KING D

KING D
Dia Bangkit!


__ADS_3

King D yang tak dilibatkan Reina untuk mengetahui soal tabung yang ditemukan tim Marco, memilih untuk mengurung diri di kamar.


Lelaki itu merasa tak nyaman karena Reina seolah mengambil alih haknya sebagai pemimpin.


Kebencian mulai menyeruak di hati King D karena keberadaan puteri Sakura yang dianggap berlagak dalam memimpin dan mengguruinya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


TOK! TOK! TOK!


"D? Kau baik-baik saja?" tanya Irina yang mencemaskan keadaan sang kekasih karena tak muncul saat sarapan.


Namun, tak ada jawaban. Irina khawatir dan nekat untuk membuka pintu kamar sang kekasih. Irina terkejut ketika mendapati King D masih merebahkan diri di atas kasur, tapi memunggunginya.


Irina mendekat dan duduk di tepi ranjang seraya melongok untuk melihat kondisi sang kekasih.


"D?" panggil Irina sembari menarik lengan King D agar menghadap ke arahnya. "Oh! Kau kenapa? Kau sakit?" tanya Irina cemas karena merasakan tubuh sang kekasih panas tak seperti biasa.


"Kita pergi dari sini, Sayang. Bawa aku ke Black Castle," pinta King D seraya memeluk perut kekasihnya erat.


"O-oke, tapi ... bagaimana dengan Bibi Sakura dan lainnya? Mereka belum tiba," tanya Irina bingung.


"Biarkan Reina di sini untuk menunggu kedatangan mereka. Kita duluan saja," pinta King D memaksa.


"Kau meninggalkanku sendiri di tempat ini?" tanya Reina tiba-tiba menyahut.


Praktis, King D terkejut dan langsung duduk. Obama juga ikut berdiri di samping gadis Asia itu seraya mengunyah apel.


"Bukankah kau sendiri yang bilang jika jangan menunda waktu atau kita akan kalah cepat dari Hope. Oleh karena itu, sebaiknya aku, Irina dan Otong pergi ke Black Castle segera bersama tabung Jonathan," jawab King D dengan wajah tegang.


Irina terlihat bingung dalam bersikap termasuk Otong. Sedang Reina menatap King D tajam dari tempatnya berdiri.


"Hem, jadi begitu. Baik. Pergilah," jawab Reina dengan wajah datar, tapi sorot matanya terkunci pada King D seorang.


Irina dan Obama saling berpandangan di kejauhan.


"Ayo, Sayang. Segera berkemas. Kita terbang sekarang," ajak King D langsung beranjak.


"Ka-kau belum sarapan, D," ucap Irina menatap sang kekasih lekat yang sudah berdiri lalu mengenakan jas anti peluru yang ia letakkan di sandaran kursi.


King D tak menjawab. Ia melewati Reina begitu saja saat gadis Asia itu masih berdiri di samping pintu. Irina dan Obama bergegas mengikuti King D untuk bersiap.


King D langsung menuju ke helikopter dengan tergesa. Ia mengatakan akan mempiloti helikopternya sendiri.


"Untuk orang yang sakit, dia cukup cekatan," ucap Reina seperti sindiran saat Irina dan Obama akan pamit.


"Kau tak apa sendiri? Sungguh aku minta maaf," tanya Irina tak enak hati.


"Jangan meremehkanku. Aku saja bisa bertahan di Jumbo Island sendirian apalagi di tempat ini. Cepatlah pergi dan terus berikan kabar. Saranku, kalian menyusul ke Newfoundland and Labrador. Pergilah bersama tim sebelumnya. Namun pastikan, Fara bukan lagi ancaman," tegas Reina.


"Terima kasih atas informasimu. Sampai jumpa," ucap Irina seraya memeluknya.


Reina diam saja dan hanya memandangi Obama serta Irina yang berjalan mendatangi helikopter sembari membawa pemindai ranjau agar tak menginjak perangkap tersebut.


Helikopter terbang meninggalkan Giamoco Island di mana Reina masih berdiri di teras depan seraya melihat kepergian anggota timnya.

__ADS_1


Sedang di helikopter. Irina dan Obama saling melirik seperti menyadari sikap dari King D.


