
"Jadi, panjenengan akan bersama Bu Iis nggih Pak Ustadz?"
Tanya Mas Arif dalam perjalanan pulang setelah lebih dulu mengantar Iis dan Ibunya lebih dulu ke rumah.
Ridwan tampak tersenyum, baru kemudian mengangguk.
"InshaAllah,"
Jawab Ridwan pula,
Mas Arif pun tersenyum pula,
"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya Pak Ustadz, saya rasa panjenengan memang sangat serasi dengan Bu Iis, pokoknya kalau nanti panjenengan dan Bu Iis menikah, inshaAllah anak-anak yang terlahir adalah anak-anak sholeh dan sholihah."
Kata Mas Arif masih dari balik kemudi,
"Aamiin ya Allah,"
Ridwan pun mengaminkan.
Wajahnya tampak berseri-seri, tampaknya memang hatinya telah sungguh ikhlas melepas Anisa.
Lebih ikhlas lagi, karena perempuan yang pernah ia cintai sejak masih belia dulu, kini akhirnya bersanding dengan laki-laki sebaik Wisnu.
Di jaman sekarang, tentu mencari sosok seperti Wisnu sangatlah sulit, karena bukan hanya ia memiliki masa depan cerah, namun budi pekertinya juga luhur, tutur katanya baik terjaga, dan ia juga cukup menjaga kualitas ibadahnya.
Mungkin...
Mungkin memang belum sampai ibadah-ibadah sunnah, tapi untuk ibadah wajib, Wisnu cukup baik dalam menjaga kualitasnya. Itu bisa dilihat, dari saat ia selalu menyempatkan diri mampir ke masjid manakala masuk waktu sholat apabila ia tengah ada di perjalanan.
"Kapan rencananya akan menikahnya Pak Ustadz? Wah maaf ini jadi ingin tanya-tanya."
Mas Arif terdengar tertawa renyah,
Ridwan pun jadi ikut pula tertawa karenanya.
"Belum tahu Mas, belum ada pembahasan pasti ke arah sana, tapi yang jelas, doakan saja agar semuanya bisa berjalan dengan baik Mas."
Kata Ridwan.
Mas Arif pun mantuk-mantuk,
"Ya tentu saja Pak Ustadz, tentu saja saya doakan semuanya lancar, dimudahkan, di ridhoi, pokoknya semua yang terbaik sampai nanti menikah dan sampai setelah menikah juga."
Kata Mas Arif.
Ridwan tampak mengulum senyuman,
Hatinya terus mengaminkan apa yang dikatakan Mas Arif.
Ridwan menatap jalanan di luar sana, di mana kini tampak ladang dan kebun yang sebagian besar mulai dibabat untuk dijadikan tanah-tanah kavling.
Ridwan merasa, memang episode hidupnya kini telah berangsur akan berganti, pelahan tapi pasti, semuanya akan berbeda dari sebelumnya.
"Pak Ustadz mau langsung pulang, atau mau mampir ke yayasan dulu?"
Tanya Mas Arif, mengingat hari memang masih belum terlalu sore.
"Ngg, saya langsung pulang saja Mas, inshaAllah besok pulang mengajar, saya akan mampir yayasan."
Ujar Ridwan.
Mas Arif mengangguk,
"Nggih Pak Ustadz, siap."
"Lagipula, Mas Arif juga harus istirahat, sore nanti ada jadwal mengajar kan di rumah Tahfiz?"
__ADS_1
Tanya Ridwan.
Mas Arif mantuk-mantuk,
"Nggih Pak Ustadz, betul sekali, hari ini saya jadwal mengajar."
Ridwan mengangguk,
**-------------**
"Ajeeeeng... Ajeeeeng... Itu sekalian jemurannya diangkat Jeeeng..."
Mbak Wening seperti biasa suaranya cetar membahana dari arah ruang tengah rumahnya.
Ia memerintah sang anak dari ruang tengah sambil mengepak pesanan-pesanan keripik yang akan diambil dan juga diantar ke pelanggan.
"Tidak usah teriak-teriak Niiing, berisik."
Kata Ibu yang baru selesai sholat asar, ia tampak keluar dari kamar.
