KING D

KING D
Terminator Black Castle*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.



Semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle dibuat kalang kabut akan serangan tak terduga ini. Black Castle diserang entah apa yang membuat Hope mengincar kastil megah itu. Sedang pria bertopeng merah dan Hope yang membawa Junior, King D, Irina Tolya serta menyandera James dan Han, terus melakukan perjalanan di bawah air tak ikut serta dalam aksi penyerangan di Inggris tersebut. Hope yang bekerja sama dengan si topeng merah telah memiliki kesepakatan akan aksi yang mereka lakukan selama ini demi tujuan masing-masing.


PIP! PIP! PIP! PIP!


"Oh!" kejut Jonathan saat tabung miliknya berbunyi seperti menandakan sesuatu.


Zurna dan Obama yang sudah tak sabar menunggu kedatangan dari tim Agent S serta 4P ikut dibuat bingung ketika Jonathan masuk ke tabungnya seperti mengecek sesuatu.


"Ada apa?" tanya Zurna penasaran.


"Dasar gila! Click! Clack!" teriak Jonathan tiba-tiba saja marah besar.


Sayangnya, ia yang sudah tak bisa menghubungi Black Castle dibuat pusing usai melihat tanda peringatan itu.


"Opo sih, Om?" tanya Obama bingung saat ikut merapat.


"Mereka berdua membangkitkan Sierra, Cassie, Hihi, dan Neil! Tak bisa dimaafkan!" jawab Jonathan dengan napas memburu.


"Ha? Cius? Kok malah dibangunin bagimana? Kalau masih dalam tabung mereka malah aman. Weladalah, efek panik apa ya," sahut Obama ikut bingung menyikapi hal ini.


"Kita harus ke Black Castle sekarang. Ayo, cepat!" titah Jonathan tak sabar.


"Wow! Wow! Bagaimana dengan mereka? Kita tak bisa meninggalkan orang-orang itu begitu saja," tanya Zurna menahan pergerakan Jonathan dengan memegang tangannya erat.


"Biarkan saja! Keluargaku prioritas utama!" jawab Jonathan tak sabar dan melepaskan cengkeraman Zurna, tapi wanita perkasa itu langsung menghalangi langkah keturunan Benedict saat akan menuju kokpit. Jonathan menatap isteri James tajam.


"Kalau begitu, kau saja yang pergi. Aku tetap di sini," tegas Zurna seraya mengambil sebuah tas ransel dan beberapa senjata yang ditentengnya.


Zurna melangkah keluar dari helikopter mendekati salah satu tabung. Obama tampak pusing sampai ikut menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Tante. Kau harus ikut dengan kami," pinta Jonathan terlihat bingung dengan kondisi yang sedang dialaminya.


"Hope sengaja melakukannya. Dia baru saja dari sini, lalu tiba-tiba muncul di Black Castle. Ia ingin kau segera ke sana untuk menghentikan serangan meskipun aku yakin jika Hope tak ada di Inggris entah berada di mana. Lihatlah dari pantauan GIGA. Yang menyerang adalah para monster. Dia sudah mempersiapkannya. Dia sudah menempatkan anak buahnya untuk bersiap melakukan aksi penyerangan begitu urusannya di sini dengan kita berhasil dilakukan," jawab Zurna santai seraya duduk di salah satu tabung.


"Maksud Tante ... Hope gak ada di lokasi penyerangan? Dia cuma mantau dari sambungan komunikasi gitu?" tanya Obama memastikan, dan Zurna menjawabnya dengan anggukan mantap.

__ADS_1


"Dasar pengecut! Agh, sial!" geram Jonathan yang merasa dibodohi dan tak bisa melakukan apapun.


Saat semua orang dilanda kebingungan, tiba-tiba saja panggilan masuk yang membuat kepanikan Jonathan sirna seketika.


"Om Jojo! Kami dalam perjalanan menuju Black Castle! Demi dirimu, kami tinggalkan Paris!" seru Fara dari sambungan radio.


"Benarkah?" tanya Jonathan langsung menyahut dengan wajah berbinar.


"Ya! Paman Daniel dan Jason melanjutkan misi untuk memeriksa kediaman Darwin Flame. Aku, Nero, Marco, Polo, dan Loria menggunakan helikopter. Doakan semoga kami tepat waktu. Akan kukabari kondisi Black Castle jika sudah tiba di sana. Segeralah menyusul begitu kelompok Agent S tiba!" jawab Fara dengan suara riang.


"Oke!" jawab Jonathan dengan mantap.


Zurna dan Obama terlihat lega. Q terus menayangkan dari pantauan satelit GIGA SIA mengenai perkembangan dari penyerangan anak buah Hope.


"Ini sangat mirip dengan kejadian bertahun-tahun silam ketika Grey House diserang oleh Ye puteri Nyonya Rose," ucap Drake teringat akan serangan kala itu hingga bangunan abu-abu tersebut kehilangan kekuatannya.


Semua mafia yang pernah menyaksikan rekaman penyerangan kala itu mengangguk setuju. Namun bedanya, kali ini Black Castle diserang oleh sekumpulan orang yang terjangkit wabah monster. Entah dari mana Hope mendapatkan orang-orang itu, tapi terlihat jika para monster seperti kelaparan dan buas.


"Lihat!" sahut Pinky saat ia bersama Bruno, Robin dan Amber menjaga vila di Giamoco Island. Mereka ikut melihat serangan yang terjadi melalui tampilan satelit di pusat kendali.


"Oh, kau benar," sahut Bruno ikut melebarkan mata.


