KING D

KING D
Estafet


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


King D dan anggota timnya sepakat meninggalkan Kalimantan untuk menyusul ke Florida, Amerika. Mereka terbang menggunakan helikopter dengan bahan bakar penuh dan membawa jeriken berisi avtur menuju ke Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan. Di tempat itu, Jordan menginformasikan jika masih terdapat para monster yang terperangkap. King D dan lainnya bersiap karena matahari telah tenggelam. Risiko melawan monster lebih besar, tapi orang-orang itu tak takut karena mereka manusia setengah makhluk Mitologi.


PIP! PIP! PIP!


"Gelangnya menyala merah!" seru Romeo saat pintu helikopter dibuka dan terlihat landasan pacu pesawat yang ditinggalkan karena wabah monster.


Mata biru William menyala terang, tapi hal itu tak membuatnya bisa melihat dalam pekatnya kegelapan. Matanya hanya berfungsi ketika cahaya menerangi jarak pandangnya. Akan tetapi, kemampuan lain dari variasi campuran serum Mitologi membuatnya memiliki keunikan dalam indera lainnya.


"Aku bisa mendengarnya! Mereka berada di dalam gedung!" seru William yang langsung menoleh ke arah jendela di mana dirinya menjadi co-pilot helikopter petang itu.


"Monster!" seru Romeo menunjuk kaca dari gedung tempat para penumpang biasanya menunggu kedatangan pesawat. Namun, sekarang ruangan besar tersebut telah penuh dengan para monster.


"Kita selesaikan di sini dan segera pergi!" seru King D mantap dengan mata hitamnya.


"Roger that!" jawab semua orang.


Junior mengambil posisi pada pintu helikopter yang terbuka di mana King D sengaja menyorot kaca-kaca itu untuk membuat para monster agresif. Irina sudah bersiap dengan RPG yang dipanggulnya untuk meledakkan salah satu dinding kaca dengan sengaja.


"Semoga pemerintah Indonesia tak menuntut ganti rugi padaku," ujarnya terlihat gugup.


King D tersenyum saat melihat anggota timnya telah siap dengan penyumpal telinga. Irina menyipitkan mata dan membidik kaca di mana para monster mulai meraung melihat kedatangan menu makan malam.


KLIK! SWOOSH! PRANG! BLUARRR!!


Luncuran misil membuat dinding kaca itu hancur berkeping-keping sekaligus meledakkan bangunan hingga atapnya runtuh. Para mafia itu masih berada di atas helikopter yang melayang ketika melihat beberapa monster berhasil lolos dari ledakan mematikan dan berhambur keluar gedung.


"Harggghhh!" raung para monster saat melihat daging segar berada di atas mereka.


"Junior, now!" seru King D dari bangku pilot.


"Iiieekkkk!"


"Hargghhh!"


"Iieekkkk! Ieekkkk!" lengking Junior dalam posisi berjongkok yang membuat para monster menggelepar di atas landasan aspal.


"Romeo, now!" seru King D.


Romeo yang ditunjuk King D dari bangku pilot dengan sigap melemparkan granat tabung berpeluru ledak ke kumpulan para monster yang meraung kesakitan. Praktis, serangan kedua membuat para monster yang tak memiliki wujud setengah makhluk Mitologi berhasil ditumpaskan dengan cepat. King D berasumsi, monster-monster baik manusia atau hewan yang dilawannya malam ini adalah dari wabah Hendrik kala itu, bukan monster ciptaan Sengkuni. William dan tim yang pernah melawan monster mutasi dengan tingkat kesulitan tinggi, merasa monster jenis pertama ini mudah untuknya. Terlebih, dengan kemampuan setengah makhluk Mitologi.

__ADS_1


King D memberikan kode untuk melepaskan sumpalan di telinga dengan mengetuk headphone menggunakan telunjuk. Orang-orang itu mengangguk mengerti dan segera melepaskannya. Mata mereka kini menatap King D lekat.


"Mereka jenis monster biasa! Gunakan Rainbow Gas untuk melumpuhkan monster yang tersisa!" serunya.


Irina dan Romeo mengangguk paham. Mereka melemparkan Rainbow Gas tanpa bom ke kumpulan para monster yang lolos dari kematian. Kepulan gas warna-warni menutup kawasan tempat pesawat-pesawat terparkir dengan asal karena kepanikan yang melanda kala itu.


