
Mobil yang ditumpangi oleh tim dari Marco-Polo terus melaju kencang dan hanya berhenti saat pengisian bahan bakar.
Mereka melintasi beberapa kota di Rusia dalam kegelapan malam di mana jarak yang ditempuh dari Khyagt ke Irkutsk kurang lebih memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan dengan mobil.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris dan Mongol. Terjemahan.
"Bagaimana, Paman Souta? Apakah sudah berhasil dihubungi?" tanya Polo terlihat serius saat mengemudikan laju mobilnya dan sudah berganti tugas dengan Marco karena matahari telah menunjukkan sinarnya.
"Belum. Padahal tinggal sedikit lagi kita sampai. Ini gawat," jawabnya dengan sebuah telepon satelit dalam genggaman.
Semua orang ikut cemas karena orang-orang Red Skull yang ditugaskan untuk melakukan penjemputan tak ada kabar. Padahal, tinggal dua jam lagi mereka tiba di lokasi.
Namun, saat kendaraan mereka menyusuri tepian Lake Baikal, terlihat beberapa kapal di tengah danau.
Mata anggota dari tim Marco-Polo langsung tertuju pada kapal-kapal tersebut entah ada penghuninya atau tidak.
Hingga tiba-tiba, SHUW! DARR!
"Hei! Lihat!" seru Fara menunjuk saat tiba-tiba saja sebuah suar dilontarkan ke atas langit dari sebuah kapal.
Praktis, mata orang-orang itu melebar seolah ada manusia yang selamat dalam kapal seperti memberikan tanda.
"Kita ke sana!" titah Souta, dan Polo mengangguk paham.
Segera, mobil melaju kencang menuju ke danau karena mereka yakin jika ada manusia selamat yang bertahan di kapal itu.
Mata Polo menajam saat mobil berhasil merapat ke tepian sebuah dermaga tempat kapal-kapal lain singgah.
"Polo, bagaimana?" tanya Souta yang ikut meneropong dan melihat banyak manusia melambaikan tangan di geladak kapal.
"Ada sekitar 15 orang di atas kapal, Paman. Ini hebat!" jawabnya dengan wajah sumringah.
Namun, hidung Marco kembali bergerak dan wajahnya terlihat serius.
"Marco?" panggil Souta menatap lelaki bermanik merah itu lekat.
Benar saja, "Monster! Aku mencium bau monster yang sangat kuat dekat sini!" seru Marco yang membuat kawan-kawannya panik seketika.
"Harghhh!"
"AAAA!" teriak Fara histeris saat melihat sekumpulan monster muncul dari balik rimbunnya pepohonan.
Semua orang panik seketika. Polo dengan sigap menekan pedal gas dan melaju mobilnya lagi dengan kencang.
"Tabrak saja!" seru Marco yang dengan sigap mengarahkan moncong senapan berisi Rainbow Gas Halusinasi dari balik jendela yang terbuka.
"Mereka banyak sekali!" seru Ganzorig yang duduk di bangku belakang di mana kaca jendela tersebut bisa diturunkan.
Sekejap, mobil berpenumpang para manusia sehat itu dikerubungi oleh sekumpulan monster yang tampak beringas.
"Argh!" erang Turgen saat senapannya ditarik oleh seorang monster ketika ia akan menembakkannya dari balik celah jendela.
"Tutup jendelanya! Jangan biarkan mereka menangkap kalian!" seru Polo yang bersusah payah untuk pergi dari lokasi itu, tapi jalannya terhalang oleh para monster yang tiba-tiba saja mengepung mobilnya.
"Harrghh!"
"Arghh!" erang Oktai ketika tangan seorang monster berhasil menyelinap di celah jendela karena senapan milik lelaki Mongol itu tersangkut.
Leher lelaki itu dicengkeram hingga wajahnya terpepet jendela.
__ADS_1
"Oktai!" seru Fara melotot saat melihat wajah dari monster itu berusaha masuk melalui celah untuk menggigit pria berambut ala tentara itu.
