KING D

KING D
Misi Eropa


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Para mafia dari seluruh penjuru dunia mulai melakukan perburuan untuk pembasmian para monster yang tersisa. Mereka meninggalkan markas agar proses pembersihan kontaminasi dari bangkai-bangkai monster cepat dilakukan.


"Kita dapat tugas buat beresin Turkey, Bro!" ucap P-M semangat usai mendapat kabar dari kediaman Ahmed yang memiliki sistem komunikasi dengan markas Vesper di Bali.


"Siap!" jawab P-K mantap.


"Kita ambil drum penggiling bangkai monster di gua temuan Jojon dulu. Ayo!" ajak P-I.


4P dengan sigap menuju ke gua temuan Jonathan beberapa tahun silam dari peninggalan Lucifer Flame. Ternyata, drum-drum tersebut disembunyikan di tempat tersebut oleh para Utusan 13 Demon Heads saat para mafia tertidur dalam tabung. 4P menemukan 10 drum dan juga instruksi lanjutan pada bagian atas penutup.


"Oh, nanti akan ada tim penjemput untuk angkut drum-drum ini. Waktu kita cuma 3 hari, Bro, buat beresin Turkey kata si King D. Singkat amat!" pekik P-M melotot saat membaca isi surat tersebut mengenai teknis penggunaan drum.


"Gak usah banyak bacott, cepet kerja!" sahut P-K yang sudah siap memindahkan drum-drum itu untuk diangkut ke permukaan.


Anggota 4P lainnya mengangguk siap. Mereka bergegas memindahkan drum-drum itu ke atas truk yang sudah dipersiapkan oleh para Utusan 13 Demon Heads. 4P merasa sangat tertolong karena hal-hal detail tersebut sudah dipikirkan oleh Sandara dan Jordan saat mengetahui rencana terselubung Sengkuni. Truk tersebut berada di basement kediaman Ahmed yang diwariskan kepada Eko dan keluarganya untuk ditinggali.


"Bantai semua! Jangan sisakan!" seru P-I penuh semangat.


"Bantai!!" sahut anggota 4P lainnya dengan senapan berpeluru ledak yang mereka temukan pada rangka-rangka truk tersebut sesuai petunjuk dari para utusan.


Senjata-senjata itu diselipkan pada bagian bawah truk seperti sengaja agar tak ditemukan oleh anak buah Sengkuni jika berhasil merebut kediaman Ahmed, termasuk Black Stone. Ternyata, hal itu memang terjadi. Namun, truk, drum, dan senjata-senjata inovasi baru itu berhasil disembunyikan karena tak ditemukan oleh orang-orang Sengkuni.


Black Castle, Inggris.


"Jordan tahu pergerakan kita. Hanya saja, kita masih kekurangan orang. Bagaimana jika membangkitkan anak buah Jonathan? Bukankah ... kau memiliki aksesnya, Sierra?" tanya Doug melirik keturunan Flame tersebut.


"Maksudmu ... Pasukan Pria Tampan? Kau ingin mereka ditugaskan?" tanya Sierra memastikan, dan Doug mengangguk sebagai jawaban. "Oke. Aku juga tak mau mengotori tangan dan gaunku dengan bangkai-bangkai monster itu," sahutnya malas.


Doug dan lainnya yang berada di tempat penyimpanan tersenyum tipis.


Markas Vesper, Bali.


"Oh, mereka dibangkitkan. Hem, kalian butuh bantuan sepertinya. Aku mengerti," ucap Jordan saat melihat tanda tabung pembangkitan aktif di mana orang-orang yang ditidurkan dalam tabung ia miliki aksesnya selama ini.


Jordan membiarkan hal itu. Matanya masih fokus pada pergerakan seluruh tim yang bertugas untuk membantai para monster yang tersisa. Orang-orang di Black Castle, diminta untuk melenyapkan monster-monster di Benua Eropa. Tentu saja hal itu membuat beberapa mafia mengeluh karena tempat-tempat itu cukup luas dan mereka kekurangan orang. Ditambah, mereka harus membereskan bangkai-bangkai monster agar tak mengkontaminasi lingkungan saat para manusia dibangunkan dari tabung untuk menghuni Bumi lagi.


"Kalian berdua. Sudah cukup menjadi pengecut. Ikutlah dalam misi jika masih ingin tinggal di kastil ini," tegas Sierra menatap Pedro dan Anggie yang selama ini bersembunyi karena takut dengan serangan para monster.


"Ka-kami mengerti," jawab keduanya gugup.

__ADS_1


"Jangan takut. Kalian akan ikut dalam timku. Tugas kalian cukup untuk membersihkan bangkai-bangkai monster. Sisanya, biar aku dan para Black Armys dari Markas Greenland yang akan melakukan pembasmian monster," tegas Daniel.


"Oh, terima kasih, Tuan!" ujar Pedro dengan wajah berbinar terlihat lega. Sierra memutar bola matanya malas.


"Begitu Pasukan Pria Tampan sudah bisa ditugaskan, minta mereka untuk membereskan Inggris," titah Sierra.


"Oke!" jawab Q yang ditugaskan untuk menjaga kastil hitam itu.


Para mafia yang sebelumnya mempertahankan Black Castle kini bergerak. Mereka menggunakan cara yang King D instruksikan. Pesawat kargo pemberian pemerintah Inggris sebagai bentuk kerjasama dengan para mafia 13 Demon Heads, terbang meninggalkan Inggris dan melintasi negara-negara di Benua Eropa untuk menjalankan misi pembasmian serta pembersihan bangkai-bangkai monster.


