KING D

KING D
Mulai Berkumpul


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"AAAA!"


"D? King D!" sahut Rohan ikut panik karena terdengar jeritan dan suara kegaduhan dalam panggilan telepon itu.


"Rohan! Apa yang terjadi?" tanya Shamsa yang mendengar teriakan pemimpin mereka.


"Shamsa! Segera pergi ke Cape Verde! King D ditemukan dan dia dalam bahaya! Cepat!" titahnya masih duduk di kursi ruang kendali.


"Aku mengerti!" jawabnya yang dengan sigap berlari dan menghubungi beberapa orang untuk ikut dalam misi penyelamatan.


Dengan cekatan, helikopter militer hadiah dari pemerintah yang disimpan apik dalam markas Oman milik Sultan Javier segera lepas landas. Shamsa memimpin aksi untuk menyelamatkan King D bersama Talora, Etra, Amir, Irsyad dan Gibran. Benda dengan baling-baling besar itu meninggalkan Oman menuju Cape Verde. Hanya saja, tak dapat disangkal jika penerbangan itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama walaupun mereka sudah menyiapkan bahan bakar cadangan dalam helikopter. Meski demikian, mereka tetap harus mengisi bahan bakar kembali di beberapa bandara terdekat.


Di sisi lain.


Orang-orang yang sudah menyatakan sukarela untuk menjadi anggota dalam tim manusia super diminta untuk datang ke Black Castle. Obama Otong yang masih menyimpan sisa serum tersebut siap untuk menyuntikkan cairan-cairan aneh itu ke dalam tubuh para mafia yang mencalonkan diri.


Jonathan yang tahu akan dikunjungi, segera mempersiapkan kastilnya dengan pembersihan bangkai monster besar-besaran. Ia tak mau saat para tamunya datang, sisa peperangan masih tersisa di wilayahnya. Fara dan lainnya yang memiliki kemampuan unik ikut membantu seraya melakukan uji coba untuk memaksimalkan potensi mereka.


"Bos Nathan! Kita bakar bangkai mereka di luar atau di tungku kastil?" tanya P-I lantang yang sudah berdiri dengan tumpukan mayat di sebelahnya.


"Luar dong! Enak aja bakar ditungku. Itu khusus untuk jasa pembersihan mayat. Gak ada yang gratis!" jawabnya galak.


"Udah kaya masih maruk. Mirip kaya simboke, gak mau rugi," gerutu P-K yang membuat anggota 3P lainnya terkekeh.


Kepulan asap dengan bangkai para monster yang menyerang Black Castle kala itu dengan cepat membumbung tinggi. Bau menyengat tentu saja membuat para mafia itu terganggu. Beruntung, ada masker gas yang bisa digunakan meski berupa topeng gagak milik The Cirlce.


Keesokan harinya.


Yuki dan timnya akhirnya sepakat meninggalkan markas kediaman Axton di Boston dan memilih berkumpul bersama mafia lain. Beruntung, ada sebuah pesawat jet pribadi yang ditinggalkan oleh Torin di hanggar Bandar Udara Internasional Logan, Boston. Yusuke dan kawan-kawan mengendarai mobil sampai ke bandara tersebut dengan persenjataan lengkap.


Siapa sangka, Boston tak kalah mengerikannya dengan kota-kota besar di Amerika lainnya. Semua orang tampak waspada. Namun, Yu Jie yang telah berubah wujud, malah lebih menyukai berada di atap mobil untuk menjaga konvoi di barisan pertama. Reina yang masih belum menunjukkan kemampuan uniknya, berada di barisan mobil terakhir. Sedang Torin, berada di mobil kedua.


"Bagaimana sekarang?" tanya Lucy seraya menghentikan laju mobil. Venelope, Yusuke dan Match berada di mobil yang sama barisan pertama sebagai pembuka jalan.


Tiga mobil berhenti di pintu masuk bandara di mana banyak kendaraan menghalangi jalan karena tragedi wabah monster kala itu yang menyebar begitu cepat dan menimbulkan kepanikan di segala penjuru tempat di dunia.


"Kita jalan dari sini," ucap Yuki usai melihat Yu Jie yang tampak biasa saja seperti tak merespon adanya bahaya di tempat tersebut.

