
Jonathan dengan sigap mengoperasikan tombol-tombol pengendali pada kokpit helikopter ciptaannya. Obama, Irina, dan King D bersiap untuk menelusuri markas Tobias di mana mereka memiliki misi di tempat tersebut. Helikopter bergerak menuju ke atap bangunan di mana terdapat helipad di sana. Anehnya, terlihat lampu menyala dalam bangunan meski berada di bagian dalam dan bercahaya redup.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Lakukan dengan cepat. Aku akan melakukan pengisian bahan bakar selama kalian menyusuri markas. Pastikan komunikasi kita terhubung. Semuanya, cek!" titah Jonathan yang suaranya terdengar di tiap earphone tiga mafia muda itu.
"Check!" jawab ketiganya serempak seraya menggendong sebuah tas anti air berlapis anti peluru pada bagian tempurung luar.
"Bagus. Sekarang. Ambil jam tangan yang sudah kusiapkan dalam tabung. Pakai dan aktifkan," perintahnya lagi.
Jonathan melakukan pemindaian sekitar sebelum helikopternya mendarat untuk memastikan apakah terdapat ancaman atau tidak. Namun, sistem tak mendeteksi adanya serangan. Selain itu, helikopter King D dikenali database persenjataan CamGun yang terpasang di luar sehingga aman memasuki wilayah tersebut. Kegelapan malam menyelimuti sekitar yang membuat suasana semakin mencekam.
King D dengan sigap mendekati tabung Jonathan. Ternyata, ada sebuah kotak di dalam sana. Pria dengan dua warna manik mata itu segera mengambil lalu membukanya. Ia terkejut saat mendapati tiga buah jam tangan. Namun, ia melihat bekas satu cekungan yang diyakini jika sebelumnya ada jam tangan sejenis. King D memberikan jam tangan dengan gelang terbuat dari besi berwarna silver kepada Obama dan Irina.
"Jam tangan itu akan membantu kalian menemukan tabung dalam markas. Ada sensor di dalamnya. Jika berbunyi nyaring, tabung itu sudah dekat. Lalu, ini rahasia. Hanya ada empat gelang jenis itu, salah satunya punyaku," ucap Jonathan seraya menunjukkan jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiri. King D dan lainnya mendengarkan dengan serius. "Jam tangan itu memiliki akses untuk membangkitkan tabung. Hanya saja, untuk model generasi kedua alias ciptaan Profesor Jeremy. Dia memberikan akses khusus bagi Jonathan Benedict untuk antisipasi seperti ini," ucapnya bangga.
"Wah, ini hebat sekali, Paman!" seru King D senang karena baru mengetahui hal itu.
"Kuberi waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan semua dan segera kembali ke sini. Lebih dari itu, kutinggal," tegasnya.
"Main tinggal loh. Tar Om Jojon ketemu bahaya, gantengnya ilang, bukan salah kita loh ya," ancam Obama.
Jonathan diam seketika dengan mata berkedip. "Sudah! Pergi sana!" pekiknya seraya menekan tombol dan pintu samping kiri terbuka.
Namun tiba-tiba, "GOARRR!"
"AAAA!" teriak Irina histeris karena melihat sekumpulan serigala berlari kencang ke arah helikopter. Hewan-hewan bertaring itu melompat dari sisi bangunan lain mendatangi helikopter dengan cepat.
"Idungmu mampet kah, D? Sampai bau monster gak kecium?" tanya Obama yang ikut panik.
Beruntung karena helikopter belum mendarat. Jonathan menarik tuas kendalinya lagi dan membuat benda berbaling-baling besar itu melayang tinggi. King D menajamkan mata dan melongok dari pintu yang terbuka. Ia menatap para serigala itu tajam. Keningnya berkerut seperti memastikan sesuatu.
"Mereka bukan monster. Mereka serigala liar. Mereka tak terkontaminasi. Mungkin ... mereka lapar," ucap King D yang melakukan analisis dengan indera penciuman serta mata silver yang melihat organ dalam hewan buas itu.
"Sama aja ganasnya! Kita bakal diembat!" pekik Obama seraya menggenggam senapan laras panjangnya erat siap untuk menembak.
Saat King D, Irina dan Obama terlihat bingung menyikapi hal ini, tiba-tiba, BUZZ!
"Oh!" pekik Irina saat bagian samping helikopter menyemburkan gas warna putih ke kumpulan serigala lapar itu.
"Kalian memiliki serum penawar gas halusinasi bukan? Segera konsumsi dan cepatlah cek markas itu! Kalian lelet!" pekik Jonathan kesal dari bangku pilot.
