KING D

KING D
Panik!


__ADS_3

Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


King D berlari kencang mengikuti arahan dari para burung yang menuntun jalannya agar bisa memasuki kediaman Victor. D menduga jika Irina dan lainnya disekap di tempat tersebut. Ternyata, pergerakan King D terbaca oleh Sengkuni yang bersiaga di pusat kendali. Praktis, senyumnya terkembang.


"Oh, lihatlah. Si Jagoan akhirnya datang untuk menyelamatkan. Heh," kekehnya ketika melihat dari tampilan satelit GIGA pergerakan King D sedang menuju mansion Victor.


"Kami siap untuk menyambutnya, Tuan," ucap seorang pria bertopeng putih dengan tato yang sama, ciri khas Hope.


Sengkuni menjentikkan jari. Para pria bertopeng itu mengangguk paham dan segera pergi meninggalkan pusat kendali. Pemuda itu terlihat tak sabar menyaksikan pertunjukan yang telah ia siapkan untuk menyambut rivalnya, King D.


Saat putra Javier tersebut mulai memasuki wilayah kediaman Victor di sisi terluar, tiba-tiba, "Hah!" kejutnya saat melihat atap kediaman Victor meluncurkan ratusan anak panah yang dilumuri darah hitam.


Laju lari King D terhenti seketika. Hidungnya bergerak di mana ia tahu jika ujung anak panah itu terdapat darah monster.


JLEB! JLEB! JLEB!


"Citt!"


"Tidak! Argh!" erang King D marah saat melihat burung-burung yang menolongnya memberikan petunjuk arah untuk menyusup, terkena anak panah pasukan Sengkuni.


Burung-burung malang itu langsung tewas, tergeletak di atas tanah dengan mulut berbusa.


"Sengkuni!" teriaknya marah.


"Hahahaha!" tawa Sengkuni gembira saat melihat pria itu bersedih karena burung-burung yang menolongnya tewas mengenaskan.


Namun tiba-tiba, mata Sengkuni melebar. Ia melihat perubahan dalam diri King D. Mata pemuda itu melebar hingga ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memastikan penglihatan dari layar di depannya.


"Bagaimana bisa dia masih memiliki kekuatan?" tanya Sengkuni menyipitkan mata.


Anak buah Sengkuni yang menjaga tuannya saling melirik karena tak mengetahui hal tersebut.


"Hahahaha! Kau terlalu percaya diri, Anak muda. Lihatlah! King D terlihat lebih hebat darimu. Bahkan, dia tak berwujud monster sepertimu!" teriak Marco menyindir.


"Harghh!"


JLEB!


"Marco!" teriak Polo dengan mata terbelalak lebar saat melihat Sengkuni mengibaskan jari tangan kanannya, dan seketika, kuku runcing dari kelima jari itu terlepas yang menancap di kepompong putra Lopez.

__ADS_1


Sengkuni tersenyum miring. Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk kembali bersiap. Sengkuni kali ini turun tangan karena melangkah keluar dari ruangan yang mengontrol semua pergerakan anak buahnya. Ruangan itu ditutup dan meninggalkan para mafia itu dalam kepompong tanpa penjaga meski CamGun terarah ke tubuh mereka.


Ternyata, serangan Sengkuni memberikan dampak. Terlihat, mata Marco melebar. Semua mafia yang dijadikan kepompong dibuat melotot melihat Marco seperti tertegun karena diam dengan wajah tegang.


"Marco! Kau tidak apa?" tanya Polo panik melihat saudaranya seperti menahan kesakitan.


"Aku ... tidak apa-apa. Lihat, aku tidak mati. Kuku tajam itu menancap di bungkus kepompong. Tak melukaiku sama sekali," jawabnya santai seraya melihat saudara kembarnya.


Para mafia bernapas lega. Namun, Fara terlihat seperti akan menangis karena matanya berair.


"Dasar cengeng. Sudah kubilang aku tidak apa-apa!" teriak Marco marah.


Fara yang dibentak langsung memejamkan mata dan menundukkan wajah. Ia mengangguk berulang kali. Marco menatap gadis manis itu sendu yang sudah kehilangan taringnya dan kembali terlihat ayu seperti saat pertama kali bertemu.


Han menyipitkan mata melihat kuku Sengkuni yang terlepas tadi tumbuh kembali dengan cepat. Ternyata, James juga menyadari hal itu. Dua senior mafia itu saling melirik dalam diam seperti memiliki pemikiran yang sama.


"Hoh, hoh!" ucap Junior yang membuat para mafia itu langsung menoleh ke arahnya.


Junior menggerakkan kepompongnya dengan cara berayun. Kening para mafia itu berkerut saat Junior seperti memanggil Irina. Sontak, mereka yang menyadari tentang putri Sia itu melebarkan mata.


"Irina! Irina! Kau kenapa?" tanya Jason panik.


"Tubuhnya memerah dan ia berkeringat. Ini bahaya!" pekik Polo yang teringat akan ucapan King D kala itu tentang sakit yang diderita Irina.


"Hempf, hempf," dengkus Irina dengan mata terbuka tertutup seperti mencoba untuk tetap sadar.


