
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Di sisi lain tempat Hope berada.
Hope yang tak lain adalah William tertegun saat membuka mata. Tabungnya telah terbuka dan ia sendirian di tepi pantai. William segera berdiri dan melihat sekitar. Ia diam selama beberapa saat mencoba mengingat kejadian terakhir ketika ia dimasukkan dalam tabung dan dibuang ke lautan oleh Sengkuni.
"Topengku!" pekiknya saat menyadari jika tak lagi memakai penutup wajah.
William terlihat panik karena wajahnya menjadi buruk akibat bekas luka peperangan di masa lalu ketika melawan para monster. William kembali teringat akan belati yang diyakini adalah milik pria pembawa petaka di hidupnya meski sampai saat ini belum ia ketahui siapa sosok itu. William kembali masuk ke dalam tabung dan menemukan benda tajam itu. William memegangnya erat dan kembali menyimpannya.
"Oh!" pekiknya langsung melotot dan keluar dari tabung dengan tergesa. "Romeo!" teriaknya lantang ke arah lautan.
William panik. Ia mencemaskan keadaan puteranya yang terakhir kali ikut terjebak dalam tabung sepertinya. William kebingungan mencari cara untuk menemukan sang anak di mana fajar mulai menyingsing menunjukkan silau sinarnya. Saat William sedang memantau sekitar untuk memastikan keberadaannya, ia melihat pergerakan di balik semak di atas daratan yang menanjak. Kening William berkerut. Ia mendapati seseorang sedang mengawasinya. William menajamkan pandangan untuk memastikan keberadaan sosok tersebut.
"Aku tahu kau bersembunyi di sana! Keluar!" serunya mengancam seraya mengacungkan belati yang ia keluarkan lagi.
William menyipitkan mata saat sosok itu perlahan menunjukkan diri. Namun, seketika mata suami dari Sia tersebut terbelalak lebar. Ia terperanjat sampai melangkah mundur karena kaget.
"Ayah ...," panggil sosok itu terlihat takut.
"Ro-Romeo?" tanya William memastikan. Sosok berwarna hijau kebiruan itu mengangguk dengan wajah sedih. "Apa yang terjadi padamu?" tanya William tertegun dengan wujud puteranya.
"Aku ... aku menyuntikkan serum dari gudang penyimpanan Sengkuni ke tubuhku, dan ... aku menjadi seperti ini," jawabnya terlihat sedih.
William masih berdiri di kejauhan menatap wujud anaknya yang tampak mengerikan. Romeo memiliki selaput pada dua tangannya dan sisik pada bagian tubuh. Telapak kakinya berubah layaknya ekor ikan, tapi tak menyatu. Bagian leher Romeo seperti memiliki kelopak dari lapisan kulit yang bernapas karena mengembang dan mengempis. William menelan ludah karena bentuk tak lazim itu.
"Kau pasti takut padaku. Hiks, Ayah ... apa aku seperti monster?" tanya Romeo menangis.
William iba pada kondisi anaknya. Pria itu akhirnya melangkahkan kaki mendatangi sang anak yang terpuruk karena perubahan wujudnya. William memeluk anak lelakinya meski masih terlihat ragu untuk mengelus tubuhnya. Romeo balas memeluk sang ayah dengan isak tangis.
"Aku terpaksa melakukannya untuk menyelamatkanmu," ucapnya yang membuat William tertegun.
__ADS_1
Perlahan, tangannya mulai mendekap puteranya erat. William akhirnya bisa mengerti pengorbanan yang dilakukan sang anak. Senyum William terukir.
"Bagiku kau tetap puteraku. Jangan menangis. Kau sudah besar. Jika ibumu tahu, kau bisa dihajar olehnya," ledek William. Seketika, tangis Romeo tergantikan dengan tawa.
William ikut tersenyum melihat anaknya sudah tak bersedih lagi. Romeo menghapus air matanya dan kini berdiri di depan sang ayah meski pandangannya tertunduk. Sedang William, menatap anak lelakinya lekat.
"Kita terjebak di sini. Ini di mana?" tanya William heran.
"Afrika. Aku tak begitu yakin, tapi sepertinya berada di Maroko," jawab Romeo yang mengejutkan William karena tak menyangka jika mereka bisa pergi sejauh itu.
William teringat saat ia merasakan tabungnya seperti didorong oleh sesuatu melintasi lautan hingga ia tertidur karena memakan waktu lama. Ia yakin, saat itu Romeo menggunakan kemampuannya yang seperti ikan untuk membawanya menyeberang. William tersenyum dan kembali tegar untuk puteranya.
"Maroko ya? Baiklah kalau begitu. Sepertinya perjalanan kita akan sangat jauh jika harus kembali ke Amerika," ucap William terdengar lesu.
"Ayah!" panggil Romeo seraya memegang lengan ayahnya erat. William menatap Romeo dengan kening berkerut. "Kita harus membalas Sengkuni dan menyelamatkan kak Irina serta ibu," ucapnya mengingatkan.
Namun, William mengembuskan napas panjang terlihat lesu. "Mustahil. Sengkuni sangat kuat. Kita bukan tandingannya."
