
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
King D memulai aksinya saat ia akhirnya bisa mengendalikan kemampuan menghilang dari serum makhluk luar angkasa ketika Demon Kids menyelesaikan misi level 9 di permainan Maniac. King D mengejar anak buah Sengkuni diam-diam dari belakang mengikuti pergerakan kaki mereka.
"Jika tak ingin ketahuan, kau harus membaur, D," ucap Lysa Herlambang kala itu saat mengajarkan King D cara berkamuflase sesuai pengalamannya.
"Maksudnya bagaimana, Mimi?" tanya King D menyipitkan mata.
"Kau lihat para Black Armys yang sedang berlatih itu?" tanya Lysa menunjuk di kejauhan ketika sekumpulan pria bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjang hitam sedang berlari di luar istana Javier di Oman. King D mengangguk. "Masuk dalam barisan itu. Sekarang," pintanya.
King D yang masih remaja mengangguk paham. Ia bergegas berlari dan masuk ke barisan belakang. Seketika, kepala para tentara itu menoleh ke belakang. King D meringis karena kedatangannya disadari oleh para pria itu. Lysa tersenyum tipis saat rombongan itu melewatinya.
"D, kemarilah," panggil sang ibu.
King D kembali mendekat dengan napas terengah. Lysa tersenyum.
"Kenapa mereka langsung menyadari ketika kau masuk dalam barisan?" tanya Lysa menatap anaknya saksama.
"Jika aku memiliki kemampuan tak terlihat, pasti mereka tak akan mengetahui keberadaanku, Mimi," jawab D kala itu dengan polosnya. Lysa terkekeh.
"Meskipun kau bisa menghilang, kemampuan tanpa teknik tetap akan membuatmu mudah diserang musuh. Kau harus cerdik dan memanfaatkan sekitar," terangnya. Kening King D berkerut. "Lihat sekali lagi para tentara itu," pinta Lysa.
King D menatap para tentara yang masih berlari memutar dengan keringat mulai bercucuran.
"Apa yang membedakanmu dengan mereka?"
"Mm ... mereka tak memakai baju, dan ... sedang berlari."
"Good. Lepas bajumu. Buat dirimu seperti mereka. Lalu yang terpenting, perhatikan langkah kaki orang-orang itu saat berlari. Kau harus seirama. Masuk ke dalam barisan diam-diam seperti sedang menyelinap. Lakukan," titah Lysa.
King D mengangguk paham dan segera melakukan yang diperintahkan ibunya. Kali ini, King D akan melakukan hal itu lagi. Ia mulai menggerakkan kakinya mengikuti langkah anak buah Sengkuni yang sedang berpencar di sekitar. King D mengendap dengan memanfaatkan kemampuan tak terlihat. Benda yang menempel di tubuhnya ikut tak terlihat.
King D mengincar sekumpulan orang yang berada di sisi Barat mendekati semak. Orang-orang itu membidik semua sisi dengan moncong senapan laras panjang siap melontarkan peluru. Pria bermata putih itu menirukan gerakan orang di depannya dan perlahan meletakkan sebuah benda di atas tanah lalu mengaktifkannya.
PIPIPIPIPI!
King D dengan sigap menghindar dengan bergulung ke samping. Anak buah Sengkuni menyadari suara peringatan dari benda berbunyi nyaring tersebut. Seketika, mata orang-orang itu terbelalak lebar.
"Granat tabung!"
__ADS_1
DUWARRR!! SHOOT! SHOOT!
"Argh!"
Para lelaki bertopeng itu merintih. Tubuh mereka terkena lontaran peluru hingga menebus pakaian tempur. Satu per satu dari mereka terjatuh. Anggota tim lain langsung waspada mengingat terjadi serangan, tapi tak diketahui keberadaan musuh.
"Pasti King D berada di sekitar sini! Temukan dia!" titah pria bertato seraya melihat sekitar dengan pistol mengarah ke segala penjuru.
Praktis, anak buah Sengkuni kini semakin waspada dan gencar mencari keberadaan putra Lysa tersebut. King D tak mau membuang waktu karena harus segera menolong kekasihnya. King D melemparkan granat tabung ke kumpulan pria yang lain, tapi hal itu disadari oleh pria bertato karena insting pria itu cukup kuat.
"Di sana!" teriak pria itu mengarahkan pistol ke wilayah terbuka.
King D terkejut karena pergerakannya kini diketahui meski sosoknya tak terlihat.
DOR! DOR! DOR!
"Shitt!" pekiknya seraya berlari menjauh.
King D juga menyadari jika alas sepatu magnet membekas di tanah. Pria bermata putih itu melihat sekitar di mana ia merasa pria bertato menyadari dirinya berada di mana.
DOR!
Sekelompok orang membawa Ivan, Shamsa, Irsyad dan Gibran. Siapa mereka? Jangan-jangan, anak buah Sengkuni yang lain. Gawat! pekiknya dalam hati.
Saat rasa cemas melanda hati pria bermata putih itu, tiba-tiba ia melihat pergerakan dari semak. Matanya menajam dan saling bertatapan tajam dengan sosok itu di kejauhan. Seketika ....
