
...IPO...
Irina tak menyangka jika King D begitu agresif bahkan ia bisa merasakan napas pria itu memburu layaknya seekor binatang.
"D! Agh!" rintihnya karena putra Javier tersebut seperti orang kesurupan yang kalap dan tak sadar saat dirinya merobek gaun sang istri di punggung. "D! Kau merusak bajuku!" teriak Irina karena ia sampai jatuh ke karpet sebab punggungnya tak ditopang lagi dengan tangan suami.
Irina yang merasakan perubahan dalam diri King D segera menanggalkan pakaiannya dan hanya mengenakan dalaman. Irina kesal karena gaun pernikahan yang baginya begitu cantik itu kini menjadi gombal.
"Hempf! Hempf," dengkus King D dengan napas memburu menggenggam gaun Irina erat. "Harghh!"
BRUKK!!
"Agh!" rintih Irina saat punggungnya diterkam dari belakang dan membuatnya jatuh tersungkur di atas kasur.
Irina yang merasa sikap King D tak wajar melakukan pemberontakan, tetapi sebuah naluri dalam diri pria itu seperti mendominasi dan menggelapkan pikirannya.
"Eh?"
"Ada apa?" tanya Arjuna saat putra dari Naomi -Jordan menoleh tiba-tiba.
"Mm ... entahlah. Aku sedikit tak yakin," jawabnya seraya mengelus daun telinga di mana pendengaran pemuda itu setajam King D.
Tak lama, Loria mendekat. Arjuna mengelus kepala putrinya yang tumbuh dewasa dan mulai terlihat mirip seperti Tessa. Naomi balas tersenyum saat Loria memeluknya.
PRANG!!
Praktis, suara pecahan barang membuat kepala semua orang menoleh. Match terlihat canggung karena ia tampak kesulitan untuk minum akibat tangan besarnya. Gelas yang dipegangnya selalu pecah dan hal itu membuatnya jengkel. Jason dengan sigap membantu, tetapi hal itu menjadikan mantan algojo Theresia tersebut tertunduk malu.
"Oh! Bukankah Neil bisa menyembuhkan luka? Bukankah ada serum seperti kemampuanku yang bisa menumbuhkan bagian tubuh yang terpotong?" tanya Loria memberikan ide.
"Ah, kau benar!" seru Sig dengan mata berbinar.
"Tidak."
"He?" sahut Loria dan Sig bersamaan.
__ADS_1
Match berjalan mendekat layaknya gorila dengan dua tangan menopang tubuhnya. Jason berjalan di sampingnya menemani.
"Serum itu akan menumbuhkan kembali tanganmu, Match," ucap Loria menegaskan.
"Tidak. Aku rasa ... ini adalah hukuman dari buah masa laluku. Aku seorang tukang jagal manusia. Tangan ini penuh dosa. Aku terima hukumanku dengan kehilangannya," ucap pria itu seraya melihat telapak tangannya yang berubah menjadi layaknya kera.
"Wow! Apakah ucapan itu sungguh keluar dari mulutmu? Ibarat ... orang bertaubat?" tanya Arjuna berkesan menyindir.
Match menarik sudut bibirnya. "Zaman saja berubah, aku juga harus mengikutinya. Aku tak mau menyesal sepertimu saat orang yang kusayangi tiada. Apakah ... kau masih merasa bersalah atas kematian Ibumu? Kau salah satu penyebabnya," balasannya menyindir.
Arjuna memasang wajah dingin lalu beranjak pergi. Loria dan Sig tampak canggung sehingga memilih diam. Naomi menatap Match tajam seperti menegurnya, tetapi pria itu hanya tersenyum lalu pergi.
"Jadi ... nikmati pestanya karena besok, kita melakukan proses inkubasi," jawab Jason lalu meneguk wine dari gelas dalam genggaman.
Di sisi lain, kamar King D.
Napas Irina tersengal karena King D begitu liar. Ia terus-menerus mendesaknya hingga kulit mulus wanita itu kemerahan akibat cengkeraman kuat sang suami.
"D! Hah, ada apa denganmu!" pekik Irina sampai kesulitan bernapas karena pria itu terus menekan tubuhnya dan mendaratkan bibir dengan rakus.
"Harghh!" raungnya dengan sosok predator kembali muncul.