__ADS_1


Yusuke dan lainnya mengangguk setuju. Mereka akhirnya turun dari mobil dan membawa semua keperluan yang dibutuhkan selama perjalanan. Para mafia itu tampak siaga dengan senjata tajam dan senapan dalam genggaman. Yu Jie berjalan di barisan paling depan. Gerak-geriknya yang tak lazim membuat semua orang masih mencoba untuk terbiasa.


"Rrrr ...," erang Yu Jie dengan posisi dua tangan ia jadikan seperti kaki hingga tubuhnya merangkak.


"Waspada!" seru Yuki yang mengenali posisi siap bertempur itu. Benar saja, "Monster!"


Seketika, mata semua orang melebar. Kali ini, Reina tak akan membiarkan ibunya terluka termasuk orang-orang dalam timnya. Reina melihat sekitar seperti terpikirkan sebuah rencana.


"Semuanya! Naik ke atas mobil! Kita harus ke tempat yang tinggi agar lebih mudah membidik mereka!" serunya lantang yang kali ini mengutarakan ide.


"Gagasan bagus! Semuanya, berpencar dan ambil posisi! Kita harus berhasil masuk ke bandara dan mendatangi hanggar!" teriak Yusuke.


Match yang masih terluka merasa tak berguna. Namun, Reina berdiri di sampingnya seraya mengeluarkan sebuah pelontar RPG yang ia gendong sedari tadi. Match menatapnya saksama.


"Aku tak kuat untuk menopang benda ini dan meluncurkannya. Kau ... mau membantuku?" tanya Reina dengan wajah datar.


Match tersenyum miring. Ia segera bersimpuh dengan satu kaki sebagai tumpuan. Match melipat kedua lengan depannya saat Reina meletakkan selongsong besar itu di salah satu pundak algojo Amanda.


"Bidik yang benar. Targetmu adalah sasaran dengan jumlah terbanyak," ucap Match dengan sorot mata tajam saat melihat sekumpulan manusia sakit berlari ke arah mereka dengan beringas.


"Hem, pasti mobil-mobil ini menyisakan bensin dalam tangki. Sepertinya, kau harus siap dengan gelombang ledakannya, Match. Jangan sampai terhempas," sahut Reina seraya menyipitkan salah satu mata saat membidik.


"Heh, jangan meremehkanku. Lakukan!" tegasnya.


"Wow!" pekik Sakura sampai terperanjat ketika ia baru saja naik ke sebuah atap mobil SUV dibantu oleh Venelope.


Ledakan besar itu ternyata menjadi ledakan beruntun karena banyaknya mobil-mobil di sekitar target bidikan. Silau dari pancaran kobaran api yang besar dengan asap hitam membumbung tinggi, membuat malam yang gelap itu seperti perayaan pesta api unggun.


"Yeah! Kerja bagus!" seru Yusuke langsung menoleh ke belakang, tapi baru menyadari jika Reina dan Match bekerja sama. "Ah, pantas saja. Kolaborasi yang apik. Ayo!" ucapnya memuji.


Para manusia sakit yang terkena kobaran api itu meraung kesakitan. Mereka berlarian ke sana kemari dengan tubuh terbungkus api. Yusuke dan anggota timnya menerobos kumpulan mobil-mobil yang menghalangi jalan masuk bandara dengan melompati atapnya satu per satu agar para monster tak bisa menjangkau tubuh mereka yang lebih tinggi.


Suara peluru dan sabetan pedang menghiasi jalanan aspal menuju pintu gerbang bandara karena para monster masih berambisi untuk menyerang meski sudah terluka parah. Ternyata, usaha mereka berhasil. Tim Yusuke dan lainnya tiba di bandara yang kemudian bergegas menuju ke hanggar sesuai petunjuk dari Yuki.


"Bagaimana bahan bakar kita?" tanya Sakura memastikan.


"Seharusnya cukup. Penerbangan kita setidaknya membutuhkan waktu hingga 7 jam. Sepertinya, Torin sudah mewaspadai hal ini dengan mengisi penuh tangki bahan bakar sebelum ditinggalkan," jawab Yusuke yang menjadi pilot penerbangan.


Orang-orang terlihat lega. Sayang, Torin dan Yu Jie seperti tak bisa diajak komunikasi. Mereka menyendiri dan tak ikut berkumpul bersama yang lain. Yuki terlihat sedih dengan kondisi suaminya, tapi ia tetap bersyukur karena Torin masih hidup.

