
"Assalamualaikum warahmatullahi..."
Ridwan menengok ke kanan.
"Assalamualaikum warahmatullahi..."
Ridwan menengok ke kiri.
Setelah menengok ke kiri, Ridwan sebetulnya biasanya akan duduk sebentar untuk berdzikir, namun kali ini ia terpaksa tak melakukan itu.
Ridwan bingung, kenapa tak terlihat di belakangnya ada makmum?
Padahal ia jelas tadi merasa ada yang menepuk dari belakang untuk memberitahu bahwa ada yang menjadi makmumnya di belakang.
Kosong...
Ya di belakang Ridwan tak tampak siapapun, tak ada yang berdiri di sana.
Ridwan pun kembali berbalik dan duduk sila, meski akhirnya ia tetap berdzikir, namun pikirannya jadi sibuk mengira-ngira siapa yang tadi berada di belakangnya.
Sampai ketika ia ingat saat dulu di pesantren juga ada teman Ridwan yang bercerita tengah Sholat dzuhur sendirian di masjid karena baru pulang sekolah jam satu siang.
Di Masjid, dia ada yang menepuk bahunya, ia berpikir bahwa ada teman lain datang yang menjadi makmum di belakangnya.
Tapi...
No.
Ternyata tidak ada.
Kosong.
Tak ada siapapun setelah ia mengucap salam, persis sebagaimana yang Ridwan alami saat ini.
Saat itu teman Ridwan itu langsung lari kocar-kacir keluar dari masjid, ia menceritakan kisahnya pada teman-temannya, dan kebetulan anak Abah Yai lewat.
Gus itu memanggil teman Ridwan, lalu menanyakan apa yang telah ia alami, dan Gus itu menjelaskan jika mereka bangsa jin muslim juga terkadang ikut sholat di masjid.
Jadi apabila mengalami hal semacam itu, ya cukup biasa saja, tidak udah berlebihan takut, tidak usah berlebihan bangga merasa jadi imam sholat jin muslim.
Tidak...
Tidaklah demikian.
__ADS_1
Lebihnya ilmu agama yang dimiliki seharusnya menjadikan manusia lebih rendah hati. Karena makin tahu banyak soal agama, pasti ia akan macam padi yang makin berisi maka makin merunduk.
Bukan malah sebaliknya.
Apalagi jika hal yang bersifat spiritual, yang tak semua orang bisa mengalami, itu jelas makin rentan ditunggangi rasa sombong.
Ridwan menyelesaikan Dzikirnya, termasuk membaca sholawat sebentar.
Setelah dirasa cukup, mengingat ia ke masjid tidak sendirian, maka Ridwan pun berdiri.
Ia ingat nasehat gus tentang makmum jin muslim, maka ia pun seolah melihat jin itu ada di sana, ia sedikit merunduk saat berjalan menjauhi tempatnya semula melaksanakan sholat sebagaimana jika ia melihat ada makmum manusia juga.
Ridwan berjalan keluar bangunan masjid, menyempatkan diri ke kotak amal, setelah itu benar-benar keluar.
Karena Ridwan ingat tadi sempat bertemu marbot masjid saat Ridwan baru wudhu, maka Ridwan keluar dari masjid daro pintu yang sama dengan saat tadi ia masuk.
Harapannya jelas agar ia bisa bertemu marbot itu.
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengucap salam pada Pak tua yang menjadi marbot masjid.
Beliau tengah duduk di area samping masjid dekat tempat wudhu.
Pak tua itupun menjawab salam Ridwan.
Salam pada sesama muslim ini, memang bukanlah hanya sekedar ritual saat bertamu, melainkan sebetulnya adalah saat kita bertemu dengan sesama saudara muslim.
Salam, adalah ucapan doa untuk kebaikan dan keselamatan pada saudara kita, yang memang sebetulnya dalam agama Islam adalah sebaiknya sesama muslim saling mendoakan hal yang baik.
Ridwan menghampiri Pak Tua, duduk bersimpuh agar sama rendahnya posisi mereka.
Baru setelah itu tampak Ridwan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pak tua marbot masjid tersebut sambil memberikan sejumlah uang.
"Maaf Pak, hanya sedikit, tapi semoga menjadi berkah untuk Bapak."
Kata Ridwan.
Kedua mata pak tua berkaca-kaca, bukan tentang uangnya, tapi tentang bagaimana Ridwan yang masih muda memiliki adab memperlakukan orang tua.
Jelas ia pemuda yang sholeh, dan pak tua sangat terharu masih ada pemuda yang hidup seperti Ridwan di masa seperti sekarang, yang bahkan ibadah saja untuk konten main-main, tentu sungguh itu tidak ada adabnya.
"Alhamdulillah Mas, Alhamdulillah... terimakasih, barokallah... semoga Allah yang membalas kebaikan panjenengan."
__ADS_1
Kata pak tua marbot masjid.
"Aamiin, Bapak juga semoga tetap sehat, panjang umur, dan mengurus masjid ini bisa jadi ladang pahala untuk Bapak."
Balas Ridwan.
Pak tua marbot masjid tersenyum seraya mengaminkan pula doa Ridwan.
Ridwan setelah itu pamit pada pak tua marbot, ia lantas menuju halaman depan masjid di mana di sana ia memarkirkan motornya.
Iis sudah berada di sana, menunggu seraya memainkan hp nya.
"Maaf agak lama."
Kata Ridwan, tampak Iis tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku juga baru dua menit saja."
Sahut Iis.
Ridwan tersenyum, lalu memberikan helm Iis dan dirinya sendiri juga memakai helm nya, baru setelah itu naik ke motor untuk segera ke tempat berikutnya.
"Makan apa ini?"
Tanya Ridwan.
"Yang biasa saja, ada sepertinya warung dekat sini."
"Nasi ayam?"
Tanya Ridwan,
Iis mengangguk sambil kemudian naik ke boncengan. Duduk menyamping di belakang Ridwan.
"Sudah ya?"
Tanya Ridwan memastikan Iis sudah siap posisinya.
"Nggih, sudah."
Kata Iis.
Ridwan pun lantas menyalakan mesin motornya, dan setelah itu membawa motornya menjauhi area masjid.
__ADS_1
**-------------**