"Kau sengaja melakukannya. Sakitmu tipuan. Apa yang kaurencanakan, D?" tanya Irina terlihat kesal dengan sang kekasih.


"Aku ingin segera mengungkap semua. Aku hanya melaksanakan perintah Reina. Kita harus bergegas. Jadi ... kita akan ke Inggris," jawab King D fokus menatap ke depan.


"Reina nyaranin buat gabung sama tim Daniel di Newfoundland and-"


BRAK!


Sontak, Obama dan Irina terkejut karena King D memukul dinding besi dekat jendela. Suasana tegang seketika.


"Reina sudah tak ada di sini! Dia bukan pemimpin kelompok lagi! Aku kaptennya! Kalian mengerti?!" bentak King D dengan napas memburu menoleh ke arah kawan-kawannya.


Obama dan Irina bungkam, tapi keduanya mengangguk pelan. King D kembali menghadap ke depan dan mengatur napas. Kini, Obama dan Irina tahu alasan kepergian mereka yang tiba-tiba itu.


King D fokus pada tujuannya. Ia hanya memakan apel selama penerbangan panjang itu. Ia setuju untuk pergi ke markas milik sang Ibu yang dijaga oleh Dakota dan Safa.


Namun, kecemasan lain menghampiri hatinya saat teringat jika Fara masih dalam pengaruh cuci otak Hope. King D khawatir jika Fara masih berambisi untuk membunuhnya.


"D. Otong gantiin sini. Kamu makan yang bener dulu sono. Otong udah isi bahan bakar dan harusnya cukup sampai ke lokasi," ucap Obama yang berdiri di belakang bangku pilot.


King D mengangguk dan kini berjalan menuju ke kabin tengah. Irina yang merasa sikap King D berubah segera mengikutinya.


"Aku sudah mengabarkan pada Daniel tentang tujuan kita. Mereka akan menunggu. Lalu ... Polo mengirimkan laporan yang sama seperti saat ia memberikannya pada Reina," ucap Irina seraya memberikan sebuah tablet kepada pria dengan dua warna manik mata.


King D yang berdiri di depan tabung Jonathan melirik tablet itu. Ia terlihat enggan, tapi pada akhirnya menerima benda tersebut.


Irina tersenyum tipis dan meninggalkan kecupan manis di pipi sang kekasih sebelum kembali ke tempat duduknya.


King D duduk di bangku menghadap tabung Jonathan seraya melihat laporan tersebut. Ternyata, ada lima tabung yang ditemukan oleh tim Polo.


Jason lalu membawa tabung-tabung itu untuk diamankan ke markas tempat Dakota bertugas.


Saat King D sedang serius melihat rekaman dalam tablet, tiba-tiba, PIP! PIP! PIP!


"Oh!" pekik King D saat melihat detektor kebangkitan berbunyi nyaring dari tabung Jonathan.


"D! Apa yang- Oh! Tabung Jonathan," pekik Irina ikut terkejut saat mendatangi kabin belakang.


King D dan Irina berdiri di samping tabung seraya menatap sosok Jonathan lekat. Mereka melihat prosedur kebangkitan dari jenis tabung pertama ciptaan Kai.


Tak lama, KLEK! PESS ....


Irina dan King D melangkah mundur terlihat gugup. Irina berjalan perlahan mendekati peti penyimpanan senjata dan mengambil pistol bius.


King D meletakkan tablet ke bangku perlahan dengan sorot mata terkunci pada penutup tabung yang terbuka.


Seketika, matanya berubah menjadi perak. Ia memanfaatkan kemampuannya setelah diketahui fungsi dari mata berkilau itu dari Reina.


"Hempf ...," keluh Jonathan saat ia duduk dengan tubuh dipenuhi tato dan rambut lebat hampir menutupi wajahnya. "Woah! Se-setan!" teriaknya ketika melihat sosok King D dan Irina yang ternyata matanya ikut menyala hijau begitu saja.


Teriakan Jonathan yang histeris, membuat King D tersentak begitu pula sang kekasih. Keduanya kembali menjadi normal seraya mengedipkan mata.


Namun, hal itu dimanfaatkan Jonathan untuk kabur dari dua manusia aneh yang mengejutkannya.

__ADS_1


"Hah, hah! Woah! Tuyul!" teriak Jonathan sampai jatuh ke lantai saat ia berlari menuju ke kabin tempat Obama duduk.


