar kota bisa kembali dihuni.


"Wabah monster sudah lenyap. Musuh juga telah dikalahkan. Kalian tak perlu lagi menjaga kami di tempat ini. Kami siap membantu memulihkan Bumi," ucap salah seorang wanita dengan pakaian warna merah di Kota Hantu.


"Aku tak bermaksud untuk menahan. Baiklah jika demikian. Saranku, tetaplah pergi dalam kelompok. Lalu, berkumpulah di markas 13 Demon Heads seperti yang pernah aku katakan," ujar Eiji.


"Baik!" jawab para sipil itu serempak.


Satu kelompok terdiri dari 7 orang. Mereka terdiri dari beberapa profesi dengan seragam berwarna-warni. Orang-orang itu pergi menggunakan kapal ke wilayah yang sudah dipetakan oleh Monica. Hal serupa juga terjadi di Kastil Borka di mana para sipil ikut menjelajah untuk membantu membersihkan kekacauan akibat wabah monster. Namun, di Rusia saja.


"Hati-hati!" seru Mitha seraya melambaikan tangan ketika tiga pria Mongol menjadi pemimpin tim untuk menyusuri sekitar Kaliningrad sebagai langkah awal.


Di sisi lain. Tim King D berhasil tiba di kawasan gunung La Palma, Spanyol. Sayangnya, pesawat yang mendarat berjarak cukup jauh dari letusan karena abu vulkanik dikhawatirkan akan merusak pesawat. Mereka harus menggunakan mobil untuk mendekat. Kali ini, King D meminta kepada para manusia yang tak memiliki kemampuan khusus agar tak mendekati kawasan gunung karena dikhawatirkan akan terkena dampak jangka panjang tak diketahui.


Venelope dan lainnya menghargai hal tersebut dan meminta para manusia biasa agar tetap berada dekat pesawat. Urusan pembuangan limbah akan dilakukan oleh tim King D atau bisa dibilang para manusia super menuju kawasan pembuangan. Tentu saja, kedatangan mereka yang lama dinantikan, disambut oleh orang-orang yang tak sabar mendengar kisah petualangan melawan Sengkuni. Terlebih yang tak ikut berperang melawan Hope. Namun, King D yang ingin fokus pada misi pelenyapan tabung, berdiri di sisi Venelope untuk memeriksa pendataan.


"Wilayah mana yang belum terjangkau?" tanya King D serius.


"Masih banyak. Wabah monster tersebar di seluruh dunia. Pasti bangkai mereka tertinggal di beberapa wilayah. Aku hanya cemas saat bangkai-bangkai itu mengkontaminasi suatu kawasan lalu meracuni orang-orang yang tinggal di sana nantinya. Jika demikian, akan banyak wilayah yang tak bisa dihuni," jawab Venelope serius.


"Ya. Selain itu, untuk menemukan jejak bangkai monster sangatlah sulit. Apalagi jika sudah mengering," imbuh Yusuke.


King D diam terlihat memikirkan hal tersebut. Hingga ia menyadari sesuatu saat mengusap hidungnya.


"Mitologi."


"He? Apa maksudmu?" tanya Lucy bingung.


"Orang-orang yang memiliki kemampuan unik dari serum Mitologi bisa mendeteksi adanya monster termasuk bangkai mereka. Bau monster sangat menyengat. Sebaiknya, dalam tim yang disebar, setidaknya ada satu orang yang memiliki kemampuan tersebut," ujar putra Javier mantap.


"Ya, itu benar. Saat monster datang menyerang, kami juga bisa merasakan ancaman," sahut Irina yang sudah bisa membendung kesedihan atas kepergian sang ayah.

__ADS_1


"Aku mengerti. Akan kuinformasikan hal ini pada lainnya," jawab Venelope lalu bergegas pergi untuk melaporkan hal tersebut ke pusat komando.


Q yang sudah menandai pergerakan tim di lapangan, segera meneruskan pesan penting itu. Para pemilik kekuatan yang awalnya tak memaksimalkan kemampuan mereka karena merasa tak perlu digunakan setelah wabah monster lenyap, kini kembali layaknya masih bertempur.


Di tempat Tim Marco-Polo berada.


"Begitukah? Baiklah, kami mengerti," ucap Fabio usai menerima panggilan dari Black Castle.


"Ada apa?" tanya Polo yang kembali pada kelompoknya setelah bertemu di La Palma.