Tubuh King D terhempas karena kekuatan Irina yang mendadak menjadi besar. Namun, hal itu juga memicu sisi predator King D dan membangkitkannya.
"Haggg!" raungnya yang kembali bangkit dan melompat ke arah Irina.
Praktis, malah pertama itu menjadi seperti ajang pertempuran di atas ranjang. Ya, perkelahian yang sesungguhnya sepasang spesies saat musim kawin.
"Mm ...."
"Kau kenapa?" tanya Fara karena Neil dan Nero tampak gelisah akan sesuatu.
"Entahlah, tetapi ada rasa menggelitik. Dadaku geli. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya," jawab Nero dengan mata berubah ungu, tetapi kemudian menjadi normal lagi.
"Apakah hal buruk akan terjadi?" tanya Fara panik.
__ADS_1
"Ya, hal buruk untukmu, My Banana," ujar Javier seraya mendekat.
"Oh! Apa maksudnya Baba?" tanya Fara gelisah.
Lysa merentangkan tangan dengan senyuman. Fara segera mendekat lalu memeluk ibunya, tetapi ia masih bingung.
"Marco tetap dengan keyakinannya. Ia tak bisa seperti Irina, dan Baba juga ingin kau berpegang teguh pada agamamu," ucap Javier yang membuat gadis itu tertunduk sedih.
"Mimi rasa kau hanya kagum padanya, Fara, bukan cinta," imbuh Lysa.
"Memangnya berbeda?" tanya gadis itu dengan wajah sendu.
Lysa dan Javier saling memandang lalu mengajak anak gadis mereka bicara dari hati ke hati di luar ruangan jamuan. Sedang para tamu lainnya, masih terlihat menikmati pesta usai memberikan pendapat kepada GIGA untuk perundang-undangan dalam kepemimpinan baru nantinya.
"Oh ya. Di mana King D?" tanya Han heran.
"Jangan ganggu, Mbah. Gak baik buat kesehatan. Udah, duduk manis sini aja makan bareng Otong," ujar Obama dengan wajah masam karena Dayana dibawa pergi oleh sang ayah entah dicekoki apa karena sudah 30 menit belum kembali.
Han tersenyum tipis dan mengikuti saran pemuda gundul tersebut.
Siapa sangka, ternyata keagresifan King D dan Irina akhirnya bisa seirama setelah keduanya sukses menghancurkan isi kamar. Mereka berdua terlilit selimut di atas karpet bulu tanpa busana karena pakaian pengantin telah menjadi robekan di beberapa tempat. King D terus melahap bibir indah itu dan menelusuri tubuh sang isteri yang terasa pas dalam sentuhannya.
Irina tak bisa berhenti menyuarakan kenikmatan ketika miliknya dipuaskan oleh keperkasaan King D. Pinggulnya merespon tiap hentakan yang diberikan dan membuat insting makhluk Mitologi dalam tubuhnya ikut merespon.
"Harg! Egg!" erang keduanya dengan mata kuning menyala terang tanpa kuku tajam muncul dari kuku jari.
Hanya saja, tubuh keduanya seakan tak memiliki lelah. Irina dan King D tak mau mengalah untuk memuaskan hasrat masing-masing. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa melepaskan keiintiiman itu agar tak kehilangan kenikmatannya. Segala macam gaya dipraktikkan seolah mereka sudah sering melakukannya padahal ini pertama kali.
Seolah tak puas meski King D sudah menyemburkan miliknya, Irina dengan sigap merapatkan tubuhnya dan duduk berhadapan di pangkuan. Napas King D memburu, tetapi tak merasakan lelah. Irina melenggak-lenggokkan tubuhnya seperti penari dalam pangkuan King D seraya memainkan rambut panjangnya. Gairah King D kembali muncul karena gelagat sang istri yang begitu sensuall dalam peluh kenikmatan.
Irina dan King D saling berpelukan erat meski tubuh bagian bawah mereka bergerak hebat. Kaki-kaki ranjang berderit karena gesekan kuat menahan beban di atasnya. Keduanya saling bersahutan untuk memuaskan hasrat masing-masing dalam romansa. Entah sudah berapa lama mereka di sana, tetapi beberapa tamu mulai lelah dan tidur di rumah penduduk yang lokasinya dekat dari Black Castle.
***
dah gini aja ya😆 kwkwkw
__ADS_1