Kepalanya bergerak tak beraturan seperti kehilangan kendali atas dirinya. Praktis, semua orang dibuat panik karena khawatir jika wanita cantik itu tak segera didinginkan, Irina akan meledak, dan dampaknya akan menewaskan semua orang.


"King D! Cepat kemari!" teriak Fara histeris mencoba memanggil kakaknya.


Siapa sangka, teriakan Fara yang melengking didengar oleh sang kakak. Namun, Fara berada jauh dari tempatnya berada. King D yakin jika sang adik tak disekap dalam rumah Victor melainkan di tempat lain yang tak ia ketahui. Saat King D akan pergi menuju ke tempat Fara berada, lagi-lagi serangan anak panah dengan darah monster kembali menghujaninya.


"Harghh!" erang King D.


Pria itu dengan sigap berlari menjauh, tapi hujan anak panah itu seperti mengikuti pergerakannya. King D yang tahu dirinya dibidik merasa tak memiliki celah untuk kabur. Namun, ia tak kehilangan akal. Pria itu mengambil bangkai monster dan menumpuknya. King D berjongkok dan melindungi tubuhnya dengan tubuh para monster yang dijadikan layaknya benteng dan tameng.


JLEB! JLEB! JLEB!


"Argh! Sial! Bunuh pria itu! Jangan sampai dia tiba di sini!" teriak Sengkuni marah yang kembali memantau pergerakan King D dari tablet.

__ADS_1


"Laksanakan!" jawab salah satu pria bertopeng dan segera pergi dari sebuah truk yang kini ditumpangi Sengkuni.


Di medan pertempuran tempat King D berada.


"D, woi! Kamu di mana?" teriak seseorang dari drone yang mengangkut Gatot.


"Paman! Pergi dari sini! Tempat ini berbahaya!" teriak King D yang muncul dari balik tumpukan mayat para monster.


"Ha?" sahut Gatot bingung seraya mendekat dengan Aero-CD, dan tak lama, Polisi Lee ikut menyusul bersama anggota Red Ribbon lainnya usai berhasil melumpuhkan para monster.


Praktis, hal tersebut membuat Sengkuni terpikirkan cara licik. "Hehehe, jatuhkan mereka," titahnya.


"Laksanakan!" ucap salah satu pria yang duduk di samping Sengkuni sebagai pengendali senjata jarak jauh.


Seketika, King D yang memiliki indera lebih tajam dari manusia normal kembali merasakan bahaya. Ia merasa ancaman kali ini bukan main-main karena rambut landaknya mencuat dengan sendirinya.


Benar saja, TET! TET! TET!


"Eh, eh?" kejut Nyoman karena alarm tanda bahaya berbunyi nyaring dari Aero-CD yang dikendarainya.


"Paman!" teriak King D lantang saat melihat senjata yang dikenalinya meluncur ke langit dan disertai peluru-peluru berbentuk segitiga mengarah ke drone. Benda berwarna hitam itu menancap di tubuh benda tersebut dengan cepat seperti ditarik magnet. Ternyata, para pria tua itu juga menyadari hal tersebut. "Umbrella!"


Mata Polisi Lee dan lainnya melebar. Seketika, jarum-jarum tajam dari senjata peledak tersebut terarah ke drone-drone mereka.


"Wuahhh!" teriak Tukiman histeris dan mencoba untuk melakukan manuver menghindar, tapi benda itu tak pernah luput dari bidikannya.


"Paman!" panggil King D yang dengan sigap mengambil dua mayat monster di dekatnya saat jarum ledak Umbrella membidik para seniornya. "Heahhh!" teriaknya lantang sembari melemparkan bangkai-bangkai monster hewan ke arah jarum Umbrella.


JLEB! JLEB! JLEB!


BLUARRR!


"Awas darahnya!" teriak Wayan mengingatkan.


Para anggota Red Ribbon yang dilindungi King D dengan memanfaatkan bangkai monster untuk menghalau serangan jarum Umbrella panik karena takut terciprat darah hitam beracun itu. Mereka langsung menghindar dan menutup mulut rapat. Hanya saja, meskipun kemampuan King D sudah berlipat, jumlah manusia yang harus ia lindungi tetap tak bisa membuatnya melindungi semua.


"Polisi Lee! Polisi Lee!" panggil Sumanto karena drone yang dikemudikan polisi asal Korea Selatan itu menukik turun dengan cepat, siap untuk menghantam permukaan tanah.


Praktis, panggilan Sumanto membuat King D langsung terfokus pada drone polisi tersebut. Sayangnya, BRANG!!

__ADS_1


"Polisi Lee!" panggil para anggota Red Ribbon dengan mata melebar saat benda terbang tersebut jatuh dengan keras menghantam permukaan dan membuat pria itu terlempar jauh.


Uda dengan sigap mendarat. Ia berlari mendatangi Polisi Lee saat King D masih berusaha melindungi anggota timnya dari serangan Umbrella yang tak ada habisnya seperti ingin membantai mereka di ladang pertempuran itu.


__ADS_2