
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Di tempat King D dan timnya berada. Langit Kalimantan Timur. Kawasan tambang batu bara.
"Junior!" seru Irina saat melihat tabung yang menyimpan King D mulai berkedip. Pertanda jika benda berbentuk seperti kapsul tersebut akan terbuka.
Benar saja, PIP! PIP! PIP!
"Hoh! Hoh! Hoh!" seru Junior saat melihat mata King D terbuka dalam tabung, tapi berwarna hitam sepenuhnya.
BRANGG!!
"Junior!" seru Irina saat melihat Junior terlontar dari penutup tabung yang menyimpan King D.
"Irina! Irina! Ayah!" seru Romeo dilanda kepanikan saat hal serupa juga terjadi pada William karena iris matanya menyala biru terang.
BRAKK!!
"AAAAA!"
"Romeo!" seru Irina yang masih terbang melayang dengan parasut.
Beruntung, Junior dan Romeo mengenakan parasut ganda sehingga mereka tak jatuh ke permukaan akibat lontaran penutup tabung. Dua orang itu berpegangan kuat pada pengait parasut yang terbuka otomatis. Mata Irina, Junior dan Romeo melebar saat tabung dua orang itu berhasil mendarat di permukaan tanah lebih dahulu. Akan tetapi, sosok dua pria tersebut tak terlihat karena tertutup kain parasut yang menggembung.
Ketika Irina, Junior dan Romeo bersiap untuk menginjakkan kaki, tiba-tiba saja ....
"Goarrr!"
"Monster!" seru Romeo dengan mata melotot ketika melihat pergerakan dari arah hutan saat mereka mendarat di kawasan tambang batu bara yang terbengkalai.
Para monster manusia dengan seragam para pekerja berlari kencang dengan wajah beringas, siap untuk memangsa mereka.
"Lindungi tabung King D dan ayah!" seru Irina saat berusaha melepaskan pengait parasut di tubuhnya.
Namun, jarak mereka yang berjauhan, membuat tiga orang itu kesulitan untuk menjangkau William dan King D. Tabung dua lelaki itu berjarak lebih dekat dengan para monster.
"King D!" seru Irina panik saat berhasil melepaskan pengait lalu berlari kencang karena para monster mendatangi dua tabung itu.
Akan tetapi, "Hargghhh!"
SRINGG!! KRASS!!
"King D?" kejut Irina sampai menghentikan langkah saat melihat sang kekasih tampak begitu sigap usai dirinya disuntik serum Mitologi Elf sebagai pilihannya.
King D seperti melakukan akrobatik diantara kumpulan para monster yang ingin memangsanya. Ia menebas tubuh orang-orang sakit itu yang membuat kawasan pertambangan tercemar. Junior yang tadinya ingin ikut membantu, langsung menjaga jarak karena merasa King D mampu menanganinya sendiri.
Namun tiba-tiba, "Hoorr! Hoogg!"
"Junior!" seru Irina saat Junior tiba-tiba saja ditangkap oleh seekor monster yang muncul dari balik hutan dan kini menggigit pundaknya.
__ADS_1
Irina bergegas berlari, tapi para monster menghalangi jalannya. Irina panik karena Junior tak bisa melawan saat tubuhnya terpontang-panting akibat kebuasan para monster itu seperti diperebutkan.
"Heaahhh!"
JLEBB!!
"Ayah!" seru Irina saat melihat sang ayah bangkit dari tabung dan melesatkan anak panah otomatis yang disimpan di dalamnya sebagai senjata pilihan.
William menembakkan anak panah itu ke para monster yang melukai Junior. Romeo yang berhasil membutakan penglihatan para monster karena tangannya bisa mengeluarkan lendir layaknya Loria, segera berlari ke arah Junior yang menangis karena bahunya terkoyak.
"Huu ... huu ...," tangisnya dengan tubuh tengkurap di atas tanah.
"Kau akan baik-baik saja. Luka ini akan pulih. Ayo," ajak Romeo langsung menggendong Junior di tubuhnya.
Romeo bisa merasakan punggungnya menjadi dingin seperti menggendong batu es. Mulut Romeo mengeluarkan asap putih seperti orang kedinginan di tengah hujan salju.
Saat lelaki itu akan ambruk, "Oh, Kakak," ucapnya ketika melihat Irina dengan sigap memegang dadanya lalu mengambil Junior di punggung.
"Hanya aku yang tahan dengan suhu dingin tubuh Junior. Kau, bantulah yang lain. Aku akan mengamankan Junior," ucap Irina saat membopong bocah malang itu.
"Aku mengerti," ucapnya yang kemudian menarik pistol di balik pinggang.
Irina berlari kencang menuju ke tabung milik King D di mana dalam tabung itu berisi obat-obatan. Pakaian Junior segera dilepaskan oleh Irina karena bocah lelaki itu terus menangis hingga wajahnya berkerut menahan sakit.
"Pegang wajahku dan fokus pada kehangatannya. Kau akan segera pulih," ucap Irina, dan Junior mengangguk dengan wajah berkerut.
