Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
10. Calon Idola


__ADS_3

"Nggih Pak, memang salah satu impian dan cita-cita saya adalah bisa menjadi Guru, itu sudah sejak kecil saya sampaikan pada Ibu saya, dan Alhamdulillah Ibu saya merestui."


Kata Ridwan kepada pak kepala sekolah.


Keduanya berbincang serius di ruangan Pak Kepsek.


"Baiklah Pak Ridwan, nanti panjenengan mulai aktif mengajar hari Senin depan nggih, semoga semuanya dilancarkan tak ada halangan sesuatu apapun."


"Aamiin. inshaAllah Pak..."


Ridwan mengangguk.


Keduanya lantas berdiri dan berjabat tangan, sebelum akhirnya sama-sama keluar dari ruangan kepala sekolah.


Ada tampak beberapa guru yang sudah pergantian jadwal, diantaranya adalah Bu Guru Iis yang tak ada di kantor, sementara beberapa guru lain justru kini berada di sana, termasuk Bu Guru Tiwi dan Bu Guru Lela.


"Bu Guru dan Pak Guru sekalian, monggo ini Pak Guru Ridwan, tim kita yang baru, yang akan mengajar pelajaran agama untuk anak-anak."


Kata Pak Kepala Sekolah memperkenalkan Ridwan kepada para Guru lain yang ada di kantor.


Bu Guru Lela dan Bu Guru Pratiwi terlihat sangat terkejut, melihat betapa tampannya sosok Pak Guru baru sekolah mereka.


Ya, meskipun mereka semula sudah heboh karena akan ada Guru baru bujangan, namun tentu saja, mereka tak menyangka jika Guru baru di sekolah mereka ini sangat tampan.


Ridwan yang diperkenalkan oleh Pak Kepala Sekolah tampak tersenyum, ia membungkuk memberi salam pada beberapa Bu Guru yang ada di sana, sementara kepada pak Guru Hasan, tentu saja Ridwan mengajaknya bersalaman.


Hari itu Ridwan kemudian langsung diantar Pak Kepala Sekolah untuk keliling gedung sekolah lebih dahulu, memperlihatkan beberapa ruangan, termasuk menjelaskan di sekolah mereka ada apa saja, kegiatan ekstrakurikuler apa saja.


Tak lupa pak Kepala Sekolah juga memperkenalkan Ridwan ke teman-teman yang ada di bagian Tata usaha.


Sebetulnya, biasanya Pak Kepala Sekolah tidak demikian, namun pada Ridwan, Pak Kepala Sekolah tampaknya memberi perhatian lebih karena jarang sekali di jaman sekarang ada pemuda yang sungguh-sungguh sholeh, berprestasi, sopan, dan memiliki begitu banyak impian mulia.


Ya... setelah berbincang dengan Ridwan, tampaknya Pak Kepala Sekolah merasa semakin mengagumi sosok pak Guru Agama baru di sekolahnya tersebut.

__ADS_1


Sekitar hampir dzuhur, Ridwan akhirnya pulang begitu semua urusannya di sekolah yang akan menjadi tempatnya mengabdi selesai.


Ridwan pulang naik angkutan lagi, lalu dari jalan besar kembali melanjutkannya dengan berjalan kaki hingga ke rumah.


"Assalamualaikum..."


Ridwan menguluk salam saat masuk ke dalam rumahnya di mana pintunya tak dikunci.


Aroma masakan tercium cukup sedap hingga membangkitkan selera makan Ridwan.


"Waalaikumsalam..."


Sahut suara di dalam rumah.


Suara Ibunya yang sepertinya masih berada di dapur.


Ridwan berjalan ke arah asal suara sang Ibu, tampak Ibu benar ada di sana, baru selesai masak.


"Bu."


"Sudah pulang, kok cepat?"


Tanya Ibu.


"Nggih, cuma urusan administrasi dan perkenalan saja Bu, mulai mengajarnya Senin depan."


Kata Ridwan.


"Oo begitu."


Ibu mantuk-mantuk.


"Ya sudah lebih baik kamu makan siang dulu, nanti setelah itu sholat dzuhur baru pergi istirahat."

__ADS_1


Kata Ibu yang lantas meraih satu mangkuk tumis kangkung dan satu piring dengan beberapa potong tempe goreng dan beberapa ikan pindang.


"Sini Bu, Ridwan saja yang bawa."


Ujar Ridwan.


Ibu menggeleng.


"Kamu bari saja pergi, cuci muka dan cuci tangan dulu."


Kata Ibu.


Ridwan yang mendengar jadi tersenyum.


"Oh nggih Bu, maaf, Ridwan kadang lupa."


Ibu mantuk-mantuk.


"Tek cuci muka dan cuci tangan dulu Bu."


"Iya, Ibu siapkan di ruang makan."


Kata Ibu.


Ridwan lantas bergegas ke arah belakang rumah, menuju sumur, menimba air untuk di masukkan ke dalan ember cat yang biasa untuk wudhu, lalu cuci muka dan cuci tangan di sana.


Bukan untuk menghindari terkena virus saja, kegiatan ini memang musti dilakukan tatkala sehabis keluar rumah karena banyak energi negatif yang kerap mengikuti manusia pulang ke rumahnya.


Baru setelah cuci muka dan cuci tangan, Ridwan ke arah jemuran di mana di sana handuk miliknya di jemur Ibu.


Jemuran yang terbuat dari tambang yang di ikat ke pohon Nangka dan ke bagian sisi pagar bambu.


Ayam-ayam milik mbak Wening betok-betok di dalam kandang, heboh saat Ridwan mendekati jemuran yang memang dekat dengan posisi kandang.

__ADS_1


Baru setelah mengeringkan wajah dan kedua tangannya, Ridwan kembali masuk ke dalam rumah untuk bersantap siang bersama Ibunya.


**--------------**


__ADS_2