
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Siapa sangka, tebakan Sakura benar. Match terus bergerak ke arah Wales, Inggris. Helikopter berhasil mengejar Match. Lelaki yang kini memiliki bentuk tubuh tak lazim itu tahu jika diikuti. Namun, Match seperti sadar jika orang-orang tersebut adalah anggota dalam jajaran.
"Dia sepertinya tak menganggap kita sebagai ancaman, Polo," ujar Chen yang terus memantau pergerakan Match melalui teropong.
"Baguslah jika benar demikian. Terus awasi dan jangan sampai hilang dari pandangan. Nyonya Sakura mengabarkan jika pergerakan Match menuju ke rumah salah satu orang dalam jajaran 13 Demon Heads, mantan anggota dewan. Jika benar, dia pasti orang penting. Pasti ada alasan kenapa Match tiba-tiba pergi ke tempat tersebut," tegasnya yang fokus mempiloti helikopter.
Orang-orang mengangguk setuju. Mereka melewati pemukiman yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Suasana begitu hening dan hanya terdengar gemuruh suara mesin dari baling helikopter. Mata semua orang memindai sekitar untuk mengantisipasi adanya ancaman serangan entah dari pihak Hope atau monster. Namun, sepanjang perjalanan, tempat yang mereka lalui bagaikan kota mati. Seolah, tak ada lagi manusia selamat di negara tersebut.
"Entah kenapa hatiku pilu melihat semua ini. Aku merindukan kemacetan dan hiruk-pikuk keramaian kota," ucap Bruno terlihat sedih.
"Aku yakin, kita bisa mengembalikan keadaan meski tak tak seperti dulu. Oleh karena itu, kita harus melenyapkan Hope untuk selama-lamanya. Karena dia, kita kehilangan orang-orang terkasih," sahut Marco seperti memiliki dendam tersendiri terhadap Hope.
Saat helikopter yang membawa tim Marco-Polo melintasi sebuah padang rumput, tiba-tiba ....
"Harg! Harg!" dengkus Match terlihat panik akan sesuatu.
"Apa yang terjadi?" tanya Robin bingung karena Match menghentikan laju larinya begitu saja.
Helikopter ikut terbang melayang di dekat Match untuk melindungi aset mereka. Mata Polo menajam saat melihat sebuah pergerakan dari kejauhan.
"Suara itu ...," guman Marco seperti menyadari ada suara berisik mendekat.
"Marco! Polo! Lihat!" seru Chen ketika melihat Match seperti mengendus udara. Pria besar itu lalu berlari kencang menuju ke arah yang berlawanan dengan tujuannya.
"Match bergerak! Lindungi!" seru Polo.
Dengan sigap, Bruno, Robin dan Chen menyiagakan senjata. Helikopter kembali melaju mengikuti pergerakan Match yang entah membawa mereka ke mana. Tiba-tiba, mata Polo melebar. Ia melihat sebuah pergerakan yang dengan cepat datang ke arahnya.
NGENGG!!
"Ada manusia yang selamat! Pastikan dia bukan orang Hope!" titah Polo.
Match terus berlari layaknya gorila ke arah pengendara motor tersebut. Benar saja, "Goar!"
BRUKK!
"Kontak! Kontak! Match menyerang orang itu!" seru Chen sampai berdiri dari dudukkan.
"Bruno! Robin! Pastikan pengendara itu bukan ancaman!" seru Polo.
Dua orang itu mengangguk paham. Mereka segera turun menggunakan tali. Marco, Polo dan Chen tetap bertahan di helikopter untuk mengamankan keadaan sekitar dari atas langit.
Terlihat jelas, pria pengendara motor itu cukup tangguh. Dia bergerak dengan lincah layaknya akrobatik saat menghindari tangkapan Match. Pria besar itu meraung terlihat marah dan menggunakan motor pengendara sebagai senjatanya.
"Match! Stop!" teriak pria yang masih menggunakan helm saat Match siap memukulnya dengan motor.
Praktis, Match langsung menghentikan serangan. Napasnya memburu dan menatap sosok di depannya yang mengenakan pakaian serba hitam ketika melepaskan helm.
