KING D

KING D
Temuan Baru


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Fara panik karena tak menyangka dirinya terjangkit serum monster. King D langsung memeluk adiknya erat yang terlihat sedih seperti akan menangis.


Saat suasana duka sedang menyelimuti hati semua orang tiba-tiba, "Hem, bau apa ini? Apa kau terluka? Aku seperti mencium bau darah," tanya King D seraya mengendus tubuh adiknya.


Fara melepaskan pelukan tak jadi menangis. Gadis itu ikut bingung termasuk yang lain. Hingga pada akhirnya ....


"AAAAA! Popokku basah! Pembalutku di helikopter!" seru Fara yang membuat semua lelaki di sana diam seketika.


King D mengembuskan napas pelan. Ia mengangguk paham dan meminta agar kapal segera merapat di pantai.


Fara terlihat tak nyaman di mana tubuhnya basah kuyup. Ia memilih untuk tetap duduk di lantai geladak kapal enggan berdiri.


"Apa liat-liat?" tanyanya garang.


Semua orang langsung memalingkan wajah, tapi King D menatap adiknya lekat.


"Kau terkena serum monster, tapi kenapa kau tak agresif?" tanya King D heran karena adiknya tampak biasa saja dan malah sibuk memeras pakaiannya yang basah.


"Entah. Mana aku tau. Aku juga tak merasa demam," jawabnya santai seraya memegang lehernya.


"Aku akan ambil darahmu untuk diperiksa," ucap King D sembari mendekat.


"AAAAA! Tidak mau! Sakit! Aku tak suka jarum suntik!" tolaknya langsung melotot.


"Untuk memastikan jika kau sungguh tak apa," tegas King D.


"Tak bisakah kau menyedot darah dari pembalutku saja?" tawarnya. King D diam sejenak.


"Kau, sungguh, gadis yang menjijikkan," tunjuk King D berucap penuh penekanan.


Fara cemberut dan bersikeras enggan diambil darahnya. King D tampak begitu sabar menghadapi sang adik di mana gadis cantik itu selalu dimanja oleh dua orang tuanya.


Hingga akhirnya, kapal berhasil merapat. Irina membantu Fara berganti pakaian. Semua orang dipaksa keluar termasuk Marco yang terluka.


Anjiing dan kucing yang diyakini masih bisa disembuhkan, kini sedang didinginkan karena suhu tubuh mereka yang melonjak drastis. Napas hewan-hewan itu tersengal dan terbaring lemah di atas tumpukan es.


"Kasihan hewan-hewan ini. Mereka bahkan ikut menjadi korban. Aku semakin yakin, jika sebenarnya banyak manusia dan hewan selamat, tapi sengaja diberikan serum monster sehingga mereka ikut terjangkit. Sungguh tak bisa dimaafkan!" ucap Fabio geram.


"Ya. Kita harus menemukan orang itu. Aku juga cukup yakin, jika selama ini dia mengintai kita. Aku jadi curiga, pergerakan kita di dermaga ini juga dipantau olehnya," sahut Bruno dengan sorot mata tajam memindai sekitar.


Orang-orang dari anggota tim Marco-Polo langsung terlihat waspada dengan senapan laras panjang dalam genggaman.


Pria Pakistan yang tewas karena bermaksud memberikan informasi penting, dikuburkan di area dekat dermaga oleh Ritz dan Edward.


Mereka berdua menyayangkan kematian Azfar karena sangat mengharapkan bisa menolong para manusia sehat agar tetap bertahan hidup sampai wabah monster dinyatakan lenyap dari muka Bumi.


Sore itu, semua orang kembali berkumpul di luar helikopter untuk membahas kelanjutan misi dan kejadian yang baru saja menimpa mereka.


"Apa yang kautemukan, Marco?" tanya King D saat melihat pria bermanik merah itu sudah terbalut perban dan plester luka di beberapa anggota tubuh.


Marco melepaskan pakaiannya dan membiarkan bertelanjang dada mempertontonkan tubuhnya yang atletis.