"Oh! Aku tahu! Para mafia itu. Sengkuni takut pada mereka. Orang-orang 13 Demon Heads dan The Circle. Selama ini Sengkuni mengatakan mereka ancaman bukan? Kita pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Ayo, kita minta tolong pada mereka. Aku yakin, mereka akan berpihak pada kita!" sahut Romeo mantap.
Romeo terkejut karena sang ayah tak sepemikiran dengannya. Romeo menatap ayahnya lekat terlihat jengkel.
"Ya sudah jika tak mau. Aku akan pergi sendiri menemui mereka. Sampai bertemu di Amerika," jawabnya yang membuat mata William melotot.
"Hei, Romeo!" teriak William marah karena sang anak malah meninggalkannya. Romeo berjalan dengan langkah lebar seperti pinguin karena kakinya berubah menjadi seperti ekor ikan. Saat William berlari mengejar sang anak dan berhasil memegang pundaknya, tiba-tiba, "Agh!"
BRUKK!
"Maaf, Ayah. Hanya saja, kali ini kau yang harus menurut padaku. Percayalah, para mafia kejam itu bisa menolong kita," ucap Romeo saat menempelkan telapak tangannya ke wajah William dan membuat pria itu tak sadarkan diri.
Romeo mengangkat tubuh sang ayah dan memasukkannya dalam tabung. Romeo melihat wujudnya yang terpantul pada kaca penutup tabung dalam diam seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Aku tahu kemampuanku," ucapnya lalu mendorong tabung William memasuki air.
Romeo menceburkan dirinya ke dalam lautan. Ia mendorong tabung William menyusuri lautan menuju ke lokasi salah satu markas 13 Demon Heads. Romeo yang diam-diam mempelajari tentang para mafia itu usai ia merasa jika Sengkuni hanya memanfaatkan dirinya dan sang ayah, mulai melakukan persiapan. Sekaranglah waktu baginya untuk bertindak tak diam lagi. Ia lelah menjadi budak.
Sepanjang ia berenang, Romeo teringat akan kegiatan Sengkuni selama ia bekerja untuknya. Sengkuni berhasil mendapatkan beberapa serum dari orang-orang dalam tabung yang ia ambil darahnya. Hanya saja, darah-darah itu dirasa kurang karena serum yang dimilikinya tak selengkap milik para mafia yang terpilih. Kemampuan yang dihasilkan pun tak maksimal dan permanen karena hanya bertahan selama satu bulan serta memiliki efek samping. Romeo yang sadar jika waktunya tak lama lagi segera bergegas sebelum kemampuannya sirna.
Sedang di Black Castle, Inggris.
Jonathan mulai mengirimkan para manusia terpilih sesuai dengan permintaan Hope untuk diterbangkan ke Australia. Tim Barracuda yang telah mendatangi beberapa markas sesuai rute membenarkan informasi dari Yena dan Zaid jika markas-markas tersebut telah dikuasai anak buah Hope. Terlihat, pria-pria bertopeng menjaga wilayah itu saat anggota Barracuda menyelidiki lokasi.
"Ingat strategi yang sudah disampaikan oleh dua isteriku. Awas saja jika lupa. Kalian sungguh memalukan jajaran," tegas Jonathan saat mengantarkan kepergian para mafia muda ke helipad.
"Ish. Iya, Om, iya!" jawab Fara menunjukkan taring dengan wajah kesal.
Jonathan tertegun untuk beberapa saat, tapi kemudian mengangguk.
"Sisanya, bersiap. Kalian tahu apa yang harus dilakukan. Semoga kita benar-benar menuntaskan hal ini. Jika gagal, entahlah, aku sangat berharap ibuku bisa bangkit dari kematiannya," ujar Jonathan yang membuat semua orang terdiam.
"Giliran kepepet aja inget emak. Otong inget lho cerita dari bapak saat om Jojon durhaka sama oma Vesper," sahut Obama yang membuat Jonathan langsung melotot. Semua orang menahan senyum.
"Baiklah. Hati-hati di jalan," ucap Sierra saat mengantarkan kepergian orang-orang berkemampuan khusus.
"Bye! Doakan kami berhasil!" seru Fara seraya melambaikan tangan saat helikopter yang diterbangkan Marco dan Polo lepas landas meninggalkan helipad Black Castle.
Jonathan dan lainnya ikut melambaikan tangan dengan senyum terkembang. Namun setelahnya, wajah serius ditunjukkan oleh para mafia senior itu.
"Ayo, kita jangan sampai kalah keren dengan anak-anak ingusan itu," tegas Jonathan.
Zaid dan lainnya mengangguk dengan senyuman. Para mafia senior bergegas menyiapkan diri karena mereka akan habis-habisan untuk menyelesaikan konflik dan menghentikan wabah monster yang sudah menyebar ke seluruh dunia.
***
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya😍 akhirnya bisa up juga setelah drama dengan baby Z yang rewel. lele akan usahakan dobel eps biar cepet selesai. selama si gundul gak ngambek lele bisa ngetik, kalau dia mewek ya sabar aja kalau lele belum bisa up😆 lele padamu LAP❤️