KING D

KING D
Pengorbanan King D


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Irina meneteskan air mata karena keberadaan King D tak terlihat oleh mereka. William memaksa Irina untuk segera masuk ke pesawat karena urusan mereka di tempat itu telah selesai meski bangkai para monster mencemari sekitar. Namun, Irina menolak pergi sampai ia menemukan jasad dari King D jika sungguh tewas karena aksinya menggagalkan peluncuran roket. Sayangnya, sampai roket meluncur, keberadaan pria itu tak diketahui.


"King D ... apakah putraku tewas? King D tewas?" tanya Lysa dengan terisak saat Martin menghubungi markas di mana Jordan satu-satunya yang masih menerima panggilan itu.


Jordan meneruskan pesan dari Martin ke seluruh jajaran tentang kondisi terakhir di Cape Canaveral. Praktis, hal itu membuat semua orang terdiam dalam kesedihan. Javier tak bisa menutupi dukanya termasuk Obama yang baru pertama kali menangis dengan wajah datar seperti nyawanya melayang entah ke mana.


"Suntikan serum penawar monster ke semua sipil dari stok yang tersedia. Cepat!" seru Eiji kepada tim medis yang telah berada di bunker berikut persediaan ikut ditimbun dalam sana.


Para sipil itu dengan sigap segera berbaris di mana waktu semakin menipis. Eiji tahu jika serum yang tersedia tak akan cukup. Para sipil itu hanya diberikan setengah dosis dari takaran yang seharusnya agar semua orang memperoleh vaksin tersebut. Monica mendekati suaminya yang berdiri menatap pintu bunker di mana selama ini keberadaan mereka dilindungi benda besi tersebut.


"Aku mencintaimu, Eiji," ucap Monica seraya memeluk suaminya dari belakang. Eiji tersenyum tipis dan mendekap erat tangan Monica yang merangkul perutnya. Semua orang tampak bersedih.


Pesawat yang diterbangkan Junior mendarat untuk menjemput Irina, William dan Romeo meski mereka masih bertahan di tempat itu. Martin dan Arthur siap dengan pistol dalam genggaman jika mereka sungguh berubah menjadi monster nantinya. Junior terlihat enggan menyuarakan lengkingannya apabila kekhawatiran itu sungguh akan menjadi kenyataan.


Saat semua orang sedang dilanda ketakutan, tiba-tiba, BLUARRR!! BOOM! BOOM!


"Oh! Apa yang terjadi?" tanya Romeo sampai melebarkan mata menatap langit ketika roket yang meluncur tersebut tiba-tiba meledak.


Irina tampak shock hingga napasnya seperti orang tercekat. Arthur dan Martin keluar dari pesawat untuk melihat lebih jelas menggunakan teropong. Orang-orang di lokasi peluncuran dibuat kebingungan saat benda raksasa itu hancur berkeping-keping dan puingnya jatuh ke permukaan layaknya hujan.


"King D! King D!" teriak Irina histeris dan berlari mendatangi lokasi ledakan.


"Irina! Hentikan dia!" seru William panik karena anak perempuannya nekat.


Romeo bergegas mengejar sang kakak diikuti William. Irina berhasil ditangkap dan ditarik oleh keluarganya. Irina berteriak dengan air mata mengalir deras hingga tubuhnya memerah dan mengeluarkan asap.


CESS!!


"Argh!" rintih Romeo saat merasakan tubuh Irina panas layaknya bara dan membuatnya melepaskan pelukan.


William yang ikut merasakan hal sama menjauh diikuti para mafia lainnya. Tiba-tiba saja, Irina berlari kencang dengan api seperti melahap tubuhnya. Mata William melebar melihat kengerian itu karena putrinya tidak terbakar. Irina bahkan bisa menangkis semua puing yang berjatuhan bagaikan hujan seolah benda-benda itu sebuah kapas untuknya. Hingga seketika, mata William menyipit.