__ADS_1


Venelope duduk sebagai co-pilot membantunya. Sisanya, bersiaga di kabin sebagai penumpang. Akhirnya, pesawat berhasil lepas landas malam itu. Sakura melihat anaknya mulai berubah, malah terlihat akrab dengan Match.


Keduanya tampak akrab karena mengobrol selama penerbangan. Sakura membiarkan hal itu di mana ia merasa jika puterinya memang telah banyak berubah semenjak bangkit dari tabung. Sebagai seorang ibu, ia mulai mencoba memaklumi sifat dan sikap puterinya meski masih merasa jengkel jika Reina berbuat semaunya.


Sakura segera mengabarkan kepada tiap markas yang bisa dihubunginya jika mereka berhasil lepas landas dan meninggalkan Boston. Hal baik itu disambut oleh semua orang, termasuk para mafia lainnya yang memutuskan untuk ikut berkumpul di Black Castle. Tujuannya untuk menghimpun kekuatan dan pasukan di sana. Para mafia yang memiliki sedikit anggota, memutuskan untuk meninggalkan markas yang dijaga selama ini dan berkumpul di Black Castle Inggris.


Sig, Maksim, Souta, dan dua orang yang tersisa dari kelompok yang berhasil diselamatkan Carloz kala itu, ikut mengungsi ke Black Castle. Para mafia berbondong-bondong menuju kediaman peninggalan William Charles termasuk Jason, Daniel, Zaid dan Yena yang sepakat meninggalkan Perancis untuk pergi ke Inggris. Sedang tim Barracuda yang masih menjelajahi lautan, langsung fokus menuju ke Australia usai mengetahui permintaan Hope. Mereka bersiaga di perairan sebagai tim evakuasi nantinya.


Akhirnya, tim yang bertolak dari Boston tiba. Jonathan mengirimkan 4P untuk melakukan penjemputan di bandara. Kamera terpasang pada seragam tempur Black Armys dan juga helikopter untuk memantau penerbangan selama 4 lelaki Jawa itu menyusuri London.


"Hih, ngeri ya, Bro. London loh ini, London! Bisa ambiyar begini kaya kena bencana tsunami plus tornado," celetuk P-M melihat kengerian di luar pintu.


"Iya, Lur. Kita bejo karena masuk tabung," jawab P-C seraya mengelus dada terlihat ngeri.


Saat helikopter melintasi pintu masuk bandara, tiba-tiba ....


BROOM!!


"Weh! Opo kui?" tanya P-C memekik saat melihat sebuah mobil dengan bak bagian belakang berisi beberapa orang tampak siaga menggenggam senapan.


"Eh, itukan?" sahut P-M seraya menunjuk.


"Woah! Monster! Monster!" teriak P-I histeris seraya menepuk lengan P-K kuat.


Praktis, mata para lelaki itu melebar seketika. Namun, P-M dan P-C dengan sigap membidik para monster yang berlari mengejar mobil bak tersebut.


"Hemat amunisi! Pakai granat tabung aja!" seru P-K dari bangku pilot dan melakukan manuver putar balik untuk melindungi tim Yusuke.


"Siap!" jawab P-M dan P-C serempak.


Dua lelaki itu melemparkan granat tabung dari atas helikopter. Suara nyaring ledakan dan lontaran peluru-peluru pembunuh sigap menjatuhkan lawan.


"Yeah! Bagus!" seru Yusuke gembira saat melihat para monster yang mengejar mereka jatuh satu per satu.


"Tuntasin pake Rainbow Gas! Biarlah jiwa-jiwa malang ini menentukan nasibnya di alam sana. Amin," ucap P-M dan semua orang dalam helikopter ikut memanjatkan doa untuk para monster.


SWING! BOOM! BUZZ!


Kepulan asap warna merah beracun menyeruak dan mengurung para monster yang sudah tak bisa diselamatkan lagi. Mobil yang membawa Yusuke beserta tim berhasil lolos dari kejaran para monster. Helikopter terbang di atas kendaraan roda empat itu yang kini melaju dengan aman sampai halaman Black Castle.

__ADS_1


***


puanjang nih epsnya tapi kok ya belum kelar juga😆 kwkwkw sabar ya para LAP. lele masih adaptasi bagi waktu. kuy yg belom menyerahkan harta berupa vote poin, koin, vocer, like dan komen segera ya. lele padamu❤️ hari ini lele kasih dobel eps krn semalem begadang sambil jagain baby Zacky. Adeh😩


__ADS_2