__ADS_1
Tiga orang itu terkejut dan baru menyadari keterlambatan mereka dalam menyikapi suatu hal. Irina bergegas memberikan serum penawar dari kotak medis yang disimpan di kabin tengah kepada King D dan Obama. Helikopter mulai terbang rendah meski masih melayang. King D melompat turun lebih dahulu di atap markas. Obama dan Irina menyusul di mana ketiganya memakai sepatu magnet.
PIP!
Mata tiga mafia muda itu tertuju pada penghitung waktu 30 menit pada layar jam tangan. Ternyata, Jonathan serius dengan ucapannya. King D memanfaatkan kemampuan mata silver untuk memeriksa keadaan dalam markas. Obama dan Irina membidik para serigala yang linglung karena dampak gas halusinasi. Mereka bertiga bergegas masuk melalui pintu atap melalui pemindai mata dan sepuluh jari saat helikopter akhirnya mendarat sempurna dan kepulauan asap putih lenyap.
Jonathan sengaja tak keluar helikopter dan masih mengawasi dari bangku kabin tengah. Ia memanfaatkan kamera luar yang dipasang sebagai fitur tambahan oleh tim King D. Sistem keamanan helikopter diaktifkan meskipun para serigala tak beringas lagi. Jonathan yang menguasai pengendalian helikopter ciptaannya, terlihat santai saat kembali masuk dalam tabung seraya memegang tablet dalam genggaman dan bersiul.
"Heh, kita lihat. Seberapa hebat kau dalam memimpin, D," kekeh Jonathan diam-diam mengawasi pergerakan tiga mafia muda dari jam tangan yang memiliki fitur pelacak di dalamnya.
King D dan lainnya, hanya mengetahui jika jam tangan itu untuk mencari keberadaan tabung dan membangkitkannya. Padahal, jam tangan itu memiliki banyak kegunaan yang sengaja tak diungkap oleh Jonathan. King D berjalan di depan memimpin tim. Irina mengikuti di belakang dan ditutup oleh Obama sebagai pelindung kelompok. Mereka membidik semua sisi saat menyusuri koridor bercahaya redup dari atap ruangan.
"Bagaimana, D?" tanya Irina yang mengarahkan senapan laras panjang ke sisi kirinya.
"Mata silver-ku ini sungguh berguna. Dia bisa menembus tembok dan melihat kondisi dalam ruangan. Namun, sejauh ini kosong. Tak ada pergerakan baik manusia ataupun binatang di dalamnya. Aman," jawabnya pelan dan terus melangkah seraya membidik depan meski matanya memindai sekitar.
"Namun, jika lampu menyala, itu berarti ada manusia yang mengaktifkannya, atau buruknya, penjaga itu mati. Mungkinkah ....Tuan Han tewas?" tanya Irina cemas.
"Kau menyumpahi Ayah Han mati? Hati-hati, roh Oma akan datang padamu. Dia lebih mengerikan ketimbang para monster di seluruh dunia," sahut Jonathan yang membuat Irina langsung membungkam mulutnya rapat.
Tiba-tiba ....
PIP PIP!
"Kalian benar-benar sembrono! Untuk apa membawa tas ransel berisi perlengkapan jika hanya sebagai aksesoris. Kulihat ada kacamata detektor di sana. Jangan berlagak seperti kalian bisa melihat dalam kegelapan kecuali King D. Pakai itu! Kalian sungguh membuatku kesal. Amatiran," gerutu Jonathan yang suaranya terdengar dari earphone.
Irina dan Obama langsung melangkah mundur. Keduanya bergegas menggunakan kacamata khusus seperti VR (Virtual Reality), tapi memiliki empat sudut pandang yakni, depan, samping kanan, belakang, dan samping kiri. Empat mata tersebut terkoneksi pada layar utama di depan. Sebuah lingkaran karet berlapis besi pada bagian luarnya, membuat kepala pemakai tersebut seperti terperangkap.
"Ayo!" ajak King D usai melihat Irina dan Obama siap.
King D menuruni tangga terlebih dahulu. Kini, Jonathan bisa ikut melihat tayangan dari delapan kamera VR yang dikenakan Irina dan Obama. Ada sebuah layar pada bagian dalam tabung. Jonathan tak menyangka, jika banyak inovasi teknologi yang ia miliki belum diterapkan dalam jajaran dan tak diketahui oleh para mafia tersebut. Tabung miliknya pun berbeda dari segi fungsi dan interior, meski bagian luarnya tampak normal seperti tabung kebanyakan. Jonathan menikmati pertunjukan saat ia merebahkan diri dengan santai layaknya menonton sebuah acara menegangkan.