__ADS_1
Bruno dan Robin yang berdiri melindungi Match di belakangnya, telah siap membidik sosok tersebut dengan senapan laras panjang. Semua orang terdiam ketika sosok itu menunjukkan jati dirinya.
"Hempf ... hempf ...," dengkus Match lalu menurunkan motor itu perlahan.
Pria dengan rambut sebahu berwarna cokelat, wajahnya tertutupi brewok dan kumis tebal mengangkat tangan ke atas seperti menyerah. Polo akhirnya mendaratkan helikopter untuk mencari tahu.
"Marco, bagaimana?" tanya Polo berbisik di mana ia meminta Chen untuk tetap di helikopter. Chen mengangguk paham.
"Dia bukan monster. Mungkinkah ... salah satu orang dalam jajaran? Dia mengenal Match," jawab Marco bersiap untuk turun.
"Ayo cari tahu," jawab Polo siap dengan pistol.
Saudara kembar itu segera berlari kecil mendatangi Match. Lelaki besar itu mengelilingi pria tersebut seraya mengendusnya. Match seperti ingin memastikan jika orang yang memanggilnya ia kenali. Sosok itu memejamkan matanya rapat ketika wajah Match berada tepat di depannya.
"Hempf, hempf, Doug," ucapnya dengan suara besar.
Pria yang dipanggil Doug mengangguk pelan. Tangan besar Match meraih tubuhnya dan merapatkan ke wajah seperti ingin diamati lebih dekat.
"Hempf, hempf, Hope," ucapnya lagi.
"Hope? Kau tahu nama itu?" Match mengangguk. Doug terlihat tegang seketika. "Aku melihat helikopter melintas dan kalian mengenakan seragam tempur Black Armys. Oleh karenanya, aku nekat keluar dari tempat persembunyian dan mengejar kalian. Syukurlah, kalian memang orang dalam jajaran. Hanya saja ... apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menjadi ... entahlah bagaimana aku menyebutnya. Kau terlihat semakin mengerikan, Match," jawab Doug terlihat tegang dan masih mengangkat tangan ke atas.
"Hempf," balas Match dengan napas memburu.
"Halo! Maaf. Apakah ... kau orang The Circle? 13 Demon Heads?" tanya Polo di kejauhan.
"13 Demon Heads. Kalian mau ke mana? Apakah ... berkunjung ke Wales? Kediaman Ivan?" tanya Doug menebak di mana tubuhnya masih dalam cengkeraman Match.
"Terlambat. Anak buah pria bertopeng sudah mengambil seluruh tabung di kediaman Ivan. Yang kutahu, pemimpinnya bernama Hope. Aku terbangun di rumahku. Saat aku mencoba menghubungi Wales, tak ada jawaban, begitu pula Black Castle. Saat aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Ivan, aku melihat ada sebuah truk besar mengangkut tabung-tabung. Terlihat seperti ada bekas pertempuran di luar kediaman Ivan. Aku tak mengejarnya karena khawatir ketahuan. Selain itu, para monster masih banyak berkeliaran di sekitar sini. Oleh karena itu, aku kembali ke rumah dan mengurung diri di sana hingga melihat helikopter kalian," jawab Doug terdengar jujur.
"Sudah berapa lama Anda terbangun, Tuan Doug?" tanya Marco sopan seraya mendekat.
"Awal musim semi," jawabnya yang membuat semua orang saling memandang.
Match lalu melepaskan Doug. Pria itu mengendus lagi seperti mendapatkan penciuman yang lain. Marco yang penasaran mendekati Match di mana ia merasa tak mencium apa pun di sekitarnya.
"Apa yang kau dapatkan, Pria besar?" tanya Marco heran.
"Doug mengenakan seragam tempur anak buah Hope. Aku bisa mencium bau serupa tak jauh dari sini," jawabnya yang membuat Marco terperangah.
"Apa katanya, Marco?" tanya Polo terlihat waspada dengan keadaan sekitar.
"Dia bisa mencium bau anak buah Hope! Katanya, mereka berada di sekitar sini!" jawab Marco berteriak.
Polo dan lainnya terkejut. Tiba-tiba saja, Match kembali berlari. Orang-orang itu tertegun dan saling memandang.
