
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
King D mulai berkelana melintasi daratan dan tetap berdekatan dengan pantai agar sewaktu-waktu saat monster menyerang, ia bisa mengamankan diri ke lautan. D yakin jika para monster tak hebat dalam berenang. Hanya saja, jika tubuh mereka sampai menjadi bangkai dan dimakan ikan akan menimbulkan racun bagi biota laut.
Perjalanan panjang ia tempuh untuk bisa tiba di Australia meski harus memikirkan bagaimana caranya menyeberangi lautan luas itu. Mata King D terus memindai sekitar. Dalam hati kecilnya, ia berharap bisa bertemu dengan manusia yang selamat karena merasa sendiri di Bumi yang luas ini. King D juga menyempatkan untuk mengecek bahan bakar dari mobil-mobil yang ditinggalkan oleh pemiliknya di jalanan untuk mengambil bensin.
Hingga matahari mulai tenggelam, King D tak menemukan satu manusia pun. Harapannya seakan kandas dan merasa jika manusia yang selamat hanyalah orang-orang yang disimpan dalam tabung. King D mencoba untuk tegar dan mencari cara untuk mengalahkan Sengkuni lalu mengembalikan kestabilan dunia berikut manusia sehat yang tersisa selama berkendara.
King D yang lelah, memutuskan untuk istirahat sejenak menikmati makan malam dari perbekalan yang telah ia kumpulan untuk perjalanan. Ia juga mengisi bahan bakar dari persediaan jeriken. Kali ini, King D dibuat was-was karena belum menemukan kendaraan lagi di jalan dengan bensin yang bisa ia sedot sebagai bahan bakar mobilnya. Sedang untuk tiba di negara selanjutnya, menempuh 15 jam perjalanan menuju Guinea Bissau dari Dakar. Ia baru menempuh setengah perjalanan untuk tiba ke negara kawasan Afrika Barat itu.
King D yang sengaja mengejar siang agar saat memasuki Guinea Bissau sebelum malam, terus menekan pedal gas dan hanya istirahat untuk buang air kecil, mengisi bensin, dan juga salat. Sayangnya, kegelapan telah menyambutnya dan ia tak bisa mengejar waktu itu. King D tetap fokus meneruskan perjalanan meski ia baru tiba di negara selanjutnya esok hari.
"Sengkuni mencari Dayana Lubava. Ada kepentingan apa dia dengan saudarinya itu? Kenapa harus Diana? Kenapa bukan ibunya Sandara Liu?" tanya King D heran dan terus fokus menyetir mengikuti jalanan aspal. "Apakah ... oh!" pekiknya saat tiba-tiba saja melihat seseorang melintas di tengah jalan.
Mata King D sampai melotot karena terkejut dengan kemunculan seorang manusia di depannya. King D yang kehilangan kemampuan mata merah dan indera penciuman tajam, membuatnya tak bisa membedakan manusia itu sehat atau seorang monster. Dengan sigap, King D menyiagakan senjatanya berupa pisau dan juga kepalan tangan yang dililit rantai besi.
King D keluar dari mobil di mana ia melihat manusia tersebut masih berada di sisi jalan karena wilayah tersebut berupa padang gurun. Ia memanfaatkan cahaya lampu mobil untuk menyorot sosok berambut gondrong dengan pakaian kumal seperti mengalami hal buruk.
"Hei, hei!" panggil King D yang siap melakukan serangan balasan jika manusia tersebut adalah monster.
"Hah, hah," engah sosok itu saat ia membalik tubuhnya dan melotot tajam ke arah King D. Praktis, putera Javier tertegun seketika. "Hempf, hempf," dengkusnya dengan napas tersengal hingga bahu dan dadanya naik turun.
King D waspada karena orang itu tak terlihat seperti monster. Matanya tak berwarna merah, tak berliur, dan tak agresif layaknya para monster ketika bertemu makhluk hidup atau benda bergerak. King D menjaga jarak dan tetap mengarahkan ujung pisau ke sosok tak dikenal itu.
Tiba-tiba saja, sosok yang diyakini lelaki itu berlari ke arah mobil King D dan masuk ke dalam. Tentu saja pemilik mobil terkejut. King D bergegas menghampiri mobilnya saat melihat lelaki itu mengambil stok perbekalan dan memakannya dengan rakus.
"Hei, hei!" pekiknya karena pria itu memakan semuanya.
__ADS_1
Saat King D siap menegur pria itu, tiba-tiba saja, "Harghhh!"
"Oh, shitt!" pekiknya saat melihat seorang monster mendatanginya dengan cepat dari arah jalanan aspal.
Mata King D melotot lebar. Saat ia sudah siap dengan pisau dalam genggaman untuk membunuh monster itu, hal tak terduga kembali mengejutkannya.
"Haggg, haggg ...."
BRUK!!
King D melotot saat melihat pria yang memakan bekalnya dengan sigap berlari ke arah monster lalu menusuk leher dengan sebuah belati. Pria itu tampak tak takut saat menggorok leher monster dan menginjak kepalanya menggunakan sepatu besi yang King D kenali.
"A-Anda siapa? Itu ... itu belati Silent Gold dan sepatu magnet," tanya King D seraya menunjuk.
