
"Makanya Ajeng harus bersyukur terlahir di jaman sekarang, karena bisa sekolah, bisa punya tas, punya buku bagus-bagus, bisa ikut les, ya kan?"
Ajeng kembali mantuk-mantuk.
Ibunya Iis mengelus kepala Ajeng dengan lembut,
"Dimakan coklatnya, nanti jadi lembek tidak enak."
Kata Ibunya Iis pada Ajeng yang lantas membuka bungkusan coklatnya.
Bersamaan dengan itu Iis terlihat keluar dari kamar, ia membawa handuk kecil dan Iis tampak membuka hijabnya.
Ini jelas kali pertama Ajeng melihat Ibu Gurunya itu tanpa hijab, dan dengan rambut panjang sebahu yang dibiarkan tergerai itu, menurut Ajeng sang Ibu Guru terlihat sangat cantik.
"Ajeng maem coklat dulu ya, Bik Iis cuci muka sebentar, nanti Bibik antar pulang."
Ujar Iis.
Ajeng pun mengangguk,
"Enggih Bik."
Sahut Ajeng pula,
Iis lantas melanjutkan berjalan menuju kamar mandi rumahnya yang terletak bersebelahan dengan dapur.
Sementara itu, Ajeng menyibukkan diri menikmati coklat pemberian Iis dengan senang.
Ibunya Iis sendiri meminta Ajeng tetap duduk di ruang TV saja, karena Ibu akan melanjutkan memasak untuk makan malam.
Tak sampai sepuluh menit, saat akhirnya Iis keluar dari kamar mandi, lalu dilihatnya Ibunya di dapur tengah mengupas bawang,
"Bu, Iis antar Ajeng sebentar ya, Ibu kalau mau beli lauk saja juga tidak apa, Ibu mau makan lauk apa? Nanti Iis belikan."
Ujar Iis.
Ibu menggelengkan kepalanya,
"Sudah, tidak usah, wong tadi kan juga sudah matang gorengannya, ini tinggal Ibu ingin masak bihun cabe hijau saja sama telur dadar."
Kata Ibu.
Iis mengangguk setuju, lantas ia menuju ruang tengah lagi, Ajeng masih tampak menikmati coklat nya,
"Bik Iis pakai hijab sebentar ya, Ajeng habiskan coklatnya dulu."
Kata Iis,
Ajeng mengangguk,
"Iya Bik."
Sahutnya.
Iis menyempatkan diri mengusap sebentar kepala Ajeng dengan lembut, lalu pergi ke kamarnya lagi untuk bersiap-siap mengantar Ajeng.
Di luar geluduk terdengar lagi, tampaknya langit akan mencurahkan hujan deras hari ini.
Iis harap, hujan turun nanti setelah Isya, atau di malam hari saja, supaya ia bisa mengantar Ajeng, supaya Mbak Wening bisa pulang dari rumah Bu Lurah, supaya Ridwan yang sibuk dengan banyak kegiatan di luar rumah juga tidak sampai kehujanan.
Iis di kamar tampak memakai gamis dan juga hijabnya, lalu diambilnya cardigan dari gantungan di balik pintu kamarnya untuk lantas ia pakai.
Iis yang tak begitu suka memakai makeup hanya tampak memakai bedak tipis saja dan hanya memoles lipgloss yang juga sama tipisnya.
Penampilan Iis memang selalu natural, tak suka terlalu berlebihan.
__ADS_1
Iis memasukkan hp dan dompetnya ke dalam tas kecil selempangnya, baru setelah itu ia kembali keluar kamar dan memanggil Ajeng.
"Ayuk Ajeng, pulang."
Kata Iis.
"Nggih Biik..."
Sahut Ajeng.
Ajeng lantas berlari ke ruang depan di mana Iis ada di sana,
"Sudah pamit sama Nenek?"
Tanya Iis.
"Oh iya..."
Ajeng senyum-senyum seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kecilnya,
Ajeng, gadis kecil itupun lantas berlari lagi kembali masuk ruang dalam, lalu langsung ke arah dapur di mana Ibunya Iis di sana sedang merendam bihun.
"Nenek... Ajeng mau pulang."
Kata Ajeng sembari mendekati Ibunya Iis,
Tampak Ibunya Iis menoleh, dan kemudian tersenyum pada Ajeng.
Ajeng menyalami Ibunya Iis, sebagaimana yang sudah ia pelajari sejak kecil, setiap kali bersalaman dengan orangtua adalah dengan sembari mencium punggung tangannya.
Bukan meletakkannya di pipi, di kening, apalagi sekilas lalu saja.