"Kembali ke helikopter! Tuan Doug, ikut kami! Black Castle sudah diamankan dan semua orang berkumpul di sana. Kebangkitan Anda memberikan harapan besar bagi jajaran. Ayo!" ajak Polo.
Doug terlihat senang. Ia mengangguk mantap dan segera berlari memasuki helikopter. Benda berbaling-baling besar itu kembali berputar dengan cepat dan melayang di udara. Ternyata, Match pergi menuju ke sebuah dermaga. Terlihat sebuah truk besar seperti ditinggalkan dekat tepian di mana tak ada satu pun kapal di sana.
__ADS_1
"Itu dia truknya! Truk yang mengangkut semua tabung!" seru Doug menunjuk saat Match mendekati truk itu seperti ingin memastikan sesuatu.
Polo dengan sigap menurunkan helikopter. Doug dan lainnya segera turun begitu benda terbang tersebut mendarat dengan sempurna. Benar saja, ada sebuah tabung yang terbuka dan sudah tak ada manusia di dalamnya. Tabung itu ditinggalkan dalam bak truk besar tersebut.
"Siapa yang dibangkitkan?" tanya Robin bingung.
"Hempf, hempf, Ivan," jawab Match yang membuat Doug seperti terkejut dengan hal ini.
"Ivan? Agh, sial! Apa yang diinginkan orang itu? Kita harus menemukan Ivan dan tabung lainnya, Match," pinta Doug terlihat cemas.
"Jangan takut, Tuan. Itulah tujuan kami saat ini. Oleh sebab itu, sebaiknya kita segera kembali ke Black Castle dan menginformasikan semuanya," saran Polo.
Marco dan lainnya mengangguk setuju. Doug akhirnya menuruti saran dari pria bermanik biru meski sesekali Doug melihat ke arah Marco karena matanya berwarna merah.
"Wajah kalian tak asing," ucap Doug saat berjalan diantara Marco dan Polo.
"Mungkin Anda mengenal Brian dan Lopez?" tanya Marco. Doug mengangguk. "Mereka orang tua kami."
Praktis, mulut Doug melebar. Saat mereka siap naik ke helikopter, tiba-tiba ....
BROOM!
"Di-dia mengemudikan truk itu?" tanya Bruno heran saat melihat truk besar yang berisi tabung terbuka melintas di samping helikopter.
"Jika penglihatanku tak salah, memang begitulah faktanya," sahut Marco dengan wajah datar.
"Mungkin dia lelah berjalan. Ayo!" ajak Polo.
Helikopter terbang di atas truk yang melaju di jalanan aspal. Hanya saja, saat truk memasuki wilayah pemukiman karena mengambil jalan lain, tiba-tiba ....
"Monster!" seru Marco lantang.
Orang-orang dalam helikopter langsung bersiaga. Sekumpulan monster muncul dari dalam bangunan dan bersiap menyerbu truk yang dikemudikan oleh Match. Ketika Bruno dan teman-temannya siap membidik orang-orang sakit itu, dengan cepat ....
BRAK! KRAK! KRAK!
"Hargh!"
"Wow!" pekik Doug sampai matanya melotot ketika truk besar itu sengaja menabrak kumpulan monster yang berusaha menghalangi jalannya.
Kendaraan dengan roda besar itu melaju seperti tanpa hambatan. Match tak segan melindas korbannya hingga tubuh para monster menggelinjang hebat di atas aspal siap menjemput ajal. Doug dan tim Marco-Polo saling melirik di mana mereka merasa jika Match bisa merampungkan hal itu dengan mudah.
"Aku tak melihat adanya usaha keras untuk melumpuhkan para monster," jawab Chen seraya menarik kembali senapannya tak jadi menembak.
Polo dan lainnya menahan senyum. Match terlihat santai mengemudi meski bangku sopir jadi terlihat sempit karena dua tangan besarnya. Helikopter dan truk besar melaju dengan tujuan kembali ke Black Castle. Polo lega karena Match masih bisa menjaga kewarasannya. Ia khawatir, Match tak bisa mengendalikan kemampuan layaknya King D ketika dalam wujud predator.
"King D. Semoga kau baik-baik saja," guman Polo yang didengar orang-orang dalam helikopter karena headphone mereka saling terkoneksi.
***
__ADS_1
makasih tipsnya. lele padamu😍