"Itu King D!" teriak William saat melihat tubuh King D jatuh dengan sangat cepat dari ketinggian yang tiba-tiba muncul dari kepulan asap ledakan di langit.


"Tangkap dia, jangan sampai membentur permukaan!" seru Martin panik.


William dan Romeo bergegas terbang menggunakan drone. Mereka akan menangkap King D yang terlihat seperti tak sadarkan diri. Pakaian tempur di tubuhnya telah hangus terbakar, tapi celana tahan api yang dikenakannya ternyata mampu melindungi kaki pria tersebut dari ledakan hebat. Irina melihat sang kekasih memejamkan mata saat jatuh dari langit entah apa yang dilakukan di atas sana.


"Irina, jangan!" teriak William karena khawatir jika kobaran api di tubuh sang anak akan membakar calon suaminya itu.


Namun, wanita cantik itu seperti tak mendengarkan ucapan sang ayah. Irina berlari kencang ke arah jatuhnya King D.


Dengan sigap, "Heahhh!"


"Woah!" seru Romeo saat melihat sang kakak melompat sangat tinggi hanya untuk menangkap tubuh calon suaminya agar tak menghantam permukaan.


"Romeo, ayo!" ajak William ketika melihat putrinya berhasil menangkap King D dan membuatnya kini turun dengan cepat menuju permukaan. "Siap?" tanya William saat ia mengarahkan dua tangannya ke depan untuk menangkap.


"Yeah!" jawab Romeo mantap dan bersiap.


BRUKK!


"Ha!" seru ayah anak itu bersamaan ketika mereka berhasil menangkap tubuh Irina yang membopong King D.


William dan Romeo heran karena kobaran api di tubuh Irina lenyap. Irina kembali seperti sedia kala dengan King D dalam gendongannya.

__ADS_1


"Cepat!" ajak Martin untuk membawa pesawat mendatangi Tim King D.


Junior kembali mempiloti benda terbang tersebut dengan Arthur sebagai co-pilot. Martin melihat jika terdapat sebuah tabung di kargo tersebut entah milik siapa. Namun, saat ia mendekatinya, tabung tersebut ternyata milik Sengkuni karena ada nama lelaki tersebut di dalamnya. Martin diam sejenak dan mengamati tabung itu dengan saksama.


Ia menjaga jarak lalu melemparkan sebuah benda ke arah tabung tersebut. Namun, benda tersebut tak melakukan proteksi diri dari ancaman. Martin memberanikan diri menyentuh tabung itu. Embusan napas panjang dengan perasaan lega karena sistem keamanan tabung tersebut telah rusak.


"Hei!" seru Arthur saat pesawat yang diterbangkannya mendarat di dekat lokasi King D diselamatkan.


Irina yang ternyata sangat mampu menggendong King D dengan tubuh begitu berat, membawanya seorang diri ke dalam pesawat. Drone yang ditumpangi William dan Romeo sampai jatuh ke atas tanah. Beruntung, dua orang itu tak terluka karena Irina dengan sigap melompat saat ia menyadari jika drone tersebut tak kuat menahan beban berlebih.


"Masukkan dia dalam tabung," pinta Martin.


Irina mengangguk mantap dan memasukkan King D ke dalam tabung bekas Sengkuni. Tabung tersebut sudah kehilangan fungsi dan lebih mirip seperti box tidur saja.


"Apa yang terjadi? Kenapa roket itu bisa meledak? Apa King D melakukan sesuatu?" tanya Martin bingung saat William dan Romeo masuk dalam pesawat.


"Entahlah, kami—"


"Aku melihatnya," sahut Jordan tiba-tiba yang suaranya terdengar di telepon satelit dalam genggaman Junior.


"Apa maksud Anda?" tanya Romeo mendekati Junior yang kini berdiri membungkuk di hadapan orang-orang itu memperdengarkan suara Jordan.


