KING D

KING D
Kebangkitan 13 Demon Kids


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


King D menggenggam tangan Irina erat saat keduanya terlihat siap untuk menjajaki dunia baru usai bencana wabah monster lenyap. Venelope dan tim yang meninggalkan kawasan gunung dan kini sedang berlindung di salah satu pos darurat di Spanyol tertawa gembira karena bencana benar-benar sudah berakhir.


"Sungguh? Wabah monster telah musnah?" tanya Anggie dengan mata membulat penuh menatap gadis berambut pirang di depannya saksama.


"Hem. Semua sudah berakhir," jawabnya dengan senyuman.


"Hahaha! Yeah!" seru orang-orang dalam rumah toko itu gembira.


"Hei, jangan senang dulu. Gunakan waktu luang kita untuk melakukan pembersihan sebelum orang-orang militer dibangkitkan. Kurasa, gunung La Palma masih berpihak pada kita. Jadi, jangan tunda lagi," ajak Yusuke bersikeras.


"Aku setuju. Ayo, kita selesaikan," sahut Lucy sependapat.


Lagi, para mafia itu belum bisa bernapas lega, tapi mereka telah berani keluar tanpa harus membawa senjata. Tim yang masih melakukan perjalanan menuju Spanyol tak sabar untuk membuang bangkai-bangkai monster. Venelope dan tim yang berada di Spanyol akan mengumpulkan drum-drum kosong dan digunakan sebagai wadah bangkai monster karena mereka kehabisan drum-drum ciptaan Sandara.


"Kita gunakan cara manual aja. Intinya, bersihkan seluruh tempat dari bangkai monster. Ayo!" ajak Attaya mantap.


Semua orang keluar dari rumah toko di hari yang mulai gelap. Mereka mencari kendaraan jenis pengangkut barang agar bisa membawa drum-drum nantinya. Tim King D yang berada di lapangan juga melakukan pembersihan. Namun, mereka tak menggunakan drum.


Orang-orang itu memasukkan bangkai-bangkai monster ke dalam kotak-kotak kontainer yang ditemukan di bangunan kawasan Cape Canaveral dengan membuang isinya. Semua mafia dan sipil ikut berkontribusi penuh dalam pembersihan usai wabah monster dianggap lenyap untuk selamanya.


Di tempat Rangga dan Buffalo berada. Grey House, China.


"Apa yang kaulakukan? Lalu ... siapa pria tampan itu?" tanya Buffalo karena Rangga langsung tancap gas dan meninggalkan sang Jenderal usai ia mendapatkan permintaanya.


Rangga hanya tersenyum seraya menggandeng tangan sang ibu menuju ke tempat tabung-tabung disimpan. Rangga mendatangi salah satu tabung yang telah terbuka. Buffalo terkejut dan tampak siaga dengan mata memindai sekitar.


"Apa kau juga merasakan pegal?" tanya seseorang di balik kegelapan berada di sudut ruangan.


Buffalo mengerutkan kening. Suara pria itu tampak familiar, meski belum menunjukkan sosoknya.


"Di mana pakaianku? Aku tak bisa keluar dengan cara seperti ini. Maaf, Nyonya Fal. Aku hanya memakai celanaa dalam. Jadi aku tak bisa keluar menemui Anda kecuali ... Anda memberikanku pakaian. Maaf," ucap pria itu yang membuat kening Buffalo terkejut.


"Gibson?" tanya Buffalo menebak.


"Hai," jawab Gibson dengan wajah muncul di balik kegelapan sudut ruangan, tapi kemudian kembali masuk lagi untuk menutupi sosoknya.


"Kau bangun?" tanya istri Drake terkejut.


"Kurasa teman-teman yang lain juga. Jadi ... sudah saatnya giliran kita yang bertugas. Benarkah begitu, Rangga?" tanya Gibson.


"Hem. Jadi, ayo. Kita harus menemui yang lain. Dunia sungguh kacau, Men. Aku tak menyangka jika wabah ini akan menghancurkan seluruh dunia," sahut Rangga di mana Buffalo masih bingung dengan percakapan dua pria yang tumbuh dewasa itu.


"Aku mengerti, tapi ... berikan aku pakaian! Kau tuli ya!" teriak Gibson marah, dan Rangga hanya terkekeh seraya melepaskan tas ransel yang digendongnya.


Rangga sepertinya sudah menyiapkan pakaian khusus dalam benda itu. Pria berkulit hitam tersebut melemparkan ke tempat Gibson berada yang bersembunyi di balik kegelapan. Buffalo melihat tabung-tabung berisi manusia yang tak lain adalah para anggota militer China dan orang-orang terpilih dalam kondisi tertidur.


"Mereka tak bangun?" tanya Buffalo seraya menunjuk.


"Nanti. Saat dunia sudah layak untuk dihuni. Mereka tak siap melihat kekacauan dari wabah monster. Kita bagian kasarnya dan mereka memiliki bagian sendiri seperti yang kau tahu, Mom," jawab Rangga menjelaskan.


