
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Tentu saja, pengakuan Junior membuat Irina, Obama, King D, dan Jonathan yang berada di pusat kendali tertegun. Irina yang iba pada bocah lelaki itu menatapnya sendu. Ia mengulurkan tangan dan Junior dengan segera meraihnya.
"Kau akan lebih aman jika bersama kami, Junior. Aku akan menjagamu," ucap Irina dengan senyuman.
King D menoleh ke arah sang kekasih, dan Irina balas menatapnya dengan tatapan permohonan. King D menarik napas dalam dan mengangguk pelan tanda ia mengizinkan.
"Cius? Junior ikut kita dalam misi? Alah hiyung," keluh Obama dari balik pintu masih enggan berdekatan dengan putera dari Sandara-Jordan.
Irina lalu mengajak Junior masuk ke dalam. Obama dengan sigap berlari dan menyusul Jonathan ke pusat kendali. Dua lelaki itu masih tak mau jika harus bertemu dengan Junior karena wujudnya yang tak lazim. King D mendekati makam Pion Diego di mana ia yakin jika Junior yang menguburkannya.
"Aku tak tahu kenapa kau bisa tewas, Paman. Namun, akan kucari tahu penyebabnya. Terima kasih atas perjuanganmu selama ini. Sampai jumpa," ucap King D seraya mengusap nisan salah satu Pion dari 8 Mens The Circle saat masih berjaya dulu.
Di dalam markas.
King D dan Irina yang penasaran dengan isi tas Junior membongkarnya. Obama dan Jonathan mengawasi dari kamera CCTV yang terhubung dengan pusat kendali. Kening pria dengan dua warna manik mata itu berkerut termasuk Irina saat melihat ada sebuah ponsel dalam tas berwarna putih. Junior yang melihat benda itu langsung merebutnya dan mengaktifkan. Pasangan muda itu menatap Junior dalam diam.
"Hoh, hoh!" serunya saat layar ponsel itu menyala.
Irina yang dipercaya oleh King D sebagai pemandu Junior menerima ponsel itu. Ternyata, terdapat banyak rekaman di sana, khususnya perjalanan Junior begitu ia bangkit dari tabung.
"Di mana ini? Islandia?" tanya Irina memastikan karena ia melihat ada nama Robicon Coorporation yang dibangun kembali usai peperangan bertahun-tahun silam antara jajaran Vesper dan The Cirlce.
Junior mengangguk pelan. Ternyata, apa yang Junior lihat, terekam secara otomatis di ponsel tersebut. King D menatap mata Junior yang memiliki lensa berlapis ketika anak itu memandangi Irina saksama.
"Paman Jonathan, Otong, apa kalian mendengarku?" tanya King D dari earphone yang terpasang di salah satu telinga.
"Ya, D. Ada apa? Jangan minta kami ke sana. Aku tidak mau!" jawab Jonathan langsung menduga dengan penolakan.
"Bukan. Hanya saja, kulihat Junior adalah aset yang sangat penting dan kita harus melindunginya. Selama ini, kita kesulitan mencari keberadaan GIGA. Dia tak aman jika ditinggal sendirian. Dia bisa menjadi incaran Hope," jawab King D serius.
"Hop! Hop!" pekik Junior tiba-tiba yang membuat King D langsung menoleh ke arah putera Sandara tersebut.
Junior yang sedari tadi berjongkok bagaikan katak itu memejamkan mata seraya menggerakkan telunjuk kanan yang berlapis sarung. Irina terkejut saat melihat layar ponsel yang ia pegang bergerak dengan sendirinya, dan seketika sebuah tampilan muncul.
"Apa itu?" tanya King D dengan mata langsung terfokus pada rekaman video yang ditangkap oleh Junior.
"Hop! Hop!" serunya yang membuat mata Irina dan King D terbelalak lebar.
"Junior pernah bertemu dengan Hope dan orang-orangnya!" pekik Irina yang membuat Jonathan dan Obama tertegun dibuatnya.
"Sial! Aku tak bisa melihat dengan jelas video itu. Irina, bawa kemari ponselnya, tapi si pucat itu jangan ikut serta! Cepat!" titah Jonathan.
King D mengambil ponsel itu dari genggaman sang kekasih dan berlari menuju pusat kendali. Irina memilih untuk tetap bersama Junior dan mengajaknya untuk menunggu kebangkitan Amanda Theresia di ruangan tersebut. Irina seperti mencoba memahami Junior dengan mengajaknya berkomunikasi di mana ia merasa jika Junior anak yang cerdas.
"Kau tetap gunakan saja kalung penerjemah itu. Hanya saja, jangan bicara jika kondisi dianggap berbahaya. Kau mengerti yang kuucapkan?" tanya Irina, dan Junior mengangguk.
