KING D

KING D
Red Skull*


__ADS_3

Fara terkejut karena ia malah ditodongkan senjata. Marco, Polo, Souta dan tiga lelaki Mongol ikut mengangkat tangan ke atas terlihat gugup.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris dan Mongol. Terjemahan.


"Pa-paman Arthur? Ka-kau tak mengenaliku?" tanya Fara terlihat sedih.


Perlahan, asap hijau itu memudar terbawa angin. Keheningan dan kedamaian kembali terasa usai para monster yang menyerang tim Marco-Polo tewas di beberapa tempat.


Para wanita bersenjata itu melepaskan masker dan terlihatlah sosok aslinya. Tampak jelas wajah-wajah mereka dipoles dengan make up tebal ciri khas geng Red Skull.



"Oh! Kau 'kan?" tegur Marco saat menunjuk salah satu wanita Red Skull berambut pirang yang tak lain adalah kekasih Lucas—Rea.


"Halo, Marco, Polo. Lama tak bertemu," sapanya dengan senyuman, diikuti oleh para wanita lainnya yang berjalan mendekati dua orang itu seraya menjabat tangan.


Namun, Fara masih ditodongkan senjata. Arthur mendekati gadis manis yang meneteskan air mata terlihat sedih itu lalu membungkuk dan mengamati wajahnya saksama.


"Dia tak apa! Dia tak berbahaya! Itu kesalahan dari serum yang pernah disuntikkan Hope padanya!" seru Marco di kejauhan.


Fara terkejut karena Marco seperti membelanya. Tangis Fara mereda dan langsung menghapus air matanya cepat.


Arthur memegang dagu Fara dan mengangkatnya perlahan hingga mata mereka bertemu.


"Kau tetap terlihat manis meski bertaring, Fara. Halo, apa kabar?" sapa Arthur yang malah membuat Fara kembali bercucuran air mata.


"Huwaa! Paman Arthur jahat! Kukira kau tak mengenaliku!" teriaknya seraya memukul dada pria tua itu yang kini memiliki kumis dan brewok seperti Maksim.


Arthur menahan sakit di tubuhnya, tapi langsung memeluk adik King D tersebut dengan senyuman. Fara masih menangis, tapi balas memeluk.


"Syukurlah kalian baik-baik saja. Aku sangat cemas setelah mengetahui kalian tak bisa dihubungi oleh anggota Red Skull," ucap Arthur yang membuat kening semua orang berkerut.


"Kami juga tak bisa menghubungimu, Tuan," sahut Polo curiga.


"Oh! Kini semuanya jelas," sahut Viona—kekasih Ritz—saat menunjuk sebuah besi di belakang mobil yang menyala lampu merah.


"Siapa yang menyalakan pemancar fatamorgana portabel?!" pekik Souta langsung melotot.


Terlihat wajah Oktai pucat. Mulutnya bergerak seperti orang tergagap.


"A-aku kira dengan menyalakannya kita akan mendapatkan sinyal. Aku sungguh tak tahu jika lampu berkedip itu tandanya malah membuat sinyal kita terblokir. A-aku minta maaf."


Souta menggertakkan giginya. Polo hanya bisa memejamkan mata seraya memalingkan wajah terlihat bersabar dengan hal itu.


Sedang dua kawan Mongol-nya geleng-geleng kepala seperti menganggap kawan mereka itu bodoh.


"Aku sungguh tak tahu!" serunya membela diri.


"Sudahlah. Yang penting kalian selamat," sahut Arthur pelan meski wajahnya malas.


"Mm, Tuan Arthur, benar itukan nama Anda?" tanya Polo, dan lelaki tua itu mengangguk. "Kami melihat ada banyak manusia selamat di kapal," sambung Polo.


"Ah, kau benar. Kami menunggu kalian di sana selama ini. Ada Daniel juga. Dia ikut terbangun bersamaku. Hanya saja, ada yang aneh. Sepertinya kami dipindahkan," jawabnya yang membuat semua orang terkejut.


"Dipindahkan?" tanya Fara mengulang dan Arthur mengangguk.


"Seingatku, yang ditidurkan bersamaku ada Maksim, Yuri, Daniel, Red, Q, Mix, Match, dan nyonya Manda. Hanya saja saat aku bangun, Daniel masih tertidur, dan orang-orang yang ditidurkan bersama kami tak ada. Kami berada di tengah danau dan diawasi secara ketat oleh orang-orang yang menyelamatkan diri di atas kapal usai mereka tahu jika para monster tak bisa berenang karena mereka akan tenggelam," jawabnya yang membuat semua orang melongo.


"Lalu ... di mana paman Daniel?" tanya Fara melongo.