"D! Aku akan mencari pesawat yang akan membawa kita ke Amerika," seru William.


"Baik, Ayah!" jawab King D yang kemudian mendaratkan helikopter jauh dari kerumunan para monster yang mulai bergelimpangan karena dampak racun Rainbow Gas.


William segera berlari diikuti Romeo. Kelebihan serum Mitologi yang dimodifikasi oleh para ilmuwan Sandara, membuat penggunanya kebal terhadap racun tersebut. Irina dan King D mendekati para monster yang tak lagi bergerak dengan mata melotot lebar disertai darah hitam mengalir dari lubang-lubang tubuh. Para monster itu begitu kurus seperti tulang berbalut kulit.


"Mereka mati," ucap Irina miris dengan pistol dalam genggaman.


"Kita harus segera mengakhiri ini, Irina. Populasi manusia terancam," ucap King D usai melihat banyak monster manusia tergeletak di atas aspal berjumlah hingga puluhan.


"Irina! King D!" panggil Romeo dari sebuah tangga pesawat dengan lambaian tangan.


"Oh! Ayah mendapatkan pesawat. Bagus!" ucap Irina dengan senyum terkembang.


King D, Junior, Irina dan Romeo, bergegas memindahkan barang-barang mereka ke bagasi pesawat. Mereka meninggalkan helikopter karena benda berbaling-baling itu tak bisa membawa lebih jauh lagi terutama jika harus menyeberangi lautan.


"Tak adakah pesawat yang lebih bersih?" keluh Romeo karena kabin pesawat kotor dan tercium bau bangkai seperti serangan monster pernah memasuki ruangan itu.


Junior yang terlihat mulai membaik, membantu dengan menyingkirkan bangkai-bangkai manusia yang telah terkoyak setelah menjadi santapan para monster. Bekas darah yang telah mengering di lantai pesawat dibersihkan oleh Irina dengan pakaian milik para penumpang. Bagasi atas pesawat terdapat koper dan tas-tas yang ditinggalkan. Mereka bekerja keras malam itu sembari William dan King D mengecek pesawat.


"Oke, sudah beres. Hah ... aku lelah sekali," keluh Romeo langsung merebahkan diri di salah satu bangku depan napas terengah.


William dibantu King D akan menerbangkan pesawat kecil jenis perintis dari salah satu maskapai meninggalkan Indonesia. William berpikir jika pesawat jenis tersebut sangat cocok dengan petualangannya kali ini karena mereka akan mendarat di beberapa tempat terpencil. Hanya saja, pria bermata biru itu memprediksi jika pesawat yang akan diterbangkannya hanya bisa mengangkut mereka sampai ke Singapura karena jarak tempuh sekitar 1.500 kilometer dengan kecepatan sekitar 500 km/jam. Dengan angka yang sangat minim di tahun mereka hidup sekarang, William heran, bagaimana bisa pesawat yang seharusnya sudah masuk museum itu masih bisa beroperasi? Bahkan setelahnya, mereka harus mengisi bahan bakar agar tetap bisa terbang.


"Ayah, aku butuh bantuanmu. Anda paham dengan permintaanku bukan?" tanya King D menatap William saksama yang sudah duduk di bangku co-pilot.


"Aku tahu!" sahut Romeo masuk ke kokpit.


King D dan William tersenyum bersama. Drum-drum penggiling bangkai monster mereka tinggalkan di bandara di mana nantinya Eva dan lainnya akan mengurus hal tersebut.


"Jadi ... bisa jelaskan padaku dengan maksud estafet?" tanya Irina menunjukkan wajah kesal.


"King D sepertinya tahu di mana saja markas Sengkuni saat kami menimbun bahan bakar. Tujuan berikutnya adalah Singapura. Di sana, kami menimbun bahan bakar yang cukup untuk membawa kita terbang sampai ke Bangkok, Thailand. Selanjutnya, kita terbang menuju Dhaka, Bangladesh, lalu ke India, dan setahuku ... bukannya ada markas milik keluarga Khrisna di sana? Bisakah kita ganti pesawat?" tanya Romeo seperti seorang travel agent.


"Ya. Namun setahuku, Rohan dan timnya pergi menuju Pakistan untuk melenyapkan monster yang tersisa di negara itu," jawab King D serius.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu kita tetap bertahan dengan pesawat ini. Aku juga penasaran, apakah pesawat ini akan meledak atau tidak dengan kita terus memintanya terbang dan hanya istirahat untuk pengisian bahan bakar," ujar Romeo saat pesawat siap lepas landas.