__ADS_1
Di ruangan pusat kendali.
Tiga pria itu melihat rekaman yang dilihat oleh Junior akan sosok Hope. Siapa sangka, dugaan para mafia itu benar jika Hope memakai topeng, bertato, dan dulunya mantan militer. Junior seperti bersembunyi dalam tumpukan salju karena terlihat banyak gundukan benda putih dingin itu di sekitarnya. Hope melatih anak buahnya dalam menembak, olah raga fisik layaknya tentara, dan mengangkut banyak benda dari kendaraan-kendaraan besar saat berada di Islandia.
"Lihat! Junior mencoba memindai sosok Hope dan anak buahnya dengan GIGA melalui mata, tapi tak berhasil. Mungkin karena Hope memakai topeng, berikut orang-orangnya," tebak King D.
"Ya, benar. Selain itu, lihatlah. Pada sisi atas sebelah kanan ini. Di sini GIGA seperti memberitahukan kepada pada Junior jika orang-orang tersebut adalah ancaman," ucapnya seraya menunjuk pada tulisan "WARNING!" dengan tulisan merah berkedip berulang kali.
"Wedyan. Bisa gitu ya? Jadi si Junior ini kaya dilengkapi sistem keamanan yang terkoneksi dengan GIGA DARA. Mungkin aja itu kuping dia yang sinkron sama otak cenut-cenut pas ada bahaya, mirip kaya orang sakit kepala. Jadi, Junior langsung kabur pas tahu jika ada bahaya," sahut Obama seraya bertolak pinggang dan mengangguk-anggukan kepala memantapkan dugaan.
"Ya, bisa jadi. Mungkin karena itu, Junior selalu selamat dan tak tertangkap Hope serta ditemukan para monster," sahut King D.
Jonathan yang penasaran lalu membuka beberapa file dalam ponsel itu. Namun, hal itu berimbas pada Junior. Mata anak itu tiba-tiba berkedip dengan cepat hingga bola matanya bergerak tak beraturan. Irina panik dan spontan memegang tubuh Junior karena kepalanya sampai bergetar.
"Junior! Junior!" teriaknya lantang yang terdengar sampai pusat kendali karena semua pintu terbuka.
"Irina?" jawab King D langsung berlari ke tempat sang kekasih berada.
Jonathan dan Obama yang bingung, menatap layar ketika Irina tampak panik saat memegangi tubuh Junior. Jonathan menghentikan aktifitasnya, dan Junior kembali normal seperti semula.
"Ada apa?" tanya King D cemas begitu tiba di bingkai pintu.
"Ta-tadi dia ...," jawab Irina menggantung.
Tiba-tiba, Junior melompat. Ia berlari seperti monyet dengan dua tangan dan dua kaki menyusuri koridor. King D dan Irina yang kebingungan, bergegas mengejar bocah berkulit pucat itu.
"Hoh! Hoh!"
Keduanya spontan berpelukan dan naik ke atas kursi karena Junior merangkak mendekati mereka. Obama dan Jonathan melotot saat anak lelaki itu mengambil ponselnya dengan wajah sebal menunjukkan gigi tajam seraya mendesis seperti ular. Dua pria dewasa itu menelan ludah karena Junior tampak semakin menyeramkan saat marah.
"Jangan sembarangan mengotak-atik ponselku! Ini terkoneksi dengan otakku!" ucapnya marah seraya melakukan gerakan isyarat usai memasukkan ponselnya lagi dalam tas.
Obama dan Jonathan saling melirik meski wajah mereka tegang. Keduanya mengangguk kaku tanda paham. Junior lalu merangkak pergi meninggalkan keduanya mendatangi King D dan Irina yang berdiri di bingkai pintu. Sepasang kekasih itu memilih pergi setelah mengetahui alasan dari sikap Junior yang aneh.
Hari itu, Jonathan menginformasikan temuannya kepada seluruh markas yang terhubung. Mereka mengatakan akan pergi ke Islandia usai Amanda Theresia bangkit dari tabung untuk mencari tahu keberadaan Q, yang menurut informasi dari Junior jika sidik jarinya ditemukan. Jonathan berencana membangunkan dua orang untuk melindungi Amanda selama bertugas di Greenland.
"Kita akan tinggal di sini sementara waktu sampai nenek bangun. Oke?" ucap Irina saat ia menemani Junior untuk tidur di sebuah ruangan yang sudah dipilih oleh anak lelaki itu sebagai kamarnya.
