
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Malam itu. Camp Militer China.
"Kenapa harus ikut gundul kaya Otong sih, Om?" tanya Obama melirik sadis Number Nine.
Para senior mafia terkekeh saat salah satu anggota Barracuda asal Asia itu tersenyum tipis.
"Kulihat orang-orang berkepala botak itu awet muda wajahnya, Otong. Oleh karena itu, aku mengikuti tren gaya rambutmu," jawab Nine santai seraya menikmati kopi hitamnya.
Obama tak lagi berkomentar. Ia malah merasa bangga karena semakin banyak para lelaki sepertinya yang berkepala gundul.
"Jadi, om-om ini mau ikut misi mencari tahu kamsud dan tujuan si Hope?" tanya Obama dengan ubi rebus dalam genggaman masih panas dan mengeluarkan asap saat dibelah.
"Ya. Kami sudah membicarakan hal ini dengan Drake," jawab Number Two seraya menerima potekan ubi dari Obama.
"Wes, manteb! Tim kita makin buanyak walaupun gak sengaja bangunnya, tapi om-om udah cek kesehatan belom setelah keluar dari tabung?" tanya Obama cemas.
"Sudah, kami baik-baik saja. Oleh karena itu, kami siap beraksi untuk menyelesaikan semua sebelum anak dan isteri-isteri kami ikut terbangun. Jika benar yang dikatakan oleh Souta dan Jason jika dunia kacau akibat wabah monster belum reda, kita harus bergegas membereskannya," tegas Number Three seraya menuang teh dalam cangkir keramik.
"Terima kasih, Paman-paman semua. Bantuan kalian sangat kami butuhkan," jawab King D sungkan seraya membungkuk sedikit dari tempatnya duduk.
Kesembilan anggota tim Barracuda balas membungkuk.
"Akhirnya, kita bebas menggunakan kapal perang tanpa takut dengan ancaman militer! Hahaha, ini seperti mimpi berubah menjadi nyata!" seru Number Four gembira.
"Ka-kapal perang?" tanya Lucas dengan mata melebar sampai tak jadi menyantap jagung rebus.
Para lelaki berumur itu tersenyum miring. Mereka mengajak anggota tim bentukan Marco-Polo untuk mendatangi tempat jajaran Vesper menyimpan kapal perang peninggalan sang Ratu pada zaman ia berkuasa dulu.
Kapal perang yang disimpan di laut Grey House sebelumnya, dipindahkan satu unit usai Kim Arjuna berhasil membeli wilayah pesisir pantai dekat Camp Militer sebagai tempat penyimpanan kapal milik sang ibu.
Pemerintah setempat hanya mengetahui jika lelaki bertato itu membelinya sebagai objek wisata tambahan dari camp ground di mana Camp Militer berada.
Wilayah pantai dengan batuan karang itu digunakan sebagai tempat usaha legal kamuflase untuk menyembunyikan keberadaan kapal perang tersebut mengingat banyaknya markas milik sang ibu yang harus dijaga dan tetap dilestarikan.
"Gila! Para mafia ini memiliki kapal perang!" seru Bruno sampai memekik saat melihat sebuah kapal dengan cet warna hitam tampak garang.
Number Five mengajak para lelaki muda itu untuk memasuki kapal seraya menjelaskan beberapa hal pada mereka, tapi lebih seperti pamer.
Souta dan lainnya hanya tersenyum simpul. Mereka memilih untuk berkumpul di geladak dalam gua tempat menyimpan kapal perang tersebut.
"Barracuda sepakat untuk mencari keberadaan Hope di lautan sekaligus mendatangi markas-markas penyimpan tabung untuk memastikan orang-orang kita aman mengingat beberapa diantara kita berhasil diculik olehnya. Aku yakin, Hope memiliki maksud tertentu entah orang dalam tabung atau alat yang ia incar sebagai penyimpan manusia itu," tegas Drake yang diangguki oleh tim King D.
"Hem, itu gagasan yang sangat bagus, Paman Drake," sahut Irina sependapat.
"Nanti Number Two yang akan menemaniku di Camp Militer sekaligus menjaga tempat ini," tegasnya, dan semua orang mengangguk paham.
Tak lama, anggota tim Marco-Polo keluar dari anjungan kapal dan mendatangi geladak. Mereka tampak kagum dengan kehebatan kapal perang milik Vesper di mana banyak persenjataan yang telah dimodifikasi dengan ciptaan Boleslav dan Vesper Industries.
"Kami juga nantinya akan memasukkan kapal selam portabel dan juga jet ski selama berlayar," sahut Number Six mengenakan pakaian serba biru seperti lautan.
"Aku ingin sekali ikut menjelajah lautan. Hanya saja ... mungkin lain kali setelah Bumi dinyatakan aman bebas hama monster," sahut Robin tampak kecewa.
Anggota Barracuda mengangguk seraya merangkul para generasi muda itu meski bukan dari golongan mafia.
"Baiklah. Kalian sekarang istirahat. Besok kita mulai bertugas. Jangan buang waktu karena Hope juga demikian. Aku yakin jika orang itu cukup gesit dan cerdas agar tak tertangkap kita," sahut Number Nine.
