KING D

KING D
Perubahan Mengerikan


__ADS_3

Irina dibantu Fara dan Obama Otong, segera menghubungi markas aktif dekat dengan Kanada untuk membantu mengkonfirmasi keberadaan tabung pindahan atas pengakuan Jason.


Tentu saja, kabar ini mengejutkan orang-orang di dua markas tersebut. Yusuke dan Lucy siap untuk menyelidiki hal tersebut mengingat orang-orang yang disimpan dalam tabung adalah para petinggi jajaran Boleslav dan Theresia.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Terima kasih, Tuan Yusuke. Kami tunggu kabar baik dari Anda," ucap Irina sopan lalu memutus panggilan tersebut.


"Jadi, kita sekarang fokus buat cari keberadaan anak-anak yang diculik sama orang bertopeng dan bertato yang gak kita kenal itu?" tanya Obama memastikan misinya.


"Hem, sepertinya begitu," sahut Fara.


"Wokeh!" jawab Obama dengan sigap merubah jadwal dalam layar tablet dekat dudukan kemudi.


Kini, kelompok di bawah kepimpinan King D, akan fokus untuk mencari anak-anak di mana Azfar menginformasikan jika masih ada manusia yang selamat ketika mereka disekap.


King D dan timnya yang ingin menjaga populasi manusia, memilih untuk menyelamatkan spesies mereka sebelum berubah menjadi monster karena keegoisan seseorang atas misi terselubung yang belum terpecahkan.


Orang-orang mencoba melakukan pemetaan tentang perkiraan kapal pengangkut anak-anak berlabuh.


King D menugaskan Polo, Hugo, Marco, dan Fara untuk mendatangi sebuah gedung untuk mencari data tentang kapal-kapal yang merapat di dermaga yacht tersebut.


Kemampuan Marco yang bisa mendeteksi keberadaan monster dimanfaatkan oleh kelompok tersebut.


Fara sengaja ikut untuk memancing para monster yang masih tertinggal di wilayah itu untuk dilumpuhkan.


"Bagaimana?" tanya Polo dengan senapan pelontar granat berisi Rainbow Gas Halusinasi.


"Aman. Namun, agh! Sungguh, bau darahmu sangat menyengat, Fara," keluh Marco seraya menggosok-gosokkan hidung mancungnya terlihat kesal.


"Fara sengaja ikut buat mancing monster. Kamu juga. Ngapain gak pakai baju? Mau pamer kalo badan kamu oke, terus itu roti sobek dibiarin berjejer gitu?" tanya Fara dengan telunjuk menekan-nekan otot perut yang terasa padat milik Marco.


Praktis, kening Polo, Hugo dan Marco berkerut.


"Kau sungguh gadis yang aneh," sahut Marco heran dan segera menyingkirkan jari Fara di perutnya, tapi Fara terlihat cuek.


Fara berjalan dengan langkah riang menuju ke sebuah gedung di mana gadis itu yakin jika pusat data berada di sana.


Darah Fara yang tercium begitu kuat di hidung Marco, membuat tiga lelaki itu sedikit was-was dengan keamanan mereka.


Namun, sampai mereka tiba di gedung, tak ditemukan satu monster pun padahal Marco yakin, ada bau monster di sekitar wilayah itu.


"Kita cari ruang komputer atau tempat menyimpan berkas," ucap Fara seraya menaiki tangga.


Marco dan lainnya mengikuti Fara di belakang. Gadis itu hanya membawa sebuah pisau dari set Silent Blue milik sang kakak.


Hingga akhirnya, KLEK!


"Biar aku duluan," ucap Polo yang meminta Fara mundur dari pintu yang baru saja dibukanya tanpa aba-aba dan seperti tanpa rasa takut.


Fara menurut dan berdiri dengan tenang memepet dinding. Namun tiba-tiba, hidung Marco bergerak seperti mengendus sesuatu.


"Marco, ada apa?" tanya Hugo yang menyadari gerak-gerik lelaki bermanik merah tersebut.


Seketika, "Mundur ... mundur ...," ucap Marco berbisik dan langsung merentangkan kedua tangan. Ia membiarkan senapan laras panjang miliknya tergantung di leher.


