
Gaes. Eps judul Pertempuran Terakhir abaikan aja. itu si Hula2 ngeklik kirim pas naskahnya blm jadi dan masih bentuk kerangka. jdi masih semrawut. lagi lele mintain tlg ke editor bwt bantu apus smg msh bisa krn itu nyempil diantara eps. bikin pening kepala adeh😩
--- back to story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Florida, Cape Canaveral, Amerika.
Di tempat jasad Safa berada.
Daging di tubuh wanita malang itu sudah tak bersisa. Darahnya yang menggenangi permukaan dijilati oleh para monster seperti tak sudi jika sampai ada yang tertinggal. Hewan-hewan itu begitu rakus dan kelaparan, tapi belum puas sampai dua manusia terakhir di tempat itu ikut masuk ke perut mereka.
Martin dan Arthur yang kini diincar oleh sekumpulan monster binatang berlari sekencang-kencangnya agar tak terbunuh. Seluruh amunisi dan senjata yang dimiliki sudah tak ada lagi yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Satu-satunya cara adalah dengan kabur sebisa mungkin sampai tak mampu lagi.
"Arthur! Naik ke atas!" teriak Martin yang sudah tiba lebih dulu di luar gedung museum sembari melepas sepatu rodanya.
Martin menggenggam dua sepatu rodanya yang siap digunakan sebagai senjata terakhir. Pria berambut gondrong itu ikut disibukkan oleh para monster serigala yang berusaha memanjat ke atas bangunan. Martin menjadikan dua sepatu roda sebagai senjata untuk memukul kepala hewan-hewan bertaring itu agar tak menggapainya.
"Aku dibangunkan bukan untuk tujuan ini!" teriak Martin marah besar dengan keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh.
Di tempat Arthur berada.
"Meawww!"
"Arrghh!" erang Arthur saat seekor kucing monster melompat ke punggung.
Kuku tajam makhluk itu sukses mencakar tengkuk pria tersebut dan menorehkan luka. Praktis, darah yang mengalir dari bekas luka cakaran, membuat para monster semakin beringas.
"Menyingkir!" teriak Arthur menahan sakit di tengkuk seraya menangkap tubuh kucing monster lalu dilemparkannya jauh.
Arthur kembali berlari seraya memegangi tengkuknya yang terasa perih saat monster anjiing dan kucing lain mengejarnya. Arthur berhasil menaiki tangga di sisi lain gedung menuju ke atap. Martin berlari mendatangi Arthur di mana dua pria itu saling memunggungi dan mulai didatangi para monster yang berhasil memanjat. Saat Martin dan Arthur dilanda kepanikan, hujan lebat mulai mengguyur wilayah tersebut disertai angin kencang hingga menyulitkan pandangan.
Napas keduanya terengah dengan tubuh basah kuyup. Dua pria itu tak tahu lagi harus bagaimana melawan para monster karena tak memiliki senjata pembunuh. Hingga tiba-tiba, Martin menyadari sesuatu.
"Bukankah itu ...," ucap Martin seraya menunjuk sebuah benda yang terpasang layaknya menara di atas bangunan tersebut.
"Pemancar fatamorgana!" pekik Arthur yang diangguki oleh Martin.
"Pemancar itu aktif! Hancurkan agar tim lain bisa segera datang membantu kita!" seru Martin bertitah.
Keduanya terlihat seperti mencari sesuatu agar bisa kabur dari kepungan para monster itu.
"Sial. Ini pasti akan menyakitkan, tapi ... aku tak mau mati sebelum mencoba," ucap Martin siap dengan dua sepatu roda dalam genggamannya.
"Aku akan mengurusnya. Bertahanlah!" ucap Arthur bersiap di mana ia harus menerobos sekumpulan monster anjiing dan kucing.
"Dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!" seru Martin seraya berlari di belakang Arthur.
Praktis, gerakan tak terduga dari dua pria itu membuat para monster terkejut, tapi kembali agresif. Mereka berlari mengejar dua manusia yang sedang menuju ke sebuah menara seperti ingin melakukan sesuatu.
DUAKK!!!
"Meaww!" raung seekor monster kucing ketika Arthur dengan sengaja memukulnya ketika melompat untuk mencakar.
Arthur dikeroyok oleh para kucing, tapi ia berusaha mengabaikan rasa sakitnya. Arthur menahan rasa perih dengan terus berlari menuju ke besi penyangga Pemancar Fatamorgana untuk dirusak.
BUAKK!!
"Cepat!" teriak Martin lantang saat ia mulai kewalahan karena dikerubungi oleh para monster yang ingin memangsanya.
__ADS_1
Arthur berhasil memanjat meski wajahnya terluka terkena cakaran. Baju tempurnya robek dan darah segar kembali menetes seiring derasnya air hujan yang mengguyur wilayah itu.
"Arrghhh!" erangnya saat berhasil menggapai pemancar fatamorgana dan berusaha mematahkan piringan tersebut.