"Saat aku dan Fara tiba di tempat kargo-kargo disimpan, memang terlihat ada banyak jejak baru. Jejak sepatu. Ketika aku dan Fara mencoba menyelidikinya, tiba-tiba saja muncul hewan-hewan gila itu yang menyerang kami. Fara berhasil lolos dengan memanjat menggunakan sepatu magnet karena kawasan itu dipenuhi besi. Aku lupa jika menggunakan sepatu yang sama dengannya. Aku malah berlari untuk meloloskan diri, tapi ternyata terkepung. Sepertinya orang itu sengaja menjebak kami. Ketika aku sadar jika terpisah dari Fara, saat itulah aku menghubungi Polo. Siapa sangka jika Fara berhasil ditangkap," jawab Marco serius.


"Antarkan aku ke tempat kargo temuanmu itu. Aku rasa, ada petunjuk di sana," pinta King D serius.


Marco mengangguk siap, tapi kali ini dikawal oleh anggota tim yang lain. Obama Otong, Robin dan Chen tetap berada di helikopter untuk bersiaga termasuk Jason.


Namun, lelaki asal Rusia itu merasa tidak berguna karena ia tak bisa membantu apa pun.


"Aku sungguh minta maaf," ucapnya sendu.


Irina dan Fara yang kini duduk bersamanya menatap Jason saksama.


"Kau dulu banyak berjasa, Paman Jason. Bukan salahmu jika kau tak terlibat. Yang terpenting, kau selamat," ucap Irina menenangkan.


"Aku ingin ingat masa laluku. Tak adakah cara untuk mengembalikannya?" tanya lelaki itu penuh harap.


Tiba-tiba, Fara bertepuk tangan dengan wajah riang. Jason dan Irina tampak bingung melihat sikap Fara tersebut.


"Bagaimana dengan gas halusinasi? Bukankah, fungsi dari gas itu bisa untuk mengorek kenangan terdalam sekalipun? Mungkin bisa berhasil," sarannya.


Irina tampak ragu akan hal itu, tapi Jason mengangguk mantap terlihat tak keberatan untuk dicoba.


Chen, Robin dan Obama Otong mengawasi sekitar saat proses percobaan untuk mengembalikan ingatan Jason dilakukan dalam helikopter.


"Wokeh! Insting Otong mengatakan jika sekitar aman," ucap Obama dari atas helikopter bergaya layaknya King D saat memantau sekitar.

__ADS_1


"Di sini juga aman," sahut Chen dari sisi kanan helikopter dengan pintu sengaja ditutup.


"Sisi kiri aman," sahut Robin dengan senapan laras panjang dalam genggaman.


Irina bersiap untuk melakukan interogasi. Dua perempuan cantik itu sudah menyuntikkan diri dengan serum penawar gas Halusinasi.


Fara berjaga di samping Jason untuk memastikan, pria itu mendapatkan serum penawar saat dampak dari gas mulai mengambil alih pikirannya.


"Paman, kau harus tenang. Hirup gas ini dalam dan biarkan dia mengambil alih pikiranmu. Fokus pada suaraku dan abaikan suara lainnya. Jawab semua pertanyaanku. Jika kau tak bisa, jangan dipaksakan atau kau akan mengalami kerusakan otak. Kaupaham?" tanya Irina serius.


Jason mengangguk. Fara berdiri siap untuk memasangkan sebuah masker gas yang menutup hidung dan mulut Jason.


Ada sebuah kaleng di bagian bawah masker yang terhubung di mana gas halusinasi siap untuk disemburkan.


BUZZ!!


Jason tampak terkejut, tapi Irina menggenggam kedua tangan sang paman erat yang terasa dingin.


Jason menatap Irina saksama yang memintanya untuk tetap tenang. Perlahan, pandangan Jason mulai redup dan kepalanya mengangguk-angguk seperti orang menahan kantuk.


Fara melihat pergerakan waktu di jam tangannya lalu melepaskan masker gas tersebut. Ia memegangi kepala Jason karena lelaki itu seperti tak fokus dengan pandangannya.