Obama langsung berdiri dan menatap Jonathan lekat.


"Om Jojon? Kok udah bangun?" tanya Obama bingung.


"Hah, hah, E-Eko? Om Eko masih hidup? Kok bisa? Oh no! Aku sudah mati! Tidak!" teriak Jonathan frustasi dan langsung memegangi kepala seraya meremat-remat rambutnya.


King D yang menyusul ke kabin depan menatap Obama saksama dengan sang kekasih di sampingnya.


Obama mengangkat kedua bahu terlihat bingung. Terlebih pasangan kekasih itu karena Jonathan malah meringkuk di lantai terlihat kesal.


"Paman. Ini aku, King D. Dan itu Obama Otong lalu dia Irina. Kau belum mati. Kau hanya ... terbangun dari tabung begitu saja," ucap King D memberikan pengertian.


Seketika, rengekan Jonathan berhenti. Ia langsung berdiri dengan sigap dan hanya memakai celana dalaam ketat memamerkan tubuh yang dipenuhi banyak rambut.


"Aku terbangun di luar jadwal begitu?" tanya Jonathan menebak.


"Aku ... tak sempat melihat pengatur waktu, jadi ... aku tak tahu. Maaf," jawab King D kaku.


Jonathan diam sejenak lalu melihat sekeliling. Seketika, keningnya berkerut.


"Apakah ... ini Big Boss?" tanyanya seraya mendekati kursi pilot yang dibiarkan kosong karena Obama menggunakan fungsi auto-pilot.


"Yes! Bener banget, Om Jojon! Ciptaanmu ini. Masih utuh dan awet," jawab Obama bangga.


"Kau apakan helikopter kerenku! Kau bodoh ya? Aku memberikan banyak fitur hebat lainnya kenapa tak digunakan?!" pekiknya kesal saat melihat tombol-tombol pengatur di kokpit yang tak menyala aktif.


"Lah. Waktu Om serah terima ya begini doang. Gak ada tambahan apa-apa lagi. Belum konek ini antara bibir dan otak jadinya ngigo. Bangun, Om. Mau Otong buatin kopi biar melek?" tanya Obama menawarkan.


"Ya ya. Buatkan," jawab Jonathan dengan kening berkerut melihat sekitar.


King D dan Irina saling berpandangan, tapi kemudian senyum keduanya terkembang. Mereka tak menyangka jika daya ingat Jonathan dengan cepat pulih tak seperti banyak kasus sebelumnya.


Obama pergi untuk membuatkan kopi bagi pencipta helikopter King D. Terdengar, lelaki gundul itu bersiul saat menyeduh minuman hitam tersebut.


"Paman Jonathan. Kau baik-baik saja? Biarkan Irina memindai kesehatanmu dulu," tanya King D cemas.


"Ah, ya ya. Pindai aku," jawab Jonathan lalu beranjak dari dudukkan.


Irina dengan sigap membawa alat pengecek kesehatan organ dalam di tangannya. Jonathan berdiri gagah seraya bertolak pinggang.


Namun, pengecekan itu malah membuat Irina gugup karena milik Jonathan menyumbul di balik kain celananya. King D menyipitkan mata saat Irina memalingkan wajah ketika memindai bagian itu.


"Aku saja," sahut King D yang dengan sigap menggantikan.


Jonathan diam saja meski melihat keduanya bersikap aneh. Saat Jonathan melirik ke arah jendela, tiba-tiba ia melangkah dengan tergesa sampai tubuh Irina terpepet dadanya yang berbulu.


Praktis, wajah Irina dibuat tegang karena milik Jonathan menempel di perutnya. King D mendesis kesal dan terlihat menahan amarah. Sedang Jonathan, terlihat takjub akan sesuatu saat berdiri di balik jendela.


"Kita di mana? Kenapa ... tempat-tempat yang kita lewati seperti korban perang? Hancur dan berantakan. Apa yang terjadi? Tahun berapa sekarang?" tanya Jonathan serius menoleh ke arah King D.


"2070," jawab King D cepat.


"What?!" teriak Jonathan dengan mata melotot.

__ADS_1


***


Uhuy masih eps bonus denda. Lele padamu❤️


__ADS_2