
Iis mengendarai motornya yang dulu sempat mogok dan akhirnya dibawa ke bengkel atas pertolongan Ridwan, kini tujuan Iis adalah juga ke rumah Ridwan.
Sejak peristiwa itu, dekatinya Iis ingin memberikan tanda terimakasih yang bukan hanya sekedar ucapan saja, maka karena kebetulan hari ini Ibu meminta Iis untuk pesan keripik pada Mbak Wening, maka Iis pun sekalian saja membawa bingkisan untuk Ridwan.
Iis sudah dua hari lalu sebetulnya menyiapkan bingkisan itu, hanya saja ia terus bingung mencari waktu yang tepat untuk menyerahkannya.
Meski di sekolah mereka kerap bertemu, tapi Iis tak bisa leluasa bicara dengan Ridwan apalagi sampai harus menyerahkan bingkisan secara pribadi pada Ridwan.
Yah tentu saja,
Tentu saja Iis ingin menjaga sikap agar tidak sampai ada rumor akan hubungannya dengan Ridwan.
Iis juga tidak mau nantinya Ridwan merasa tidak nyaman di sekolah jika sampai ada sikap Iis yang terkesan di mata orang lain berlebihan.
"Bu Guru Iis... Bu Guru Iis..."
Tiba-tiba terdengar suara anak-anak memanggil, salah satu suara yang memanggil itu adalah suara Ajeng.
Ajeng dan teman-temannya berlarian di pematang sawah yang ada tak jauh dari rumah Mbak Wening, tampak Iis pun menghentikan laju motornya.
Anak-anak berlarian naik ke jalanan, lalu satu persatu salim dengan Bu Guru Iis.
"Ajeng, Ibu ada di rumah?"
Tanya Iis pada Ajeng.
Tampak Ajeng mengangguk.
"Ada Bu, di rumah."
Sahut Ajeng.
Iis mengangguk, lalu kembali melajukan motornya pelahan menuju rumah Mbak Wening yang tinggal lima meteran lagi.
Ajeng berlari mendahului Bu Guru nya dan juga teman-temannya yang akan pulang ke rumah masing-masing.
"Assalamualaikum..."
Ajeng mengucap salam dengan suara cempreng sambil setengah berlari masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Mbak Wening dan Ibu hampir bersamaan, keduanya baru saja selesai makan siang.
__ADS_1
"Aaah Ajeng mau maem."
Kata Ajeng mendekati si mbahnya.
"Makanya mainnya jangan jauh-jauh, dipanggil tidak ada."
Kata Mbak Wening mengomel.
"Tadi bantuin Arif nyari menkudu Bu, katanya mbah kakungnya lagi darling."
Kata Ajeng.
"Darting, bukan darling."
Mbak Wening meralat.
"Kata Arif darling Bu."
Ajeng ngotot.
"Ya Arif juga salah."
Kesal Mbak Wening.
Anaknya itu kalau dibilangin tidak pernah mau iya saja.
"Assalamualaikum..."
"Oh iya lupa Bu, Mbah, di luar ada Bu Guru Iis."
Kata Ajeng.
"Eh lah, kenapa kamu tidak bilang dari tadi."
Mbak Wening jelas saja tambah mengomel. Tergopoh-gopoh Mbak Wening yang semula akan mengangkut piring kotor dari ruang makan ke belakang akhirnya meletakkan piring kotor nya lagi di atas meja dan memilih cepat menuju ruang depan untuk menemui Bu Guru Iis.
"Ajeng bawa piring kotornya ke sumur, nnti Ajeng sekalian bawa piring baru buat makan. Itu telur dadarnya masih satu buat Ajeng, tadi Mbah yang goreng."
Kata si Mbah, yang tentu saja Ajeng langsung menyambutnya dengan senang hati. Ajeng memang paling suka dengan telur dadar buatan si mbah, karena menurutnya telur dadar buatan si mbahnya jauh lebih enak daripada buatan Ibu yang kadang pakai lada.
Ajeng meraih piring kotor yang tidak jadi dibawa Ibunya ke sumur, sementara Mbak Wening di ruang depan sudah menemui Bu Guru Iis.
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Mbak Wening menjawab salam Bu Guru Iis, lalu mempersilahkan Bu Guru Iis masuk ke dalam rumah mereka yang sangat sederhana.
"Maaf Mamanya Ajeng, ini jadi ganggu nggih."
Kata Iis basa-basi,
"Oh ya tidak sama sekali Bu Guru, monggo monggo... silahkan duduk."
Kata Mbak Wening mempersilahkan,
Bu Guru Iis akhirnya duduk di kursi kayu ruang tamu rumah Mbak Wening, sekilas matanya sempat melihat bingkai foto besar di mana terdapat gambar syeh Abdul Qodir Jaelani, sedangkan di samping kanan kiri nya ada gambar-gambar para ulama termasuk wali songo yang ditempel-tempel.
"Ngg ini Mamanya Ajeng, Ibu saya ingin pesan keripik untuk acara, tadinya minta nomor hp nya mamanya Ajeng, tapi di saya adanya nomor lama."
Kata Iis.
"Ooh enggih... saya lupa tidak kasih nomor yang baru nopo ya Bu?"
Mbak Wening terkekeh, tampak Bu Guru Iis tersenyum sambil mengangguk kecil,
"Nanti saya kasih Bu nomornya, ini hp nya tadi ngedrop, dari pagi soalnya dipegang terus sibuk tanya kabar Ridwan."
Mbak Wening terkekeh lagi.
"Oh Pak Ridwan, ngg... Memangnya beliau sedang pergi atau..."
"Iya sedang pergi, sedang ke Jakarta, mau tandatangan apa itu jenenge, surat-surat penting dengan pihak keluarga Pak Sahudi itu yang mau kasih Ridwan yayasan pondok dan sawah apa sajalah pokoknya."
Kata Mbak Wening berlebihan, yang tentu saja membuat Iis terperangah.
"Yayasan?"
Tanya Iis.
Mbak Wening mengangguk,
"Iya itu nanti tanah yang luas sekali itu, yang dekat mana ya aduh saya lupa, itu pokoknya nanti mau dibangun pondok, rumah tahfiz, trus apalagi itu nantinya yayasannya semua pokoknya Ridwan yang kelola."
Kata Mbak Wening.
Iis melongo,
Mbak Wening tersenyum senang malah melihat Iis melongo seperti terkagum-kagum. Mbak Wening berharap, nantinya Iis jadi timbul rasa kagum pada Ridwan, lalu akhirnya mereka akan bisa dekat dan jodoh.
__ADS_1
Pokonya buat Mbak Wening, hanya Bu Guru Iis yang layak jadi pendamping Ridwan nantinya. Titik.
**-----------**