Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
58. Mungkinkah?


__ADS_3

Ridwan pulang ke rumah saat Adzan Dzuhur terdengar berkumandang.


Ridwan memarkirkan motornya di halaman rumah, lalu berjalan dengan tenang menuju ke dalam rumah.


"Assalamualaikum..."


Ridwan menguluk salam.


"Waalaikumsalam..."


Terdengar suara Mbak Wening yang menjawab dari ruang makan.


Mendengar suara Mbak Wening, tentu saja membuat Ridwan terkejut, karena hari masih siang tapi Mbak Wening sudah ada di rumah.


"Mbak."


Sapa Ridwan kala melihat Mbak Wening yang baru saja meletakkan satu mangkuk tumis labu siam dan dadar telor.


"Kok sudah pulang?"


Tanya Ridwan.


"Nanti saja bahasnya, kamu mandilah dan sholat Wan, lalu makan siang."


Tiba-tiba Ibu muncul dari arah belakang, Ibu baru saja berwudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur.


Ridwan setelah menyalami Mbak Wening lantas menghampiri sang Ibu untuk bersalaman.


"Lancar kan mengajarnya?"


Tanya Ibu perhatian.


Ridwan mengangguk,


"Alhamdulillah Bu."


Kata Ridwan.


Ibu mengangguk sambil tersenyum.


"Syukurlah..."


Ibu tampak benar-benar lega,


"Ibu sholat dulu, kamu mandilah biar segar."


Kata Ibu.


Ridwan mengangguk,


"Nggih Bu."


Sahut Ridwan yang lantas pergi ke kamarnya untuk menyimpan tas kerjanya,


Mbak Wening menghela nafas, melihat adiknya rasanya sakit di hatinya kembali terusik, sungguh ia benar-benar tak terima adiknya direndahkan begitu oleh pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah.


Ridwan yang belum paham ada masalah apa tampak tenang saja, ia keluar kamar dan langsung berjalan ke belakang rumah untuk menuju kamar mandi.


Mbak Wening juga ikut keluar ke halaman belakang, mengambil beberapa jemuran yang kering untuk ia bawa masuk ke dalam dan di masukkan ke keranjang pakaian yang untuk ia setrika nantinya.


Ridwan mandi hampir lima belas menit, setelah itu ia keluar dari kamar mandi menuju sumur.


Ia menimba air untuk mengisi bak kamar mandi lebih dulu hingga penuh lagi, barulah setelah bak kamar mandi ia penuhi, Ridwan ambil air wudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur.


"Wan..."


Panggil Mbak Wening,


"Nggih Mbak."


"Nanti kan Ajeng les di Bu Guru Iis, mau kamu yang antar atau Mbak saja?"


Tanya Mbak Wening pada Ridwan yang akan masuk ke dalam rumah setelah wudhu.


"Ya nanti aku saja Mbak, kan nanti aku dari antar Ajeng bisa berangkat ke tempat Pak Haji Imron. Nanti begitu di pak Haji Imron selesai, Ajeng aku jemput lagi."


Ujar Ridwan.


"Ya sudah, tapi kalau nanti kamu capek, tidak apa Mbak Wening saja yang antar Wan, pakai sepeda kan bisa."


"Nggih Mbak."

__ADS_1


Ridwan lantas melanjutkan lagi langkahnya memasuki rumah, dan langsung menuju kamarnya untuk menunaikan sholat dzuhur.


Ridwan memakai sarung dan baju koko putih serta kopiah putih juga, menggelar sajadah bergambar ka'bah berwarna hijau.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Ridwan melangkahkan kaki kanannya ke atas sajadah dan lantas menghadap kiblat, saat entah kenapa ia merasa hatinya tiba-tiba tergetar mantap pada keluarga Pak Sahudi.


"Astaghfirullah... Apa ini."


Lirih Ridwan merasa jika ini tentu adalah kesalahan karena akan sholat malah mengingat hal yang beraroma duniawi,


Ridwan pun berusaha fokus lagi, ia mengucap syahadat lalu kembali bersiap melaksanakan sholat.


**--------------**


"Aku antar pulang ya."


Kata Wisnu pada Anisa yang terbaring lemah di tempat tidur klinik di mana Anisa dilarikan.


Satu tetes air mata jatuh dari sudut mata Anisa, tatapannya kosong ke arah langit-langit.


Wisnu mengambil tisu dari wadah di ruangan itu, lalu membantu Anisa menghapus air matanya.


"Aku tidak ingin pulang."


Tiba-tiba suara Anisa terdengar lirih dan parau,


Wisnu tampak menatap Anisa dengan iba.


Entah apa sebetulnya yang terjadi dalam hidup gadis itu.