"King D mengatakan jika kemampuan unik kalian bisa mendeteksi aroma dari bangkai monster. Hal itu bisa mempercepat penemuan bangkai-bangkai yang masih tertinggal," jawab Fabio mantap.


"Ah, benar juga. Kenapa tak terpikirkan hal itu?" jawab Marco yang memiliki kemampuan penciuman tajam.


Marco dan Polo memejamkan mata terlihat serius akan sesuatu. Kawan-kawannya yang berdiri di sekitar mereka tampak tegang menunggu. Hingga seketika saat mata keduanya terbuka, "Di sana!" seru si kembar seraya menunjuk.


"Oh! Kita satu frekuensi!" ujar Marco senang menatap wajah kembarannya bagaikan berdiri di depan cermin.


"Hem. Ayo!" ajak Polo dengan senyuman.


Tim yang tak lagi memiliki drum limbah akhirnya menggunakan benda apa pun untuk menampung limbah-limbah itu. Jordan tak menyarankan untuk dibakar, terkecuali hasil pembakaran itu akan ditimbun secara permanen layaknya fondasi. Hanya saja, karena orang-orang itu sudah sepakat untuk memasrahkan hal itu pada gunung berapi, jalan yang mereka yakini untuk melenyapkan bangkai monster adalah kekuatan alam. Lahar panas sepertinya tahu tugasnya dengan baik kali ini sebagai pihak penyelesaian.


Pagi, siang, sore, dan malam, kawasan sekitar La Palma ramai oleh orang-orang yang melakukan pengiriman limbah monster. Mereka bekerja secara estafet dari satu wilayah ke wilayah lain. Sayangnya, mulai terlihat jika La Palma melemah karena muntahan lahar panas tak lagi mengalir. Hal ini membuat para mafia bergerak semakin cepat agar tak tertinggal momen pelenyapan.


Lysa, Javier, dan orang-orang yang mendapatkan kemampuan khusus usai diberikan serum Mitologi, mulai terbiasa dengan kemampuan super itu. Mereka merampungkan proses pembersihan lebih cepat karena kekuatan fisik dari serum tersebut memberikan dampak energi berkali-kali lipat. Ratusan bangkai monster berhasil ditimbun dan dimasukkan dalam wadah-wadah khusus yang selanjutnya akan dilenyapkan. King D dan tim manusia super secara bergantian menerima limpahan bangkai monster. Mereka menuju ke kawasan lahar panas untuk melemparkan muatan yang bisa mengkontaminasi lingkungan tersebut.


"Beruntung, lahar panas tak mengalir sampai ke laut. Sepertinya, alam berpihak pada kita. Lihat, aliran itu membuat sebuah kawah layaknya kolam berisi genangan lahar panas," ucap Zurna seraya menunjuk.


"Anda benar, Nyonya. Aku sebenarnya sedikit khawatir. Apakah limbah-limbah monster ini tak beresiko di kemudian hari? Maksudnya ... setelah lahar panas mengering, bukankah bangkai monster ikut mengendap di dalamnya? Mungkin sebaiknya, kita pastikan tak ada manusia mendekat di sekitar pulau ini," ujar King D seraya melihat sekitar.


"Hem, aku setuju. Aku akan sampaikan hal itu pada Jordan," jawab Zurna mantap, dan diangguki King D.


King D menyaksikan fenomena pelenyapan bangkai monster yang dilakukan selama berhari-hari oleh orang-orang dalam jajaran. King D juga mendengar jika sipil di Kota Hantu dan lainnya ikut membantu membereskan kekacauan. Seketika, senyum pria itu terbit dan disadari oleh sang kekasih.


"Ada apa?" tanya Irina mendekat.

__ADS_1


"Hem. Aku senang dengan inisiatif orang-orang. Tanpa harus diminta, mereka melakukannya dengan sukarela. Kita sangat terbantu. Melihat semua orang bekerja keras, aku sangat berharap pesta pernikahan kita akan sangat meriah, Irina. Aku ingin semua orang berkumpul dan menikmati pesta. Sudah cukup mereka bekerja keras, dan waktunya libur panjang," ucap King D yang membuat wanita cantik itu terkekeh.


Sia yang mendengar penuturan calon menantunya itu ikut tersenyum di balik keharmonisan mereka berdua. Ia teringat janjinya pada William. Sia berjalan menjauh usai ngotot untuk melihat wilayah pembuangan bangkai monster yang dianggap ancaman bagi kelangsungan hidup manusia. Sia mengendarai mobil ditemani oleh Romeo karena pemuda itu merasa tak nyaman dengan suhu panas.


