
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Kembali ke tempat Nero, Neil dan Sig berada. Saat fajar menyingsing.
"Nero! Nero! Bangun!" panggil Sig lantang yang membuat cucu Bojan tersebut melebarkan mata.
Praktis, pemuda itu terperanjat saat menyadari jika kapal yang dikemudikannya membawa mereka ke tempat tak dikenal. Tepatnya, di lautan lepas dengan tepian tak terlihat. Nero langsung berdiri dan keluar dari ruang kemudi menuju geladak di mana Sig dan Neil sudah tampak panik.
"Kita di mana?" tanya Neil pucat.
"A-aku tak tahu ...," jawab Nero seraya memegangi kepala. "A-aku minta maaf. Aku ketiduran," ucapnya terlihat seperti akan menangis.
Sig dan Neil yang awalnya ingin marah karena menganggap Nero ceroboh, tiba-tiba menjadi iba saat melihat kawan mereka berlinang air mata. Sig dan Neil mengembuskan napas panjang lalu mendekati putera Sun tersebut.
"Ini salah kami juga karena membiarkanmu mengendarai kapal tanpa ditemani. Maaf ya," ucap Sig tak enak hati seraya menepuk salah satu pundak kawannya.
Nero menghapus air matanya dengan anggukan. Neil hanya bisa memonyongkan bibir karena bingung dengan kondisi ini. Tiga pemuda itu baru sadar jika bahan bakar kapal telah habis. Mereka juga merasa jika telah melewati Mumbai.
"Sekarang bagaimana?" tanya Nero bingung.
Sig dan Neil tampak serius berpikir.
"Oh! Kita bisa gunakan itu!" pekik Neil seraya menunjuk ke bagian atas kapal di mana terdapat canoe karet dengan dayung sebagai pelengkap. Praktis, senyum para pemuda itu melebar.
"Kau ingin kita mendayung sampai menemukan pulau terdekat?" tanya Nero dengan mata melotot.
"Lalu bagaimana? Kita diam saja di sini? Aku lebih nyaman menyentuh tanah ketimbang air yang tak terlihat dasarnya," ucap Neil seraya melongok ke arah lautan.
"Hanya saja, ke mana tujuan kita? Jangan sampai salah memilih atau kita akan tersesat lebih jauh lagi," ucap Sig yang membuat dua pemuda itu bungkam.
"Aku tak tahu apa pun soal lautan," sahut Neil seraya menggaruk kepala.
Namun tiba-tiba, ia menjentikkan jari. Praktis, mata Sig dan Nero langsung tertuju ke arahnya. Neil berjalan menuju ke buritan kapal dan menuruni tangga. Ia berjongkok di bagian belakang kapal seraya melihat ke dalam air dari permukaan.
Nero dan Sig yang bingung diam saja, tapi kemudian mereka terkejut saat Neil meletakkan dua tangannya ke dalam air. Dua pemuda itu serius menatap Neil yang memejamkan mata seperti ingin melakukan sesuatu. Saat Neil membuka mata, warna putih kembali terlihat seperti saat ia ikut bertempur di Black Castle kala itu.
Tiba-tiba saja, "Woah!" pekik Nero terkejut yang membuat Sig ikut terperanjat.
Seketika, muncul beberapa ikan di sekitar tangan Neil. Dua pemuda itu menjauh dari tepi kapal karena jumlah ikan-ikan itu banyak sekali dan beraneka macam. Antara takjub dan ngeri menjadi satu karena fenomena unik itu.
"Ah ... jadi ... bisa tunjukkan padaku, ke mana kah pulau terdekat dari sini?" tanya Neil seolah bisa bicara dengan ikan-ikan itu.
__ADS_1
Ajaibnya, hewan-hewan air itu seperti memahami ucapannya. Mereka bergerak bersamaan menuju ke arah Selatan dalam formasi segitiga. Nero dan Sig saling melirik dengan wajah tegang. Neil tersenyum lalu menoleh ke arah kawan-kawannya masih dalam posisi berjongkok dan tangan masuk ke air.
