KING D

KING D
Bertemu untuk Berpisah


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


King D menarik napas dalam dan berlari kencang mendatangi sebuah mobil di sisi kanan. Irina, Junior dan Romeo terkejut saat peluru-peluru CamGun mengikuti pergerakannya. King D berlari mendatangi sebuah mobil dan berlindung di baliknya.


Namun seketika, DODODOOR! BLUARR!!


"King D!" teriak Irina panik karena mobil yang dijadikan target oleh King D meledak hebat.


Mata Irina dan lainnya melotot, tapi kemudian, senyum mereka terkembang saat pria itu kembali muncul dari balik asap dan berlari menuju ke mobil berikutnya lalu melakukan hal yang sama. Kemampuan berlari cepat King D dan mata tajam layaknya campuran Marco-Polo membuat idenya membuahkan hasil. Peluru-peluru CamGun mulai menipis dan tak lagi bisa menembak.


"Berhenti! Mereka sudah tak menembak lagi!" seru Romeo senang dan langsung keluar dari persembunyian.


"Huff ... jika tak ada kemampuan ini, pasti aku sudah berlubang," ucap King D yang tiba-tiba saja muncul di samping Romeo.


Irina lega karena telah berakhir. Ia hampir saja ikut menggila seperti sang kekasih. Wanita itu meletakkan dua pintu yang menjadi tamengnya ke tanah begitu saja dengan banyak lubang pada sisi luar pintu. King D, Junior, Romeo dan Irina bergegas memasuki gedung di mana William sudah berada di sana.


"Woah!" seru orang-orang itu kagum saat melihat isi dalam gedung begitu memukau layaknya tak terkena dampak bencana wabah monster.


Terlihat, robot-robot pekerja bekerja seperti ada yang mengoperasikannya. Mereka menyusuri koridor di mana banyak robot hampir di tiap sudut ruangan. Benda pintar itu seperti tak terusik dengan kehadiran manusia.


"Lihat!" ucap Romeo menunjuk.


"Oh. Itu ...," ujar King D seraya mendekati sebuah foto dalam sebuah ruangan.


"Bukankah itu Paman James dan Bibi Zurna? Lalu ... remaja yang ditengah itu bukankah Nicolas? Apakah ... gedung ini miliknya?" tanya Irina memastikan.


"Selain itu, lihat. Ada logo di sini. DK," ucap Romeo seraya menunjuk sebuah logo besar layaknya medali pajangan di dinding.


"Hem," ucap King D tersenyum miring.


"Kau tahu sesuatu?" tanya Irina heran.


"Yep. Demon Kids. Heh, tak kusangka jika cerita Jubaedah saat itu benar adanya. Kurasa Otong berhutang pernikahan pada Juby dan Rex," kekehnya sambil geleng-geleng kepala.


"Ha? Apa maksudmu? Aku tak paham," tanya Romeo.


"Kau akan tahu nanti. Jadi ... mereka sudah bangkit ya. Baiklah, kurasa aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lebih baik, kita bereskan Portugal dari sisa bangkai monster sampai jemputan datang," ajak King D.


"Kenapa kita tak tinggal di tempat ini saja sementara waktu? Gedung ini nyaman," keluh Romeo yang langsung duduk di sebuah sofa.


"Kurasa ada benarnya. Kalian pasti lelah. Kita akan bermalam di sini dan mulai bekerja esok hari," ucap King D.

__ADS_1


Praktis, senyum Junior, Romeo dan Irina merekah. Akan tetapi, tak munculnya William membuat King D mulai mencemaskan calon mertuanya itu. Ia mengajak Irina dan lainnya untuk mencari keberadaan William karena pria tersebut tak menjawab panggilan saat namanya disebut.


"Ayah! Kau di mana?" tanya Romeo panik karena keberadaan William tak diketahui.


King D menggunakan kembali fungsi matanya untuk memindai sekitar. Namun, gedung itu cukup besar dan kemampuan matanya memiliki batasan.


"Bagaimana? Kau menemukannya?" tanya Irina panik, tapi King D menggeleng.


"Semuanya, berpencar. Kita harus temukan Tuan William!" titahnya.


Irina bersama Junior menjadi satu tim sedang Romeo dan King D bergerak sendiri. Mereka menyusuri dan membuka semua pintu yang ditemukan seraya terus memanggil William. Ternyata, mereka sudah cukup lama di tempat itu dan tak menemukan keberadaan William.


"Ayah!" panggil Irina mulai berlinang air mata dengan rasa cemas luar biasa.


Tanpa sepengetahuan mereka, Sia dan rombongan Demon Kids tiba di Portugis. Sia panik setengah mati karena sekitar gedung seperti terkena dampak ledakan. Mobil-mobil terbakar karena serangan CamGun berikut selongsong peluru berserakan di sekitar. Hanya saja, tak ditemukan jasad William dan lainnya di wilayah itu.