Buffalo mengangguk paham. Tak lama, putra dari One dan Verda keluar dari balik kegelapan. Pria tampan bertubuh tinggi kekar itu menyalami Buffalo. Praktis, senyum wanita tua itu terkembang.


"Kau benar-benar terlihat tangguh. Kalian berdua, mengingatkanku saat masih muda dulu," ujar Buffalo cemberut.

__ADS_1


"Kau masih berjiwa muda, Mom. Jadi ... bersiaplah. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan sebelum kebangkitan menyeluruh," ucap Rangga seraya merangkul bahu sang ibu.


Buffalo tersenyum dengan anggukan. Ia siap membantu para pemuda pemudi untuk mengembalikan tatanan dunia yang hancur karena wabah monster. Mereka keluar dari markas Sarang Semut menuju ke lokasi di mana Rangga dan Gibson sudah memiliki tujuan dari kebangkitan mereka.


Black Castle, Inggris.


"La-La ...," ucap Q tergagap seraya menunjuk dua orang yang berdiri di hadapan.


"Lazarus. Halo, Paman Q. Lama tak bertemu," sapa Lazarus sopan seraya membungkuk sedikit ala pangeran kerajaan.


Q masih terpaku dan hanya mengangguk pelan dengan mulut menganga.


"Mengenalku?" tanya seorang gadis cantik dengan senyum terkembang.


"Ya, ya, kau ... Hihi," jawab Q teringat akan nama lucu putri Sierra-Jonathan.


"Yey, dia mengenalku!" ujar Hihi senang dan Lazarus hanya tersenyum tipis.


"Oh ya, ngomong-ngomong. Di mana Neil? Aku melihat tabungnya terbuka," tanya Lazarus bingung.


"Dia sudah bangkit lebih dulu dan sedang menjalankan misi pelenyapan monster bersama tim lainnya. Kenapa?"


"What! Itu tak ada dalam perjanjian. Hiss," dengkus Lazarus marah. Hihi mengedipkan mata terlihat bingung akan sesuatu. "Oag! Oag!" teriak Lazarus lantang yang membuat suara besarnya menggema di ruangan itu.


Q dan Hihi sampai terperanjat karena Lazarus seperti orang marah.


"Ada apa?"


"Woah!" teriak Q hampir jatuh dari kursi ketika sosok pria tampan muncul di belakangnya.


"Dia menjadi pria yang tangguh. Dia baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku juga sudah menebus kesalahanku dengan menyelamatkan nyawa King D. Ia kini manusia setengah dewa sepertiku. Yang berarti, berumur panjang, kebal terhadap beberapa penyakit meski tetap bisa mati, dan ... kuat," jawab sosok rupawan itu yang tak lain adalah Jenderal.


"What? Kenapa King D bisa hampir mati? Apakah ... karena wabah monster?" tanya Hihi penasaran.


"Hem. Sengkuni, putra dari Raden dan Sandara adalah biang keroknya. Sebenarnya aku bisa saja melenyapkan seluruh monster dengan bantuan Oag, tapi ... bukan begitu caranya. Aku bukan Tuhan, dan aku lebih suka melihat para manusia berjuang demi kemaslahatan orang banyak. Dari sanalah, kita akan tahu, mana manusia berhati mulia, dan manusia berhati iblis," ujarnya.


Hihi mengangguk setuju termasuk Q meski ia tampak shock akan kedatangan sosok tak dikenalnya itu entah muncul dari mana.


"Hah, ya sudah. Kau kumaafkan," jawab Lazarus kesal.


Sosok itu tersenyum lalu berjalan keluar menuju ke arah pintu. Q berkerut kening dan menatap Lazarus serta Hihi saksama terlihat bingung.


"Sebaiknya kau memiliki alat komunikasi canggih untuk menghubungi putramu, Paman Q. Aku penasaran, bagaimana kondisi Bobby dan lainnya," ucap Lazarus yang membuat mata Q melebar seketika.


Laboratorium Jeremy, Filipina.


"Ka-kalian ...," ucap Roxxane sampai tergagap karena melihat dua orang yang dikenalnya berdiri di hadapan dengan senyuman.


"Hai, Mom," sapa Tina seraya berjalan mendekat, tapi Roxxane malah menjauh. Tina bingung.


"Kalian bangun? Namun ... bagaimana bisa? Pengatur kebangkitan disetel untuk 5 tahun mendatang," tanya Roxxane ikut dibuat terkejut.


"Itu karena kau tak percaya dengan cerita kami. Sekarang, melihat kami berdua bisa bangun bersamaan. Seharusnya, kau percaya dengan ucapan kami di masa lalu," jawab Timo tersenyum miring.


"Ya Tuhan," keluh Rayya langsung memegangi kepalanya.

__ADS_1


Dua istri Jeremy saling berpandangan tanpa suara, tapi ekspresi mereka seperti mengatakan sesuatu. Tina dan Timo dengan sabar menunggu perdebatan melalui gerakan bibir serta wajah kedua orang tuanya.