"Lah Ajeng, kalau di belakang suka tidak dengar Bu, heboh bicara sama Ayam."
Kata Mbak Wening,
"Yo podo kamu, sukanya bicara sama Ayam."
Kata Ibu.
"Lha, ayamnya yang suka ngajak bicara dulu og."
Ujar Mbak Wening, membuat Ibu jadi terkekeh,
"Ngawur, ayam kok ngajak ngomong duluan."
Ibu lantas berjalan ke arah ruang TV, menyalakan TV lalu duduk di kursi kayu sambil memangku wadah sirih miliknya.
"Itu pesanan Bu Lurah?"
"Yang mana Bu?"
Mbak Wening balik tanya.
"Ya itu, yang lagi kamu siapkan, itu mau diantar bukan?"
"Ooh, ini, bukan to Bu, punya Bu Lurah baru diproses besok."
Kata Mbak Wening, lalu ia berdiri dari duduknya,
Sejenak ia merentangkan kedua tangannya.
Bersamaan dengan itu, Ajeng masuk ke dalam membawa keranjang berisi jemuran yang telah kering.
Karena ditaruh sembarangan ke dalam keranjang, BH dan beberapa daster milik Mbak Wening pada jatuh dari keranjang,
"Ajeeeeng..."
Mbak Wening yang semula akan ngobrol dengan Ibu, begitu melihat cuciannya berjatuhan tentu saja langsung heboh.
Ajeng yang sudah kesulitan mengangkat keranjang, hanya tertawa cekikikan Melihat Ibunya langsung bergerak secepat kilat memunguti daster dan BH miliknya yang tercecer.
"Belum lima menit Bu, belum disemuti."
Kata Ajeng.
"Dasar kamu itu, nyuci sampai setengah mati, malah pada dibiarkan jatuh."
Kesal Mbak Wening yang lantas meletakkan daster-daster dan BH miliknya ke dalam keranjang yang semula dibawa Ajeng dan kini telah diletakkan di atas meja setrika.
__ADS_1
Ibu di depan TV terkekeh melihat kelakuan Mbak Wening dan Ajeng yang selalu saja seperti dua larva.
Sementara itu, di halaman depan rumah, terdengar sebuah mobil berhenti, Ajeng yang yakin itu adalah Pamannya, maka Ajeng pun langsung melompat senang.
"Pasti Paman."
Katanya, seraya cepat berlari ke ruang depan rumah untuk menyambut sang Paman.
Dan benar saja, Ridwan yang tampak baru turun dari mobil begitu melihat Ajeng keluar rumah dan berdiri di teras sambil senyum-senyum ke arahnya langsung balas tersenyum,
"Monggo Pak Ustadz, saya langsung permisi."
Kata Mas Arif masih di belakang kemudi.
"Oh nggih Mas Arif, maturnuwun,"
Mas Arif mengangguk santun, lalu melajukan mobilnya meninggalkan depan halaman rumah Ridwan.
"Pamaan,"
Sepeninggal mobil Mas Arif, Ajeng pun langsung menghambur ke arah Pamannya.
"Hmm jangan lari-lari terlalu cepat dulu, ingat kaki Ajang belum pulih benar."
Kata Ridwan.
Ajeng cekikikan,
"Cuma lari kecil kok Pamaan, keciiil kayak kutu."
Ujar Ajeng.
Ridwan jadi tertawa.
Ia lantas memberikan sovenir dari tempat resepsi Anisa dan Wisnu.
Bross yang cantik, pastinya Ajeng menyukainya.
"Ini buat Ajeng, Paman?"
Tanya Ajeng.
Ridwan mengangguk.
"Ya itu untuk Ajeng, bisa dipakai saat sekolah, pasti cantik sekali."
Kata Ridwan.
Ajeng tentu saja senang bukan main.
"Paman tidak beli coklat juga?"
Tanya Ajang sambil menggelayut manja.
"Ooh iya Paman lupa, nanti kita ke minimarket, mau?"
Tanya Ridwan.
"Yeeee asiiiik..."
Ajeng tentu saja langsung sorak sorai.
"Tapi Paman sholat asar dulu, sudah telat."
Kata Ridwan pula.
"Oke Paman, asiap."
__ADS_1
Sahut Ajeng.
**--------------**