"Jason, kau mendengarku?" tanya Irina dengan wajah serius.


"Yah ...," jawabnya lesu dengan mata terbuka tertutup mulai merasakan dampak gas halusinasi.


"Dari mana kau berasal?"


"Ru-sia ...."


Fara dan Irina mengangguk pelan karena mereka berdua tahu latar belakang dari pria bermanik biru normal tersebut, tak seperti Polo dan King D.


Irina diam sejenak mencoba untuk mencari pertanyaan yang berkaitan dengan hilangnya misi penting itu.


"Apa kau pernah terbang dengan pesawat dari Rusia?" Jason mengangguk pelan. "Apa kau membawa muatan dalam penerbanganmu?" Jason menggeleng. Kening Irina berkerut. "Lalu ... kau akan pergi ke mana dengan pesawat itu?"


"Untuk bergabung dengan tabung-tabung lain yang diamankan, hemf ... yang dikirimkan beberapa tahun lalu. Aku masih sadar saat naik pesawat. Aku baru ditidurkan saat pesawat mulai terbang meninggalkan Rusia. Aku dipindahkan dari kastil di Krasnoyarsk oleh para penjaga," jawab Jason yang membuat mata Irina dan Fara melebar.


"Kau dibangkitkan dua kali?" tanya Irina berkerut kening dan Jason mengangguk pelan seperti membenarkan dugaan itu. "Ke mana tabung-tabung itu dipindahkan? Amerika?" tanya Irina makin terperinci. Jason mengangguk pelan dengan mata sayu. "Di mana tepatnya?"


"Giamoco Island, Ontario, Canada, Amerika Utara," jawab Jason lesu dan perlahan, air liur menetes dari mulutnya.


"Kak Irina," panggil Fara saat melihat jika pikiran Jason tak bisa dipaksa lebih jauh lagi atau ia bisa menjadi seperti orang autis.


Fara membiarkan kepala Jason menyender pada sandaran kursi hingga akhirnya, lelaki itu mulai menunjukkan efek normal.


"Paman Jason, apa kau mengenalku?" tanya Irina menatap Jason lekat saat pria itu mulai duduk tegak dan kepalanya menghadap ke arahnya.


Jason menatap gadis bermanik hijau di depannya dengan mata berkedip berulang kali.


"Kau ... seperti Irina Tolya," ucapnya yang membuat Irina terkejut.


"Kau mengenaliku?" tanya Irina terlihat senang karena tak menyangka hal tersebut.


"Tentu saja. Aduh, kepalaku pusing. Aku ingin muntah," ucapnya terlihat pucat.


Fara segera membuka pintu helikopter dan memapah Jason keluar. Benar saja, Jason muntah cukup banyak.


Namun, Irina terlihat senang karena sang paman seperti mengenalinya. Ia yakin, jika dampak dari gas halusinasi seperti membuat ingatannya pulih meski belum maksimal.


"Sayang sekali. Masih banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya. Mungkin bisa kuajukan lain waktu," ucap Irina bedecak kesal.


"Setidaknya kita mendapatkan petunjuk, Irina," sahut Robin, dan Irina mengangguk membenarkan.


"Obama! Tandai pulau Giamoco!" titah Irina seraya berjalan menemui Obama Otong yang ikut mendengar kesaksian Jason melalui sambungan earphone khusus.


Obama kembali masuk dalam helikopter bersama Irina. Pria gundul itu tampak serius saat meng-input-kan data ke dalam tablet samping dudukkan kemudi.


"Iyep, udin. Kita mau ke sana kah? Terus ke Rusia-nya gimana? Jadi mau nemuin GIGA gak buat cari tahu keberadaan tabung sultan dan nyonya Lysa? Ini kok nambah-nambahin rute ya?" tanya Obama terdengar protes.


"Banyak hal yang harus kita ungkap, Obama, agar masalah ini cepat selesai. Masukkan pulau Giamoco untuk daftar kunjungan selanjutnya, termasuk lelaki bertato dan bertopeng putih itu. Aku penasaran siapa dia," ucap Irina serius, tapi Obama memasang wajah masam.


