
Mereka bicara dalam bahasa Inggris dan Rusia. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
King D dan lainnya bergegas menghampiri mantan anggota dewan yang tampak masih bersemangat meski sudah tua tersebut.
"Tuan Bojan! Ini aku, King D!" seru King D yang matanya berubah kembali menjadi merah dan biru.
"Hahaha! Ya, ya, aku mengenalimu!" jawab Bojan langsung memeluk putera Javier erat dengan senyum merekah.
"Mbah Bojan! Wedyan masih energik aja loh!" seru Obama yang ikut berlari mendatangi senior mafianya itu.
"Mereka bicara dengan bahasa seperti ayah, Kakek!" seru anak lelaki tersebut.
"Ya, kau benar, Nero. Mereka teman-teman Kakek. Ayo, Kakek kenalkan. Jangan takut," ajak Bojan semangat dan pemuda dipanggil Nero tersebut mengangguk.
"Wedyan! Guanteng banget! Ini cucu mbah Bojan kah? Anaknya Sun dan Sisca?" tanya Obama sampai melotot.
Bojan tertawa terbahak sambil bertolak pinggang.
"Tentu saja. Keluargaku adalah bibit unggul. Semua tampan dan cantik, tak ada yang jelek! Hahahaha!" jawabnya bangga.
Sang cucu ikut bergaya seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan kanan. Ia malah mengedipkan mata kepada para wanita dari tim King D. Irina, Sakura dan Fara tampak kaget.
"Oh, Kakek! Yang itu memiliki taring! Mereka ini siapa? Kenapa memiliki wujud aneh begitu? Matanya juga berwarna-warni!" tanya Nero blak-blakan. Fara langsung memicing mata.
"Soal itu, Kakek tak tahu," jawabnya seraya mendekati Fara tak terlihat takut. "Hem, bisa kau jelaskan, kenapa beberapa dari kalian menjadi aneh seperti ini?" tanyanya santai.
"Akan saya jelaskan, Tuan," sahut Souta dan diangguki Bojan dengan senyum terkembang.
Di helikopter, di mana benda terbang itu masih berada di tepi sungai belum melanjutkan penerbangan.
"Ah, begitu. Hem, aku mengerti. Jadi ... belum sempurna ya? Atau mungkin, dua sejoli itu memang sengaja membuat kalian menjadi seperti ini," ucap Bojan memaparkan pemikirannya.
"Sengaja bagaimana?" tanya Jason heran usai pria itu menceritakan perubahan dalam dirinya.
"Entah kalian tahu atau tidak, aku juga membeli 3 jenis tabung di tiap generasi. Hanya saja, saat pengiriman terakhir, Sandara dan Jordan datang sendiri ke rumahku. Biasanya mereka mengirim para Black Armys untuk pengantaran. Tentu saja aku merasa senang karena dikunjungi. Namun, aku melihat ada hal aneh yang sengaja mereka tutupi. Sayangnya, mereka tak bisa membodohi Bojan si Perkasa," jawabnya mantap.
"Ngeri nih insting mbah Bojan. Apa itu, Mbah?" tanya Obama seraya menikmati kentang rebus karena semua orang memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.
"Sandara mengambil sampel darah tiga cucuku. Lalu Jordan membawa sampel itu ke pesawatnya. Mereka menginap sehari di rumahku. Lalu esoknya, Sandara mengatakan jika tabung generasi tiga ciptaannya cocok untuk tiga cucuku," jawabnya serius.
Semua orang langsung mengerutkan kening.
"Lalu?" tanya Arthur ikut menyimak.
"Aku tanya alasannya. Saat itu, Sandara menjelaskan dengan logis dan sulit kutentang karena berhubungan dengan medis. Sialan gadis itu, dia tahu jika aku lemah dalam dunia farmasi, jadi ya ... aku iyakan saja," jawab Bojan memasang wajah sebal.
King D lalu menatap cucu Bojan lekat.
__ADS_1
"Apakah ... Anda ingin mengatakan jika cucu Anda memiliki kemampuan khusus seperti kami?" tanya King D curiga.
Bojan tersenyum miring begitu pula remaja tampan itu. Bojan memberikan kode dengan senyum tengilnya dan Nero, segera berdiri.
Nero mengambil anak panah kayu yang tadi ia gunakan untuk memanah helikopter King D. Ia menggenggamnya erat, dan tiba-tiba, SWINGG! JLEB!