Terlihat banyak gambar yang ditempel di dinding dengan sebuah kertas, meski tak ada warna lain kecuali hitam dan putih untuk mempercantik lukisan itu. Tangan Irina yang hangat, berhasil membuat Junior tertidur lelap saat mengelus kepalanya. Junior memeluk tasnya bagaikan guling. Irina membiarkan hal itu dan meninggalkan Junior di kamar dengan pintu yang sengaja dibuka karena tak terdapat CCTV pada kamar tersebut untuk mengawasinya.
Saat Irina, Obama, King D dan Jonathan menikmati sajian di hari menjelang fajar, tiba-tiba alarm CamGun yang terpasang di sisi terluar markas berbunyi. Namun, jenis alarm itu berbeda bukan suatu ancaman. King D dengan sigap berdiri dan mendatangi layar untuk mencari tahu.
"Oh!" pekiknya kaget dan langsung berlari keluar ruangan seperti menyadari sesuatu.
"Opo? Ono opo?" tanya Obama bingung ketika menikmati sup buatan Irina di meja makan.
Jonathan dengan sigap mengaktifkan tablet yang terhubung dengan helikopter miliknya. Praktis, matanya ikut melebar.
__ADS_1
"I-itu Q!" pekiknya yang membuat Obama dan Irina melotot seketika.
Di luar markas Greenland.
"Paman Q! Paman!" panggil King D saat menggunakan kemampuan mata merah yang bisa melihat dalam kegelapan, dibarengi kecepatan berlari menerobos gelapnya hutan.
"AAAA!" teriak Q histeris ketika melihat ada sosok menyeramkan menuju ke arahnya.
Q langsung berlari menjauh ketakutan sampai ia tersandung sebuah batang kayu dan membuatnya jatuh bergulung-gulung hingga menabrak sebuah batang pohon besar.
BRUKK!!
"Agggg," erangnya kesakitan dan meringkuk di atas tanah.
"Paman!"
"AAAA! Pergi dariku!" teriaknya panik dan spontan melempari King D dengan benda apa pun yang berhasil diraihnya. King D berusaha menghindar karena Q sepertinya belum menyadari jika yang datang padanya adalah manusia.
"Paman Q!" panggil Irina di kejauhan.
Spontan, Q yang mengenali suara Irina bergegas bangun. King D memilih untuk menutup matanya agar Q tak panik.
"Hah, hah. Eh?" engahnya saat berhasil berdiri meski napasnya tersengal.
King D berdiri dengan mata terpejam dan dua tangan ia julurkan ke depan seperti menjaga jarak dengan orang di hadapannya.
"Kau ... tunggu sebentar," ucap Q seraya membenarkan kacamata yang sempat terlepas dan menggenggam ponsel di tangan kirinya.
"Teridentifikasi. King D," ucap suara seorang perempuan dari ponsel tersebut.
"King D? King D!" panggil Q senang, dan membuat putera dari Javier spontan membuka mata. Namun lagi-lagi, "Woah!" teriak Q histeris ketika melihat warna merah menyala dari saah satu mata King D.
"Paman, jangan takut, aku tak akan melukaimu," ucap King D mencoba memberikan pengertian.
Q yang bingung dengan keadaan ini langsung bersembunyi di balik batang pohon. Beruntung, Irina segera muncul meski napasnya ikut tersengal.
"Ka-kalian? Ka-kau ... Irina? Benar 'kan?" tanya Q memastikan seraya menunjuk dari balik batang pohon.
"Yah," jawabnya seraya mengatur napas.
"Lalu ... kau King D," tunjuknya ke arah pria tampan itu. King D mengangguk membenarkan.
Q duduk di atas tanah dengan lemas. Ia menyenderkan punggung terlihat lega saat mengenali keduanya. King D dan Irina saling bertatapan dalam diam. Keduanya mendekati Q lalu berjongkok di depannya.
"Anda ... masih hidup, Paman? Bagaimana caranya kaukemari?" tanya King D menatap Q lekat.
Namun, Q langsung terlihat waspada. Ia berdiri dan meminta pasangan muda itu ikut dengannya. Q yang sudah mengetahui seluk-beluk markas di Greenland, meminta mereka untuk segera berlindung di dalam. King D dan Irina mengangguk setuju. Ketiganya berlari menuju ke markas dalam kegelapan di mana Q menggunakan senter dari ponsel sebagai penerang jalan.
__ADS_1
***
Oke. Makasih yg udh sabar menunggu kelanjutan King D😁 Akhirnya Monster Hunter sudah tamat dg baik tepat waktu ya. Silakan baca marathon bagi yg belom intip kisahnya. Jadi urutannya baca MH dulu, Marcopolo baru King D. Cuma MP belom lele up. Tar aja deh abis lahiran mau abisin novel di MT dl biar gak ngutang. Kwkwkw😆 ditunggu sedekah tips koinnya 💋