"Oh, gedungku selamat!" ujar Nicolas bahagia.


Para anggota Demon Kids melihat sekitar di mana hampir seluruh negara terkena dampak dari wabah monster. Mereka harus bekerja keras seperti yang dijanjikan setelah ini. Nicolas dan lainnya memasuki gedung melalui pintu khusus dari sisi lain.


PIP!


"Hem," jawabnya dengan senyum terkembang.


Pintu besi warna putih sebagai akses untuk memasuki gedung terbuka saat Nicolas meletakkan dua telapak tangan di papan pemindai.


GREKK!!


"Wi-William!" teriak Sia dengan mata membulat penuh saat melihat sang suami tergeletak dengan mata terbuka dan tubuh mengeluarkan asap.


"Oh, shitt ...," gumam Nicolas ketika menyadari sistem keamanan gedungnya melakukan tugas dengan baik.


Para Demon Kids mematung ketika Sia memeluk kepala suaminya dengan tangis terisak. Buffalo ikut tertegun dan tak mampu berkata-kata saat melihat William mengedipkan mata dengan tubuh gemetaran seperti terkena sengatan listrik dalam jumlah besar.


"Will ... Will ...," panggil Sia sedih.


"Hah, hah, hah, akhirnya ... aku menemukanmu, Sia. Kau di sini," ucapnya dengan kulit mengelupas seperti terbakar.


Nicolas membungkam mulutnya karena merasa bersalah. Sistem seperti tak mengenali William dan membuatnya sebuah ancaman. Buffalo berjalan mendekat dan berjongkok di samping putri Amanda dengan wajah sendu.


"Katakan sesuatu agar dia bahagia di saat terakhir, Sia," ucap Buffalo.

__ADS_1


"Tidak, tidak, dia akan baik-baik saja. Aku bisa sembuh, begitupula William!" jawabnya yang masih memeluk kepala suaminya erat.


"Sia ... Sia ...," panggil pria itu dengan suara parau.


Sia dengan sigap mendekatkan telinganya di bibir suami tercintanya itu.


"Irina ... King D ... nikahkan mereka." Sia mengangguk dengan air mata menetes. "Aku ... aku bahagia bisa bertemu denganmu meski untuk terakhir kali."


"No, Will, no," jawab Sia yang tak sanggup mendengar ucapan lelaki itu lagi.


William mampu bertahan karena kemampuan serum Mitologi yang membuatnya tak langsung tewas. Akan tetapi, organ dalam pria itu telah rusak. Beruntung jantungnya tak meledak, tapi William bisa merasakan organ dalamnya mengalami kegagalan fungsi karena tubuhnya tiba-tiba bergerak dengan sendirinya dan mengejang.


"William! William! Lakukan sesuatu!" teriak Sia lantang dengan air mata menetes deras.


"Aku tak memiliki fasilitas medis lengkap untuk situasi semacam ini. Aku sungguh minta maaf, Nyonya Sia. Aku sungguh minta maaf," jawab Nicolas merasa sangat bersalah.


"William!" panggil Sia dengan mata membulat penuh saat lubang hidung pria itu mengeluarkan darah.


Sia menangis histeris dan hal itu membuat King D, Irina, Junior dan Romeo mengetahui keberadaannya.


"Ayah!" panggil Irina dengan mata melotot.


"I-Irina? Romeo? Kaliankah itu?" tanya Sia dengan wajah tergenang air mata.


"Ibu!" panggil Irina dan Romeo serempak.


Saat senyum Irina, Romeo dan Sia terkembang, saat itu juga William memejamkan mata dengan senyuman yang sama. Mata King D melebar saat ia melihat William tak bergerak lagi dan Sia tampaknya tak menyadari hal tersebut karena memeluk dua anaknya yang sangat dirindukan. King D maju perlahan dengan sorot mata tertuju pada William yang tergeletak di lantai samping sang isteri. Junior sepertinya juga menyadari kepergian William untuk selamanya.


"Auuuu!"


"Lihat! Dia melolong!" pekik Harun tertegun.


"Will, lihat! Kita sudah ... Will? William?"


Sia melebarkan mata dengan napas memburu. Ia panik saat meraih kepala suaminya lagi yang sudah memejamkan mata dan tak bergerak.


"Ayah! Ayah!" panggil Romeo langsung mendatangi tubuh William dengan bau hangus terbakar.


Tubuh Irina bergetar dan langsung memegangi dua pipinya saat tahu jika sang ayah sudah pergi untuk selamanya.


"Tidak! William! William!" panggil Sia seraya memeluk tubuh sang kekasih erat yang tak lagi bisa mendengar jeritan dukanya begitupula semua orang yang bersedih atas kematiannya.

__ADS_1


__ADS_2