"Woah!" seru semua orang terkejut.
"Lemparannya jauh sekali!" pekik Polo sampai mata birunya menyala terang.
Ia bisa melihat ke mana panah tersebut melesat yang menyeberangi sungai lalu menancap pada batang pohon.
"Ada lagi," imbuh Bojan yang terlihat bangga akan kemampuan cucunya.
Nero mendekati sebuah pohon dan mengamatinya saksama. Ia memegang batang pohon itu dengan dua tangannya. Seketika, matanya berubah menjadi warna ungu dan, SREEKK!
"Oh! Pohonnya jadi telanjangg! Lapisan kulitnya terkelupas!" seru Fara sampai melotot.
Bojan tersenyum tipis. "Hati-hati dengannya. Lapisan kulit pada tangannya bisa menjadi pisau. Selain itu, ada alasan kenapa aku menambahkan nama Phyton usai mengetahui kemampuannya itu," imbuhnya yang membuat semua orang tak sabar menunggu kelanjutan ceritanya. "Pelukannya bisa meremukkan tulang. Dan saat mata ungunya menyala, ludahnya menjadi bisa layaknya racun," ucap Bojan yang membuat mulut semua orang menganga karena tak menyangka jika pemuda itu sangat berbahaya.
"Namun, kenapa perubahannya tak membuatku merasakan dia sebuah ancaman?" tanya Marco heran saat pemuda tampan itu kembali berjalan dan bergabung dengan kelompok, duduk di sebelah sang kakek.
"Soal itu, aku tak tahu," jawab Bojan santai seraya menatap cucunya lekat.
"Gunakanlah kemampuanmu dengan bijak, Nak," ucap Daniel menasihati, dan Nero mengangguk mantap.
"Lalu ... bagaimana kalian bisa terbangun?" tanya Irina penuh selidik.
Mata semua anggota King D terarah pada pemuda tampan itu penuh selidik.
"Aku memang dekat dengan tiga cucuku. Nero bosan dan dia membangunkanku. Jadi ya ... di sinilah aku," jawabnya dengan senyum lebar dan Nero membalasnya dengan menunjukkan gigi putihnya yang rapi.
"Kenapa gak bangunin bapakmu si Sun?" tanya Obama yang tampak tertarik dengan pemuda tampan itu.
"Tidak mau. Ayah galak. Jika aku membangunkannya, aku pasti diminta untuk belajar. Aku tak suka," tegasnya sebal.
"Hahaha! Ya begitulah. Sun sudah berubah, dia tak lugu seperti dulu lagi. Namun, dia sangat bisa kuandalkan. Dia sangat tangguh, pintar dan cekatan. Semua urusan yang kuberikan padanya bisa diselesaikan dengan cepat tanpa menimbulkan masalah baru dikemudian hari. Hah ... M pasti bangga dengan anak lelakinya itu," ucap Bojan dengan senyum terkembang memuji kehebatan menantunya.
Semua orang ikut bahagia, tapi Nero malah memonyongkan bibir terlihat tak setuju
"Dia bisa memahami bahasa Indonesia campuran, tapi tak bisa mengucapkannya. Sun mengajarinya dengan banyak hal sangat ketat sejak berumur 5 tahun. Aku sangat senang memiliki Sun sebagai menantuku," ucap Bojan memuji putera Agent M lagi.
"Bagiku tidak demikian," jawab Nero sebal seraya membersihkan telapak tangannya yang kotor karena kentang.
Bojan menghela napas panjang. "Itu karena ... banyaknya tuntutan yang Kakek berikan pada ayahmu. Dulu, ayahmu tak seperti itu. Itulah alasannya kenapa Kakek dekat denganmu dan saudara saudarimu. Kakek yang meminta pada ayahmu untuk memberikan banyak cucu. Karena ayahmu sibuk, jadi kakek yang menggantikan posisinya untuk menemani kalian bermain," ucap Bojan menasihati.
Namun, Nero terlihat seperti tak peduli. Ia memalingkan wajah dengan raut cemberut. Semua orang bisa melihat konflik dalam diri Nero dan sang ayah—Sun.
"Jadi ... markas dijaga oleh Goran?" tanya King D memecah kecanggungan.
