
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Mereka berkumpul di kantin tempat biasanya para pekerja perusahaan farmasi menikmati makan siang.
"Hem," ucap Polo saat ia mengambil sebuah kemasan warna abu-abu seukuran buku tulis dalam lemari es penyimpanan makanan.
Lemari es besar bagaikan lemari arsip tersebut terhubung langsung dengan pabrik pengolahan dan pengemasan hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan buatan layaknya di Kastil Krasnoyarsk Rusia. Marco mendekati saudara kembarnya saat Polo memberikan beberapa bungkusan yang telah divakum agar tetap terjaga kualitas di dalamnya.
"Wah, ada beraneka ragam rasa," ucap pria bermanik merah itu saat membaca beberapa bungkusan.
"Apa ada masalah?" tanya Daniel seraya mendekat.
"Tidak. Hanya saja ... saat kami belum mengenal kalian, kelompokku bersusah payah menyambung hidup dengan mencari makanan. Bahkan, tak terpikirkan untuk menangkap ikan di laut. Kami hanya fokus membasmi para monster dan menyelamatkan manusia yang tak terjangkit. Heh, ternyata pemikiran kami sangat sempit," kekeh Marco seperti menyindir dirinya sendiri.
"Kami bisa memahami hal itu. Menurutku, yang kalian lakukan sudah sangat hebat karena bisa bertahan sejauh ini," ucap Jason, dan diangguki lainnya.
Bayu lalu memasak isi dari makanan kemasan itu dalam oven. Tampak orang-orang tersebut tak sabar untuk menikmatinya.
"Malah, dulu saat Jordan mengemukakan pendapatnya soal robot petani, banyak diantara kami yang menganggap hal tersebut konyol. Maksudnya ... kita 'kan mafia. Kok malah bercocok tanam. Namun, saat itu Bara, Rangga, terus siapa lagi ya anak-anak Demon Kids yang kasih ide waktu itu, menegaskan bahwa hal itu penting. Akhirnya kita pasrah dan nurut aja. Wong yang biayain semua Jordan dan Sandara," ucap Bayu seraya berdiri di samping oven menunggu makanannya matang.
"Bener itu. Malah, Jordan selalu menekankan, inovasinya harus sudah bisa diterapkan sebelum tahun 2050. Sering buanget itu si bos nyebut tahun 2050. Dan siapa sangka, pemikirannya tepat. Si robot petani bekerja dengan baik. Kalau gak ada dia, mungkin udah kelaparan kita," sahut Hadi panjang lebar.
Semua orang mengangguk terlihat serius mendengarkan penjelasan dua anggota The Kamvret tersebut.
"Padahal kami berharap bisa bertemu dengan Yu Jie untuk mengetahui kemampuan aneh yang muncul dalam diri kami," imbuh Fara.
__ADS_1
"Nah, soal itu juga. Kami berdua pernah nguping saat Yu Jie kasih laporan ke Dara soal siapa saja dari ketiga belas orang yang diberikan serum khusus. Sayangnya, kita gak tau orang-orang yang dipilih itu siapa. Namun, setelah liat kamu," ucap Hadi seraya menunjuk Fara. "Terus kamu Marco, Nero, Polo, dan Jason, kami yakin jika kalianlah yang terpilih."
"Em, maaf, Paman. Namun, saat bangun, aku pria normal hingga diberikan suntikan serum yang membuatku menjadi seperti ini. Setahuku ada 10 serum, dan tiga diantaranya sudah digunakan olehku, Hugo dan Obama. Kami jadi memiliki kemampuan tak lazim seperti Fara dan lainnya," sahut Jason menjelaskan.
Praktis mulut Bayu dan Hadi terbuka lebar tampak terkejut akan informasi tersebut.
TING!
Semua orang kaget ketika oven menyuarakan peringatan jika masakannya telah matang. Bayu dengan sigap menghidangkan makanan-makanan lezat itu ke meja makan untuk para tamunya. Terlihat, berbagai jenis makanan penggugah selera seperti bukan hasil olahan dalam kemasan, melainkan dimasak secara khusus oleh koki bintang lima.
"Wah! Ini enak. Apa ini?" tanya Nero saat menikmati sajian seperti daging yang berlapis bumbu.
"Oh. Itu ... rendang ayam. Ada kandang ayam sebagai salah satu sumber makanan. Tadinya ada sapi dan juga kambing. Hanya saja, merawat dua jenis hewan itu susah tanpa bantuan manusia. Belom kalau ada yang melahirkan. Khawatir persediaan rumput tak memadai. Jadi, hanya ada ayam dan ikan, tapi enak to?" tanya Hadi, dan Nero mengangguk membenarkan.
Semua orang tampak puas menikmati sajian dalam kemasan itu. Hingga akhirnya, telepon satelit dari King D masuk. Ia meminta agar pembahasan misi kembali dilanjutkan. Semua orang segera bersiap setelah membereskan meja makan. Mereka bergegas ke pusat kendali untuk melakukan teleconference meski kamera masih belum bisa diperbaiki.
"Apa maksudmu, Paman?" tanya Jason bingung.