Sejak dulu, Wisnu selalu melihat sosok Anisa yang pendiam dan jarang bisa tertawa lepas.


Meskipun Anisa anak orang berada, ia kalah ceria dengan anak-anak lain yang hidupnya jauh lebih sederhana.


"Kalau tidak pulang, lalu kamu mau ke mana? Katakanlah, nanti aku yang akan antarkan."


Kata Wisnu.


Anisa menggeleng pelan, ia terlihat lemas tak berdaya,


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu..."


Wisnu kembali mengambil tisu dan menyeka air mata Anisa, perih hati Wisnu rasanya melihat Anisa menangis seperti itu.


Ia jelas ingin melakukan sesuatu, apapun itu yang sekiranya bisa membuat Anisa tak lagi menangis pasti Wisnu akan lakukan.


Tapi...


Apa kira-kira?


Apa?


Batin Wisnu bingung.


Sekian lama Anisa terus terdiam, ia memejamkan mata tapi tak tidur.


Bibirnya terkatup rapat, seolah enggan berkata apapun lagi.


Wisnu menghela nafasnya, saat kemudian hp Wisnu tiba-tiba berdering ada panggilan masuk.


"Aku tinggal sebentar Nisa,"


Kata Wisnu, yang lalu berdiri dan cepat meraih hp dari saku celananya.


Wisnu keluar dari ruangan, ia menerima panggilan masuk dari Ibunya.


"Kamu di mana Nu?"


Tanya Ibu langsung saat Wisnu mengangkat panggilan sang Ibu.


"Oh sori Bu, aku lupa kasih kabar, aku di klinik."


"Lho... Lho, kenapa kamu? Kamu tidak apa-apa? Ada apa? kenapa ke klinik?"


Ibu langsung panik.


Wisnu menghela nafas,


"Panjang ceritanya Bu."

__ADS_1


Kata Wisnu,


"Panjang ceritanya soal apa sih? Ada apa?"


Ibu jelas jadi tambah panik karena Wisnu tidak jelas sama sekali bicaranya,


"Bu, rumah kita yang di Waru apa masih dikontrak?"


Tanya Wisnu.


"Kenapa?"


"Nanti Wisnu ceritakan kalau sudah pulang."


Kata Wisnu lagi.


Ibu menghela nafas,


"Kamu ini, kamu kan bawa bahan emas itu dari toko Berkah, malah mampir-mampir tidak jelas ke klinik segala. Ini juga mau ke rumah di Waru, bagaimana sih."


Ibu jadi kesal.


"Ya Allah Bu, nanti pasti Wisnu ceritakan, yang penting saat ini satu masalah selesai dulu."


"Yo wis, cepetan diselesaikan, lalu pulang, itu bahannya ditunggu tukang-tukang."


Kata Ibu.


"Nggih Bu."


Sahut Wisnu.


Setelahnya panggilan pun berakhir, dan Wisnu berjalan masuk lagi ke ruangan di mana Anisa kini masih terbaring namun matanya menatap ke arah pintu di mana Wisnu baru masuk.


Wisnu menyunggingkan senyuman tipis pada Anisa, berjalan setenang mungkin, lalu kembali duduk di kursi dekat tempat tidur di mana Anisa terbaring lemas.


"Pulang ke rumah lama ku dulu yuk, kamu boleh rehat di sana sampai kamu tenang, nanti kalau sudah siap, ceritakan apa yang menimpamu Nisa."


Kata Wisnu halus,


Hati Anisa tergetar melihat sikap Wisnu kepadanya itu tampak begitu tulus.


"Aku merepotkanmu."


Kata Anisa.


Wisnu menggeleng,


"Tidak Nis, aku sama sekali tidak repot, aku juga justeru bersyukur karena kamu jatuh pingsan di jalan tepat saat aku lewat, tak terbayang jika kamu jatuh pingsan dan tak ada satupun yang kenal di sana."


Kata Wisnu lagi.


Anisa memaksakan satu senyuman,


"Aku malu."


Lirih Anisa.


"Tidak usah malu Nis, jangan pernah merasa malu dan tak enak padaku."


"Tapi aku sudah jahat padamu sebetulnya."


Wisnu nyengir.


"Kamu tidak jahat, kamu hanya sedang berusaha jujur, itu tidak salah."


Ujar Wisnu.


Anisa menghela nafas,


"Terimakasih kamu begitu baik Nu."


Ujar Anisa.


"Kita teman lama Nisa, keluarga kita juga dekat, jadi jangan sungkan. Kita bahkan masih ada hubungan keluarga jauh."


Anisa mengangguk,


"Ya Nu..."


Lirih Anisa.

__ADS_1


**---------------**


__ADS_2