"Satelit menangkap pergerakan King D. Ia menembakkan tombak JERA ke badan roket. King D nekat memanjat dengan sepatu magnet saat benda itu meluncur cepat ke langit. Satelit melihat King D mengeluarkan beberapa benda dari dalam saku celana. Sepertinya, ia menempelkan Tempurung di badan roket. Tak lama setelahnya, ia melompat dengan berpegangan pada tali JERA. Kemudian meledak," jawabnya tenang.


"Lalu ... serum monster?" tanya William cemas.


"Aku tidak tahu," jawab Jordan yang membuat Arthur dan Martin berwajah tegang seketika.


Keduanya saling bertatapan dan seperti menunggu perubahan. Mata William dan lainnya kini menyorot dua pria itu sembari menjaga jarak. Martin dan Arthur terlihat siap untuk mati jika sungguh menjadi monster karena serum penawar sudah tak ada lagi.


"Suatu kehormatan jika mati di tangan kawanmu," ucap Martin dengan wajah sendu.


Semua orang tampak iba dengan kondisi keduanya. Saat suasana hening karena menunggu proses perubahan, tiba-tiba ....


"Roket itu tak berisi serum monster."


"King D!" teriak Irina bergegas berlari ke arah kekasihnya.


"Oh! Hehe, hai," ucapnya karena Irina nekat melompat dalam tabung lalu duduk di pangkuan seraya memeluknya.


"Kau tak bernapas. Kukira kau mati," ucapnya dengan mata berlinang seraya menatap wajah rupawan sang kekasih.


"Kau menyumpahiku?" tanyanya dengan kening berkerut, tapi Irina malah terkekeh.


"Jadi ... di mana serum monster itu?" tanya William bingung.


King D meminta Irina menyingkir dari pangkuannya. Wanita cantik itu tersenyum tipis menahan malu. King D keluar dari tabung lalu mengajak semua orang mengikutinya. Para mafia itu menurut karena mereka juga penasaran dengan hal tersebut. Namun, langkah King D terhenti di depan bangkai monster yang tewas di sekitar kawasan Cape Canaveral.


"Maksudmu ...," ucap William dengan mata menyipit menatap King D lekat.


"Aku baru menyadarinya saat memanjat roket tersebut. Sengkuni meninggalkan tulisan di sana," ucap King D dengan wajah datar.


"Tulisan apa?" tanya Romeo dengan kening berkerut.


"Tulisan yang sangat menyebalkan," jawab King D dengan wajah malas.


"Aku tak mengerti," sahut Irina bingung.

__ADS_1


"Sungguh? Ingin tahu? Mungkin tulisannya masih tercetak di bangkai badan roket karena ia menuliskannya dengan cet putih. Kita terlalu panik sampai tak melihat tulisan itu di sana," jawab King D terlihat kesal.


"Cepat katakan! Kau membuatku penasaran!" gerutu Arthur.


King D mengembuskan napas panjang. "Kena deh! Kalian ketipu!"


"Ha?" sahut semua orang dengan wajah bingung.


"Roket itu ... hanya akal-akalan Sengkuni saja. Wabah monster adalah serum terakhir yang dimilikinya."


"Maksudmu ... roket itu kosong? Tak ada serum monster di dalamnya seperti yang pernah ia katakan padaku?" tanya William dengan wajah berkerut.


"Dugaanku, Ayah. Sengkuni tak percaya pada Anda meski menjadikanmu dan Romeo sekutu. Mungkin ia sudah terpikirkan sebuah ide untuk membuat kita kerepotan dengan berasumsi jika masih ada serangan lanjutan. Ia pernah mengkhianati Anda dan Romeo sebelumnya. Kurasa, Sengkuni tahu jika kalian akan melakukan pemberontakan sehingga ia menyiapkan strategi licik ini," jawab King D yang membuat William berdecak kesal.


