
Suasana yang tadinya dipenuhi oleh kepanikan akhirnya reda usai para monster penyerang berhasil dilumpuhkan.
Dugaan orang-orang benar jika para monster tersebut adalah manusia yang baru saja terjangkit serum monster.
Hal itu memperkuat kecurigaan Marco dan Polo jika anak buah Hope masih berada di sekitar bandara entah bersembunyi di mana.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Aku menemukannya!" seru Fara saat ia mendapati pemancar fatamorgana yang ternyata dipasang dalam menara sehingga dari luar tak terlihat usai mendengarkan petunjuk dari Sakura.
Fara dibantu Sakura menggunakan telepon satelit untuk memeriksa di mana keberadaan pemblokir sinyal yang diaktifkan itu dan akhirnya ditemukan dengan cepat.
"Hancurkan, Fara!" seru Sakura.
Dengan sigap, "Arrghh!"
KLANG!! BRAKK!!
Fara menggunakan belati Silent Blue miliknya untuk menghancurkan pemancar buatan Vesper Industries tersebut karena ternyata, benda itu dimodifikasi sehingga bisa diaktifkan dari jarak jauh.
Para senior semakin curiga jika Hope bukan orang sembarangan dan cukup ahli dalam teknik bertempur.
Mereka yakin, jika Hope dulunya orang militer atau mungkin masih dalam jajaran Hendrik meski lelaki itu telah tewas.
Di helikopter King D.
"Jangan terpancing. Mereka sengaja membuat kita tercerai-berai," tegas Souta tampak waspada saat ia dan timnya kembali bergabung bersama tim King D.
"Orang itu harus kita buru, Paman!" geram Nero.
"Aku tahu. Kita gunakan CD," jawab Souta mantap.
Nero dan lainnya mengangguk paham. Souta mengajarkan menggunakan benda terbang tersebut pada lelaki muda itu. Siapa sangka, Nero dengan cepat belajar.
"Hahaha! Ini sangat mudah. Seperti bermain remote control!" serunya senang saat berhasil mengendalikan pergerakan CD ke arah hutan.
"Fokus, Nero. Temukan pengacau itu. Kali ini, langsung tembak dia. Bunuh saja. Aku curiga Hope memasang chip peledak di tubuh anak buahnya," tegas Souta.
Nero mengangguk paham saat mengendalikan dua buah drone menyusuri hutan hingga jarak 1 kilometer jauhnya.
Fara ikut membantu dengan menyusuri wilayah yang berseberangan dengan Nero. Sakura dan Souta memantau di helikopter pergerakan drone-drone tersebut.
Sedang para senior sisanya berkumpul di ruangan tempat Irina, Marco, Polo, Obama, Jason dan King D dirawat.
Irina masih terlihat pucat, tapi kondisinya makin membaik. Sedang King D, masih tak sadarkan diri karena pengaruh bius. Obama Otong, kini diinterogasi oleh orang-orang yang curiga padanya.
"Sejak kapan kau memiliki kemampuan misterius itu, Otong?" tanya Jason menyipitkan mata penuh selidik dengan luka perban menutup kedua tangannya yang terluka.
"Barusan," jawabnya sambil mengedipkan mata untuk menghilangkan rasa gugupnya, tapi hal itu malah membuat semua orang makin curiga.
"Kenapa baru muncul sekarang? Padahal kau sudah bangkit sejak kami datang. Kau sungguh aneh," tanya Marco memicingkan mata.
"Mana Otong tau, tapi ... kemampuan Otong berguna 'kan?" jawabnya dengan wajah berbinar.
"Apa gunanya memiliki kemampuan super, tapi kau sendiri saja tak menyadarinya. Kau bahkan tak terlihat oleh kami. Namun, bagaimana bisa paman Maksim, Daniel dan Arthur melihatmu? Kekuatan macam apa yang kau gunakan?" tanya Polo menyudut.
__ADS_1
"Oh, gitukah? Otong malah baru tau. Emang yang gak bisa liat Otong siapa aja?" tanyanya penasaran.
Kening Polo dan lainnya berkerut.
"Aku tak bisa melihatmu saat kugunakan kemampuanku. Namun, saat aku kembali normal, aku bisa melihat sosokmu," jawab Irina dari tempatnya dibaringkan.
Semua orang diam sejenak.
"Para monster juga tak menyadari keberadaannya. Ini sungguh aneh," sahut Maksim, dan diangguki Daniel serta Arthur.
"Ini sih menurut pemikiran Otong. Dugaan loh ya. Mungkin nih, yang pada punya kekuatan super gak bisa liat Otong. Katanya pakde Maksim, itu King D juga kaya gak liat Otong pas nahan dia 'kan? Bisa jadi, pas mode super kalian aktif, kemampuan Otong ikut aktif secara otomatis. Terus, Otong jadi kaya terkamuflase gitu alias gak terlihat sama orang-orang super, tapi bisa dilihat sama manusia biasa," jawabnya mantap.