Martin mulai terdesak karena banyaknya monster yang berusaha untuk menjatuhkannya. Keringatnya telah bercampur dengan guyuran air hujan. Rasa hausnya terobati karena menelan air cukup banyak meski terpaksa.
KRAUKK!
"Argh!" erang Martin saat tangannya yang memakai sepatu roda digigit. Martin mendorong tubuhnya hingga monster serigala itu terhantam tembok. Martin yang kesakitan, balas menggigit telinga hewan itu dan membuat gigitannya terlepas. "Arthur!" teriak Martin saat dirinya terpojok dan terpaksa ikut memanjat ketika melepaskan sepatu roda di dua tangannya.
"Agh! Harg!" erang Arthur karena pemancar itu dipasang sangat kuat sehingga susah dipatahkan.
"Lakukan bersama! Hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!"
"HARGHHH!" erang keduanya saat memegang piringan pemancar sinyal lalu mendorongnya.
Martin dan Arthur menggunakan berat tubuh untuk membuat benda itu bengkok. Ternyata, usaha dua pria itu berhasil meski harus menahan sakit teramat sangat ketika kaki telanjang mereka digigit monster kucing.
KLAK!! BRANGG!!
"Yeah!" seru Arthur senang dan menjadikan benda yang patah itu sebagai senjatanya.
Martin ikut mengambil patahan puing tajam sebagai senjata untuk melindungi diri. Praktis, pertempuran babak berikutnya terjadi di atap bangunan tersebut.
Markas Jordan, Q dan Eiji berada.
Mata tiga pria itu terbelalak lebar saat melihat sinyal dari Martin dan Arthur kembali aktif. Satelit Theresia dan Elios langsung menyorot ke wilayah pertempuran.
"Mereka bisa mati! Kita harus lakukan sesuatu!" pekik Eiji panik saat melihat dua kawannya dikeroyok sekumpulan monster.
Saat Martin dan Arthur sudah diujung tanduk, tiba-tiba ....
"Hahaha, haha, yeah!" seru Arthur gembira karena merasa diselamatkan.
Akan tetapi, DODODODODOOR!!
"Awas!" teriak Martin panik ketika senjata otomatis yang dipersiapkan Sengkuni untuk menyambut musuh-musuhnya kembali bertugas.
Helicam bersenjata itu meledak dan jatuh diantara kumpulan para monster yang siap memangsa mereka. Perasaan kecewa langsung menghampiri dua pria itu saat melihat bantuan tersebut gagal menyelamatkan. Ketika dua orang itu merasa tak akan ada yang datang membantu, tiba-tiba ....
"Martin!" seru Arthur ketika melihat beberapa drone berukuran besar dikendarai manusia yang berdiri di atasnya terbang ke arah mereka.
Mata Martin dan Arthur melebar seketika saat menyadari jika orang-orang tersebut adalah tim dari King D.
"Gooarr!!"
"Awas! Awas!"
Arthur dan Martin dengan sigap menjatuhkan diri di atas lantai. Mereka menutupi kepala saat King D dan lainnya menembaki para monster.
"Menyingkir!" teriak Irina lantang seraya menjatuhkan sebuah benda ketika terbang di atas mereka.
Martin mendapati sebuah benda seperti penyumbat telinga. Arthur yang menyadari jika ada Junior di antara mereka segera memasang benda itu. Martin bingung, tapi mengikuti apa yang dilakukan oleh Arthur. Benar saja ....
"Iiieekkk!"
"Agh!" erang Martin karena kurang tepat saat memasang alat penyumbat tersebut di telinganya.
Martin memejamkan matanya rapat menahan rasa sakit hingga kepalanya seperti ingin pecah. Arthur melihat jika Martin kesakitan dan dengan sigap menekan penyumbat telinga itu lebih dalam lagi. Martin tergeletak dengan wajah basah terkena guyuran hujan. Matanya menyipit saat tak lagi mendengar lengkingan mematikan tersebut.
__ADS_1
Perlahan, Martin memiringkan tubuhnya dan melihat kumpulan orang-orang di atas drone sedang melawan para monster.
"Mereka ...," ucapnya bingung dengan kening berkerut saat melihat para monster menggelepar di atas lantai atap bangunan karena lengkingan mematikan Junior.
Arthur menarik tubuh Martin dan mengajaknya pergi dari tempat itu saat King D berikut orang-orangnya membantai para monster. Martin dan Arthur melepaskan penyumbat di telinga ketika melihat Junior terbang ke arah mereka lalu memberikan kode dengan dua tangan untuk mengikutinya. Martin dan Arthur mengangguk paham. Romeo yang tersiram air hujan terlihat begitu gembira seolah energinya kembali penuh seperti baterai usai diisi ulang.
"Cepat pergi dari sini!" teriak King D yang melompat turun dari drone miliknya di mana benda itu bisa melayang dengan sendirinya tanpa pengendali.