Malam itu, semua orang tidur di pondok yang berada di Camp Militer. Pemancar Fatamorgana sengaja diaktifkan agar keberadaan mereka tak terlacak sinyal.
King D terpaksa meninggalkan kucing dan anjiing yang mereka temukan di dermaga untuk dirawat.
Drake tak keberatan malah merasa terbantu karena hewan-hewan itu menghidupkan suasana yang sepi di Camp Militer.
King D dan lainnya segera berkemas. Mereka mengisi penuh bahan bakar helikopter sekaligus menyimpan cadangan dalam beberapa jeriken selama penerbangan.
__ADS_1
Helikopter modifikasi King D bisa terus terbang seraya mengisi bahan bakar dari bagian dalam. Hal itu sudah dilakukan saat mereka melintasi beberapa negara karena tak melewati bandara.
Keesokan harinya. April Minggu Pertama.
"Jadi, kalian akan pergi ke Jeju Korea Selatan untuk mengecek markas di sana?" tanya King D saat Number Three selesai memetakan rute pelayaran mereka menggunakan kapal perang.
"Ya. Markas di sana tak menjawab panggilan sejak kami berada di Camp Militer. Setelah dari sana, kami akan ke Jepang. Selanjutnya ke Filipina, Indonesia lalu Australia," jawab Number Five serius.
Para lelaki muda anggota Marco-Polo hanya bisa ber-Oh seraya menganggukkan kepala. Mereka menilai para senior tersebut bergerak dengan cepat dan terstruktur tampak begitu terlatih. Muncul rasa kagum pada diri lelaki muda akan kinerja para senior itu.
"Hati-hati di jalan, D. Kurasa, Hope mengincarmu. Teruslah berkomunikasi," ucap Number Four seraya menjabat tangan King D.
Pria yang memiliki dua manik mata berbeda warna itu menyambut jabat tangan dengan senyum terkembang. Mereka saling berpelukan bergantian sebagai salam perpisahan.
Usai mengecek seluruh perlengkapan, dua tim pergi meninggalkan Camp Militer di China dengan tujuan yang berbeda.
Barracuda berlayar menggunakan kapal perang sesuai rute. Sedang tim King D, terbang menggunakan helikopter kargo menuju Kanada, Jumbo Island.
Nantinya, mereka harus singgah di beberapa kota untuk pengisian bahan bakar darurat, pengecekan mesin, dan melihat kondisi wilayah.
Mereka ingin mencari tahu keberadaan manusia yang selamat dari wabah monster atau para monster yang masih berkeliaran.
Sensor pada helikopter untuk memindai suhu tubuh antara monster dan manusia diaktifkan selama penerbangan.
Sayangnya, Yusuke tak lagi bisa dihubungi dan hal itu membuat cemas semua orang mengingat Reina seperti lupa ingatan.
"Mungkinkan Reina mengalami amnesia sementara sepertiku? Semoga dia bisa disembuhkan," ucap Jason cemas.
"Selain itu, Reina juga memiliki kemampuan tak lazim. Aku takut jika dia menjadi manusia cicak atau Spiderman seperti film zaman dulu," sahut Fara berkerut kening.
King D dan lainnya tersenyum karena imajinasi Fara cukup liar.
"Sakura juga gak bisa dihubungi loh sampai sekarang. Gimana nih? Mau mampir Krasnoyarsk dulu gak? Perasaan Otong gak enak sumpah," tanya Obama saat helikopter mereka akan melintasi Mongolia.
King D diam sejenak terlihat berpikir serius. Jason melirik pemimpin misi tersebut seperti menaruh harapan padanya.
Irina memegang punggung tangan King D lembut seraya mengangguk dengan senyuman.
"Yey! Kita ke kastil rumah paman Jason!" ucap Fara senang seraya bertepuk tangan.
Semua orang terkekeh dan memilih tak berkomentar. Obama fokus mengemudi, sedang anggota tim Marco-Polo sibuk memindai wilayah yang mereka lewati selama penerbangan.
Saat mereka melintasi Gurun Gobi, tiba-tiba Chen memekik. "Hei! Ada jejak ban di atas tanah gurun! Lihatlah!" seru lelaki Asia itu yang meneruskan tampilan pada tablet ke layar utama kabin depan tempat King D dan lainnya berkumpul.
"Dia benar! Lalu ... siapa yang melintas?" tanya Souta sampai memperbesar tampilan itu untuk memastikan penglihatannya.
"Pindai sekitar! Pasti ada manusia yang selamat dan menggunakan kendaraan beroda untuk melintasi gurun!" seru King D.
Semua orang tampak serius dan fokus. Obama memperlambat laju helikopter untuk memastikan temuan mereka itu.
Dan benar saja, "Ada manusia! Dia sepertinya pingsan!" seru Hugo yang membuat mata semua orang melotot.
Terlihat, seorang lelaki tergeletak tak jauh dari sebuah mobil yang sepertinya rusak karena bagian kap mesin dibuka.
Saat helikopter King D akan berputar, tiba-tiba saja muncul seorang anak kecil berlari dari balik bukit pasir sembari melambaikan tangan.