"Black Castle dihujani oleh darah dan serpihan daging. Luncuran dari misil dan bom-bom itu menyertakan makanan untuk para monster. Pantas saja mereka menjadi agresif. Hope sengaja membuat para monster menyerang Black Castle!" seru Amber mengemukakan pendapatnya.


"Apa? Dasar psikopat gila! Tentu saja para monster akan mengerubungi Black Castle. Semoga saja mereka hanya menyerang bagian luar saja," sahut Arthur bergidik ngeri ketika melihat orang-orang sakit itu mulai mengepung Black Castle dan memanjat dinding karena serpihan daging berada di atap bangunan.


Para wanita Red Skull tampak mual. Para gadis yang melihat tayangan itu memilih untuk memalingkan wajah karena pemandangan yang menjijikkan.


"Hope membuat rumahku seperti tempat penjagalan. Awas saja jika sampai tertangkap. Akan kurobek tubuhnya dengan tanganku sendiri," geram Jonathan yang tak henti-hentinya berkomentar saat melihat serangan itu.


Sedang Zurna dan Obama, memilih menyimak sembari menunggu kedatangan tim dari Agent S serta 4P yang nantinya akan bergabung dengan mereka. Saat Black Castle sudah tertutup oleh sekumpulan manusia sakit hingga pesona dari kastil megah itu tak tampak, tiba-tiba ....


"Mereka datang!" seru Jonathan senang ketika melihat sebuah helikopter dengan pintu samping terbuka. Ia mengenali orang-orang tersebut.


"Ngeri banget! Mereka banyak sekali!" pekik Fara sampai melotot.


"Jangan sampai terluka atau mati! Aku duluan! Yeah!" seru Nero saat melompat dari atas helikopter ke sebuah menara.


"Loria, ayo!" ajak Fara, dan gadis itu ikut melompat ke atap bangunan di mana para monster belum tiba di sisi tersebut.

__ADS_1


"Kami akan melindungi kalian!" seru Polo yang bersiap dengan senapan mesin untuk menembaki para monster dari pintu helikopter.


DODODODOR!!


"HARGH!" erang para monster ketika menyadari jika adanya serangan yang ingin melenyapkan mereka.


"Mereka datang!" seru Nero saat tiga remaja itu membentuk formasi segitiga dengan Polo menjadi pelindung dari atas langit.


"Ini akan jadi latihan bagus untuk uji kemampuan. Jangan takut!" seru Marco dari dudukkan pilot, dan orang-orang yang memiliki kemampuan super itu mengangguk mantap.


Marco fokus menerbangkan helikopter dan ikut menyerang dengan menjatuhkan Rainbow Gas tanpa bom ke sekumpulan monster. Kali ini, Marco hanya menggunakan satu jenis gas saja di mana Fara dan lainnya sudah menyuntikkan serum penawar itu sebelum beraksi.


"Heyah!" teriak Loria yang tampak tak takut ketika ia mulai bisa mengendalikan lendir yang keluar dari jari-jarinya.


"Harg! Harg!" erang para monster yang terkena lendir itu dan kini saling menempel. Mereka jatuh karena saling tarik-menarik agar bisa terlepas.


Sedang Fara. Ia yang tak ingin menjadi pitak, hanya mencabut sepuluh helai rambut jarumnya. Ia menancapkan ujung rambutnya dengan sebuah bantalan karet. Karet itu terhubung dengan tali elastis sehingga bisa ditarik ulur dengan mudah. Fara menggunakan sebuah busur setelah Loria menyarankan agar rambut jarumnya difungsikan layaknya anak panah.


Beruntung, pesawat yang ditumpangi mereka menyimpan set dari panah seperti milik Lysa. Selama penerbangan, Polo dibantu oleh Nero melakukan modifikasi senjata itu. Nero yang bisa menyemburkan racun dari ludah ketika mata ungunya menyala, dimanfaatkan oleh Fara untuk mengolesi bagian ujung rambut jarum dengan cairan mematikan itu. Fara menyimpan ludah beracun Nero dalam sebuah botol kaca yang ia sangkutkan di pinggulnya. Fara mencelupkan ujung rambut jarum sebelum melesatkan anak panah mematikannya ke arah musuh.


SHOOT! JLEB! CRAT! BRUKK!


"Yeah! Kau berhasil, Fara! Tepat sasaran!" puji Marco ketika adik King D tersebut membidik wajah salah satu monster dan berhasil mengenainya.


Hampir tak ada rintihan kesakitan, monster itu ambruk begitu saja usai wajahnya berlubang karena meleleh akibat racun dari Nero. Senyum Fara terkembang. Ia tersipu malu karena dipuji oleh pria bermanik merah tersebut. Fara menjadi semakin bersemangat untuk menjatuhkan lebih banyak monster.


"Herggg!"


KRAK! KRAK! KRAK!


"Ya ampun. Itu kepala atau kerupuk? Meriah amat remukinnya!" seru Obama sampai meringis dan duduk dengan gelisah ketika menyaksikan Nero mengincar kepala para monster agar berhenti menyerang.


Nero yang diberikan julukan Phyton oleh Bojan karena kemampuannya yang bisa meremukkan tulang layaknya ular besar itu, tak terlihat takut, jijik atau ngeri ketika harus berhadapan langsung dengan para monster. Namun, tewasnya seorang monster malah membuat monster lainnya makin beringas. Mereka seperti saling terhubung dan bisa merasakan kaumnya dalam bahaya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


doakan vaksin booster lele hari ini lancar gaes dan bisa segera menyelesaikan king D tepat waktu. uber2an waktu ini mah. cemangat💪


__ADS_2