"Kak Irina!" panggil Fara saat Jason memilih untuk duduk di luar dan kini sedang ditemani oleh Chen.


Irina bergegas keluar mendatangi orang-orang itu. Robin bersiaga untuk memastikan mereka tak diserang lagi.


Obama tetap di helikopter dan bersiap jika mereka harus segera pergi meninggalkan dermaga.


"Bagaimana keadaan paman?" tanya Irina menatap Jason lekat yang terlihat pucat.


"Dia bilang, kita jangan ke Rusia," jawab Fara yang membuat kening Irina berkerut.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Irina heran.


"Alasanku pergi dari kastil di Krasnoyarsk, karena tempat itu dianggap tidak aman. Ada yang menjaganya, hanya saja aku lupa, tapi masih dalam jajaran. Ia meminta semua tabung dipindahkan dan kastil dikosongkan. Oleh karena itu, terjadi pemindahan tabung besar-besaran beberapa tahun silam," jawabnya yang membuat semua orang terkejut.


"Orang dalam jajaran? Siapa? Paman Red? Daniel? Arthur?" tanya Irina menebak, tapi Jason menggeleng.


"Aku tak ingat, sungguh. Kami percaya padanya karena ia menginformasikan jika ada pihak lain yang mengetahui soal tabung tersebut. Kelompok itu ingin merebut tabung-tabung dan membunuh orang-orang yang disimpan di dalamnya. Aku masuk dalam penerbangan terakhir kala itu," jawabnya.


"Lalu orang yang memintamu pergi, apakah dia ikut evakuasi?" tanya Fara heran.


"Ya. Dia mengatakan akan menemuiku di pulau Giamoco," jawab Jason serius.


"Sepertinya pulau Giamoco adalah rute dari misi kita selanjutnya, bukan Rusia," sahut Irina, dan Fara mengangguk setuju.


"Bagaimana dengan Rusia Kastil Borka? Apakah ... itu satu tempat yang sama atau berbeda?" tanya Chen terlihat bingung.


"Oia? Kenapa tak meminta orang-orang di Kastil Borka untuk menyelidiki hal tersebut? Jarak mereka lebih dekat untuk menuju ke Krasnoyarsk," sahut Fara.


Irina mengangguk paham dan segera kembali ke helikopter untuk memberikan instruksi pada Obama.


Irina dan lelaki gundul tersebut tampak serius ketika keduanya tersambung dengan pusat komando Kastil Borka.


"Benarkah? Namun, kami tak mendapatkan peringatan apa pun," jawab Dominic dengan kening berkerut.


"Sebaiknya tetap kita selidiki saja," sahut Maksim yang sudah berada di sana bersama dengan Sakura.


"Kami akan pergi ke sana. Selain itu, kastil di Krasnoyarsk memang tak bisa dihubungi sampai sekarang. Jika kabar dari Jason benar, seharusnya tetap ada penjaga yang bertugas. Aku curiga, siapa orang yang dimaksud Jason itu," sahut Sakura.


"Maaf merepotkan kalian, tapi ... kami membutuhkan kejelasan dalam hal ini. Terima kasih atas bantuannya," ucap Irina sungkan dan para senior mengangguk tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Terus, yang operasiin GIGA DARA siapa?" sahut Obama yang membuat wajah semua orang serius seketika.


"Ini semakin mencurigakan. Akan kami urus," tegas Dominic.


Panggilan pun diputus. Irina tampak lega karena masih ada yang bisa dihubungi untuk menolong.


"Satu udah rebes. Jadi, kita ke pulau Giamoco nih? Ya wes, kita hubungi King D dulu kalo gitu," ucap Obama di mana sambungannya dengan tim King D di lapangan sengaja ia putus karena fokus dengan panggilan ke Rusia.


Saat Obama menyalakannya, "Otong!" teriak King D yang membuat mata Obama dan Irina melebar seketika karena kaget. "Kau dari mana saja, Jelek?!" tanyanya terdengar marah.