Namun, Fara dengan sigap, JLEB!! JLEB!!
"Hargghh!"
"Dasar tangan kotor!" seru Fara marah seraya menusukkan ujung belatinya ke tangan monster itu berulang kali hingga darah berwarna hijau kehitaman itu menetes mengenai pakaian Oktai.
"Darah monster itu mengenainya!" seru Turgen melotot.
"Darah monster tak menular, tapi bisa membunuhmu! Kami punya penawarnya, jangan takut!" ungkap Souta yang dengan sigap mendorong senapan Oktai yang tersangkut lalu menutup kaca jendela.
Tangan monster itu tersangkut, tapi Fara dengan cekatan menarik pedang Silent Blue dan menyalakan lasernya.
SRINGG! KRASS!!
"Woah!" seru Turgen dan lelaki Mongol lainnya saat Fara menebas tangan itu hingga terputus.
Oktai berteriak histeris karena cengkeraman tangan monster tersebut masih berada di lehernya.
Oktai segera melepaskannya meski terlihat ketakutan ketika melemparkannya ke sembarang tempat.
"Harrghhh!"
"Kita terkepung! Mobilku tak bisa bergerak!" seru Polo panik dengan mata melebar saat para monster itu melompat dan kini menutupi seluruh bagian mobil.
"Injak pedalnya!" teriak Marco sampai tangannya gemetaran dengan pistol dalam genggaman terarah ke kaca depan mobil di mana wajah para manusia beringas itu terlihat jelas di sana.
"Tidak bisa! Sepertinya ada tubuh monster yang tersangkut! Kita terjebak!" jawab Polo panik dan terus menginjak pedal gasnya, tapi hanya suara deru mobil yang terdengar berikut raungan para monster.
Semua orang di dalam kendaraan itu ketakutan karena mobil tak bisa bergerak dan Polo tak bisa melihat jalanan.
"Hiks, baba ... mimi ...," tangis Fara ketakutan yang berjongkok di bangku dudukkan tengah kehilangan nyalinya.
Para monster itu berusaha menjebol pertahanan dari mobil tersebut seperti mencoba untuk menerobos masuk.
Marco dan Polo saling memandang terlihat tegang dengan wajah pucat, begitupula Souta yang tampak panik karena mereka terkurung dalam mobil bersama kawan-kawannya.
"Harrghhh!"
DUAKK! DUAKK! KRAKK!
"Kacanya retak!" teriak Ganzorig dengan wajah pucat pasi dan sudah berkeringat karena panik.
Semua orang tetap memegang senjata meski terlihat jelas ketakutan di wajah mereka. Saat orang-orang itu berusaha untuk tetap tegar dan berusaha untuk melawan jika sampai pertahanan jebol, tiba-tiba saja ....
"Oh!" pekik Marco yang membuat semua orang kini menatapnya saksama. "Kalian dengar itu?" sambungnya memecah ketegangan dari dalam mobil.
"Suara helikopter!" seru Polo yang langsung mendongak ke atas meski tak bisa melihat apa pun dari balik mobil.
Tangis Fara mereda meski wajahnya sudah tergenang air mata.
Tiba-tiba, DUWARR! DUWARR!!
"Lihat!" pekik Oktai menunjuk ke balik jendela belakang di mana terlihat kepulan asap warna hijau menyeruak di balik para monster yang mengerubungi mobil mereka.
Para monster itu seperti mengerang kesakitan dan beberapa dari mereka jatuh satu per satu. Fara dan lainnya saling berpandangan tampak bingung dengan yang terjadi.
Namun, lagi-lagi, DUAKK!! PRANG!!
"AAAAA! AAAAA!" teriak Fara saat melihat kaca samping dudukkan Polo pecah dan tangan seorang monster berhasil menangkapnya.
__ADS_1
Monster itu menarik kerah baju Polo dengan sebagian tubuhnya masuk ke dalam melalui celah pecahan kaca. Darah hijau kehitaman itu ikut menetes di balik luka robek karena pecahan kaca.