Junior memejamkan mata saat Irina mengobati luka gigitan di pundaknya dengan obat-obatan dalam tabung tersebut. Namun, ia merasa tubuh Junior seperti bisa melakukan penyembuhan. Saat ia menuangkan cairan antibiotik agar gigitan monster tak menimbulkan infeksi, cairan di lukanya membeku. Luka di bahunya seperti tertutupi es secara perlahan dan membuat darahnya tak lagi mengalir keluar. Irina menoleh ke arah Junior yang memejamkan matanya rapat seraya memegangi wajahnya.
Junior membuka mata saat melihat Irina membalut lukanya dengan perban. Irina mengambil pakaian baru di tas yang Junior gendong lalu dipakaikan.
"Bagaimana? Lebih baik?" tanya Irina menatap Junior lekat yang sudah tak memegangi wajahnya lagi. Junior mengangguk cepat.
DOR! DOR! DOR!
CRATT!
"Kita harus membersihkan bangkai monster. Kau siap membantuku?" tanya Irina dan Junior mengangguk pelan.
Irina tersenyum lalu melihat sekitar untuk memastikan para monster yang sedang dibasmi oleh Romeo, King D dan William sudah tak bersisa. Kotak-kotak besar berisi drum-drum penggiling ternyata jatuh di kawasan hutan. Irina dan Junior berniat untuk mengambilnya. Namun, gelang besi masih menyala merah.
Irina yakin jika masih ada monster yang bersembunyi dan belum terpancing akan kedatangan mereka di sana. Ternyata, banyak yang sepemikiran dengan ide dari King D untuk membuat para monster datang tanpa mereka harus bersusah payah melakukan pemburuan.
"Junior, kau siap?" tanya Irina, dan bocah berkulit pucat itu mengangguk.
Irina berubah dalam wujud barunya yang memiliki taring. Ia menggulung lengan jas anti peluru sebagai pelindung tubuh bagian atas.
KRAUK! TES ... TESS ....
"Hempf, hempf," dengkus para monster saat mereka mencium aroma darah segar.
"Irina!" teriak William yang ikut menyadari jika anak gadisnya melakukan aksi gila.
__ADS_1
"Tutup telinga kalian!" jawab Irina lantang.
William yang sudah tahu jika Junior memiliki kemampuan lengkingan mematikan, dengan sigap menyumpal lubang telinganya. King D juga dengan sigap menyumpal telinga dengan alat yang sudah dipersiapkan dalam kantong celana. Banyak strategi yang telah mereka susun sebelum diinkubasi dalam tabung.
"Hargghhh!" raung para monster yang kini berlari kencang mendatangi Irina dengan tangan ia julurkan ke samping, sengaja untuk memancing.
"King D, awas!" seru William saat melihat banyak monster berdatangan dari balik hutan rimbun.
William dan King D yang menggunakan sepatu magnet modifikasi, dengan sigap melompat tinggi saat para monster siap menerjang mereka. Dua pria itu melompat dengan arah condong ke sisi kiri dan kanan membentuk huruf V.
"Junior, now!" seru King D saat tubuhnya sudah melayang tinggi di udara.
"Ieekkkk! Ieekkkk!"
"Harrghhh!"
Para monster mengerang kesakitan saat Junior menyuarakan lengkingannya. Para monster berjatuhan di atas tanah seraya menutup telinga mereka dengan mata melotot.
"Irina! Junior! Berlindung!" teriak King D lantang.
Irina segera masuk ke tabung milik sang ayah dan menutupnya, begitupula Junior. Mereka seperti bersembunyi dari sesuatu.
"Tuan William, now!" seru King D saat tubuhnya mulai turun ke bawah berikut calon mertuanya.
"Hiyahhh!"
KLANG! PIPIPIPIPI! BLUARRR!! DWUARRR!
Para monster meraung kesakitan karena terkena granat tabung berpeluru ledak yang dilemparkan oleh William. King D dan William melihat dari atas langit saat peluru-peluru ledak itu mencerai beraikan tubuh para monster hingga darah orang-orang sakit itu tergenang di beberapa tempat.
"Awas darahnya, Tuan!" seru King D saat mereka siap berpijak pada tanah.
"Aku tahu!" jawab William mantap yang sudah memperkirakan jarak jatuhnya.
BRUKK!!
"Yeah, kita berhasil!" seru Irina saat ia membuka penutup tabung agar tak terkena cipratan darah monster.
"Hoh! Hoh!" seru Junior ikut gembira di dalam tabung yang terbuka.
William tersenyum ke arah King D yang berdiri cukup jauh di sisi kirinya itu. King D balas tersenyum karena tak menyangka bisa berkolaborasi apik dengan calon mertuanya.
"Panggil saja aku ayah. Tak perlu memanggilku tuan. Kupercayakan Irina padamu, King D," ucap William yang secara tak langsung memberikan restunya.
Praktis, King D mematung seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1