Jerman.


"Ah, aku sungguh tak nyaman memakai seragam militer ini. Bertolak belakang dengan jati diriku," ujar Yusuke yang berulang kali membenarkan pakaian loreng di tubuhnya.


"Anggap saja kita sedang dalam misi penyamaran untuk menjadi orang militer," sahut Lucy santai.


Yusuke memasang wajah cemberut tampak tidak sependapat dengan saran adik Yohanes itu.


"Zaid, Yena, Doug! Bersiap!" seru Sakura yang duduk di bangku pilot didampingi Sierra.


Tiga orang itu bergegas menuju ke palka belakang pesawat yang terbuka dengan tas ransel parasut dalam gendongan.


"Terjunkan!" titah Lucy yang bertugas di bagian kargo.



"Kami akan menjemput kalian tiga hari dari sekarang! Tandai tempat penjemputan!" seru Sakura.


"Oke!" jawab tiga orang itu serempak.


"Go! Go! Go!" teriak Yusuke mengarahkan tiga orang itu untuk segera terjun ke wilayah yang diinformasikan oleh Jordan masih dikuasai oleh para monster.


Palka belakang pesawat kembali tertutup. Benda terbang bersayap itu meneruskan penerbangan menuju ke negara selanjutnya, Austria. Pesawat siap menerjunkan Daniel, Pedro, Anggie, dan lima Black Armys yang saat itu dibangunkan untuk menjaga Markas Greenland menemani Q sebelum akhirnya evakuasi ke Black Castle. Meskipun Pedro dan Anggie adalah warga sipil, tapi mereka kini dituntut untuk ikut serta dalam misi. Keduanya mau tidak mau harus melawan rasa takut mereka. Selain itu, keduanya juga ingin tetap hidup dan percaya jika para mafia tersebut mampu melindungi mereka.


"Kalian berdua! Jangan jauh-jauh dari kami. Mengerti?" tegas Daniel sebelum melompat.


"Oke! Oke!" jawab keduanya gugup karena ini pertama kalinya mereka melakukan penerjunan dari atas pesawat.


"Go! Go! Go!" seru Yusuke saat menginstruksikan kepada orang-orang yang bertugas di Austria untuk segera melompat.


Daniel dan kelima Black Armys dengan sigap terjun tanpa kendala. Namun, dua sipil itu terlihat gemetaran dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Terlalu lama!"


DUAKK!!


"AAAAA!" teriak Pedro dan Anggie histeris karena mereka ditendang pada bagian pinggang belakang hingga terdorong keluar dari pesawat.



Yusuke dan Lucy menoleh ke arah Venelope yang memasang wajah kesal.


"Haha, bagus, Lope!" seru Sierra dari bangku co-pilot.


"Hempf. Amatiran," keluhnya sebal dan kini bersiap dengan parasut dalam gendongan.


Yusuke dan Lucy terkekeh. Palka belakang pesawat kembali ditutup karena mereka harus terus terbang tak ingin membuang waktu. Tujuan mereka berikutnya adalah Perancis. Kali ini, Yusuke, Venelope dan Lucy yang akan ditugaskan untuk membereskan kekacauan dari wabah monster di negara itu.


"Aku akan jemput kalian di bandara. Carilah transportasi untuk menuju ke sana," ujar Sierra.


"Kami mengerti!" jawab ketiganya serempak.


"Hati-hati," ucap Agent S yang kini bertugas di bagian kargo.


"Yeehaaa!" seru Yusuke saat melompat dari atas pesawat dengan gaya.


"Heh, tukang pamer," kekeh Lucy karena suaminya banyak tingkah.


Venelope tersenyum yang kemudian menyusul dengan melompat diikuti oleh Lucy. Agent S melihat muatan berisi drum-drum telah mengembangkan parasut. Ia kembali menutup palka belakang pesawat lalu berjalan mendekati dua wanita cantik yang mengemudikan benda bersayap besi tersebut.


"Jadi ... Spanyol?" tanya Agent S di mana ia akan ditugaskan bersama Sakura dan Sierra.


"Hem. Aku tetap menunggu di pesawat," jawab Sierra dengan dagu terangkat.


Agent S dan Sakura hanya tersenyum. Mereka yang sadar jika tak memiliki kuasa sebesar keturunan Flame itu mengangguk paham tanpa suara. Setibanya di Spanyol, pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Barcelona. Sierra tetap berada di pesawat saat Agent S dan Sakura mengendarai mobil pick-up yang mereka bawa dari Inggris.


Wanita cantik itu tak terlihat takut saat ditinggal sendirian ketika dua orang timnya pergi bertugas. Malah, Sierra memanjakan dirinya dengan menikmati wine dan juga menonton film lawas yang sudah disimpan dalam tablet.


"Hem, itulah perbedaan antara kaum minor dan mayor," ujarnya dengan alis terangkat seraya menyeruput wine dalam gelas kristal.


Sierra meluruskan kakinya di bantalan sofa lipat yang sudah disediakan di kabin pesawat. Ia seperti tak terusik dengan kacaunya dunia karena wabah monster. Baginya, ia tak rugi apa pun dan tetap kaya meskipun bencana itu sudah menerjang Bumi.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2