BUAK! BUAKK!
"Singkirkan tangan kotormu dari saudaraku!" seru Marco marah seraya memukul kepala monster itu menggunakan gagang senjatanya berulang kali.
Satu per satu, kaca-kaca pada mobil pecah dan tangan-tangan para monster yang tak terkena dampak dari gas hijau tersebut berhasil menyelinap.
Tubuh orang-orang yang berada dalam mobil berhasil ditangkap kecuali Fara dan Marco.
"Arghh! Aggg!" erang Souta saat pundaknya digigit oleh seorang monster dengan wajah sudah berlumuran darah karena terkena pecahan kaca.
"Paman Souta!" teriak Fara panik.
Saat gadis cantik itu siap untuk menembak kepala monster itu dengan pistol, tiba-tiba saja, BRUKK!!
"Oh!" pekiknya terkejut ketika melihat monster yang menggigit Souta tiba-tiba saja tak bergerak lagi. Souta menarik tubuhnya ke depan segera. Namun, "AAAA! Kepalanya copot!" teriak Fara histeris yang membuat Souta ikut menoleh ke belakang hingga matanya melebar.
"Huwahhh!" seru Souta langsung melepaskan kepala itu paksa meski bajunya menjadi robek.
Polo juga berhasil lepas dari cengkeraman monster setelah ditolong oleh Marco. Tiga lelaki Mongol terlihat pucat pasi hingga napas mereka tersengal saat menyadari jika para monster yang menangkap tubuh mereka sudah tak bergerak lagi.
"Hah, hah, apa yang terjadi?" tanya Ganzorig hingga bibirnya mengering karena banyak berteriak.
KLEK!
"Hah!" pekik semua orang dalam mobil terkejut ketika muncul seorang wanita dengan sebuah pedang dalam genggaman mengenakan masker gas yang menutup matanya membuka pintu mobil.
Tiba-tiba saja, wanita bergaya punk itu menarik tangan Turgen hingga keluar dari mobil meski asap hijau pekat masih menyeruak di sekitar mobil mereka.
BRUK!
"Uhuk! Uhuk!"
"Rainbow Gas Hijau!" seru Souta yang mengenali dampak dari gas itu karena Turgen langsung menunjukkan gejalanya.
Fara dan lainnya panik. Mereka segera menutup hidung meski hal itu percuma. Namun, wanita itu tiba-tiba berjongkok lalu menyuntikkan sebuah serum berwarna hijau ke leher Turgen.
Semua orang terdiam. Mereka tahu jika suntikan tersebut adalah serum penawar. Tak lama, muncul beberapa wanita di dekat pintu mobil seraya memberikan sebuah suntikan kepada orang-orang yang masih selamat.
Fara dan lainnya bergegas menyuntikkan serum itu ke tubuh mereka karena mulai merasakan dampak dari gas hijau tersebut.
"Keluar," ucap salah seorang wanita dan orang-orang dalam mobil mengangguk dengan wajah tegang.
Saat mereka keluar dari kepulan asap hijau, mata orang-orang itu melebar ketika mendapati beberapa wanita berdiri di samping helikopter dengan baling-baling sudah tak bergerak lagi.
"Paman Arthur!" seru Fara senang saat mengenali sosok lelaki satu-satunya diantara kumpulan wanita itu yang berdiri seraya memegang senapan pelontar granat Rainbow Gas.
Namun, Arthur tak menyambutnya dengan senyuman. Malah, semua moncong senjata terarah ke tubuh Fara. Praktis, senyum Fara sirna seketika dan langkah riangnya terhenti.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy makasih tipsnya. lele padamuš mau kasih foto bang Arthur tapi cari gambar yg cucok g ada. masa diedit jadi tua dan brewokan š©
selain itu, kayaknya monster hunter gagal crazy up. perut lele makin membuncit dan suka tegang jadi gak awet duduk lama2. itu aja infonya doakan lele sehat syelalu. tengkiyuwā¤ļø
__ADS_1