"Bocah tengik sialan. Kenapa semua hal yang dilakukannya membuatku ingin menyumpahinya? Dia membuat dunia kacau! Membuat semua orang salah paham dan saling membunuh! Ia bahkan tega membunuh orang-orang yang mencintainya karena impian gilanya!" teriak William marah besar yang membuat semua orang terdiam.


"Jadi ... tak ada wabah monster susulan. Ini ... benar sudah berakhir? Begitu maksudmu?" tanya Irina menatap King D lekat.


"Yes, Babe," jawabnya lalu meraih kepala sang kekasih dan mencium bibirnya lembut.


Praktis, hal itu mengejutkan semua orang karena mereka cukup tahu King D pria seperti apa. Namun, hari itu tampaknya pria tersebut lupa dengan ajaran sang baba yang cukup kolot.


"Haruskah kita laporkan pada Javier?" tanya Martin berbisik.


"Jangan menghancurkan cinta anak muda," sahut Arthur balas berbisik.


"Yeah! Ini benar-benar berakhir! Ini sudah selesai!" teriak Romeo gembira dengan dua tangan ke atas.


"Hahahah! Hahahaha!" sahut Arthur senang dan ikut melompat-lompat kegirangan.


"Auuu!" lolong Junior sebagai tanda jika petaka yang menimpa Bumi telah selesai.


Sambungan telepon satelit masih terkoneksi dengan markas tempat Jordan bertugas. Keturunan Boleslav itu tersenyum. Ia segera menginformasikan berita baik ini kepada seluruh jajaran. Tentu saja, hal mengejutkan tersebut disambut baik penuh suka cita semua orang. Mereka bersorak gembira dan keluar dari bunker. Mitha dan semua sipil menatap langit seraya menghirup udara yang mereka takuti sebelumnya.


"Terima kasih, terima kasih karena sudah mengakhiri ini semua," ucap Mitha dengan air mata menetes.


"Yeah! Kita berhasil!" seru Yohanes gembira di mana kebahagiaan tersebar merata hingga ke pelosok Bumi.


Di tempat Rangga dan Buffalo berada.


"Dia ... siapa?" tanya Buffalo saat seorang pria berwajah rupawan muncul dengan senyum menawan ketika ia dan Rangga sedang menuju Grey House.


Rangga tersenyum seraya menurunkan kaca jendela. Mobil yang dikemudikannya terpaksa berhenti di tengah jalan karena sosok tersebut berdiri di depan mobilnya. Buffalo yang duduk di bangku samping sopir terlihat tegang dan waspada. Sebuah pistol ia genggam dan siap untuk ditembakkan jika pria tersebut adalah ancaman.


"Jadi ... sudah berakhir? Selamanya?" tanya Rangga, dan pria itu mengangguk membenarkan dengan senyuman. "Oke. Bangunkan mereka."


"Sesuai perjanjian," jawab pria rupawan bak malaikat yang tak lain adalah sang Jenderal.


KLIK!


Jentikan jari sang Jenderal seperti sebuah kekuatan ajaib. Mata Jordan melebar saat melihat tanda kebangkitan dari para Demon Kids berbunyi. Jordan yang penasaran melacak keberadaan Rangga terakhir kali. Seketika, ia terkejut sampai terperanjat saat seorang pria rupawan tersenyum padanya seolah tahu jika sedang diintai dengan satelit.


"Jangan suka mengintip," ucap pria itu lalu tiba-tiba saja, layar di hadapannya menghitam.


Jordan diam dengan mata melebar karena tampilan satelit yang menyorot pria itu seperti dipadamkan oleh sesuatu yang tak ia mengerti.


***

__ADS_1



tengkiyuw tipsnya Rana. Lele padamu💋 semangat tamat terus lanjutin Jono sembari nunggu Kiarra lolos review mimin lomba. santai aja baca novel Lele buat ilangin gabut. kwkwkw😁 jgn lupa sedekah tips poin, koin, vocer, komen, dan like tiap eps ya😘


__ADS_2