"Namun, para monster itu juga manusia biasa, tak memiliki kemampuan super. Bagaimana bisa mereka tak menyadari keberadaanmu?" tanya Polo masih tak memahami keanehan pada kemampuan misterius Obama.
"Itu benar. Selain itu, aku tak bisa mencium baumu padahal kau terluka," sahut Marco.
"Yang lebih anehnya lagi, saat kau dalam mode anehmu itu, kau seperti bukan dirimu. Maksudku, kau kan berisik dan cerewet. Namun, saat itu kau diam saja. Wajahmu pucat seperti patung dan tanpa ekspresi. Selain itu, pukulanmu sangat kuat bagaikan batu usai kulihat bekas lebam di tubuh para rusa itu. Bahkan, saat tubuh King D menimpamu, kau tak merasakan sakit padahal dia seberat dinding beton. Akan tetapi, saat kau kembali normal, kau baru merasakan sakit," tegas Daniel, dan Obama malah melongo.
"Hem ... aneh memang. Otong juga gak paham kenapa bisa gitu. Namun, Otong gak sadar beneran. Apa Otong punya ilmu kanuragan yang gak diketahui ya? Mungkin jiwa Otong lagi bobok pas diambil alih sama kekuatan misterius itu. Ya ya, gak ada yang mustahal kalau kata bapak," gumannya seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
Semua orang diam menatap Obama saksama masih terlihat bingung dengan hal itu.
"Kau harus mencari tahu tentang kemampuanmu itu, Otong. Jangan sampai hal itu malah merugikan kita nantinya. King D saja masih belum bisa mengendalikan perubahannya," tegas Arthur serius, dan Obama mengangguk paham dengan wajah bingung.
"Aku minta maaf jika sudah melukai kalian," ucap King D tiba-tiba yang ternyata telah sadar entah sejak kapan.
"Oh! Hai, D," sahut Maksim tersenyum kaku.
Namun, King D berwajah sendu tampak seperti bersalah atas perbuatannya.
"Baguslah jika kau memikirkan hal itu. Aku yakin, perubahanmu yang seperti predator itu mengambil alih jiwa manusiamu dan digantikan dengan keinginan untuk bertarung layaknya insting pemangsa," sahut Jason, dan King D mengangguk.
"Hem, aku tak bisa merasakan keberadaan King D saat aku mencoba menenangkan pikirannya. Dia sudah diambil alih sepenuhnya oleh predator dalam dirinya itu," sahut Irina.
King D langsung menatap kekasihnya lekat yang wajahnya memar karena sempat dihantam olehnya tadi.
"Aku ... sungguh minta maaf," jawab King D tertunduk lesu.
Semua orang diam. Mereka bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan mendalam dalam diri King D. Irina bergegas mendatangi kekasihnya yang tampak terpuruk.
"Kami tahu kau tak bermaksud untuk melukai. Kami percaya padamu, D. Oleh karena itu, kita bersama-sama akan mencari solusinya," ucap Irina seraya memegang tangan sang kekasih yang sudah pulih seperti sedia kala.
"Ada bagusnya juga kekuatan serammu itu, D. Lihatlah, lukamu pulih dengan sendirinya. Sepertinya, kemampuan predatormu itu bisa meregenerasi tubuh yang luka," ucap Jason yang membuat King D baru menyadari hal tersebut.
"Oh! Kau benar, Paman. Luka-lukaku ... hilang, dan tak sakit lagi," ucapnya heran.
Semua orang tersenyum, tapi Maksim menunjuknya dengan wajah serius.
"Aku tak segan menembakmu dengan peluru bius jika berani mengamuk lagi," tegasnya.
King D tersenyum dan mengangguk mantap. Semua orang lega karena masalah internal mereka selesai meski masih menjadi tanda tanya tentang kekuatan baru Obama Otong.
"Hei! Nero menemukan jejak dari anak buah Hope!" panggil Souta tiba-tiba dari sambungan radio.
Segera, Daniel menerimanya. "Lalu ... apakah penjahat itu ditangkap? Atau ... berhasil dibunuh?"
__ADS_1
"Orang itu tewas masih menggunakan topeng. Sepertinya, ia mati bunuh diri karena ada sebuah pistol dalam genggaman tangan kanannya. Pelipisnya berlubang karena tembakan jarak dekat. Selain itu, kami menemukan jejak sepatu dari arah hutan menuju bandara Ternyata, ada sebuah truk di sana. Kami yakin, jika para manusia itu awalnya diangkut oleh truk tersebut lalu mereka terkena serum monster, yang selanjutnya dilepaskan secara sengaja," jawab Souta menjelaskan.
"Aku dan Fara juga menemukan sebuah truk. Di dalamnya terdapat banyak kotoran hewan dan kami yakin jika kendaraan tersebut mengangkut para rusa sehat sebelum menjadi monster. Sayangnya, kami tak menemukan jejak orang tersebut sampai batas sinyal drone," sahut Sakura yang ikut tersambung dalam komunikasi tersebut.