Sia mengenakan masker karena khawatir dengan debu vulkanik yang masih beterbangan di sekitar meski tak begitu terlihat. Namun, bisa dirasakan debu halus itu ketika menyentuh suatu benda. Tenda-tenda didirikan di sekitar kawasan pendaratan sebagai tempat bermalam. Orang-orang yang tak memiliki kekuatan unik membantu dengan menyiapkan tempat istirahat berikut makanan.


Mereka bekerja secara bergantian seraya menunggu kedatangan limbah dari tim di lapangan yang melakukan pembersihan. Hampir satu minggu proses melelahkan itu dilakukan. Siapa sangka, dalam waktu singkat, limbah monster di seluruh dunia dinyatakan bersih oleh GIGA mencapai 80%. Sisanya, darah-darah monster yang terciprat di beberapa tanaman, bangunan, dan lain-lain.


Bagian-bagian yang terkontaminasi itu hanya bisa dibersihkan dengan menguburkannya karena aktivitas gunung La Palma mulai menurun. Lahar dingin perlahan mengeras seperti ingin mengatakan jika tugasnya telah selesai.


"Yah, kita harus mencari tempat untuk menampung bongkahan itu di tempat yang tak pernah dijangkau manusia. Hanya saja, di mana?" tanya Jonathan bingung terlihat memikirkan lokasi tersebut.


"Oh, bagaimana dengan kawasan yang ditinggalkan usai terkena dampak erupsi gunung berapi? Atau tempat yang terkena imbas dari nuklir?" saran Arjuna, dan diangguki semua orang yang setuju dengannya.


"Ide bagus. Katakan pada Jordan tentang misi kita selanjutnya," pinta King D.


"Okey," jawab Venelope yang sangat mumpuni untuk menjadi layaknya sekretaris.


Afro yang sudah ikut hadir menatap mantan istrinya itu saksama karena giat bekerja. Pertemuan mereka pun hanya berkesan formalitas dan canggung. Orang-orang yang melihat hal tersebut memilih diam tak ikut campur. Gosip beredar, jika Afro kembali dekat dengan Sandara karena pria itu pernah menawarkan donor spermaa bagi calon anak setelah Junior lahir.


Kabarnya, Sandara ingin memiliki banyak anak dari beberapa donor entah apa yang dipikirkan wanita itu. Jordan yang sadar dampak dari kelahiran saudara sepersusuan, setuju dengan pemikiran sang istri. Namun, keturunan Boleslav tersebut tak ingin Afro mengusik kehidupan sang istri, apalagi harus melahirkan anak darinya. Jordan mencoba menyingkirkan pria itu dengan segala cara termasuk ditidurkan terlebih dahulu. Bagi Jordan, Afro adalah ancaman sebenarnya ketimbang wabah monster.


"Begitukah? Aku baru tahu tentang hal itu," jawab King D berbisik di tengah kumpulan para pria yang bermalam dalam satu tenda.


"Woo, pebinor jebule si Apron. Dulu kata Bapak, Apron itu nyia-nyiain Bibi Sandara, terus gimana gitu dramanya hingga akhirnya Bibi Dara sama Om Jordy. Kualat kali ya, makanya umur pernikahan sama Lope-Lope sebentar," sahut Obama yang membuat orang-orang terkekeh karena berkesan sok tahu.


"Tak usah ikut campur. Aku masih belum merestui hubungan kalian," sahut Sun dengan wajah dingin menatap calon menantunya gitu.


"Bapak Camer loh. Dunia perorangtuaan itu lebih indah saat melihat anak menikah dengan orang yang dicintainya. Dalam kasus ini, Diana cinta sama Otong. Udah, gak usah menyangkal takdir. Nanti kualat lho," ujar Obama percaya diri tak sungkan lagi.


Praktis, jawabannya membuat semua orang tertawa. Sun terlihat marah, tapi seperti berusaha untuk bersabar. Ia menengok ke arah anak gadisnya yang berkumpul bersama teman-teman sebaya dengan wajah sendu.


"Kenapa harus si jelek botak ini, Dayana?" tanya Sun miris.


***

__ADS_1


maap baru sempet up lagi. kerjaan makin menggila gaes. jaga kesehatan dan jangan lupa vote vocernya keburu angus ya. tengkiyuw lele padamuđź’‹


__ADS_2