
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Mata semua orang menajam dan terfokus pada sosok gadis cantik di depan mereka yang berdiri gagah di atas kontainer.
"La la la la la la ...."
Kening para mafia berkerut. Mereka tak bisa mendengar apa yang Melody ucapkan. Namun, melihat para pria bertopeng tiba-tiba diam bahkan sampai menjatuhkan senjata, orang-orang itu menduga jika Melody sedang menggunakan kemampuannya.
Neil mengerutkan kening. Ia seperti mencoba menebak kemampuan Melody ketika menggerakkan bibir dan berlenggak-lenggok layaknya seorang penyanyi di atas panggung seperti menghipnotis para penonton.
"Oh, mungkinkah?" pekik Neil yang merasa jika kemampuan Siren atau Mermaid dimiliki oleh gadis cantik itu.
Tiba-tiba saja, NGENGGG!! BLUARRR!!!
"Wow!" kejut para anggota mafia saat melihat salah satu pesawat jatuh begitu saja seperti kehilangan kendali dan menghantam permukaan air laut hingga meledak hebat.
Melody terus menyanyi untuk melumpuhkan lawan-lawannya. Hingga gadis itu melirik ke arah Hugo. Pria bertubuh besar itu terkejut. Melody menunjuk sekumpulan pria bertopeng yang terbengong karena dampak nyanyian hipnotisnya. Melody lalu menunjuk sebuah kontainer warna merah yang telah terbuka pintunya. Gadis itu memberikan arahan agar orang-orang tersebut dimasukkan dalam benda besi itu. Hugo mengangguk paham dan segera melakukan yang diperintahkan oleh Melody.
Sedang Sig, Nero dan Neil masih terpaku dengan kejadian unik di depan mereka. Melody menunjuk dua pesawat yang mulai kehilangan kendali. Kening tiga pemuda itu berkerut karena tak paham dengan kode yang diberikan oleh Melody sebab menggunakan bahasa isyarat. Melody kesal sampai menepuk jidat walaupun terus bernyanyi.
PLAK!
"ARGH!" rintih tiga pemuda itu ketika Sarnai dan Raden memukul kepala mereka tiba-tiba.
"Kalian tak paham yang diminta olehnya?" tanya Sarnai melotot seraya menunjukkan layar ponsel dengan tulisan di sana. Tiga pemuda itu membacanya dengan saksama, tapi kemudian menggeleng dengan lugu. "Jatuhkan dua pesawat itu," tulis Sarnai saat ia menaikkan tulisannya pada sebuah aplikasi menulis. Akhirnya, tiga pemuda itu mengangguk paham.
Raden dan Sarnai bergegas menuju ke bagian belakang kapal kargo seperti ingin melakukan sesuatu. Ternyata, ada sebuah helikopter yang ditutup dengan kain hitam besar untuk menyembunyikan keberadaannya. Sarnai dan Raden bergegas menarik penutup itu. Sarnai mencoba menyalakan mesin helikopter dan berhasil. Sayangnya, ia butuh co-pilot untuk membantunya.
Raden dengan sigap duduk meski ia tak yakin jika bisa menerbangkan benda itu karena berjenis kargo. Melody masih terus menyanyi. Di sisi lain. Hugo berhasil memasukkan pasukan Hope ke dalam kontainer lalu menutup rapat. Ia melihat ada tombol di luar pintu dengan catatan di sampingnya bertuliskan 'PUSH'.
Hugo menekannya, dan seketika muncul kepulan asap putih dari celah pintu kontainer. Hugo melangkah mundur dengan tergesa karena bingung dengan hal tersebut. Saat Sig, Neil dan Nero kebingungan mencari cara untuk menjatuhkan dua pesawat itu, tiba-tiba ....
"Wow!" pekik tiga pemuda itu ketika Hugo melemparkan sebuah kargo berukuran kecil ke salah satu pesawat yang mengarah ke kapal mereka.
"Awas! Menghindar!" teriak Sig ketika melihat kontainer yang dilemparkan Hugo tepat mengenai badan pesawat dan membuatnya hancur berkeping-keping dalam kobaran api yang dahsyat.
BRANGG!! BLUARRR!!!
"AAAA!" teriak tiga pemuda itu dan spontan berjongkok menutup kepala karena beberapa serpihan jatuh bagaikan hujan api ke arah mereka.
Tiga pemuda itu membalik badan dan menggunakan punggung sebagai pelindung. Namun, Neil, Nero dan Sig menyadari jika imbas ledakan tak mengenai tubuh mereka.
__ADS_1
"Hu-Hugo?" panggil Nero dengan mata membulat penuh saat melihat Hugo melindungi mereka dengan tubuh besarnya.
"Hempf, hempf," engahnya yang kemudian berbalik dan berjalan dengan gagah seraya menyapu tubuhnya karena tak berlapis baju.
"Keren sekali ... dia tak terluka sedikit pun!" pekik Sig kagum.
Melody menyipitkan mata saat melihat kobaran api dari pesawat yang jatuh di atas geladak tak meninggalkan korban selamat. Semuanya tewas terbakar dan ikut menjadi serpihan bersamaan dengan bangkai pesawat.
Tiba-tiba, Melody melompat dari atas kontainer. Ia memberikan kode dengan mengetuk lubang telinga menggunakan telunjuk. Hugo segera melepaskan sumpalan berikut tiga mafia muda.
"Mereka bisa menahan nyanyianku. Pasti orang-orang itu melakukan sesuatu. Kalian bertiga, habisi mereka dan segera susul ke helikopter jika ingin ikut ke Australia. Gagal, aku tinggal," tegas Melody seraya mengajak Hugo berjalan bersamanya.