__ADS_1
"Ya. Jadi ... ini sebenarnya agak konyol," sahut Bojan kembali terlihat ceria, begitupula Nero. "Awalnya, Nero mengajakku untuk berkeliling sekitar rumah. Kami yang saat itu tak tahu jika para monster masih berkeliaran, cuek saja. Hanya saja, memang ada yang aneh. Para Black Armys penjaga menghilang seperti ... diculik dan dihapus jejaknya oleh seseorang," tegas Bojan mulai serius.
"Jangan-jangan ulah si Hope," sahut Obama dan diangguki semua orang.
"Hope? Siapa itu?" tanya Bojan penasaran.
"Nanti akan kuceritakan, Tuan," timpal Souta, dan Bojan mengangguk.
"Terus, terus?" tanya Fara terlihat tertarik dengan kisah Bojan dan cucunya.
"Lalu ... Nero ingin mengajakku berpetualang karena selama ini Sun menjanjikannya, tapi tak pernah terealisasi. Jadi, aku mengabulkannya. Kami pergi menyusuri sungai bermaksud untuk memancing. Namun saat itu, kami baru menyadari jika para manusia tak ada. Malah, saat kami memutuskan untuk berlayar lebih jauh lagi, kami bertemu dengan banyak monster! Saat itulah aku mengetahui kemampuan Nero di mana cucuku juga baru menyadari saat keadaan terdesak," imbuh Bojan.
"Ah, jadi ... kemampuanmu muncul saat kalian diserang para monster?" tanya King D menebak, dan Nero mengangguk mantap.
"Beruntung, kami membawa banyak persenjataan saat itu. Hanya saja, stoknya jadi berkurang karena dihabiskan untuk membunuh para monster. Aku juga baru tahu jika para monster tak bisa berenang atau mereka akan mati tenggelam. Jadi, kami terus berlayar dan bermaksud memutar sampai kembali ke rumah. Namun sepertinya, Goran mengaktifkan pemancar fatamorgana. Markas tak bisa dihubungi," tegasnya sambil garuk-garuk kepala.
"Apakah ... kalian bisa mengantarkan kami pulang?" tanya Nero penuh harap.
King D dan anggota timnya saling berpandangan. "Untuk hal itu ... kami mohon maaf, Tuan Bojan. Kami memiliki misi ke Jumbo Island," jawab King D tak enak hati.
"Jumbo Island? Maksudmu ... pabrik senjata Boleslav? Ada apa di sana?" tanya Bojan penasaran.
Lagi-lagi, mereka harus menjelaskan alasan dari misi tersebut. Souta memaparkannya dengan sangat terperinci termasuk sosok Hope yang dianggap ancaman.
"Bagaimana jika kita ikut mereka saja, Kakek? Jika kembali ke rumah, pasti akan membosankan!" seru Nero yang malah bersemangat untuk ikut dalam kelompok King D.
"Hem, aku rasa itu ide bagus. Kemampuan barumu pasti akan sangat berguna, Ular," sahut Maksim dengan wajah berbinar, dan Nero ikut senang karenanya.
"Heish, kalian memanfaatkan kemampuan cucuku. Licik sekali," sahut Bojan mendesis.
"Demi kemaslahatan hidup seluruh umat manusia yang masih waras, Mbah. Masa iya nanti om Sun dan tante Sisca bangun dunia masih acak-acakan. Bisa kembali masuk tabung lagi nanti," ucap Obama yang membuat orang-orang menahan senyum.
"Ya, itu benar! Jarang-jarang kita berbuat baik seperti ini! Nama kita akan dikenang sebagai pahlawan!" imbuh Maksim memprovokatori.
"Ayo, Kakek! Kita ikut saja! Aku belum pernah ke Jumbo Island! Dan aku penasaran dengan gadis bernama Reina yang katanya bisa menempel pada dinding seperti cicak! Aku ingin melihatnya!" rengek Nero seraya menggoyang-goyangkan bahu sang kakek.
Bojan terlihat pusing, tapi pada akhirnya mengangguk.
"Ya sudah!" jawabnya kesal, tapi membuat Obama, Fara, Nero dan Maksim gembira. "Pastikan helikoptermu muat membawa kami, D," ucap Bojan menunjuk putera Lysa tersebut.
"Tentu saja, Tuan. Mari," ajaknya seraya mengajak berjabat, dan Bojan menyambutnya dengan senyum terkembang.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya. Lele padamu❤️