"Oke, anggap kami percaya. Jadi ... Oag, Mitologi, Permainan Maniac dan Demon Kids, yah ... oke, oke," ucap Rayya terlihat seperti orang bingung.


"Ya, begitulah. Jadi ... wabah sudah berakhir ya? Baiklah, sekarang giliran kita, Tina," ucap Timo, dan diangguki saudari perempuannya.


"Memangnya ... apa yang akan kalian lakukan?" tanya Rayya dengan kening berkerut, tapi dua anak Jeremy tersebut hanya menjawabnya dengan senyuman. Rayya dan Roxxane semakin bingung.


Kastil Hashirama, Jepang.


"Kenta? Azumi?" panggil Rui dengan mata berlinang karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Aku senang kalian baik-baik saja. Mana yang lain?" tanya Kenta seraya berjalan mendekat lalu memeluk ibunya, Lian.


Lian balas memeluk sang anak erat yang terlihat begitu merindukannya. Kenta juga memeluk Mei dan Rui bergantian meski mereka bukan ibu kandungnya. Azumi mendatangi ibunya, Mei dan ikut memeluknya. Mei terlihat begitu bahagia karena sang anak baik-baik saja, bahkan bangkit sebelum waktunya.


"Oh ya. Di mana adik-adik?" tanya Kenta.


"Oh, kau tahu jika mereka sudah bangun?" tanya Mei heran.


"Ya, kami melihat banyak tabung terbuka. Apakah ... oh, tidak!" ucap Azumi terlihat shock seperti membayangkan hal buruk menimpa saudara-saudarinya.


"Hei, hei, mereka baik-baik saja. Hanya saja ... Darion dan Dexter, mereka ... mereka tewas," jawab Lian tertunduk sedih.


Kenta dan Azumi terdiam dengan wajah tertunduk. Mereka tak menyangka jika dua pria yang tampak begitu kuat itu bisa kalah dengan para monster. Azumi dan Kenta mengangguk paham dengan wajah sendu. Saat mereka ikut diliputi duka, tiba-tiba datang seseorang dengan kursi roda didampingi seorang remaja.


"Kalian?" pekik seorang gadis muda terkejut.


"Rein!" panggil Azumi yang langsung berlari mendatangi saudari terkecil dari semua anak Tora dengan gembira.


Gadis bernama Rein Mikha yang tak lain adalah putri dari Tora dan Rui menyambut kedatangan dua kakaknya. Kenta juga ikut mendatangi saudara tirinya itu lalu memeluknya. Tampak Rein begitu senang melihat kedua kakaknya.


"Hei," sapa Darwin dengan luka dibeberapa bagian karena serangan monster kala itu.


"Hai," jawab Kenta seraya membungkuk, diikuti oleh Azumi.


"Kau baik-baik saja? Sepertinya, serangan para monster begitu mengerikan," tanya Azumi cemas.


"Serangan para monster adalah yang terburuk dari semua hal buruk selama aku hidup," jawabnya lesu.


"Semua sudah berakhir. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Jordan juga menghubungi jika anak-anak sedang dalam perjalanan pulang. Katanya, mereka menemukan orang-orang yang selamat di Tokyo, tapi enggan bergabung dengan kita," ujar Rui.


Semua pendengar terlihat senang karena masih ada manusia yang selamat. Kenta dan Azumi pamit untuk melakukan pekerjaan. Akan tetapi, Rein Mikha yang begitu mengagumi sosok dua kakaknya ini ingin ikut serta. Kenta dan Azumi ragu, tapi Rein memaksa.


"Baiklah, tapi jangan menangis jika kau melihat hal mengerikan di luar sana," terang Kenta memperingatkan.


"Jika aku menangis, aku akan memeluk Azumi-san!" jawabnya dengan wajah tegang.


Praktis, kejujuran Rein membuat Azumi dan Kenta terkekeh pelan. Sedang Lian, Rui, Mei dan Darwin dibuat penasaran akan misi yang akan dilakukan oleh Azumi serta Kenta di mana mereka pernah mengatakan hal tak masuk akal tentang permintaan hadiah kemenangan kepada alien bernama Oag.


"Aku terlalu lelah untuk berpikir. Jadi ... biarkan saja. Mereka akan baik-baik saja di luar sana," ujar Darwin, dan diangguki orang-orang dewasa di sekitarnya.


***


__ADS_1


uhuy makasih tipsnya Rana💋 makasih juga mbak Sulis atas koreksinya. udah lele benerin❤️wah gaswat ni. akhir-akhir ini kayaknya lele kurang fokus. ada apakah?? haruskah aku minum multivitamin biar gak loyo? jujur lele umur 33 tahun tapi kok badannya kaya orang umur 40 tahunan ya. capek uyy termasuk otaknya. doain lele selalu sehat agar selalu bisa menyuguhkan cerita ciamik selama menjadi penulis online. amin🙏 mungkin udah waktunya naik level jadi editor. jiah😆


__ADS_2