Mata Polo, Hugo dan Marco melebar. Mereka menyadari perubahan dalam diri Fara yang tiba-tiba terlihat seperti orang yang mengalami kejang hingga matanya berkedip-kedip.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Polo berbisik dan mencoba untuk menuruni tangga perlahan karena melihat Fara seperti akan berubah.


"Tampaknya, bau samar monster yang aku cium sedari tadi, bukan dari para monster di wilayah ini, melainkan ...," ucap Marco dengan mata masih terkunci pada Fara yang terlihat berusaha untuk menahan sesuatu dari tubuhnya.

__ADS_1


"Fara," jawab Polo dengan ujung senapan diarahkan ke tubuh gadis cantik itu.


"Jangan melakukan gerakan tiba-tiba, itu bisa memacu insting monster dalam tubuhnya. Sepertinya, Fara masih mencoba untuk melawan, tapi ... kita tak tahu akan seperti apa jadinya. Jadi ... bersiaplah untuk hal terburuk," jawab Marco terlihat tegang, begitupula Hugo dan Polo.


"King D, kau mendengarku?" panggil Hugo dari sambungan earphone dan tetap bergerak mundur menuruni tangga.


"Ya, ada apa?" tanya King D di mana ia dan timnya sedang menguburkan mayat seorang monster dan seorang anak temuan mereka.


"Fara. Sepertinya ... serum monster mulai menjangkit dirinya. Bersiaplah," jawab Hugo melaporkan.


Praktis, hal ini membuat mata King D melebar.


"Cepat! Cepat!" seru King D panik dan meminta kepada kawan-kawannya untuk menyiapkan prosedur penyembuhan atas dampak serum monster di tubuh Fara.


Irina dengan sigap berlari seraya membawa serum penawar ditemani oleh Chen. King D yang sudah berlari lebih dahulu, bersiap untuk menembakkan peluru bius ke tubuh sang adik jika dia melakukan penyerangan kepada tiga kawannya.


Saat King D sudah berada di pintu gedung, tiba-tiba, BRAKK!!


"RUN!" teriak Polo lantang saat pintu tiba-tiba saja terbuka dan muncul dirinya terlihat panik.


Hugo menyusul di belakang, tapi Marco belum terlihat. King D segera mengarahkan senapannya ke pintu yang terbuka di mana tak terlihat sosok Marco di sana.


"Di mana Marco?!" teriak King D lantang.


"Dia berusaha menahan Fara!" jawab Hugo ikut panik dan terus berlari kencang meninggalkan King D sendirian.


Irina yang sedang berlari mendekati King D, tiba-tiba menghentikan langkah dan seperti terkejut akan sesuatu. Irina memegangi kepalanya seperti merasakan sakit.


"Irina, kau tak apa?" tanya Chen panik.


King D menoleh dan mendapati sang kekasih ambruk dengan kepala tertunduk. King D kebingungan dan berlari menuju ke arah Irina yang wajahnya tertutup rambut panjangnya.


"Irina, hei, kau tak apa?" tanya King D cemas, tapi ....


King D terkejut dan merangkak mundur saat melihat mata Irina menjadi hijau terang, tapi wajahnya merah padam.


Napas gadis bermata hijau itu memburu dan pandangannya kini tertuju pada King D.


"I-Irina ...," panggil King D gugup.


"Harrghh!"


"Irina!" panggil King D panik saat tiba-tiba saja sang kekasih bangun dan seperti ingin menerkamnya. King D segera bangun dan berjongkok, tapi ....


"Oh! Ke mana dia?" tanya Chen panik saat melihat Irina berlari mendatangi gedung dan melewati King D.


Pria dengan manik merah dan biru itu bingung. Ia melihat Irina memasuki gedung. King D segera berdiri.


Saat ia dan Chen akan menyusul Irina, tiba-tiba, PRANGG!!


"MARCO!" panggil Polo yang melihat saudara kembarnya terlempar dari sebuah jendela lantai 3 bangunan tersebut.


Mata King D melebar. Ia melihat Marco akan jatuh dengan keras di jalanan aspal. King D segera berlari kencang, tapi tiba-tiba, "Arrghh!"