"Dia di atas kapal bersama orang-orang itu," jawabnya seraya menunjuk ke arah kapal di tengah danau.


Anggota tim Marco-Polo mengangguk paham. Senyum Fara langsung merekah.


"Kata mereka, kami ditemukan terapung dalam sebuah tabung. Sayangnya, saat mereka berusaha untuk mengamankan dua tabung kami, sistem keamanan tabung aktif. Empat orang tewas dan akhirnya tabung kami dibiarkan begitu saja di atas air seperti perahu yang mengapung sampai akhirnya aku bangun dengan sendirinya. Kemudian aku membangunkan Daniel setelahnya," jawab Arthur yang mengejutkan semua orang.


"Lalu ... apakah kau sudah mendatangi kastil di Krasnoyarsk? Bagaimana dengan kastil Borka?" tanya Fara lagi, tapi Arthur menggeleng.


"Kami dikepung oleh para monster. Satu-satunya jalan dengan terbang, tapi kami tak memiliki kendaraan atau alat apa pun untuk melintasi langit. Kami bertahan hidup dengan makan ikan setiap hari. Sebuah keajaiban kami bisa selamat sejauh ini dan akhirnya pertolongan datang karena kalian menuju kemari," jawab Arthur menjelaskan.


"Kalian bertemu dengan anggota Red Skull," timpal Polo, dan Arthur mengangguk.


"Arthur, sebaiknya kita segera pergi. Tempat ini tak aman," ucap Doma—kekasih Edward—dengan senapan laras panjang dalam genggaman

__ADS_1


Arthur mengajak semua orang untuk segera masuk ke dalam helikopter. Barang-barang yang masih bisa diselamatkan ikut diangkut oleh mereka.


Namun, bukannya terbang ke Krasnoyarsk, benda terbang itu malah menuju ke kapal. Fara dan lainnya hanya saling memandang dalam diam enggan berkomentar.


Sebuah tali tangga diturunkan saat helikopter melayang. Ternyata, helikopter kargo tersebut bermaksud untuk mengangkut orang-orang yang berada dalam kapal untuk ikut bersama mereka.


Satu per satu orang-orang itu menaiki tangga meski mereka tampak terkejut ketika melihat sosok Fara.


Arthur bicara dalam bahasa Rusia dan menjelaskan jika Fara bukanlah ancaman. Orang-orang itu mengangguk paham meski masih terlihat tegang dan menjaga jarak.


Fara memalingkan wajah terlihat tersinggung dengan tatapan aneh orang-orang padanya. Tim Marco-Polo sepertinya menyadari perubahan wajah gadis manis tersebut.


"Mereka belum tahu saja kalau kau memiliki kemampuan luar biasa, Fara. Abaikan pandangan mengejek mereka. Kami tahu kau gadis seperti apa. Itu hanya taring, bukan masalah besar," ucap Marco yang duduk di sebelah gadis cantik itu.


Fara diam saja tak menjawab dengan pandangan tertunduk. Marco menatap Fara saksama, tapi perlahan, tangannya berada di kepala gadis manis itu lalu mengelusnya.


Arthur dan lainnya terkejut seraya melirik sikap Marco yang seperti peduli pada adik King D tersebut. Fara akhirnya tersenyum dan terlihat mulai bisa menceriakan hatinya lagi.


"Oh! Kalian?" ucap seorang lelaki tua saat ia baru saja menapakkan kaki di lantai kabin.


"Paman Daniel!" seru Fara yang membuat kening Daniel berkerut.


"Kau Fara bukan? Kenapa kau memiliki taring?" tanya Daniel bingung dengan mata berkedip berulang kaki.


"Ini ulah si Hope. Awas saja jika bertemu. Akan kugigit dia dengan taringku!" jawabnya sebal.


"Hope? Siapa Hope?" tanya Daniel bingung.


"Akan saya jelaskan ketika kita sudah tiba di Krasnoyarsk, Tuan," sahut Souta, dan Daniel mengangguk lalu duduk di bangku yang masih kosong.


Helikopter terbang meninggalkan Lake Baikal. Arthur dan lainnya sepakat untuk membawa semua orang ke kastil Krasnoyarsk karena Fara mengatakan jika kakaknya beserta tim menuju ke sana untuk mengungkap sebuah kasus.


Saat helikopter memasuki wilayah kastil, betapa terkejutnya ketika orang-orang itu melihat sebagian bangunan kastil runtuh. Praktis, Daniel dan lainnya dibuat panik seketika.


"Pemancar Fatamorgana dinonaktifkan. Pusat kendali bisa dihubungi, tapi tak ada yang menjawab!" seru Doma dari bangku kemudi.