"Cepat turunkan kano itu! Aku tahu ke mana harus pergi," ucapnya dengan wajah berbinar.
"O ... oke," jawab Sig dengan anggukan karena masih bingung dengan kondisi ini.
Segera, Nero dan Sig menurunkan kano tersebut. Mereka siap meninggalkan kapal dengan membawa perlengkapan seadanya. Dua pemuda itu mendayung kano dengan Neil sebagai penunjuk jalan mengikuti arahkan para ikan. Mata Sig dan Nero sibuk melirik ke kanan ke kiri karena banyak ikan berenang bersama mereka di sisi kiri dan kanan.
Lama mereka mendayung hingga akhirnya memasuki perairan dangkal. Air laut yang gelap berubah menjadi berwarna biru muda yang terang. Terumbu karang terlihat dan tampak wilayah pantai berpasir putih yang indah di kejauhan.
"Daratan! Ada pulau di depan!" teriak Neil senang seraya menunjuk.
Seketika, senyum tiga pemuda itu terkembang. Sig dan Nero yang awalnya kelelahan kembali semangat saat mendayung. Akhirnya, perahu tersebut berhasil merapat di pulau tersebut meski masih tak diketahui di mana mereka berada. Bahkan, tempat itu terlihat begitu menjanjikan karena banyak bungalow seperti kawasan wisata meski sepi tak terlihat manusia atau monster di tempat itu.
"Bagaimana?" tanya Nero menatap Sig lekat.
"Ekorku tak berderik. Tak ada ancaman di tempat ini," ucapnya yakin dengan mata memindai sekitar saat mereka sudah memijak daratan di pantai pasir putih.
"Terima kasih, teman-teman!" teriak Neil seraya melambaikan tangan ke ikan-ikan yang mengantarkan mereka ke pulau terdekat di siang terik.
"Oh, lihat! Model tulisannya seperti ... apakah kita di India?" tanya Neil saat mendapati papan petunjuk pada sebuah bangunan.
"Kau benar! Kita di India. Sebentar, namanya sulit," sahut Nero saat mendapati tulisan dalam bahasa Inggris pada sebuah kapal.
"Lak-sha-dweep," ucap tiga pemuda itu bersamaan mengeja tulisan tersebut. Namun kemudian, ketiganya diam untuk sejenak.
"Aku ... tak tahu di mana itu? Jika ini India, kenapa ... pulaunya seperti sebuah pulau pribadi dan tak menyatu? Bukannya India berada di sebuah benua Asia yang besar?" tanya Nero bingung seraya mengingat pelajaran geografinya.
"Mungkin, Lakshadweep ini masuk dalam jajaran kepulauan. Banyak negara yang memiliki pulau-pulau kecil di sekitarnya. Aku rasa, kita berada di salah satunya. Masalahnya, jika kita benar berada di India, akan sangat jauh sekali untuk sampai Australia. Kita bisa terperangkap di sini," sahut Sig frustasi.
Tiga pemuda itu kembali pusing memikirkan nasib selanjutnya. Mereka akhirnya sepakat untuk melihat sekitar mencari cara agar bisa keluar dari pulau untuk tiba di Australia. Hingga akhirnya, Sig menemukan peta di sebuah bungalow di mana terdapat helipad di wilayah itu.
"Kau bisa menerbangkan helikopter? Kau yakin?" tanya Nero tak menduga jika Sig bisa melakukannya.
"Begitulah. Hanya saja, aku ingin memastikan jika helikopter itu memang jenis kecil atau sedang. Jika helikopter besar, kargo, atau militer aku tak bisa," ungkapnya.
Neil dan Nero mengangguk paham. Mereka kemudian menyusuri wilayah tersebut dengan berlari kecil agar segera tiba di lokasi helikopter berada. Beruntung, mereka menemukan sepeda dan juga papan skateboard. Sig mengendarai sepeda, sedang Neil dan Nero berdiri pada papan luncur seraya berpegangan pada besi sepeda.