"Fa-Fara?" ucap King D melotot saat melihat sang adik tampak buas dengan taring muncul pada giginya di jendela yang pecah.


BRAKK!!


"MARCO!" panggil Polo lagi saat melihat Marco jatuh di atas sebuah truk dan masuk di baknya.


King D yang terkejut akan kemunculan Fara dalam kondisi yang berbeda, membuat lelaki itu tampak shock dan mematung untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Hah, hah, run!" seru Marco saat ia berhasil bangun dari tempat jatuhnya.


Beruntung, lelaki itu tak tewas meski sepertinya terluka lagi. Marco berjalan tertatih berusaha untuk turun dari truk. King D dengan sigap berlari dan menolongnya.


Saat Marco berhasil turun dan kini dipapah oleh King D, tiba-tiba saja, "Harrghhh!"


BRUKKK!!


"IRINA!" teriak King D sampai matanya melebar ketika dua perempuan yang dikasihinya melompat dari jendela pecah.


Irina dan Fara seperti berpelukan meski wajah mereka berdua tampak beringas. Marco dipapah oleh King D untuk menjauh dari truk karena dua perempuan itu jatuh di tempat yang sama.


"Otong!" panggil King D dengan napas tersengal saat ia menoleh ke belakang.


Ia melihat Fara dan Irina bertarung hebat di dalam bak truk entah apa yang terjadi. Chen segera membantu Marco dibantu oleh Polo.


Helikopter yang diterbangkan oleh Obama segera menurunkan tali untuk membantu tiga orang itu melakukan evakuasi.


"D!" panggil Obama tampak panik.


"Pergilah! Aku akan menyusul. Di sini berbahaya!" seru King D melambaikan tangan seperti mengusir keberadaan benda terbangnya itu.


"Bos edian! Kita gak boleh kepisah woi!" seru Obama tampak tak sependapat.


"Kita bertemu di dermaga tadi saja!" saran King D berteriak.


"Gak bisa! Perintah ditolak!" seru Obama yang tampak tak sependapat dengan pemikiran kawan semasa kecilnya.


"Wow! Wow! Otong! Kau mau apa?!" pekik Edward panik saat melihat helikopter malah mendatangi Irina dan Fara.


"Kita pakai cara Otong Marotong. Chen!" ucapnya seperti memerintahkan sesuatu kepada lelaki Asia itu.


"Aku mengerti!" sahut Chen dengan sigap mengambil senapan pelontar granat yang digenggam oleh Polo tadi.


Seketika, KLIK! DUK! DUK! DUK! BUZZ!!


"Wohooo! Tepat sasaran Chen! Inilah cara Jenderal Besar Obama Otong, calon presiden mafia seperti harapan bapak!" ucapnya bangga.


Semua orang tampak tegang saat kepulan asap putih menyeruak di atas bak truk di mana Irina dan Fara berada.


King D segera meminum serum penawar dan tetap berdiri di dekat truk meski menjaga jarak untuk memastikan dua perempuan itu baik-baik saja.


Namun, BRUK!


"Hah! I-itu Fara ...," ucap Fabio menunjuk dari pintu helikopter yang melayang saat adik dari King D melompat dan kini berjalan di atas aspal dengan gigi taring muncul layaknya vampir.


King D melihat Irina tergeletak di atas bak truk di mana bagian pintu penutup terbuka. Sang kekasih menggelepar seraya merintih seperti merasakan kesakitan di tubuhnya.


King D kebingungan saat sang adik berjalan mendekatinya dengan sorot mata tajam tanpa pisau Silent Blue dalam genggaman.


Beruntung, Fara tidak dalam mode landak, tapi serum monster yang diyakini menguasai dirinya membuat semua orang mengarahkan moncong senapan bius ke tubuh adik King D.


"Fara, kau harus—"


BRUKK!


"Eh?!" pekik Obama saat melihat Fara tiba-tiba ambruk dan tergeletak seperti tak sadarkan diri. Praktis, semua orang dibuat mematung seketika.


***


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya jeng Soraya😍 Lele padamu💋Kayaknya hari ini satu eps dulu aja. Mager melanda. Hadeuh😩Jangan lupa vote vocer keburu angus gaes❤️


__ADS_2