"Daratkan di halaman," titah Daniel seraya menunjuk.


Fara dan lainnya dibuat cemas akan keadaan King D serta lainnya. Para warga sipil diminta untuk tetap berada di dalam helikopter dijaga oleh tiga pria Mongolia.


Arthur, Daniel, Fara, Marco, Polo, Souta dan para wanita Red Skull mencoba mencari tahu apa yang terjadi di kastil peninggalan Boleslav tersebut.


"King D! Irina!" panggil Polo saat melewati puing-puing reruntuhan kastil mencoba mencari keberadaan orang-orang itu.


"Tak bisakah kau gunakan kemampuan penciumanmu?" tanya Fara menatap Marco lekat.


"Bau King D tak bisa terdeteksi. Namun ... oh! Otong! Aku ingat baunya!" seru Marco langsung memejamkan mata seraya mencoba untuk fokus pada indera penciumannya.


Saat semua orang dibuat tegang, tangan Marco malah mendorong lengan Fara seperti memintanya menjauh.


"Baumu begitu kuat. Menyingkirlah. Ini serius," tegasnya masih memejamkan mata.


Fara mendesis kesal, tapi menurut. Gadis itu melangkah dengan gusar menjauh dari Marco menuju ke sisi lain dari bangunan yang sudah kehilangan temboknya.


Daniel, Arthur dan lainnya hanya saling melirik enggan berkomentar. Saat Marco sedang fokus, tiba-tiba saja, "Itu kak Irina!" seru Fara yang membuat Marco langsung membuka mata.


Terlihat, Irina merangkak dengan tubuh sudah berlumuran darah seperti terkena beberapa benda yang melukai kulitnya karena hanya mengenakan pakaian sipil bukan seragam tempur.


Segera, semua orang berlari untuk menolong wanita cantik itu. Mata Irina menyala hijau terang, tapi tubuhnya terlihat lunglai dan pucat.


"Kak Irina!" panggil Fara saat berjongkok di sampingnya.


Irian menoleh dengan wajah kaku, dan tiba-tiba saja, BRUKK!!


"Irina!" panggil Daniel panik langsung mendatangi puteri dari Sia tersebut.


"Lihat! Itu King D dan Obama Otong!" seru Marco saat mendapati sosok keduanya yang direbahkan berjejer dekat puing bangunan dan mendapatkan luka di kepala karena berdarah.


Segera, para wanita Red Skull mencoba mengobati dua lelaki itu termasuk Irina yang dibopong oleh Souta untuk di jejerkan bersama Obama dan King D.


"Mana yang lain?" tanya Polo panik seraya melihat sekitar.


"Aku mencium bau yang kukenal. Seperti ... oh! Maksim dan Sakura! Lewat sini!" seru Marco yang dengan sigap berlari melompati puing-puing.

__ADS_1


Daniel, Arthur dan Fara ikut berlari untuk menolong lainnya. Sedang para wanita Red Skull fokus untuk mengobati tiga orang itu karena mengalami luka dibeberapa bagian tubuh.


Para warga sipil yang masih menunggu di helikopter tergerak hatinya untuk menolong. Mereka nekat keluar dari benda terbang tersebut bersama tiga pria Mongol.


"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Turgen mengabaikan luka di tubuhnya akibat serangan monster.


"Bantu bersihkan lukanya. Ada selimut dan beberapa perlengkapan dalam tas besar di helikopter. Tolong bawa kemari semuanya. Cepat!" jawab Doma panik.


Turgen dan dua kawan Mongol-nya bergegas kembali ke helikopter untuk mengangkut semua tas yang ada di sana.


Para warga sipil yang diselamatkan dari atas kapal ikut membantu membawakan tas-tas besar itu ke dalam kastil yang sudah kehilangan dinding kokohnya meski masih terlindungi atap.


"Apa yang terjadi?" tanya Ganzorig seraya menelan ludah melihat sekitar.


"Entahlah. Namun, kurasa mereka diserang hingga kastil ini meledak. Semoga saja Maksim dan lainnya selamat," jawab Rea cemas.


Saat semua orang dibuat sibuk melakukan pertolongan pertama untuk menyadarkan tiga orang itu, tiba-tiba saja, "Hah?!" pekik Viona ketika tangannya dipegang oleh King D yang membuka mata begitu saja.


"Borka ... Dominic ... pergilah ke Borka ...," ucapnya dengan wajah tegang hingga keningnya berkerut.


Para wanita Red Skull menatap King D saksama dan mendengarkan penuturannya. Namun, lelaki dengan dua warna mata itu kembali pingsan usai mengatakan sebuah informasi pada mereka.