Anak kecil itu mengejar helikopter King D karena terlihat seperti terbang menjauh. King D dengan sigap naik ke atas dan berdiri di sana.
Ia melihat sekitar seraya mengendus untuk memastikan penglihatan dan keberadaan para monster.
"D! Sensor pemindai melihat di dekat bukit itu banyak pergerakan dari bawah tanah!" seru Obama yang membuat mata King D melebar seketika.
"Pergerakan apa?" tanya Souta langsung berkerut kening.
"Gak tau, gak jelas! Panas di wilayah ini mengaburkan sensor pemindai suhu tubuh, tapi mereka bergerak cepat seperti naik ke permukaan!" seru Obama yang membuat semua orang bersiaga.
__ADS_1
King D mencoba kemampuan dari mata peraknya yang ternyata berbeda dengan milik Fara.
Saat King D berhasil dan melihat ke daratan gersang itu, tiba-tiba saja, "Menghindar!"
SWOOSH!!
"MISIL!" seru Polo lantang yang ikut melihat benda seperti roket itu meluncur dengan cepat tertuju ke arah helikopter mereka.
TET! TET! TET!
DODODOOOR!
Sistem alarm peringatan adanya bahaya membuat persenjataan otomatis dari helikopter menyala.
Sensor otomatis itu berhasil menangkap pergerakan dari misil tersebut. Senapan dari CamGun dengan sigap memberondong misil tersebut agar tak mengenai helikopter.
Namun ternyata, tak hanya satu misil yang meluncur melainkan belasan roket membidik helikopter seperti ingin dijatuhkan. Praktis, suasana tegang seketika.
Persenjataan dari CamGun tak bisa menjatuhkan seluruh misil yang mengarah padanya.
Namun dengan cekatan, "Perusuh!" seru Souta marah dan muncul dari pintu sisi kanan kabin belakang dengan senapan mesin siap ditembakkan.
"Balas mereka!" seru Jason yang menganggap para manusia itu sudah kehilangan akal sehatnya.
Aksi saling balas tak terhindarkan. Gurun yang tadinya hening kini menjadi medan pertempuran antara kubu King D dan kelompok yang tak teridentifikasi.
Misil-misil berhasil diledakkan sebelum mengenai helikopter dengan persenjataan dari Vesper dan Boleslav Industries.
Polo, Marco, Edward, dan Ritz menggunakan senapan pembidik yang berisi bola-bola Hit. Bola-bola besi itu terlontar dan menempel pada tubuh misil lalu meledakkannya.
Orang-orang yang mengenakan pakaian mirip pasir gurun muncul dari bawah tanah untuk melakukan penyerangan.
Sedang anggota tim Marco-Polo lainnya yang mulai terbiasa menggunakan senjata milik para mafia itu, dengan sigap melemparkan Rainbow Gas Halusinasi ke para penyerang untuk melumpuhkan mereka.
Siapa sangka, usaha mereka berhasil. Para penyerang itu menghentikan tembakan, tapi dengan sigap tubuh mereka ditarik paksa oleh orang-orang yang tak terkena dampak untuk masuk ke dalam lubang.
Namun, para penyerang lain muncul dari wilayah di balik bukit dan ikut menembaki helikopter King D saat benda terbang tersebut memilih untuk menjauh.
King D dengan sigap melakukan aksi balas dengan menembaki para penyerang menggunakan pistol, tapi, DOR! CRATT! JLEB!
Namun, "Arrghhh!"
"King D!" seru Irina saat melihat King D terjatuh dari atas helikopter padahal ia mengenakan sepatu magnet.
Mata Fara melebar saat melihat bahu kanan sang kakak ditembak oleh sebuah senjata seperti tombak yang memiliki tali panjang terjuntai.
Tombak kecil itu menembus bahu King D dan menariknya hingga jatuh dari atas helikopter. Semua orang panik saat melihat King D jatuh dengan keras di atas gundukan pasir dan tubuhnya ditarik paksa oleh sebuah tali hingga ia masuk ke dalam gua.
"King D!" panggil Irina dengan mata berlinang saat sosok King D dengan cepat hilang dari pandangan.
Irina makin curiga saat orang yang pingsan, anak kecil yang berlari, dan para penyerang berpakaian kamuflase seperti gurun ikut menghilang.
"Otong!" panggil Jason panik karena pemimpin mereka ditangkap entah oleh siapa dan kini sosoknya tak terlihat.
"Pendaratan dan penyelamatan darurat!" seru Obama ikut cemas karena keberadaan King D tak terdeteksi bahkan oleh pemindai dan pelacak.
Helikopter segera turun di wilayah yang tak terdeteksi adanya ranjau, senjata penjebak, atau pergerakan manusia dari bawah tanah seperti tadi.
Semua orang segera turun termasuk Fara, Souta, dan Irina. Jason dan Obama tetap berada di helikopter untuk mengamankan evakuasi mereka nantinya.
"Go! Go! Go!" seru Polo yang kini menjadi pemimpin misi untuk menyelamatkan King D.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya. Lele padamu❤️ yg lain ditunggu sedekahnya😁