Tiga pemuda itu terlihat senang. Mereka seperti tak terlihat tertekan dan terancam akan misi serta wabah monster yang masih menguasai Bumi. Hingga akhirnya, mereka berhasil tiba di tempat helikopter berada. Beruntung, benda terbang itu tersedia di sana.
__ADS_1
Sig segera memeriksa kendaraan tersebut. Anehnya, ada sebuah surat yang diletakkan pada bangku helikopter seperti sudah dipersiapkan. Kening Sig berkerut.
"Oh, surat lagi?" tanya Neil saat mengenali bentuk surat itu. Sig mengangguk dan segera membukanya.
"Kau tahu cara menerbangkan benda ini, Sig. Kerja bagus. Meski kalian tertinggal pesawat, tapi belum terlambat untuk menyusul. Segeralah pergi karena kawan-kawan kalian dalam bahaya. Kutinggalkan GPS yang akan menuntun kalian ke lokasi selanjutnya. Berjuanglah," ucap Sig dengan mata membulat penuh.
Segera, Sig keluar dari helikopter dan melihat sekitar. Matanya menyipit seperti ingin memastikan sesuatu. Neil dan Nero ikut melihat sekitar seperti mencurigai sesuatu.
"Oh! Kalian dengar itu?" pekik Sig saat ia mendengar suara samar di kejauhan karena indera pendengarannya yang tajam hingga radius 1 km.
"Mm ... aku tak dengar apa pun. Kau?" jawab Neil seraya melirik Nero. Cucu Bojan menggeleng.
"Cepat! Segera masuk ke helikopter!" seru Sig yang membuat dua kawannya panik.
Dua pemuda itu segera masuk ke dalam saat Sig dengan sigap mengoperasikan alat kendali helikopter tersebut.
"Memangnya, ada apa, Sig? Monster?" tanya Nero panik seraya melihat sekitar saat baling-baling mulai berputar.
"Bukan. Aku mendengar ada suara mesin meninggalkan pulau ini. Mungkin itu orang yang meninggalkan surat untuk kita. Aku ingin tahu siapa orang itu," jawabnya terlihat serius.
"Bukannya Romeo si manusia setengah ikan?" tanya Neil bingung.
"Aku rasa bukan. Lihat bagian bawahnya. Utusan 13 Demon Heads. Aku rasa, surat sebelumnya yang berada di kapal juga bukan tulisan Romeo," jawab Sig yakin seraya menarik tuas hingga helikopter tersebut berhasil lepas landas.
Neil membantu Sig menjadi co-pilot selama benda berbaling-baling besar itu terbang melintasi daratan dan lautan. GPS menunjuk ke arah yang bertolak belakang dengan suara mesin yang didengar oleh Sig. Pemuda itu tampak bingung ke mana harus pergi.
"Sig. Tetaplah sesuai rute. Bagaimana jika kita tak beruntung lagi? Bahan bakar kita akan habis jika mengejar orang itu," ungkap Neil.
Nero mengangguk setuju. Sig yang ingin sekali mengungkap siapa utusan itu akhirnya mengikuti saran dua kawannya. Ia mengikuti panduan GPS di mana benda terbang tersebut menuntun mereka ke lautan dalam. Cukup lama mereka terbang hingga terlihat sebuah kapal kargo mengapung di perairan dan ada seseorang berdiri di sana seraya melambaikan tangan.
"Si-siapa dia?" tanya Nero dengan mata melotot karena wajah orang itu tak terlihat.
Mata Sig dan Neil menajam saat benda terbang yang membawa mereka siap mendarat pada helipad di atas kapal itu.
"Oh! Dia kan ...," ucap Neil saat menyadari siapa orang tersebut. Sig dan Nero mengangguk membenarkan dengan mata terfokus pada sosok tersebut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1