
Semua orang dalam helikopter tercengang saat nama Red disebut. Pria itu salah satu orang kepercayaan baik dalam jajaran Boleslav atau Theresia, diduga berkhianat pada kelompok mafia tersebut.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Sebelum aku melihat topeng Hope dibuka dan benar itu Red, aku menyangkalnya," tegas King D dan diangguki semua orang yang setuju dengannya.
"Ya wes, terserah. Anggap aja database salah orang walaupun hal itu mustahil bin mustahal. Otong yakin dengan sistem identifikasi helikopter," sahut Obama yakin.
"Sudah. Kita bahas ini nanti. Kita harus mengejar yang lain. Apakah helikopter ini bisa diterbangkan? Salah satu pintunya berlubang," tanya Irina cemas.
"Rusak dikit doang bukan perkara besar. Malah kita bisa intip keadaan di luar langsung tanpa buka tutup pintu. Ya wes, kita let's go!" sahut Obama segera bersiap untuk mengemudikan helikopter.
Semua orang terlihat kesal karena barang-barang mereka lenyap termasuk persediaan.
King D berusaha keras menahan amarahnya termasuk Irina yang mencoba menenangkan hati sang kekasih karena dirundung jengkel luar biasa.
"Lebih baik kehilangan barang-barang ketimbang orang terkasih, D," ucap Irina pelan.
King D menatap kekasihnya lekat dan tersenyum saat benda berbaling-baling itu mulai lepas landas dan meninggalkan daratan.
Helikopter King D bergegas mengejar kapal dan Jason. Diduga, mereka sedang memburu Hope entah lelaki itu kabur ke mana.
"D! Dari pergerakan kawan-kawan kita, mereka menuju Jumbo Island! Apa jangan-jangan Red balik ke kandang?" seru Obama yang suaranya terdengar di seluruh kabin.
"Kita akan cari tahu. Segera ke Jumbo Island. Jangan tunda lagi," tandasnya.
"Siap, Bos!" jawab Obama mantap.
Setelah melintasi danau yang luas, helikopter King D berhasil menyusul. Terlihat, kapal yang ditumpangi oleh Arthur dan lainnya telah tiba di Jumbo Island saat matahari terbit.
Jason juga terlihat di luar gerbang utama markas jajaran Theresia dan Boleslav seperti menunggu kedatangan teman-temannya. Segera, helikopter King D mendarat.
"Mana Hope?" tanya King D yang tak melihat buruannya bersama tim begitu menginjakkan kaki di pulau pribadi tersebut.
"Dia menghilang saat jet ski yang dikendarainya seperti sengaja memanfaatkan wilayah sekitar yang memiliki banyak pulau. Namun, kami yakin jika Hope masih berada di dekat kita sekarang. Dia sepertinya tahu jika kita akan mendatangi Jumbo Island. Kita harus waspada," jawab Arthur serius.
"Aku mengerti. Kalau begitu, aku minta kepada Otong dan paman Arthur untuk menjaga Nero, Marco, serta Fara. Kalian tetap berada di luar sebagai tim penyelamat. Jangan lengah dan waspada," tegas King D menatap dua lelaki itu tajam.
"Siap!" jawab Obama mantap dengan hormat.
Arthur berjaga di geladak kapal dengan senapan laras panjang dalam genggaman. Sedang Obama, tetap berada di helikopter seraya mengecek ulang kondisi kendaraan terbang tersebut.
"Hati-hati, kita tak tahu apa yang terjadi di dalam sana," ucap King D serius.
Semua orang yang akan masuk ke dalam markas dari pabrik senjata Boleslav mengangguk paham. Mereka berisap dengan senjata dalam genggaman yang tersisa.
__ADS_1
Jason memimpin di depan karena sosoknya adalah akses untuk masuk ke markas dengan aman.
"Selamat datang, Jason Boleslav," ucap sistem saat sosok Jason terpindai oleh kamera aktif di gerbang terluar ketika lelaki itu berjalan menuju sebuah gapura yang tertutup pintu besi rapat.
Seketika, pintu kokoh dari besi itu terbuka. Tak terlihat satu pun manusia di sekitar wilayah itu seperti ditinggalkan.
King D melirik ke arah CamGun yang kini kamera tersebut mengikuti pergerakan orang-orang dalam kelompoknya.
"Teridentifikasi. King D, Irina Tolya, Daniel Maximilian, Sakura," ucap sistem saat orang-orang itu melangkah memasuki gerbang.
Namun tiba-tiba, TET! TET! TET!
Praktis, mata semua orang melebar karena suara nyaring terdengar di sekitar kawasan. King D dan lainnya menghentikan langkah tampak panik.
"Polo!" pekik Irina saat melihat tubuh Polo dibidik oleh sinar merah dengan banyak titik.
Polo spontan mengangkat kedua tangan tampak panik.
"Tak teridentifikasi. Ancaman, ancaman," ucap sistem yang membuat King D dan lainnya panik seketika saat muncul moncong senapan mesin terarah ke tubuh Polo.
Namun dengan sigap, Jason langsung mengaktifkan ponselnya. Ia tampak tergesa melakukan sesuatu dengan layar ponsel dalam genggaman.
"Jason, apapun yang kaulakukan sebaiknya cepat. Nyawaku berada di jarimu," ucap Polo pucat saat melihat pergerakan moncong senapan itu siap untuk melepaskan tembakan.
Seketika, "Teridentifikasi. Selamat datang, Polo," ucap sistem tiba-tiba yang membuat semua orang langsung memejamkan mata sejenak tampak lega.
"Aku melakukannya tepat waktu bukan?" ujar Jason dengan senyum terkembang.
"Yah. Terima kasih," jawab Polo lega dengan tangan perlahan turun ke bawah saat sinar merah di tubuhnya lenyap.
Namun, saat orang-orang itu akan memasuki pintu utama, mereka dikejutkan oleh seorang gadis yang memasang wajah datar.
Gadis berwajah Asia itu sedang bergelantungan dengan dua tangan berpegangan kuat di bingkai pintu bagian atas seperti monyet. Praktis, mata semua orang melebar.
"Halo, Mama," sapanya.
"Reina!" panggil Sakura dengan wajah berbinar saat mengenali sosok gadis berambut hitam itu adalah puterinya.
Reina langsung melompat turun dan berlari mendatangi ibunya. King D tersenyum karena Reina mengenali Sakura. Tampak ibu dan anak itu saling menyayangi. Senyum keduanya merekah saat berpelukan.
"Hei. Kau ... mengenali kami?" tanya King D.
"Tidak. Namun, database mengenali kalian. Apakah pria bernama Yusuke adalah kawan?" tanya Reina kembali memasang wajah datar.
"Ya, dia kawan kami. Apakah ... mereka baik-baik saja?" jawab Irina cemas.
__ADS_1
"Entahlah. Aku menggantung mereka di menara," jawabnya tenang, tapi telunjuk kanannya mengarah ke sebuah menara tinggi yang menjadi pemancar komunikasi markas tersebut.
"Yusuke!" panggil King D melotot saat melihat Yusuke, Venelope, Lucy, dan dua orang bersama mereka berseragam Black Armys digantung dalam posisi terbalik.
"Reina! Mereka kawan-kawan kita!" seru Sakura.
"Oh," jawabnya pelan dengan wajah datar.
"Aku akan menolong mereka," ucap Polo cepat dan segera mengaktifkan sepatu magnet untuk memanjat.
Reina mengamati sosok Polo saksama yang hampir saja tewas karena diberondong peluru tajam karena tak dikenali oleh sistem.
Polo mendaki dengan cepat layaknya atlet panjat tebing. Terlihat, Yusuke dan lainnya lemas. Wajah mereka pucat seperti dehidrasi.
"Mereka sekarat!" teriak Polo lantang saat sudah berada di atas menara tempat menggantung orang-orang malang itu.
"Kita harus membawanya ke ruang medis. Aku akan persiapkan!" seru Jason cepat dan diangguki Irina serta lainnya.
King D membantu Polo menurunkan Yusuke dan lainnya dengan hati-hati. Sedang Reina, berdiri di kejauhan mengamati gerak-gerik Polo dan King D dalam diam.
Irina, Sakura, dan Daniel menunggu di bawah menara untuk membopong mereka masuk ke markas satu per satu.
"Reina! Kenapa kau diam saja tak membantu?" tanya Sakura terheran-heran melihat perubahan sikap pada sang anak.
"Kenapa? Entahlah, aku malas saja. Aku tunggu di dalam," jawabnya dengan wajah datar lalu melangkah masuk meninggalkan orang-orang yang sedang bersusah payah melakukan penyelamatan.
"Dia kenapa?" tanya Irina heran menatap Sakura saksama.
"Entahlah, ada yang tak beres dengannya. Akan kucari tahu begitu kita mengobati mereka. Ayo bergegas," jawab Sakura dengan kening berkerut.
Tak lama, Jason datang dengan dorongan layaknya ranjang pasien otomatis yang bisa bergerak sendiri menggunakan pengendali jarak jauh pada jam tangannya.
Satu per satu, orang-orang itu direbahkan pada ranjang beroda yang berjejer seperti kereta api. Ranjang elektrik itu bergerak mengikuti Jason menuju ruang medis. Polo tampak kagum karena baru melihat hal tersebut.
"Kau sepertinya kembar," ucap Reina tiba-tiba yang mengejutkan Polo karena ternyata, gadis cantik itu menunggu mereka di balik pintu.
"Ya. Saudaraku Marco berada di luar bersama yang lain," jawab Polo gugup dengan Sakura menemaninya.
"Kalian duluan saja," pinta Sakura yang terlihat seperti memiliki rencana pada anak gadisnya itu.
King D dan lainnya mengangguk paham. Mereka bergegas menuju ke ruang medis untuk mengobati Yusuke dan lainnya yang tampak lelah seperti sudah digantung cukup lama di menara tersebut.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya. lele padamu😘 yg lain ditunggu sedekahnya ya. tips dari denda di GC WA gara2 stiker. kwkwkw😆