Pria itu tiba-tiba saja mendekati King D dengan langkah cepat dan menangkap wajahnya. King D sampai terperanjat ketika dua tangan besar dan terasa kasar itu memegangi kepalanya kuat.
"Ho?" tanyanya.
Pria itu lalu berjongkok dan menggoreskan sesuatu dengan ujung belati di atas tanah. Kening putra Lysa Herlambang berkerut seketika.
"Benedict? Anda Ivan Benedict?" tanya King D memekik. Pria itu mengangguk cepat.
Mulut King D sampai menganga lebar. Ia melihat sosok Ivan keheranan karena wajah pria itu sampai tertutupi brewok dan alis yang tebal.
"Oh, Kakek! Aku senang sekali bertemu denganmu," ucap King D langsung memeluk keturunan Benedict itu. Ivan balas memeluk dengan senyuman.
Ivan melepaskan pelukannya dan menarik lengan King D untuk masuk ke dalam mobil. Pemuda itu bingung, tapi menurut. Bahkan, Ivan mengemudikan mobil itu dan membiarkan King D untuk duduk di sampingnya. King D menatap Ivan saksama.
"Ke mana kalung penerjemahmu, Kakek? tanyanya sungkan.
Ivan menunjuk ke arah jalanan di depannya. King D bingung dan hanya bisa diam karena tak mengerti maksud dari Ivan. Namun, hatinya bahagia karena bertemu salah satu mafia senior dalam jajarannya. Meski demikian, King D heran. Bagaimana bisa Ivan terdampar sampai ke benua Afrika di mana seharusnya ia berada di Wales, Inggris? King D menduga, ini ada hubungannya dengan Sengkuni.
__ADS_1
"Heh," panggil Ivan yang membuat lamunan King D buyar.
Mata King D menyipit saat Ivan menggerakkan salah satu tangan seperti memberikan isyarat agar ia tidur. King D mengangguk pelan dan merasa saran dari Ivan ada benarnya. Meski ia merasa sungkan karena tak begitu akrab dengan salah satu mantan anggota dewan tersebut, tapi King D menghormati sarannya.
King D mulai memejamkan mata saat Ivan terlihat serius mengemudikan mobil menerobos kegelapan malam. Ivan tampak fokus dengan tujuannya yang tak disampaikan kepada King D. Hingga akhirnya, mata King D terbuka saat ia merasakan silau matahari mengusik tidurnya.
King D terbangun dan terkejut ketika mendapati mobilnya telah berada di sebuah ruangan besi layaknya kargo. Pemuda itu langsung keluar dari mobil terlihat panik. Terlebih, rantai besi yang membelenggunya telah dilepaskan. King D berasumsi jika Ivan yang membebaskannya.
"Oh!" kejutnya saat mendapati beberapa orang duduk di sebuah bangku saling berhadapan layaknya pesawat kargo. King D tampak bingung ketika dirinya ditatap tajam. "Eh!" kejutnya ketika kepalanya seperti dilempar oleh sesuatu hingga membuatnya menoleh.
Ivan muncul dengan kumis dan jambang telah dicukur. Bahkan, ia mencukur habis rambutnya dan membiarkan kepalanya gundul. King D terlihat bingung saat ia melihat ada manusia lain berada di kabin pesawat tersebut.
"Jadi ... kau putra Javier?" tanya seorang pria tua menatap King D lekat. Lelaki keturunan Timur Tengah campuran itu mengangguk. "Kau mengenal kami? Bagaimana dengan medali ini?" tanya pria itu lagi seraya melihatkan liontin pada kalung yang tergantung di lehernya.
"Aku mengenali lambang itu. Apakah ... Anda salah satu kolektor?" tanya King D terkejut. Pria tua itu mengangguk begitupula dua wanita tua yang duduk mengapitnya. Ivan tersenyum tipis. "Apakah ... kalian bertiga anggota kolektor?" imbuhnya memastikan.
"Begitulah. Perkenalkan, aku Iskra. Dulunya aku pemimpin dari kelompok wanita berkerudung di bawah jajaran Ahmed bernama HURI. Salam kenal," ucap wanita tua itu pelan. King D membungkuk sebagai tanda hormat di mana ia pernah mendengar nama Kolektor dari sang Baba.
"Aku Mallika Libya, salah satu kolektor asal Libya. Salam kenal," ucap seorang wanita tua dengan logat Arab yang kental dan terlihat tegas. King D mengangguk memberikan hormat.
"Aku juga salah satu kolektor. Perkenalkan, namaku Malek Tunisia dari Tunisia. Aku mengenal ayahmu dengan baik. Sultan Javier. Dia dihormati oleh para kolektor. Aku berharap, masih bisa bertemu dengannya di masa yang sulit ini," ucap lelaki tua dengan brewok dan kumis yang tebal.
"Suatu kehormatan bisa bertemu Anda semua. Aku King D. Salam kenal," ucap King D sopan dan para mafia senior itu mengangguk pelan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Biar pada gak lupa sama abang ganteng King D walopun jadi pengembara sekarang. Dan jangan lupa utk setor vote yg cuma bisa 1x dalam seminggu keburu angus gaes. Makasih poin kalian walaupun novelnya gak masuk rangking gpp. Kwkwkw😆
__ADS_1