"Sebenernya, ini rahasia, tapi gak papa. Ngeliat kondisi kita yang memprihatinkan, hal ini disampaikan saja," ucap Bayu yang terlihat lebih muda usai mencukur brewok dan kumis, begitupula dengan Hadi.
Semua orang tampak serius mendengarkan termasuk markas aktif yang kembali tersambung dalam komunikasi.
"Sebelum kami ditidurkan, Yu Jie dan Damian mengatakan jika ada hal penting yang harus dilakukan untuk memastikan wabah monster bisa dihentikan. Saat itu, mereka memindahkan beberapa tabung yang seharusnya di tempatkan di markas-markas sesuai database. Kita berdua sempat protes karena ngerasa mereka udah ngacak-ngacak strategi yang disepakati bersama," tegas Hadi yang membuat semua orang terkejut.
"Jangan-jangan ... tabung yang kita temukan atau beberapa tabung hilang, ada sangkut-pautnya dengan Yu Jie dan Damian?" tanya Fara dengan mata melebar.
__ADS_1
"Bisa jadi," sahut Bayu mantap.
"Ketika kita mau menggagalkan aksi mereka berdua, tau-tau kita udah dalam tabung. Saat bangun, ya beginilah. Kita bingung karena jujur, kita juga gak tau harus ngapain. Liat aja dari rekaman CCTV. Persenjataan memang aktif dan dijaga Black Armys selama kita tidur. Namun setelahnya, kacau balau. Kita aja gak bisa buka pintu penyimpanan tabung lho. Kita gak tau siapa aja yang disimpan, berapa jumlahnya, dan kondisi mereka gimana," tegas Hadi, dan hal itu membuat semua orang panik seketika.
"Tak bisakah kita membobolnya?" tanya Fara mengusulkan.
"Kalau mau cepet-cepet masuk neraka ya monggo, Neng Fara, tapi ... jangan ajak saya," jawab Bayu, dan Hadi ikut mengangguk. Fara mendesis menunjukkan taringnya.
"Namun, Paman. Saat kami tiba kemari, tak ada monster yang tersisa. Semua telah tewas meski bangkai mereka ditemukan sepanjang jalan," ucap Polo yang membuat kening Bayu dan Hadi berkerut.
"Kalian udah cek tower belom? Saat Yu Jie dan Damian mulai mempersiapkan tabung yang akan ditempati oleh orang-orang dalam daftar, mereka seperti memodifikasi tower itu. Saat itu, Hadi sempet tanya karena mereka kaya masukin semacam cairan aneh dalam jumlah banyak yang merubahnya menjadi gas. Kata Damian waktu itu, gas tersebut bisa membunuh para monster yang mendekati gedung. Gas itu sangat mematikan bagi para monster, tapi manusia yang menghirupnya bisa terkena dampak juga. Kalau gak cacat organ ya mati. Makanya, dia mau pastiin sebelum senjata biologis itu diaktifkan, semua orang udah masuk dalam tabung. Senjata gas itu akan otomatis nyemprot saat detektor serangan para monster udah nembus pertahanan lapis kedua dari gerbang terluar," imbuh Hadi yang membuat mulut semua orang menganga lebar.
"Apakah CCTV merekam kejadian saat Om Hadi dan Bayu ditidurkan? Siapa tahu kita mendapatkan petunjuk dari rekaman?" tanya Nero menatap para seniornya saksama.
"Udah dihapus. Kita udah cek, dan hanya nemu rekaman ketika helikopter yang dipakai Yu Jie dan Damian lepas landas dari helipad gedung. Abis itu ya CCTV CamGun rekam terus sampai kita bangun. Asem memang dua sejoli itu. Paling sebel Bayu kalau pakai acara rahasia-rahasiaan," ungkap Bayu dengan wajah kesal dan tangan melipat depan dada. Hadi mengangguk setuju.
"Jadi ... kita tidak bisa membuka pintu akses penyimpanan tabung?" tanya Daniel, dan dua pria Jawa tersebut mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu, bisakah Paman Hadi dan Bayu tetap menjaga laboratorium? Aku ingin menugaskan kelompok dari Paman Daniel untuk mengecek markas lain yang belum aktif," pinta King D.
"Emangnya kalian mau ke mana setelah ini?" tanya Hadi menatap anggota tim Daniel.
"Perancis. Kediaman Darwin Flame. Seharusnya, ada yang menjaga rumah itu. Namun, semua panggilan ke rumah tersebut tak mendapat balasan. Seperti diblokir. Kemungkinan besar, Pemancar Fatamorgana diaktifkan," jawab King D menjelaskan.
"Oh gitu. Ya wes, gak papa. Kalian nginep aja dulu dan pergi besok pagi. Oia, kalian ke sini naik apa ya?" tanya Bayu penasaran.
__ADS_1
"Oh, kami mengendarai pesawat. Hanya saja, benda itu kami tinggalkan di hangar tempat biasanya Jordan memarkirkan pesawatnya. Memang kenapa?" tanya Jason santai.
"Wedyan! Kita harus segera ke sana untuk amanin pesawatmu. Ayo, Kang!" ajak Bayu, dan Hadi mengangguk siap. Sedang lainnya bingung dengan sikap dua anggota The Kamvret yang panik akan sesuatu.