"Melody! Kenapa kau sudah dewasa? Kau seharusnya masih remaja seperti kami!" tanya Neil heran.
Melody menghentikan langkah sejenak lalu membalik tubuhnya. Empat pria itu menatapnya saksama.
"Itu karena, saat kalian tidur dengan nyenyak, aku sibuk berlatih untuk mempersiapkan hal ini. Segera jatuhkan pesawat itu. Jangan banyak tanya," tegasnya melotot seraya menunjuk sebuah pesawat dari kubu Hope yang tak terkena dampak.
"Bagaimana kita menjatuhkannya?" tanya Neil bingung menggaruk kepala.
"Oh! Aku tahu!" pekik Nero bergegas mendatangi puing pesawat yang terbakar di atas geladak.
Nero memegang sebuah besi panjang yang tak dilahap api. Pesawat kembali bermanuver dan siap menghujani anak-anak itu dengan peluru-peluru tajam.
"Nero! Apa pun yang ingin kaulakukan segeralah!" teriak Sig panik karena ekornya berderik.
"NERO!" teriak Neil panik karena pesawat itu seperti sengaja ingin menerjang mereka.
"Heyahhh!!"
"Oh!" kejut Sig dan Neil saat Nero melesatkan besi panjang itu layaknya tombak tepat ke arah kaca pilot.
PRANGG!! JLEB!!
"Kena! Dia berhasil mengenainya!" teriak Sig sampai melotot saat ia mendengar suara pilot yang mengemudikan pesawat tersebut mengerang kesakitan.
"Menyingkir!" teriak Neil saat melihat benda tersebut siap menghantam geladak kapal. Praktis, mata tiga pemuda itu melebar seketika.
Sig, Neil dan Nero dengan sigap berlari menghindar meski moncong pesawat sudah menyentuh kontainer yang disusun di atas kapal. Seketika, benda-benda yang telah tersusun rapi itu berhamburan hingga jatuh ke lautan.
"Neil! Nero! Sig!" teriak Melody dari atas di mana dirinya bersama yang lain telah menaiki helikopter kargo.
Kepala para pemuda itu menoleh dengan kaki terus berlari kencang menuju tepian kapal.
__ADS_1
"Lompat!" teriak Sig karena kaki mereka sudah tak bisa memijak lantai lagi.
"AAAAA!"
BYURR!!
"Argh!" erang Nero saat tiba-tiba saja tubuh mereka terperangkap dalam jaring bagaikan ikan.
Ketiganya memberontak saat ditarik ke atas. Ketika Nero akan memotong jaring itu menggunakan tangan pisaunya, mata tiga pemuda itu melebar saat melihat Hugo menarik mereka menggunakan satu tangan. Tubuh manusia besar itu tergantung dengan rantai yang mengikat tubuhnya pada bagian bawah helikopter. Tiga mafia muda terdiam saat helikopter yang membawa mereka terbang melintasi lautan di hari menjelang fajar entah akan dibawa ke mana.
"Sampai kapan kita tergantung seperti ini?" tanya Neil karena merasa sesak dan terhimpit.
"Entahlah. Aku dingin," rengek Nero.
Sedang di tempat Sengkuni berada.
Sengkuni tampaknya memang sengaja membuat King D dan kawan-kawannya tewas saat dalam perjalanan karena pemuda itu terus mengirimkan pasukannya untuk menggagalkan misi para mafia.
"Apakah ... mereka semua sudah terbang ke sini?" tanyanya sembari menikmati sate ayam di sebuah sofa hitam.
"Sudah, Tuan," jawab seorang pria bertopeng dengan tato yang sama seperti Hope dan Sengkuni.
"Bagus. Habisi orang-orang tua itu. Mereka sudah tak berguna. Kini waktunya bagi kita untuk mengambil alih dunia," titahnya dengan seringai dan tak menutupi sosoknya lagi ketika berubah menjadi manusia setengah monster.
"Laksanakan," jawab pria bertato itu seraya membungkuk.
Pintu ruangan dibuka. Terlihat sebuah ruangan besar dengan belasan krangkeng besi berisi para monster berupa manusia dan hewan-hewan yang selama ini ditangkap oleh Sengkuni. Mereka menjadi buas dan liar. Selain itu, mereka telah melewati fase di atas normal karena Sengkuni menyuntikkan serum kemampuan khusus kepada monster-monster itu sehingga mereka lebih mematikan.
"Kirimkan mereka kepada para tetua," ucap pria bertato itu yang diangguki oleh pasukan pria bertopeng.
"Kau gila!" teriak Irina.
Tubuh gadis cantik itu kini digantung pada langit-langit bangunan sebuah hangar pesawat salah satu bandara di Australia. Irina dan para mafia yang berhasil ia tangkap dijadikan kepompong seperti zaman The Circle ketika menyekap tahanannya.
Sengkuni tertawa licik sembari bertepuk tangan tak terlihat terintimidasi dengan hal itu. Mata Han dan lainnya melebar saat melihat manusia-manusia sakit yang terkurung dalam jeruji besi dimasukkan ke pesawat kargo dalam jumlah belasan siap dikirim ke markas aktif anggota 13 Demon Heads dan The Circle.
"Ya Tuhan King D. Kau di mana?" guman Irina ketakutan.
***
Tengkiyuw jeng Sofia atas tipsnya. Lele padamuđź’‹ yg lain ditunggu vote vocernya ya keburu angus~
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE