
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
King D terlihat lega karena banyak mafia senior di dekatnya. Ia lalu duduk di kursi menghadap tiga anggota kolektor tersebut.
"Bagaimana Anda semua bisa berkumpul di sini? Terutama Anda, Tuan Ivan," tanya King D penasaran.
Ivan tersenyum, tapi malah kembali ke dudukan pilot. King D terlihat bingung dan kembali menatap tiga senior di depannya.
"Tabung kami memang disimpan bersamaan dengan anggota kolektor lainnya di Bulgaria. Namun, entah apa yang terjadi. Saat bangkit, kami tak berada di markas kolektor. Kami ada di sebuah gudang penyimpanan sebuah pelabuhan di Yunani. Lalu, ada sepucuk surat yang di tinggalkan pada penutup tabung. Sepertinya, surat itu memang ditujukan untuk kami. Selanjutnya, kami mengikuti arahan itu dan bertemu dengan Ivan di titik temu," jawab Iskra yang membuat kening King D berkerut.
"Surat? Bisa kulihat apa isinya?" tanyanya penasaran.
Malek memberikan surat miliknya kepada King D di mana isi surat dari tiga anggota kolektor itu sama, termasuk Ivan. Mata King D menyipit saat membaca surat yang ditulis dengan mesin ketik tersebut. Bahkan, kertasnya cukup tebal dan berwarna cokelat seperti sampul. King D membacanya dengan saksama.
"Malek Tunisia, Mallika Libya, Iskra 'HURI', dan Ivan Benedict. Pergilah ke Mauritania tempat pos darurat peninggalan Tuan Kai yang kini dikelola oleh Sandara Liu. Kami sudah menyiapkan armada untuk membawa kalian ke sana. Di Mauritania, kalian akan mendapatkan petunjuk lainnya. Bergegaslah dan hati-hati. Wabah monster masih belum dituntaskan dan sekaranglah waktunya bagi kalian untuk membantu. Utusan 13 Demon Heads," ucap King D membacakan surat itu.
"Cermati kata-kata 'kami'. Itu berarti, ada kelompok dari 13 Demon Heads yang selamat dan merencanakan untuk menyelesaikan wabah. Hanya saja, sampai sejauh ini, aku belum bertemu salah satu dari mereka kecuali orang-orang yang disebutkan dalam surat," terang Mallika.
"Lalu di Mauritania, apa yang kalian temukan?" tanya King D penuh selidik.
"Kami menemukan pesawat ini. Awalnya, kami pergi menggunakan kapal. Bahan bakar yang disediakan sangat cukup untuk menempuh perjalanan. Selama kami berlayar, ternyata banyak monster yang mengejar kapal dari tepi pantai. Kami yang ingin ikut menyelesaikan wabah, terpaksa membunuh para monster dalam jangkauan untuk membersihkan rute," terang Malek. King D mengangguk paham.
"Sayangnya saat kami bertiga tiba di Mauritania, Ivan tak datang. Kami cemas dan menunggu cukup lama selama satu minggu di pos darurat. Kami akhirnya meninggalkan surat kepada Ivan di pos tersebut dan memintanya untuk datang kemari. Sebab, di surat yang ditinggalkan oleh utusan 13 Demon Heads, orang itu meminta kami untuk menunggu anggota lain di negara ini," imbuh Iskra.
"Anggota lain? Siapa?" tanya King D bingung.
"Kau," jawab tiga anggota kolektor serempak. King D tertegun. Pria itu diam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"Memangnya, kita sekarang di mana?" tanya King D heran seraya melongok ke arah jendela.
"Guinea. Kita dalam penerbangan menuju ke Gabon. Menurut surat yang bagi kami seperti pesan berantai, tiap kami tiba di suatu negara, pasti ada orang yang diangkut. Oleh karena itu, kami percaya jika utusan 13 Demon Heads bermaksud untuk menyelamatkan orang-orang yang tersebar di beberapa tempat dan mengumpulkannya," terang Mallika.
"Gabon. Di mana tepatnya kita akan berkunjung?" tanya King D heran.
"Ada sebuah rumah tepi pantai dengan landasan pesawat pribadi milik salah satu kolektor. Kami merasa, jika akan ada penjemputan lagi," jawab Iskra serius.
Saat King D sedang berpikir serius, tiba-tiba ia teringat akan tim yang dikirimkan Rohan untuknya.
__ADS_1
"Aku melupakan mereka!" pekik King D dengan mata membulat penuh.
"Mereka siapa?" tanya Mallika bingung.
"Tim Rohan yang datang menjemputku di Cape Verde. Bagaimana sekarang? Aku membuat misi mereka sia-sia!" pekik King D terlihat frustasi.
Iskra dan lainnya saling memandang seperti ikut memikirkan hal ini. Saat orang-orang dilanda kebingungan, Ivan memberikan tanda dari pengeras suara dengan suara ketukan seperti sandi morse.
"Oh, kita akan mendarat. Kita akan bantu pikirkan hal ini, D. Tenanglah," ucap Iskra. King D mengangguk pelan meski masih terlihat cemas.
Pesawat mendarat dengan sempurna di sebuah wilayah luas dekat tepi pantai. Kening King D berkerut saat ia melihat ada sebuah kapal berlabuh di sebuah dermaga khusus dari hunian pribadi itu. Tempat itu begitu sepi meski terlihat indah. Tak berantakan seperti wilayah yang dilewati oleh King D selama ini. Tempat itu seperti tak terkena dampak dari wabah monster karena terlihat rapi.
"Ivan," panggil Malek terlihat siap dengan senapan laras panjang dalam genggaman.
Ivan mengangguk pelan dan berjalan dengan mantap meski umurnya sudah tak muda lagi. Saat King D melangkah keluar dengan pistol dalam genggaman dari pemberian Iskra, tiba-tiba, "King D!" panggil seseorang yang membuat mata pria itu melebar seketika.
"Shamsa? Kalian?" sahutnya terkejut karena mendapati tim dari Shamsa berada di kediaman tersebut.
King D terlihat senang dan bergegas berlari mendatangi anggota militer gabungan Timur Tengah yang ternyata berkumpul di sana.
"Bagaimana bisa kalian berada di tempat ini?" tanya King D heran saat menyalami orang-orang itu.
"Saat kami dikeroyok dan berpikir akan mati, tiba-tiba saja muncul kepulan asap seperti Rainbow Gas dari dalam kapal. Para monster dan kami terkena dampak. Kami sekarat dan sudah tak ingat apa pun. Akan tetapi, ketika sadar, kami sudah berada di tempat ini dalam tabung. Kami tak tahu siapa yang menolong dan hanya sepucuk surat ditinggalkan. Di situ tertulis agar kami menunggu jemputan dan jangan pergi ke mana pun. Kami menurut dan, kau datang," terang Gibran yang membuat King D dan kelompok barunya semakin terheran-heran.
"Apakah surat itu tertanda dari Utusan 13 Demon Heads?" tebak Malek, dan diangguki oleh Irsyad.
"Siapa utusan itu? Dia menolong kita secara diam-diam. Apakah ... orang yang bangkit dari tabung dan memiliki misi khusus secara rahasia?" tanya Iskra menyimpulkan.
King D dan lainnya menggeleng tidak tahu. Saat semua orang dilanda kebingungan, Ivan yang tak ikut mendengarkan, keluar dari kediaman salah satu kolektor seraya membawa sebuah gulungan kertas dan juga koper hitam besar. Mata semua orang kini tertuju pada pria tua itu. Ivan memberikan surat itu pada King D. Putra Javier segera menerima dan membukanya.
"Oh, petunjuk lagi!" pekiknya saat melihat tulisan paling bawah surat tertanda 'Utusan 13 Demon Heads'.
"Apa isi suratnya, D?" tanya Mallika penasaran.
"Aku dan tim Shamsa diminta untuk segera ke Australia. Sedang kalian, diminta untuk pergi ke Grey House di China," jawabnya serius.
"Wah, tujuan kita bertolak belakang. Bahan bakar tak akan cukup untuk mengantarkan ke Australia lalu melanjutkan ke China," terang Iskra seraya melirik Ivan.