Junior menggiring mereka ke arah pesawat Bell Boeing V-22 Osprey yang didapat oleh Tim King D saat mereka tiba di Iran. Ternyata, William ingat ketika Sengkuni melakukan pencurian pesawat dan helikopter kargo milik pemerintah untuk disalahgunakan. Namun, hal itu menjadi sangat tepat ketika timnya membutuhkan armada untuk segera tiba ke Amerika. Hanya saja, orang-orang itu tetap harus singgah di beberapa negara untuk pengisian bahan bakar.
Anak buah Hope menyimpan persediaan bahan bakar untuk mereka sendiri ketika melakukan aksi dengan kedok sebagai penyelamat. Padahal tujuan sebenarnya adalah untuk mengumpulkan para manusia demi dijadikan monster. Sayangnya, hal itu tak pernah diketahui oleh William dan Romeo saat menjadi sekutu. Beruntung, kendaraan terbang yang memiliki fungsi kombinasi layaknya helikopter tersebut, membuat pendaratan mereka mudah karena tak membutuhkan landasan pacu yang panjang untuk menerbangkan pesawat.
"Hoh, hoh!" seru Junior saat menunjuk pintu pesawat yang terbuka.
Arthur dan Martin segera masuk dengan tergesa menuju ke arah kokpit. Junior melompat turun dari drone dan ikut masuk, tapi hal itu malah mengejutkan pria berambut gondrong itu.
"Woah! Dia ini ... siapa?" tanya Martin dengan mata melotot karena sosok Junior cukup mengerikan untuknya.
"Putra Sandara dan Jordan. Nanti akan kuceritakan. Sekarang masalahnya adalah ... bagaimana menerbangkan benda ini!" pekik Arthur bingung saat melihat panel-panel di papan kendali ruang kokpit tersebut.
"Hoh, hoh!" tunjuk Junior seperti memberikan instruksi bagaimana mengoperasikan benda terbang tersebut.
"Oh, kau tahu cara menerbangkannya?" tanya Martin, dan Junior mengangguk.
"Well, oke. Bangkuku untukmu saja. Aku akan melindungi kalian," ucap Martin lalu beranjak dari kursi.
Junior dengan sigap melompat ke arah kursi. Gerak-gerik Junior membuat Martin salah tingkah sendiri, antara ngeri dan kagum dengan wujud bocah lelaki berkulit pucat yang tak lain adalah anak dari pasangan mafia dalam jajaran. Beruntung, hujan perlahan berhenti saat pesawat itu siap untuk lepas landas. Akan tetapi, para monster yang berhasil kabur dari aksi pembantaian King D dan kawan-kawan, membuat pesawat itu menjadi sasaran.
"Terbangkan pesawat ini, cepat!" seru Martin panik dan bergegas mengambil senapan laras panjang yang berada dalam kotak hitam dalam kabin.
"Guk! Guk! Harrrr!" raung seekor anjiing yang ikuti monster-monster sejenisnya, siap masuk melalui pintu pesawat yang terbuka.
"Kenapa harus anjiing!" teriaknya marah mengingat Martin adalah penyuka hewan tersebut, bahkan ia memiliki usaha legal berupa pet shop terbesar di Colombia.
Namun, Martin yang tak mau mati hari itu, terpaksa menghabisi makhluk-makhluk tak berdosa dengan senjata temuannya.
DODODODOOR! BLUARR!! CRATT!!
"Hati-hati darahnya!" teriak Arthur saat ia ikut tergesa karena kesulitan memahami pengoperasian pesawat yang tak pernah ia terbangkan sebelumnya.
Martin baru ingat jika darah monster beracun. Ia yang terluka dibeberapa bagian tubuh segera melindungi diri. Martin dengan sigap memakai sepatu magnet dan juga penutup kepala layaknya helm untuk melindungi diri. Tubuh pria itu kini tertutup sepenuhnya. Martin makin percaya diri untuk memusnahkan para monster yang ingin memangsanya.
"Rasakan ini!"
DODODODOOR!!
BLUARR!
Senapan mesin berisi peluru ledak dengan sigap menembus tubuh para monster lalu meledakkan tubuh mereka. Pesawat berhasil lepas landas meski mereka harus terbang menjauh dari lokasi di mana sistem persenjataan otomatis yang dipasang Sengkuni diingat oleh William. Ingatan ayah dari Irina semakin membaik dan ia siap membantu King D untuk menggagalkan peluncuran roket.
"King D! Pergilah ke tempat peluncuran! Seingatku, 1 jam setelah para monster dibebaskan, roket akan meluncur secara otomatis!" teriak William yang membuat mata King D melebar seketika.
"Serahkan pada kami! Pergilah! Kami akan menyusul!" seru Romeo yang masih disibukkan oleh para monster anjiing yang berusaha menangkap drone miliknya.
King D mengangguk paham dan segera menaiki drone-nya. Akan tetapi ....
"Argh!"
"King D!" teriak Irina dengan mata membulat penuh saat rahang para monster serigala menggigit kuat kaki putra Javier tersebut hingga King D memejamkan matanya rapat.
__ADS_1