"Pssttt ...."
"Ular!" teriak salah satu anak buah Sengkuni saat melihat seekor ular keluar dari semak dan menjalar ke orang-orang bertopeng yang berkerumun.
King D akhirnya sadar dengan kemampuan barunya yang lain dan segera bertindak.
"Hargh!" erang King D yang wujudnya tiba-tiba terlihat, tapi membuat matanya berubah. Seketika ....
"Serang!" teriak King D mengomandoi hewan-hewan yang berada di sekitar hutan di gurun tersebut.
__ADS_1
Anak buah Sengkuni tak berdaya melawan keagresifan hewan-hewan liar penghuni asli wilayah itu. King D dengan sigap melompat ke arah pria bertato seraya meluncurkan sabetan kuku runcing dari kesepuluh jarinya.
"AARGHH!" raung pria itu ketika topeng yang menutup wajahnya terbelah karena cakar tajam King D.
Wajah pria itu terluka, tapi membuat mata King D melebar.
"Oh! Bukankah kau ...," pekiknya dengan mata membulat penuh seperti mengenali orang bertato itu. Namun, pria itu seperti tak mengenalinya. Orang itu memegangi wajahnya yang berdarah. King D yang awalnya berhasrat untuk membunuhnya kini mengurungkan niat. "Apa yang terjadi padamu? Kita ini sekutu," tanya King D dengan kening berkerut. King D diam sejenak seperti memikirkan hal ini dengan serius. "Gas halusinasi. Pasti Sengkuni mencuci otak kalian semua! Sengkuni bukan siapa-siapa. Dia bisa seperti ini karena gas halusinasi. Kurang ajar!" pekik King D geram usai menyadari kekuatan tempur Sengkuni yang tiba-tiba.
King D melihat para pria bertopeng lainnya mengerang kesakitan usai terkena serangan dari para hewan liar. Pria itu membuka tas mencoba mencari sesuatu. Ia memegang satu-satunya penawar dari dampak gas halusinasi dalam genggamannya meski tak yakin jika serum itu masih bisa mengembalikan ingatan pria tersebut.
"Kau bukan orang jahat!" pekiknya seraya menangkap tubuh lelaki itu lalu menusukkan jarum serum ke leher.
Pria bertato itu mengerang dan mencoba melepaskan diri dari dekapan kuat King D, tapi tenaganya tak sepadan. Hingga akhirnya, pria itu lemas dan tergeletak dengan mata berkedip berulang kali. King D mencoba menenangkan diri dan berjongkok di sampingnya. Pria itu menatap wajah King D saksama di mana ia telah kembali normal seperti wujud manusianya.
"Hei, ingat aku? Aku King D. Kita sekutu. Sengkuni musuhmu. Kau bukan orang jahat, Polisi Lee. Orang tua kita berkawan. Bahkan Haru isterimu salah satu orang kepercayaan nenekku Vesper. Ingatlah masa-masa itu," ucap King D seraya memegang wajah polisi Lee erat di mana mata pria itu menatap King D lekat.
"Vesper?" tanyanya mengulang. King D mengangguk mantap. "Lily?" King D mengangguk lagi. "Haru ... hah, Haru!" pekiknya tiba-tiba dan langsung duduk.
King D merasa jika polisi Lee belum lama terkena dampak gas halusinasi karena ia dengan cepat tersadar atau memang daya ingatnya cukup kuat sehingga sulit untuk dimanipulasi.
"Polisi Lee. Ikut aku. Kita harus selamatkan Haru dan lainnya. Mereka ditawan oleh Sengkuni!" ajak King D saat polisi asal Korea Selatan itu tampak pusing karena memegangi kepalanya.
"Sengkuni? Siapa dia? Kau ... siapa?" tanya polisi Lee bingung, tapi King D hanya tersenyum.
"Aku cucu dari Vesper. Sudahlah. Intinya, kita harus segera pergi dari sini. Ayo," ajaknya, dan polisi Lee mengangguk meski ia masih terlihat linglung.
Burung yang menemukan keberadaan Ivan dan lainnya memberikan petunjuk pada King D. Polisi Lee menahan sakit di wajah karena terkena cakaran kuku King D saat menyerangnya. King D tak enak hati, tapi hal itu membuat polisi Lee sadar cukup lama karena terluka.
"Oh! Apakah ... itu motor kelompok kalian?" tanya King D saat mereka memasuki wilayah yang ternyata terdapat banyak kendaraan terparkir begitupula peti-peti persenjataan, tapi telah kosong karena digunakan.
"Aku ... aku tidak tahu. Apa yang terjadi? Agh, wajahku perih," ucapnya seraya meringis.
King D menahan senyum dan segera naik ke salah satu motor trail di mana terdapat kunci terpasang di sana. Polisi Lee segera membonceng. King D melaju kendaraan dengan cepat saat ia melihat burung tersebut mengantarkannya ke tempat Ivan berada. Mata hitam King D kembali di mana pria itu sekarang telah bisa mengendalikan kemampuan dari kelima warna matanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Yey, tips koinnya abis😆 kwkwkw ditunggu sedekahnya. Lele padamu❤️