"Terima kasih informasinya. Segeralah kemari dan bergabung bersama kami," pinta Daniel.
"Roger that," jawab Souta dan Sakura bersamaan lalu menutup panggilan.
"Aku rasa, wilayah ini sudah ditinggalkan sepenuhnya oleh anak buah Hope. Berita baiknya, para manusia yang terkena serum monster berhasil diobati. Sayangnya, mereka harus direhabilitasi sampai benar-benar pulih," tegas Jason.
"Hanya saja, ingat kejadian para nelayan yang waktu itu dipasangi chip oleh Hope. Apakah orang-orang itu aman?" tanya Daniel tegas.
"Ya. Aku sudah melakukan pemindaian saat kami mengumpulkan mereka semua di pantai. Mereka aman dan tak didapati alat lain yang terpasang di tubuh seperti pelacak, penyadap, dan sejenisnya. Mungkin, Hope terburu-buru. Oleh karena itu, hal tersebut tak sempat ia lakukan. Ini hanya dugaanku saja," tegas Jason.
"Setidaknya, kita aman saat membawa mereka. Jangan sampai hal ini terulang pada kita yang terkena dampak ledakan akibat teledor saat menangkap anak buah Hope," tegas Polo, dan diangguki Obama serta Marco.
Tak lama, Souta, Fara, Nero, dan Sakura muncul. Mereka tak ikut masuk ke ruangan karena tempat tersebut menjadi sempit. Mereka memilih untuk duduk di teras menggunakan kursi yang tersedia.
"Lalu ... bagaimana kita mengamankan mereka?" tanya Nero bingung saat melihat para manusia yang selamat dari teras bangunan.
Maksim dan lainnya masih merendam para manusia yang sedang diobati di lautan dengan mengikat pergelangan tangan dan kaki mereka seraya diberikan pelampung agar tak tenggelam.
Termasuk para monster manusia yang muncul bersamaan dengan rusa-rusa.
"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Souta. Bagaimana jika aku dan dia membawa orang-orang ini sampai ke titik penjemputan dengan anggota tim Marco-Polo di Kastil Krasnoyarsk? Ruang medis bisa digunakan untuk merehabilitasi mereka," tanya Maksim.
"Kau tak ikut dalam misi ke Jumbo Island?" tanya Sakura menatap Maksim lekat.
"Harus ada yang mengawasi orang-orang itu, Sakura. Mereka masih bisa diselamatkan," jawab Maksim serius. Sakura mengangguk paham.
"Ya wes. Otong coba hubungi kastil Krasnoyarsk dulu untuk penjemputan," ucap Obama lalu beranjak dari tempatnya duduk meski ia terbalut perban karena masih terluka.
Souta menemani Obama dan terlihat mereka seperti mengobrol seru entah apa yang dibicarakan sampai ke helikopter.
"Sebaiknya kalian segera pergi ke Jumbo Island. Kita sudah terlalu lama menunda keberangkatan. Yusuke sampai sekarang tak bisa dihubungi. Aku khawatir," tegas Maksim.
King D dan orang-orangnya mengangguk paham.
"Baiklah, kita bersiap. Aku tahu jika sebagian dari kita masih terluka. Namun aku yakin, ini akan sepadan saat semua hal buruk ini terselesaikan," ucap King D.
Semua orang mengangguk setuju. Daniel dan lainnya segera menyiapkan perlengkapan untuk dipilah karena mereka akan dibagi menjadi dua tim.
Tim King D akan melanjutkan misi ke Jumbo Island, dan tim Maksim akan pergi bersama para manusia sampai ke titik penjemputan. Selanjutnya, mereka berdua akan menyusul King D dan kelompoknya ke Kanada.
Malam itu, tim Marco-Polo yang berhasil dihubungi dengan sigap melakukan penjemputan menggunakan helikopter militer seperti yang telah dipercayakan Jason untuk digunakan ketika keadaan darurat.
Maksim dan Souta, mempersiapkan para manusia yang sedang dalam penyembuhan untuk ikut bersama mereka.
Dua orang itu memberikan pengertian pada orang-orang itu saat mereka mulai sadar dan bisa diajak berkomunikasi.
"Maaf, bukannya kami tak percaya. Hanya saja, yang terjadi pada kami sebelumnya membuat kami sulit untuk mempercayai orang lain lagi," ucap salah satu wanita dengan tubuh basah kuyup karena direndam hampir setengah hari.
Maksim dan Souta saling memandang. Tak lama, King D muncul yang membuat orang-orang itu terkejut karena warna matanya menyala terang dalam cahaya redup api unggun.
***
__ADS_1
Masih eps bonus tips dari bayar denda gegara stiker di Grup Chat WA. Kwkwkw makasih mak ben lele padamu😆