William, Irina, Junior dan King D saling memandang terlihat tegang memikirkan hal tersebut.


"Ya, ya, aku paham. Jadi ... kita estafet dari satu tempat ke tempat lain dengan mengisi bahan bakar hasil curian kalian agar bisa terus terbang?" tanya Irina berkesan menyindir.


"Aku tak suka nada suaramu," ujar Romeo dengan wajah masam.


King D dan William hanya tersenyum. Namun, yang dikatakan Irina ada benarnya. Siapa sangka, yang dilakukan Hope di masa lalu ternyata membawa berkah dikemudian hari saat King D dan timnya membutuhkan persediaan-persediaan itu.


Romeo yang memiliki wujud setengah manusia ikan tak sanggup jika terus-menerus berada di tempat kering. Pemuda itu menghabiskan waktu selama penerbangan dengan berada di toilet dan menyiram tubuhnya menggunakan air.


"Ini benar-benar menyebalkan," gerutunya karena berulang kali harus menyemprotkan air agar kulit ikannya tak kering atau akan menimbulkan rasa gatal di tubuh.


Junior juga tidur dengan pulas di mana suhu dalam pesawat menjadi seperti dalam lemari es. King D dan William sampai menggunakan jaket karena pintu kokpit rusak tak bisa ditutup. King D akhirnya melepaskan pintu itu dan membuangnya. King D juga baru menyadari, dirinya yang kini menjadi manusia setengah dewa merasa tak mudah lelah dan tak gampang mengantuk.


"Ayah, jika kau lelah tidurlah. Kurasa, Irina siap menggantikanmu," ucap King D karena melihat calon mertuanya menguap beberapa kali.


"Hem, kau jeli, D. Yah, mungkin karena aku sudah tua. Jadi ... baiklah," jawabnya seraya melepaskan seat belt.


Irina dengan sigap mendatangi kursi sang ayah dan menggantikannya. King D tersenyum karena sang kekasih kini yang duduk menemani.


"Kenapa wajahmu menjadi merona begitu?" tanya Irina ikut bersemu merah.


"Aku tak sabar menikahimu, Irina. Hanya saja ... masih ada yang mengganjal di hatiku," jawab King seraya memalingkan wajah.


"Aku tahu yang kau pikirkan. Perbedaan keyakinan kita bukan? Aku sudah terbiasa dengan keyakinan dari agamamu. Aku bisa mengikutinya. Ayah dan Romeo tak masalah. Kurasa, ibu juga akan berpikir demikian," jawab Irina yang membuat senyum King D merekah seketika.


"Sungguh? Kau melakukannya bukan karenaku, tapi karena Tuhanku 'kan?" tanya King D dengan wajah berbinar.


Irina mengangguk. "Oleh karena itu, aku bilang sudah siap. Aku sudah memikirkan hal ini dengan matang. Selain itu kata orang-orang, aku juga bukan orang yang taat beragama. Aku jadi malu sendiri kepada Tuhanku. Padahal dalam seminggu, aku hanya cukup pergi beribadah satu kali, tapi terkadang, aku menyia-nyiakannya sebelum wabah terjadi dengan sibuk memperkaya diri. Mungkin ... Tuhan marah padaku karena aku mengabaikannya," ucap Irina dengan wajah tertunduk.


"Ya, aku juga berpikir demikian. Terkadang, kita ingat Tuhan hanya saat petaka melanda hidup kita. Saat kita merasakan kebahagiaan, kita lupa pada-Nya. Mungkin, Tuhan sedang marah dengan kita semua," sahut King D yang membuat Irina mengangguk pelan.


Siapa sangka, ucapan dua orang itu didengar oleh William dan Romeo yang memutuskan keluar dari toilet karena merasa mabuk. Namun, perkataan pasangan tersebut membuat Romeo kembali masuk ke dalam toilet dan duduk di atas kloset.


"Mungkin Tuhan menghukumku dengan wujud mengerikan ini. Jika benar demikian, aku terima," ucap Romeo lirih seraya melihat dua tangannya yang memiliki selaput dan sisik.


***


__ADS_1


tengkiyuw tipsnya😍 biar cemangat up sampai tamat😁 kuy yang lain ditunggu dukungannya ya. lele padamu 💋


__ADS_2