"Pie, pie, ono opo? Ojo nesu-nesu, sabar ...," jawab Obama langsung pucat.


"Anak-anak. Kami menemukan jejak anak-anak yang dikatakan oleh Azfar sebelum meninggal. Cepat kemari dengan helikopter. Tinggalkan dermaga, tandai lokasiku!" perintah King D dari tempatnya berada.


"Wokeh!" jawab Otong siap.


Irina bergegas meminta semua orang untuk segera masuk ke dalam helikopter. Orang-orang itu pergi meninggalkan dermaga menuju ke tempat King D dan timnya berada.


Irina, Fara, Jason, Robin dan Chen keluar dari helikopter. Obama tetap berada di dudukkan pilot untuk bersiaga. Orang-orang itu berlari untuk berkumpul bersama yang lain.


King D dan timnya terlihat sedang mengelilingi sesuatu di atas sebuah kapal. Namun, sebuah pemandangan horor terjadi.


"Ya Tuhan!" pekik Irina langsung membungkam mulutnya saat berdiri di samping sang kekasih.


"Apa ada mayat yang lain?" tanya Chen dengan kening berkerut.


"Tidak, hanya jasad anak ini saja. Jika melihat dari lukanya, sepertinya anak ini diserang oleh seorang monster lalu dia tewas terkena racunnya. Lihat, di sebelah sana ada bangkai seorang monster," tunjuk King D ke tepian pantai dan tampak jasad manusia tergeletak dengan luka tembak di kepala. "Bila melihat dari kemiripan keduanya, sepertinya ... mereka ayah dan anak," ungkap King D yang membuat hati semua orang pilu seketika.


"Mungkin, ayah dari anak itu berubah menjadi monster dan mengejar anak lelaki ini. Sungguh malang. Anak ini akhirnya tewas karena gigitan ayahnya," ucap Edward miris.


"Namun, inilah yang aneh," ucap King D kemudian saat ia menunjuk sebuah tempat kosong di mana sekeliling tempat itu ada banyak kapal merapat. "Aku yakin jika ada kapal yang pergi. Banyak bekas jerigen bahan bakar kosong di dua kapal sisi kiri dan kanan dari tempat kosong itu. Dugaanku, anak-anak itu dibawa pergi dengan sebuah kapal."


"D. Paman Jason sudah mulai pulih ingatannya. Ia mengatakan jika semua tabung di kastil Krasnoyarsk Rusia dipindahkan ke pulau Giamoco," ucap Irina yang membuat King D langsung menoleh ke arah kekasihnya.


"Benarkah? Kenapa?" tanya King D terlihat serius seketika.


Irina lalu menceritakan pengakuan Jason dari ingatannya dalam pengaruh gas halusinasi. Semua orang tampak serius dan menunggu keputusan King D di mana mereka kini menganggap, jika pria bermanik merah dan biru itu sebagai pemimpin.


"Sial, kita sengaja dibuat repot begini," ucap King D tampak bingung.


"Jadi, kita akan mencari anak-anak atau pergi ke Kanada?" tanya Polo menatap King D lekat.


"Firasatku mengatakan jika pulau Giamoco aman. Jika di Kanada, bisakah orang-orang kita yang selamat di sekitar benua Amerika untuk menyelidikinya? Seperti ... tuan Benjamin Lazo dan Safa? Atau ... paman Yusuke, bibi Lucy dan Venelope? Atau mungkin orang-orang Benedict di Inggris?" tanya King D menyarankan.


Irina mengangguk pelan lalu kembali ke helikopter ditemani Fara untuk mencoba menghubungi dua markas tersebut.


King D bersikeras untuk mencari keberadaan anak-anak di mana ia yakin jika nyawa mereka dalam bahaya.


***


__ADS_1


wah panjang nih epsnya 2k lebih disesuaikan dg tipsnya. udah dobel eps ya hari ini. semoga dobel epsnya bisa berkelanjutan. ditunggu tips koin lainnya. tengkiyuw lele padamu❤️


__ADS_2