__ADS_1
"Oh, India! Bukankah ada markas di India yang dijaga oleh Yohanes? Bagaimana jika singgah di sana untuk meminta bahan bakar?" saran Etra yang membuat para mafia lainnya tertegun.
"Markas milik Jamal?" tanya Malek mengulang.
"Kalian sepertinya belum tahu banyak. Akan kuceritakan sembari tim Shamsa memindahkan perlengkapan ke dalam pesawat. Bagaimana?" tanya King D menatap Shamsa.
"Oke. Serahkan pada kami," jawab pemimpin kelompok itu mantap.
Shamsa mengkoordinir kelompoknya untuk segera memindahkan barang-barang termasuk tabung yang menyimpan mereka sementara waktu ke dalam pesawat. Ivan terlihat senang saat membuka koper dan mendapati sebuah kalung penerjemah di dalamnya. King D berwajah serius di mana ia berpikir jika semua ini telah direncanakan oleh seseorang tanpa sepengetahuan jajaran.
"Utusan 13 Demon Heads. Siapa mereka?" guman King D seraya melihat sekitar di lautan penuh curiga.
"Jadi ... ada yang ingin Anda sampaikan, Tuan Ivan Benedict?" tanya Iskra dengan senyuman.
"Ya. Anak buah Hope membawa semua tabung yang disimpan dalam rumahku. Orang itu sungguh kurang ajar. Beruntung aku bangun sebelum tabungku dipindahkan. Sialnya, armada yang dijanjikan untukku tak membawaku dengan selamat sampai ke tujuan. Helikopter yang kukendarai habis bahan bakar dan membuatku kesulitan mencari kendaraan lain untuk sampai Mauritania. Aku terdampar di Gurun Sahara dan hampir mati. Anehnya, sama seperti kejadian hari ini. Saat kubangun, aku sudah berada di pos darurat peninggalan Kai dan ada sebuah motor trail di sana. Aku mengendarai motor itu sampai bahan bakar habis untuk bisa tiba di titik temu selanjutnya. Saat itulah, aku bertemu King D di mana kematian terasa sangat dekat karena aku kelaparan, kehausan, lelah, dan sekumpulan monster berambisi untuk membunuhku," ucapnya terlihat letih.
"Aku merasa ... kita ditolong sekaligus dimanfaatkan," ucap King D tiba-tiba.
"Apa maksudmu, D?" tanya Mallika bingung.
"Selama perjalanan, kita bertemu dengan para monster. Sepertinya, Utusan 13 Demon Heads sengaja membuat kita membasmi monster-monster itu untuk membersihkan rute. Kita semua berhadapan dengan para monster agar bisa bertemu bukan? Aku rasa, Utusan itu mengawasi pergerakan kita. Namun ... dengan cara apa, itu yang aku tak tahu," jawab King D tampak waspada.
"Aku setuju," sahut Ivan, dan diangguki mafia senior lainnya.
"D! Semua sudah siap!" seru Shamsa dari palka belakang pesawat.
"Ayo! Kita harus bergegas. Kurasa, tujuan kita selanjutnya adalah India. Mengingat tak ada lagi petunjuk ke mana kita harus pergi kecuali Australia dan Grey House," terang King D dari surat yang sedang ia gulung.
"Aku tak menyangka jika ada mafia lain yang sudah bangun dari tabung dan masih hidup. Kau berhutang banyak cerita pada kami, D," ucap Malek, dan putra Javier itu mengangguk paham.
Kali ini, Irsyad dan Gibran yang mengemudikan pesawat kargo tersebut. Sedang King D dan lainnya berkumpul di kabin. King D menceritakan kejadian usai dirinya bangun dari tabung hingga berakhir bersama kelompok itu.
Praktis, kisahnya membuat para mafia senior terkejut karena tak menyangka jika kawan-kawan mereka sudah melakukan banyak hal terlebih dahulu. Dan kini, penentuan dari semua perjuangan mereka selama ini untuk melenyapkan Hope yang dianggap sebagai sumber petaka.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya😍 lele padamu💋 yg lain ditunggu sedekahnya ya. kwkwkw😆