"Hah, sayang tidak ada popcorn. Lain kali, aku harus menyiapkan cemilan sebelum misi dilaksanakan," keluhnya saat merasa mulutnya asam karena tak mengunyah.
PIPIPIPIPI!
Suara nyaring tak berjeda pertanda ada tabung di dekat mereka. Hal itu membuat tiga mafia muda tersebut semakin bersemangat. Saat mereka mempercepat langkah, tiba-tiba ....
"BO!"
"AAAAA!" teriak Irina histeris ketika muncul sosok dari bagian atas membalik tubuhnya sehingga wajahnya yang pucat berada tepat di wajahnya.
__ADS_1
DODODOOR!
Irina yang kaget spontan menekan pelatuk hingga pelurunya terlontar dan menembak ke bagian atas bangunan. Obama dan King D terkejut. Namun, King D dengan sigap menangkap senjata Irina lalu mendekap sang kekasih.
"Tak apa, tak apa," ucap King D seraya melihat sekitar.
"Opo mau, D? Mak bedunduk nongol loh. Masa iya demit?" tanya Obama seraya melihat sekitar dengan wajah tegang, tapi tak mendapati apa pun dalam tangkapan kameranya.
"D! Jangan diam saja! Gunakan otakmu!" pekik Jonathan yang membuat suasana mendebarkan makin mencekam.
"Detektor panas gak bisa mindai, Om! Tempat ini juga gelap banget!" pekik Obama ikut merapat ke arah Irina dan King D.
Saat King D mengalihkan fungsi matanya ke silver, tiba-tiba, "BO!"
"Woah!" pekiknya terkejut saat melihat sosok itu ternyata berjongkok di belakangnya dengan seringai yang membuatnya makin menyeramkan.
Praktis, Irina dan Obama terperanjat. Obama dengan sigap melemparkan bola lampu ke beberapa tempat. Ruangan yang tadinya gelap gulita berubah terang, tapi ternyata membuat sosok seperti manusia, tapi berkulit pucat, gundul, dan memiliki gigi runcing layaknya hiu ketakutan. Manusia aneh itu tiba-tiba menghilang di balik sebuah tabung seperti bisa berkamuflase.
"Kalian lihat itu? Apakah ... dia memiliki kemampuan tak lazim seperti kita? Sepertinya, dia tak berbahaya, hanya wujudnya saja yang menyeramkan," ujar Irina dengan mata hijau menyala untuk memastikan makhluk itu bukan monster.
"Aku bisa mencium baunya. Dia berbeda. Sulit untuk dijelaskan, tapi ... dia manusia," sahut King D dengan mata terfokus pada pergerakan dekat tabung karena terdengar suara seperti napas menderu.
"Ya Allah tak kira tuyul. Untung Otong gak punya duit," ucapnya lega seraya mengembuskan napas panjang.
"Lihat! Dia menyentuh tabung itu dan tak terkena dampak. Aku yakin, sistem keamanan tabung masih aktif. Siapa dia?" sahut Jonathan sampai ikut melebarkan mata ketika melihat sosok menyeramkan itu mengenakan pakaian serba putih.
"Hei, jangan takut. Keluarlah. Pemilik gedung ini adalah ibuku. Kami datang untuk memeriksa keadaan. Kau siapa? Apa kau mengerti yang kami ucapkan?" tanya King D seraya jalan merunduk tanpa membawa senapan.
Sosok seperti anak kecil itu melongok dan hal itu mengejutkan tiga mafia muda tersebut. King D berjongkok dan tersenyum. Namun, gelagat manusia itu memang tak lazim karena berjalan layaknya monyet dan tak berdiri tegap. Si pucat mendatangi King D dan menatapnya lekat. Tiba-tiba saja, sosok itu menggerakkan tangan kanan ke wajah King D yang memiliki lapisan seperti sarung berwarna putih, tapi ternyata terdapat kamera pada telapaknya. Seketika ....
"Hoh, hoh! King D ...," ucapnya dengan suara serak.
"Ya, aku King D," jawab King D terlihat senang.
"Junior! Junior!" ucapnya seraya menepuk dada dengan wajah gembira dan melompat-lompat seperti kodok.
"Junior? Mm ... maaf, aku tak mengenalmu," jawab King D bingung. Obama dan Irina menggeleng, tapi tiba-tiba Jonathan memekik.
"Jangan bilang dia Junior anak Sandara dan Jordan! Jika benar, mereka berdua sudah gila!" pekik Jonathan yang membuat tiga mafia muda tertegun seketika.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya. lele padamu. Ya Allah lele nguantuk sumpah. Hari ini kegiatan padet dan baru bisa setor sore ini. trims sudah sabar menunggu❤️