"Mungkinkah ... kastil Borka juga diserang? Jika ya, ini gawat!" seru Cathy—kekasih Hugo.


Sontak, mata anggota Red Skull melebar dengan rasa cemas menyebar cepat dalam pikiran mereka. Namun, tak lama muncul Polo serta lainnya yang memapah orang-orang dari dalam kastil.


"Oh! Mereka ditemukan dan selamat!" seru Cathy menunjuk.


Beruntung, Maksim, Sakura, anggota Red Skull, para pengungsi Mongol, Sarnai, dan anggota tim Marco-Polo berhasil diselamatkan meski terluka parah. Orang-orang itu dikumpulkan bersama King D dan lainnya.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Sakura yang hanya mengenakan handuk piyama karena tadinya ia ingin mandi akibat darah monster yang mengotori seragam tempurnya.


"Kami tak tahu, tapi sepertinya pingsan," jawab Viona seraya membersihkan luka pada kepala Obama Otong karena mengeluarkan darah.


"Pasti ulah Hope. Tak akan kumaafkan," geram Jason dengan napas tersengal.


"Ada beberapa obat dan perlengkapan di helikopter King D. Ambilah," ucap Chen seraya memegangi tangannya yang mengalami bengkak seperti patah.


Polo dan Marco dengan sigap berlari ke tempat helikopter tersebut di daratkan. Mereka yang sudah dikenali oleh pemindai sistem keamanan helikopter, dengan mudah memasuki benda terbang tersebut dan mengambil perlengkapan.


Praktis, kastil yang tadinya sepi kini menjadi ramai bagai tempat pengungsian karena diisi oleh para manusia meski beberapa diantara mereka luka-luka.


"Sudah berapa lama luka ini? Kau seperti mengalami tetanus," tanya Cathy seraya melihat luka pada punggung Hugo.


"Entahlah, dua atau tiga hari. Sebelum ini, aku memang merasakan sakit di punggung, tapi kubiarkan saja," jawab Hugo seperti mengalami kaku dan tegang pada rahang hingga ia kesulitan bicara.


Jason yang mengalami luka ringan mengambil beberapa peralatan medis dari ruangan di kastilnya. Ia menggunakan pemindai portabel untuk mengecek kondisi organ dalam teman-temannya.


"Kau benar, dia mengalami tetanus," jawab Jason usai sistem menganalisis luka tersebut.


Hugo terlihat begitu kesakitan. Tubuhnya menggigil seperti demam. Jason segera beranjak ke kawan lainnya yang ikut mengalami luka serius di bagian tubuh karena ledakan besar yang terjadi di rumahnya. Jason memberikan alat pemindai tersebut kepada Rea untuk mendeteksi sakit yang diderita kawan-kawannya.


Cathy mencoba menyelamatkan kekasihnya dengan mencari obat yang mungkin bisa mengobati sakit yang diderita Hugo. Hingga ia mendapati kotak obat dan terdapat serum bertuliskan tetanus di sana.


Cathy mengambil suntikan tersebut dan tanpa pikir panjang, ia menusuk kulit Hugo saat kekasihnya itu terpaksa tidur tengkurap karena punggungnya terluka.


"Ini, gunakan obat ini untuk ...," ucap Jason saat kembali datang seraya membawa sebuah obat, tapi seketika langkahnya terhenti. Matanya langsung terkunci pada botol serum yang digunakan oleh Cathy dan sudah kosong itu. "Kau menyuntikkan serum itu pada Hugo?!" tanya Jason memekik yang membuat Cathy langsung menoleh ke arahnya, begitupula semua orang.


"Ya. Ini kotak obat 'kan? Memangnya ... ada apa?" tanya wanita cantik itu tampak bingung.


Praktis, mata semua orang melebar. Jason langsung melangkah mundur dengan gelagat aneh seperti menyadari ada aura aneh yang dipancarkan oleh Hugo.


"Hempf, hempf," dengkus Hugo dengan dua tangan mengepal dan tubuhnya menegang saat tiba-tiba saja hal aneh terjadi padanya.


"Fara gak suka aura ini. Fara gak suka," ucap gadis manis itu terlihat panik dan mundur menjauh termasuk Marco, Polo, dan Jason.


"Hu-Hugo?" panggil Cathy terlihat gugup saat kekasihnya mengerang seperti terjadi sesuatu dalam dirinya.


***



uhuy makasih tipsnya😍 puanjang nih epsnya 😁 ditunggu kucuran koinnya biar panjang eps dan dobel eps tiap harinya. tengkiyuw lele padamu💋

__ADS_1


__ADS_2