"Hati-hati ya di jalan, salam buat Mbah nya Ajeng."
Kata Ibunya Iis,
"Nggih Nek, nanti Ajeng bilang sama Mbah."
Ujar Ajeng dengan senyumannya yang khas. Ibunya Iis juga balas tersenyum.
Ajeng berlari kecil lagi menuju ruang depan.
Iis sudah keluar, bahkan sudah di halaman rumah dengan motornya yang mesinnya telah menyala.
Ajeng keluar dari rumah, menutup pintu rumah Iis yang tinggal hanya satu pintu saja yang belum ditutup.
"Naiknya hati-hati."
Kata Iis mengingatkan Ajeng saat akan naik ke boncengan.
Ajeng kemudian naik dan duduk membonceng Iis, kedua tangannya merangkul pinggang Iis dari belakang.
"Sampun Jeng?"
Tanya Iis,
"Sampun Bik."
Kata Ajeng.
Iis lantas melajukan motornya pelahan keluar dari halaman rumah, dan bari setelah ada di jalanan kampung, motor itu melesat cepat.
Angin sore berhembus semilir, sepanjang jalan di mana tampak sawah membentang hijau terlihat pula beberapa burung berterbangan.
Baju orang-orangan sawah terlihat melambai-lambai, seiring dengan hembusan angin yang membelai padi-padi di sana.
__ADS_1
**--------------**
"Jadi Mbak Wening masih di rumah Bu Lurah?"
Terdengar suara Ridwan yang tengah bicara dengan Mbak Wening di telfon.
Ridwan baru saja pulang dari rumah pak Haji Imron, dan Ibunya langsung heboh meminta Ridwan menghubungi Mbak Wening karena sudah sore tapi belum juga pulang bersama Ajeng.
Tentu saja, sebagai orangtua, Ibu begitu khawatir dengan cucunya yang baru beberapa hari pulih setelah jatuh dari sepeda.
"Mbak... Mbak... harusnya bilang sama Ridwan to, kan Ridwan langsung jemput Ajeng, mana sudah mau hujan. Yo wis, tek jemput wae sekarang."
Kata Ridwan akhirnya,
"Tidak usah Wan, tadi katanya mau diantar Bu Guru Iis kok."
Kata Mbak Wening dari seberang sana.
"Duh, yo tidak enak to Mbak, dari pagi Iis kan sudah capek mengajar, belum mengurus rumah, waktunya istirahat juga hari ini kan ia pakai untuk mengajar les anak-anak, kalau dia kelelahan lagi lalu sakit bagaimana?"
Ridwan tampak sekali begitu perhatian dengan Iis meskipun mungkin tak ia benar-benar sadari.
"Wis, Ridwan saja yang jemput, nanti sekalian beli lauk saja nopo Bu?"
Ridwan ke arah Ibunya,
"Lauk masih ada itu Wan, sambel pecak tempe sama ayam goreng, tapi kalau kamu ingin makan yang lain ya tidak apa-apa,"
Kata Ibu.
Ridwan pun mengangguk,
"Yo wis Mbak, aku mau jemput Ajeng dulu, atau sekalian saha tek jemput Mbak di rumah Bu Lurah?"
Tanya Ridwan.
"Oh tidak usah Wan... tidak usah, Mbak sudah minta tolong Mas Amin jemput, jangan khawatir."
Ujar Mbak Wening,
Tapi...
Demi mendengar nama laki-laki, Ridwan bukannya jadi tenang malah jadi makin khawatir.
"Mas Amin? Mas Amin sopo?"
Tanya Ridwan curiga,
"Oh... Anu, itu... Mas Amin, itu Wan, yang dulu apa namanya, Mbak minta tolong belikan sate, yang apa... Yang ketemunya sama kamu malah waktu mengantar sate."
Mbak Wening gelagapan,
Hal ini malah semakin membuat Ridwan jadi khawatir,
Jelas sudah, jika laki-laki bernama Mas Amin ini ada sesuatu dengan kakaknya.
"Tenang Wan... jangan khawatir soal Mbak, pokoknya Mbak bisa jaga diri."
Ujar Mbak Wening yang sudah bisa menebak adiknya ketar-ketir.
Ridwan menghela nafas,
Tentu saja ia tak bisa tak khawatir, mengingat banyaknya hubungan perempuan seusia Mbak Wening banyak yang jadi korban kejahatan laki-laki.
Entah apa penyebabnya juga Ridwan tentu tak tahu, karena pastinya setiap kasus alasannya berbeda-beda.
__ADS_1
**---------------**